Semua tentang Ibu
Anak perempuan pertamanya yang lahir di tengah badai. Sedangkan Ayah yang sibuk menajamkan clurit, memangkas lebat rumput di tanah seberang. Juga kesendirian memeluk tubuhku dalam rahimnya. Dalam dinginnya nada-nada hujan, memanggulku pada ruang bidan. Sendiri sambil tetap menyenandungkan do'a bahagia.
Maka aku ada di tengah keprihatinan. Aku adalah Prihantini, yang tetap pandai menangis walau muak dengan sinetron juga tarian-tarian mimpi. Juga berlagak menarik senyum, pada lelucon sinting walau sudah jengah pada tontonan lelakon manusia setengah gila.
Love my mother
Juga Tentang Ayah
Ayah berdo'a sambil tetap mengalungkan clurit pada bidak bidak hidupnya. Agar kepulangannya bisa membawa sebuah baju, untuk anak perempuan pertamanya. Dan diam-diam memakaikanku baju mungil berwarna ungu itu, tanpa ibu ketahui.
Ayah berdiam, memandangiku dengan tubuhnya yang masih kurus. Memelukku rapat, tapi ia ketakutan tulangnya meremukkanku. Ayah hanya mencium keningku, diam-diam. Tanpa ibu ketahui. Dan aku hanya bisa menangis keras
Ayah tak pernah biarkan aku dan ibuku kedinginan dan kelaparan di setiap musim hujan.
Love my father too
Saturday, November 21, 2009
Menjelang kelahiranku
Thursday, October 22, 2009
Bukan jawaban surat kembara - Harap berhenti meratap
Apalagi yang hendak aku tulis malam ini? kata rindu itu berseliweran di bangku taman kota, tapi belum juga ada reronce kalimat berkalung di kepalaku. Penerawangan yang jauh, ranggenganmu adalah mimpi yang membuat telisik dedaun di halaman rumahku berbisik "pagi dan malam adalah kau dan aku yang bertahan pada kesadaran, sedangkan terik siang adalah kau dan aku yang diburu keinginan kesejatian"
Semalam aku di datangi mereka yang menunjukku kebenaran ada padamu. Aku terjaga, keringat seperti air terjun di musim keruh. Air mata terlepas hangat diantara amarah dan kelemahan pasrah. Mereka berkata aku menuju kebenaran sedangkan aku dilingkari ragunya warna. Aku sendiri masih mencari letak kesejatian benar dan salah. Peperang itu hampir membunuhku, siapa hendak benamkan wajahnya, sedangkan bagiku kembara tidak akan pernah mati. Keabadian rasa padanya tetap terjaga di batang dan akar pohon mangga.
Sesekali aku berjalan berputar-putar di sekeliling rumah, memunguti jejak kembara yang mungkin tertinggal. Sehelai rambut panjang tersisip di ujung jalan. Ingatanku berlarian pada belaian rambut yang menyesatkan jemariku di kepalamu. Seperti membacai lagi kemana kembara akan menuju. Ia menuju kesadaran yang lebih tinggi daripada aku.
Diamku di hari terakhir ia terpaksa undur diri, adalah gemuruh yang tak sanggup aku ucapkan. Badai diam yang aku cipta agar kau pergi berlindung pada goa goa pertapaan. Ia pun pamit meminta sekelumit do'a agar ia mampu lancar menerjemahkan luka yang tercetak di dadanya. Diam diam aku pun mengintainya mencuri bahasa keluguan rasa. kepasrahan yang pada akhirnya membuatku benar-benar terdiam.
Entah sampai dimana ia kembali mengembara, ia turut membawaku atau justru melenyapkan aku yang dulu begitu diangankannya.
--Lavina S Wibowo--
Kudus, Oktober 2009



