Banyak hal yang harus dihapus dari ingatan. Kotak kotak sumbu berwarnawarni rupa meluap di sudut sudut ruang. Salah satunya kau, kau yang berpakaian lusuh dengan wajah melas dan binar mata syahdu. Oh.. betapa iba aku memelukmu. Betapa rindu aku merenangi tikaman basah mata itu. Tapi sungguh harus ada bayangan yang harus segera dihapus.
Jika kau hilir mudik, berloncatan bagai anak kucing liar di tubuhku. Menggodaku dengan seribu macam erangan, lalu aku akan menjadi sepertimu membiarkan kau berpetualang di setiap jengkal kulitku. Memanjakanmu, menggodamu agar kau tak pernah ingin berhitung soal jarak dan juga waktu.
Di atas balkon, sesekali aku menatap ujung jalan berharap ada kesia-siaan yang berubah. Penantian yang memang tak pernah berjanji kapan akan datang. Tubuhku membiru, bibirku membisu dan mataku kubiarkan sembab agar ketika kau tiba- tiba datang nanti. Kau akan bertanya tentang sesuatu yang begitu gelap juga teramat pekat, lantas membiarkan aku membunuh aku di dalam tubuhmu.
Terlalu banyak hal yang kuhapus, satu persatu memakan banyak waktu. Memilih kemudian memilah mengingatnya lagi. Aku duduk di sebuah kursi menatap ujung ranjang dengan selimut yang masih kusut. Entah apa yang aku lihat, sesosok lelaki kurus mencoba menutupi tubuhnya dengan selimut. Oh... menderas hujanan air mata.
Terasa begitu sakit memunguti semuanya sekarang. Ketika kau telah menjelma menjadi lelaki harimau. Mengukir belang dengan tajamnya jarijari belati yang penuh bercak darahku.
2009- Feb 2010
Wednesday, February 10, 2010
Ketika Kau membiarkan Aku bercerita
Thursday, October 22, 2009
Bukan jawaban surat kembara - Harap berhenti meratap
Apalagi yang hendak aku tulis malam ini? kata rindu itu berseliweran di bangku taman kota, tapi belum juga ada reronce kalimat berkalung di kepalaku. Penerawangan yang jauh, ranggenganmu adalah mimpi yang membuat telisik dedaun di halaman rumahku berbisik "pagi dan malam adalah kau dan aku yang bertahan pada kesadaran, sedangkan terik siang adalah kau dan aku yang diburu keinginan kesejatian"
Semalam aku di datangi mereka yang menunjukku kebenaran ada padamu. Aku terjaga, keringat seperti air terjun di musim keruh. Air mata terlepas hangat diantara amarah dan kelemahan pasrah. Mereka berkata aku menuju kebenaran sedangkan aku dilingkari ragunya warna. Aku sendiri masih mencari letak kesejatian benar dan salah. Peperang itu hampir membunuhku, siapa hendak benamkan wajahnya, sedangkan bagiku kembara tidak akan pernah mati. Keabadian rasa padanya tetap terjaga di batang dan akar pohon mangga.
Sesekali aku berjalan berputar-putar di sekeliling rumah, memunguti jejak kembara yang mungkin tertinggal. Sehelai rambut panjang tersisip di ujung jalan. Ingatanku berlarian pada belaian rambut yang menyesatkan jemariku di kepalamu. Seperti membacai lagi kemana kembara akan menuju. Ia menuju kesadaran yang lebih tinggi daripada aku.
Diamku di hari terakhir ia terpaksa undur diri, adalah gemuruh yang tak sanggup aku ucapkan. Badai diam yang aku cipta agar kau pergi berlindung pada goa goa pertapaan. Ia pun pamit meminta sekelumit do'a agar ia mampu lancar menerjemahkan luka yang tercetak di dadanya. Diam diam aku pun mengintainya mencuri bahasa keluguan rasa. kepasrahan yang pada akhirnya membuatku benar-benar terdiam.
Entah sampai dimana ia kembali mengembara, ia turut membawaku atau justru melenyapkan aku yang dulu begitu diangankannya.
--Lavina S Wibowo--
Kudus, Oktober 2009
Monday, October 19, 2009
Seperginya Ia - Kembara membawa laku
Halaman rumah bercecer daun daun mangga yang kering. Murammu sepi matahari berdiam diri.
Aku terbangun di siang yang mengusirku dari kelelapan pagi. Setelah kembara itu pergi di waktu lalu, tubuh serasa beku. Tak ada lagi mimpi ketika bulan yang berselimut rindu menunggu seperti dulu. Bahkan malam adalah musuh, dinginnya melelehkan air mataku. Gulungan selumbu berwarna ungu meredam ledak di dada, aku memeluk jiwa yang telah rebah entah di mana. Kembara itu mungkin telah jauh menuju bukit seberang dengan ladang bunga yang beraneka warna. Di sana mungkin ada gubuk didiami peri bersayap rapuh peristirahatan berikutnya.
Akh... aku hanya ingin ia berbalik pulang bukan menujuku tapi pada rumah teduh tempat perempuan menyulam syal abu abu di ambang pintu, usaikan pengembaraannya. Andai aku bisa membalas surat surat itu, tapi aku tak mampu membaca cepat secepat ia menghembuskan asap rokok kretek di muka waktu.
Ingatan itu, pertemuan itu, juga pernikahan semu ketika kata kata menanda jatuhnya hati di halaman rumahku. Kembalilah jeda pada hari yang disuburkan rindu rindu tabu. Ada yang bergolak memaksa perasaan mati celaka. Surat yang tertinggal telah kupungut dan kuletakkan di sudut rumah di balik lukisan berbingkai perak.
Ada yang terbawa, bersama angin yang meniupkan pada perjalanannya yang lain Aku. Gasing melingkar lingkar, tersesat pada labirin, merebut harap dan impian usang sebelum perjumpaan aku pada kembara, pada penantian seorang pedagang yang menjual pernik hiasan rambut.
Halaman rumahku temaram sejak ia pergi membawa laku. Kembara telah tinggalkan jejak, merebut aku seluruh.
--Lavina S Wibowo--
Kudus, 19 Oktober 2009
Friday, June 19, 2009
Dari Kios dan Cerita Kriminal
“Tok..tok.. tok…”
“Dik… dik…itu pintunya tolong dibuka. Ada tamu.”
Lelaki berkaos oblong hijau, jaket jins belel dan kacamata coklat bulat sudah berada di depan pintu rumahku. Menggendong tas ransel sambil bersedekap lantas tersenyum tipis. Mataku terbelalak. Laki-laki ini yang kutemui 7 tahun lalu di sebuah alun-alun kota. Tak ada yang berubah masih tersisa keliaran dari penampilannya, jenggot dibiarkan tumbuh tipis berantakan.
“Alan?”
Ya.. aku mengingatnya. Dulu ia seorang penjaga kios majalah dan koran, aku sering menemaninya setiap kali suntukku datang. Ketika bosan dengan tugas skripsi karena dosen pembimbing yang suka berganti mood seenaknya. Walhasil setiap datang pada beliau tulisanku tak lepas dari tinta gel yang tebal itu. Bosan pada kamar kos yang mengingatkan pada lembar lembar bab yang tak pernah benar. Alun-alun kota aku pilih untuk menitipkan sepi dan jenuh.
“Hai yun..! boleh aku mampir sebentar, aku sedang dalam perjalanan dan melewati kotamu. Untung aku membuka buku alamat di terminal. Dan menemukan nama dan alamatmu.” Lelaki ini seperti tanpa beban datang ke rumahku. Aku menjadi kikuk.
Aku masih ingat setiap aku mampir ke kiosnya, ia akan bercerita tentang berita-berita terhangat lantas mengomentari dengan semangat berapi-api. Padahal `ku belum membaca berita yang sedang ia bahas. Tapi karena pikiranku sedang setengah mabuk akibat skripsi, aku juga sok-sokan menimpali tak kalah bersemangat. Dari soal pasar terbakar yang kemungkinan sengaja dibakar, tentang pejabat yang terbunuh oleh tusukan tukang parkir hanya karena sering dimaki, bocah kecil yang tiba-tiba terkenal karena diangkat menjadi dukun celup, atau pelacur tua yang mampus tercebur ke sungai waktu kejar-kejaran dengan satpol pp. Dari pertemanan itu aku lebih suka menghilang dari absen pacarku sendiri. Aneh menyebut pacar karna aku tidak merasa ada yang bergetar ketika berada dengan lelaki yang kusebut pacar itu. Dan benar saja selepas wisuda, aku dan lelaki “pacar”ku itu memutuskan berpisah.
“Ya masuklah alan. Sebentar kupanggilkan suamiku dulu. Sekalian kau bisa berkenalan dengannya” aku menekankan kata suami dengan amat terpaksa.
Dan kulihat raut wajah alan sedikit berkerut dan menatapku berbeda tapi hanya sebentar. Setelah itu senyum tipis itu datang lagi. Kutinggal ia di ruang tamu sambil melihat foto-fotoku dengan mas ari suamiku. Mas ari menemui alan dan berbicara basa basi. Dari arah dapur aku sedikit menguping pembicaraan mereka. Sambil mengaduk kopi dan menata kue yang kebetulan dapat dari tetangga baru. Aku berpikir keras ada apa alan tiba-tiba datang setelah perginya yang tanpa kabar itu.
…………………………………………..
“Yun, kapan ya kau lulus kuliah?”
Aku langsung berhenti membaca berita di sebuah surat kabar, tentang pembantu yang dibunuh majikan perempuannya lantaran cemburu. Aku lupa pernah bercerita kalau aku kuliah dan sedang mengerjakan tugas akhir. Sudah hampir 6 bulan aku berkenalan dengannya. Dan tiba-tiba ia bertanya tentang nasib kuliahku. Aku kira ia tak perduli apa alasanku sering ke alun-alun. Aku kira ia hanya tertarik berita-berita criminal dan dijadikan bahan lelucon.
“Mungkin akhir bulan ini ujian akhir, trus 2 bulan lagi wisuda…”
“Oh.. abis gitu?”
“Ya pulang kampung, angon kambing atau sapi. Hehehehehe…”
“Wah.. enak ya jadi kambing atau sapi. Aku mau dong di angon juga!” senyumnya hambar. Sekedar basa-basi membalas leluconku.
“Serius yun, setelah lulus kau mau apa?” tanyanya lagi.
“Hemmm…. Aku juga tidak tahu. Bapakku menyuruhku pulang dulu. Padahal aku juga ingin di sini saja. Lihat besok sajalah..!” jawabku malas.
Aku memang payah sudah mau jadi manusia berijazah tapi belum tahu kemana tujuan hidup setelah ini. Masih saja nurut apa kata bapak, padahal aku ingin di kota ini. Walaupun di sini kerap kesepian hampir 4,5 tahun hidup jadi perantau. Tapi entah ada sesuatu beberapa bulan belakangan yang membuatku enggan pulang ke kampung. Mungkin sejak perjumpaanku dengan alan. Aku anak bungsu dan perempuan satu-satunya dikeluargaku, kakak laki-lakiku 3 tahun lebih tua. Setahun setelah lulus SMA ia langsung menikah dengan anak pengusaha gudang tembakau. Bapak waktu itu masih menjabat sebagai kades. Dan dengan jabatannya ia bisa memilihkan jodoh dengan orang yang terpilih bobot, bibit, bebetnya.
Sebenarnya dulu selepas SMA aku juga disuruh segera menikah dengan salah satu anak buah bapak yang masih bujang. Tapi aku menolak, aku melarikan diri ke rumah budhe di Sidoarjo. Aku ingin melanjutkan kuliah dan ingin tahu lebih banyak tentang banyak hal selain sawah, kebun tembakau, sapi dan perangkat desa lainnya. Untunglah ibu berhasil membujuk bapak untuk menuruti kemauanku. Tapi dengan syarat seusai lulus aku harus kembali ke desa.
“Temani aku pergi aja yuk...”
“Kemana?”
“Ehm.. jadi pembunuh bayaran*. Belajar menusukan belati agar korban kita tidak sadar telah berdarah dan kemudian mati tergesa-gesa. Seperti yang biasa kita baca di koran ini.”
“Kuliahmu?”
Alan diam lantas mengambil majalah bergambar perempuan berjilbab. Ia tak menjawab pertanyaanku, seperti tak mendengar. Ia sebenarnya juga seorang mahasiswa semester 5 teknik industri. Tapi ia merasa tidak cocok kuliah teknik, ia lebih suka lintas ke kota-kota yang baru. Dan saat itu ia baru saja kembali dari Kalimantan setelah hampir 4 bulan disana. Kios itu sebenarnya milik tetangga kost. Tapi aku sendiri tidak pernah tahu darimana ia berasal. Yang aku tahu dia juga sendirian di kota ini.
“Anggap saja berakhir. Aku sudah memutuskan berhenti saja, lebih baik aku mewujudkan mimpiku. Aku ingin menjadi pembunuh handal yun..!” ia mengisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan cepat.
“Maksudmu?”
“Ya aku bisa membunuh dengan dongeng yang kubawa dari kota-kota itu. Dunia ini tak sekedar angka dan rumus. Tak mudah untuk dihitung. Seperti kisah kriminal di koran - koran ini.”
“Kenapa?”
“Ayahku meninggal 6 tahun lalu, setelah ibuku ketahuan selingkuh. Lalu Ibu kembali untuk mengambilku. Aku sendirian waktu itu. Aku bingung.. Lantas Ibu menikah lagi dengan seorang mahasiswa lelaki selingkuhannya itu. Aku kabur.. Dan yah sekarang beginilah aku.” Ia bercerita datar saja. Lantas ia terkekeh melihat headline gosip di majalah yang ia sedang pegang.
Aku tak berani bertanya-tanya lagi. Membiarkan ia membaca dan aku juga pura-pura membaca tabloid memasak yang letaknya lebih dekat dengan jangkauanku.
“Yun, penulis berita ini hebat ya.. mereka bisa membunuh dengan cepat. Tapi korban-korbannya tak sadar. Meraka mati tanpa berdarah-darah. Lihat saja kita setiap hari membaca koran kriminal, terbiasa dengan cerita seperti ini. Sampai akhirnya kita cuma bisa tertawa saja karna kengerian itu sudah kebas.” Rokok yang sudah sampai di pangkal ia buang ke tanah dan menginjaknya dengan gemas.
Aku hanya mengangguk. Apa yang diucapkan benar, pantas saja ia bisa bercerita tentang riwayat keluarganya biasa saja. Toh di televisi, di koran, banyak gosip dan berita serupa dengan cerita Alan itu dan sudah biasa terjadi dimana-mana. Kata orang kenyataan itu lebih kejam tapi sekarang tidak, berita-berita ini lebih kejam dari kenyataan yang tertangkap oleh indraku.
“Gimana tawaranku?” Ia kembali bertanya dan mengambil tabloid yang sedang aku bolak-balik.
“Tidak” aku menggeleng.pelan.
“Aku sudah berjanji alan, lihat nanti saja. Aku belum tahu setelah ini aku mau apa” jawabku putus asa karena sebenarnya aku berat menolak permohonan alan ini.
Sejak penolakanku Alan menghilang. Kata pemilik kios itu ia sudah berkelana lagi entah kemana. Dan sisa penantian kelulusan yang tinggal dua bulan itu aku lewati sendiri. Kali ini benar-benar sendiri. Aku jadi lebih sering pulang ke kediri setiap seminggu sekali.
…………………………………………..
“Apa kabarmu?” memulai pertanyaan basa-basi ini berat sekali. Seperti ada barbell 5 kilo di ujung lidahku.
“Baik.. selamat.. dan aku sudah menjadi pembunuh bayaran yang sukses. Gimana? Tawaranku yang dulu?” Pertanyaan itu ia lemparkan dengan santainya.
Aduh.. Ia bertanya lagi sebuah pertanyaan yang bertahun-tahun ini aku sesali karna jawabanku itu. Aku Cuma bisa tersenyum membalas pertanyaan itu.
“Bagaimana kau bisa sampai ke rumahku? Bohong kalau kau bilang lihat di buku rongsokanmu itu.”
“Ya.. aku datang ke rumah bapakmu, sesuai alamat yang aku dapat dari teman kuliahmu dulu. Jangan tanya bagaimana aku bisa dapat ya?” matanya menatapku.
“Pada bapakmu Aku mengaku teman kampus dan hendak membuat acara reuni bla.. bla.. bla.. dan yah.. di sini sekarang aku” Senyum liciknya itu. Ia terkekeh seakan sedang menertawai berita pembunuhan sadis, seperti dulu.
“Masih saja kau bercanda dengan kesadisan yaa? Dosa tuh bohongin orang.” akupun tertawa. Sebenarnya aku suka dengan caranya, aku suka ia sedikit berbohong untuk bisa menemuiku.
“Lantas apa yang tadi yang kau bicarakan dengan mas Ari? Dongeng apa yang kau sampaikan?”
“Itu rahasia lelaki, Yuniar Pratiwi.. Yang jelas ia percaya padaku. Buktinya ia pergi memancing. Ini kegiatannya tiap sabtu khan?” Lagi-lagi ia tertawa senang.
Sial ia masih mengingat nama lengkapku, dan sudah tahu sedikit tentang kebiasaan mas Ari. Sedangkan aku sudah lupa siapa nama lengkapnya dan belum tahu sedikitpun maksud kedatangannya ke sini. Rupanya ia sudah diijinkan mas Ari untuk sering ke rumah, dengan alasan di kota ini ia sendiri dan tak punya kerabat sama sekali.
“Besok aku kemari lagi ya yun.. sampaikan salam pada masmu itu” setelah menyeruput kopi yang aku suguhkan ia pamit pulang.
Keesokan harinya, minggu siang Alan benar-benar datang. Waktu itu mas Ari sedang pergi dengan teman-temannya. Begitulah setiap weekend mas ari lebih suka pergi bersama teman-temannya. Di usia perkawinan yang hampir 6 tahun ini kami belum juga dikaruniai anak jadi akupun sering kesepian di rumah. Tapi rumah tangga ini masih berjalan normal jarang sekali bertengkar bias dibilang tak pernah. Perkawinan tanpa ombak, demikian tenang bahkan terlalu tenang.
Mas Ari lelaki pilihan bapak, itu mudah ditebak karena sejarah orang tuaku dulu, juga kakakku begitu. Apalagi di desa perempuan diatas 24 tahun belum menikah bisa diangap perawan tua. Aku nurut, karena bapak dulu sudah mengijinkan aku kuliah. Tapi entah sejak kedatangan alan kemarin aku rasa penyesalan itu datang lagi. Buat apa kuliah kalau hanya untuk jadi istri yang mendekam di rumah. Tawaran Alan dulu kembali mengusikku. Seandainya.. seandainya.. tak seharusnya aku jadi perempuan yang nrimo. Kota ini terlalu sepi, bahkan rumah tanggakupun terlampau sepi.
“Alan. Apa alasanmu menemuiku?”
“Hem.. buatkan aku kopi dulu nanti aku akan mendongeng untukmu”
“Jadi ini hasilmu jadi pembunuh bayaran tanpa mitra?” sungutku tapi aku tetap berdiri dan membuatkannya kopi.
Aku keluar membawa kopi dan sebuah koran lokal. Entah tiba-tiba saja tadi pagi aku pergi ke kios majalah mencari koran kriminal. Aku takut kehabisan bahan pembicaraan nanti jika Alan datang. Maka aku membeli satu, terserah koran apa karena dulu alan juga membaca acak apa saja yang ada di kiosnya.
“Pengusaha Kredit Motor Tewas Digasak Perampok Berdarah” itulah headline yang tertulis dihalaman depan. Alan tersenyum ketika tahu aku membawa Koran.
“Wah kau sudah siapkan hidangan yang lezat untuk dibantai siang ini ya yun”
“Hehehe… mungkin nanti kau lupa bercerita tujuanmu kesini daripada sepi jadi kubelikan ini untukmu.”
Lantas ia mengeluarkan koran dari balik jaketnya. Ternyata yang dibawa Alan dan koran yang kubawa sama.
“Aku juga takut lupa apa tujuanku kemari jadi kubawa ini” ia tersenyum. Kemudian kamipun tertawa menyadari ketololan ini. Sungguh hampir saja aku lupa, kalau aku pernah tertawa selepas ini. Selama bertahun-tahun sejak menikah aku tak pernah bisa tertawa seperti ini. Di depan mas Ari, suamiku aku selalu berusaha menjadi istri baik, dan menjaga prilaku di depan kolega-koleganya.
Siang itu ruang tamu rumahku seperti kedatangan sekelompok kupu-kupu berwarna warni, kami berkelakar menentukan siapa yang bakal masuk neraka nantinya. Bisa jadi si pengusaha itu digasak perampok karena kalau menagih kasar dan tidak kasih tenggat waktu. Bisa jadi perampok ini adalah konsumennya yang jengkel karena ditagih terus. Atau bisa jadi perampok ini selingkuhan istri pengusaha dan biar tidak terlihat motif pembunuhan terencana maka sekalian merampok. Berandai-andai saja seperti itu membuat waktuku terasa berlari-larian.
“Lantas kau mau merampok apa di kota ini?”.
“Kamu dong Yun..!”.
“Kalau begitu segera saja”
“Tunggu saja, aku tidak akan pakai cara semudah itu. Khan aku sudah bilang aku pembunuh bayaran yang handal sekarang. korbanku tak sadar sudah mati terbunuh. Kalau perampokan ecek ecek sih cuma bikin heboh saja, nanti malah masuk berita Koran beginian ya gak serulah.”
“Oh.. kamu mau bilang aku sudah mati tanpa aku sadar?”
“Hemm.. kalau kamu bukan korbanku tapi partnerku. Dan aku akan menawarkan yang sudah pernah kamu tolak”
“Jadi itu tujuanmu kemari?”
“Ya….Yun aku dapat sponsor untuk melakukan perjalanan ke Kongo. Dan aku masih tetap butuh partner. 3 Bulan lagi aku akan berangkat. Seluruh plosok negeri ini sudah aku habiskan.”
Aku diam, bagaimana aku menjawabnya. Dulu atau sekarang lagi-lagi aku tak bisa memilih.
“Tapi kali ini terakhir kali aku mengajakmu. Aku tahu kau sudah mempunyai keluarga walaupun belum memiliki anak. Itulah kenapa aku berani menawarimu lagi. Kalau kau menolak lagi berarti kau memang…. Ahhh ya sudahlah. Aku pulang saja ya Yun..”
……………………………………..
Sudah 3 hari Alan tak lagi datang ke rumah. Aku juga tak ingin mencarinya. Kesadaranku seperti kembali, aku bukan lagi gadis yang putus asa karna tugas akhir, kluyuran ke alun-alun kota. Nongkrong di kios majalah sampai malam. Dan aku juga tak ingin Alan terlalu berharap aku menerima tawarannya itu. Hanya dari pembantu tetangga sebelah rumahku yang mengabarkan Alan masih ada di rumah kost-nya.
Rumah tanggaku pun kembali tenang dan jauh lebih tenang dari sebelum-sebelumnya. Mas Ari juga tak pernah bertanya lagi kemana Alan. Aku memutuskan untuk kembali fokus di cerita yang ini saja. Bersepi sepi di lautan yang tak berombak. Membosankan tapi ini yang menjadi garisku sekarang.
.................................................
“Dik.. boleh aku bicara?” Mas Ari memulai pembicaraan malam itu.
“Ya mas..”
“Boleh aku menikah lagi?”
“Kenapa?” tanyaku datar
“Perempuanku hamil.” Jawabnya pelan
Aku tak merespon tak ada sedikitpun rasa sedih atau marah yang menyelinap. Seperti ada belati yang ditarik pelan-pelan. Rupanya aku sudah mati sejak bertahun-tahun lalu. Dibunuh pelan-pelan oleh ketenangan yang teramat tenang. Tak sakit, aku sudah terlalu kebas untuk merasai rumah tangga sepi ini. Perkawinan ini adalah pembunuh paling sadis yang aku alami tapi entah aku benar-benar tak merasakan apa-apa. Mungkin karena berita-berita yang sering bersliweran itu.
“Ya.. silahkan nikahi dia. Dan besok segara ajukan surat gugatan cerai untukku ya mas”
“Maaf ya dik.”
Aku hanya bisa membuat lengkungan kecil di bibirku, tak ingin melanjutkan pembicaraan ini.
Alan, penyesalan ini datang lagi.
Surabaya, Juni 2009
Friday, June 05, 2009
Pesta Esok dan Tangis yang MengCrystal
Aku hanya ingin bercerita tentang pesta tanpa gaun, pendar lampu-lampu kristal ataupun meja penuh hidangan lezat. Pesta yang membuat semua orang tertawa geram dan tangis tertahan. Di tengah kelahiran, ruang lain justru sedang meregang nyawa, mengurai keringat dari bulir-bulir kenangan yang dingin. Malam ini adalah cerita kematian dari tawa yang sunyi. Dari malam yang sepi tentang kepala botak merah darah. Juga kelahiran dari sepi yang riuh, dari malam yang sibuk bercerita tentang penggalan kepala berhias kata-kata.
Di sebuah bangku telah duduk seorang entah laki-laki atau perempuan, hanya kerut kulit keriputnya, menanda jompo. Bibirnya rapat terkatup, tak ada suara hanya tatapan mata nyalang. Mengawasi riang bocah yang sedang merayakan kotak-kotak kayu yang semakin tinggi tersusun. Ia melihatnya, mengingat dulu ketika ia menganyam rotan dijadikan boneka dengan mata bermanik manik kacang kedelai, bibir datar dari benang wol. Dulu ia juga bahagia, terbahak ketika kedua tangannya masih lihai merajut rotan lalu diletakkan dekat bongkah pualam besar. Di dasar goa yang baginya telah tuntas ditaklukkan.
Ini cerita tentang gempita kenangan dan dada-dada yang semakin tinggi ditarik terbang ke langit. Lantas bernyanyi tentang seribu cita-cita menaklukkan malam, lantas diganti dengan semua siang. Hidangan hampir basi karna undangan sibuk Bercengkrama dengan kenangan. Kenangan itu mengasikkan juga mematikan. Mata dijungkir balik menertawai lucunya bayi yang merangkak. Tapi semakin menua usia, mereka lepas, meregang mencari diri sendiri. Tak patut ada yang dipestakan disetiap kelahiran karena kematian itu pasti. Siapa yang rela pada setiap perpisahan, hanya tangis duka yang tertahan. juga kelahiran yang mati sendiri, tawa bahagia yang tersembunyi. Tetap saja kelahiran dan kematian ini bukan milik nyanyian - nyanyian do'a. ini milik ESOK, bukan milik kenangan kemarin atau lampau.
Di sini semua duduk melingkar, bersila, menatap wajah-wajah maya. yang entah kapan ESOK pasti pergi lagi. Semakin jauh, melanglang menuju negeri kata-kata, negeri sunyi, negeri berkepala ungu atau juga justru sembunyi di dada-dada yang berisak tangis kematian dan kelahiran.
Surabaya, 5 Juni 2009
Thursday, April 09, 2009
Cerita Ini Menganggu Tidurku
Serapuh angin, dilebur untaian mantra. Matamu adalah kisah yang lupa. Dan tak akan pernah kutemukan yang tersembunyi dalam desah tawa kecilmu
Sepagi ini.. jam weker akhirnya berbunyi juga. Sengaja aku setel jam 7 pagi. Tapi dari 6 jam yang lalu mataku belum juga sukses terkatup. Tak ada satu mimpipun berdatangan seperti malam-malam sebelumnya
"Ok, ada tenda? kemana?" Aku sengaja mengajaknya gara-gara jadwal plesir yang direncanakan batal. Dan kakiku sudah mulai gatal melanglang lagi. Apapunlah aku lakukan asal bisa pergi. Kali ini cuma dia satu-satunya harapan yang ada.
Jawaban itu sudah aku duga. Mengajaknya pergi berdua, sama saja menawarkan diri. membiarkannya melesat semakin intim ke tiap jengkal kulit. Tapi tidak perkara yang lain. Sikapnya akan tetap sekeras baja, bermain dan aku adalah tawanan perang. Begitulah, kutawarkan tubuh maka dengan senang hati dadanya terbuka lebar. Padahal dari siang aku mengajaknya sekedar makan siang bersama tak ada satupun balasan. Shit..!
Dalam gamang, ambang tidurpun tak juga lelap. Apa yang nanti akan dilakukannya padaku. Satu dalam tuang yang samar, cahaya yang temaram. bulanpun diijankannya masuk. Berdua saja seperti cerita dulu. Tapi kali ini mungkin akan lebih. Aku kelimpungan, tubuhku menginginkannya tapi otakku menolaknya. Apa yang aku inginkan darinya tak juga aku dapatkan. Hati..! Aku mencari Hati-nya. Untuk kulahap dan tiap tetes darahnya mengalir dalam tubuhku.
Udara di sana pasti dingin, dan malam ini aku sudah bisa membayangkan tubuhnya bermain liar di atas tubuhku. Dan di dekapannya, sekali lagi aku akan bercerita sendiri, berkesah sendiri, dan tetap menangis sendiri.
Secuil harap, selalu ditiupkan pada lembar daun hijau muda, hingga pada akhirnya sulur-sulurnya merambah menyetubuhi panasnya sinar. hangat.. lembab.. keras..! Hingga pada akhirnya patah dan jatuh di dasar tanah coklat kemerahan
Cerita ini mengganggu tidurku. Keringat sebesar butir jagung meleleh, berkejaran diliuk-liuk urat leher. Sambil menghitung jarak antara batas norma dan dosa. Baginya tubuhku semacam manekin. Diombang-ambingkan di depan teras toko. Dipajang sebentar kemudian disetubuhi di belakang etalase toko. Sebiadap itukah dia? Entah bagiku Ia seperti angin panas yang menyeruak di sebalik tengkuk. Mengiangkan mantra tidur agar aku tetap terlelap, menjaga cerita tetap hanya tentangnya.
Kusentuh remote tape lantas kunyalakan dan memutar bella's lullaby. Denting piano, lembut menyusup di liang telinga. Meniupkan angin yang dingin. Mata berkali-kali mengerjap dan mulut sudah berkali-kali menguap. Tapi ada sesuatu di dalam batin dan pikiran yang masih berjaga. Semacam algojo memegang cambuk, melukai di tempat yang sama, menjagaku agar tak segera menyudahi cerita ini.
Tapi ini sudah menjelang shubuh. Matahari mengintai dengan sinis. Tidak ada air matapun yang jatuh kali ini. Mungkin tetes-tetesnya sudah bosan turun akibat hal yang sama. Bosan pada cerita usang yang tak juga tamat. Bosan pada resah hal yang sama.
"Kamu bagian logistiknya ya?" Sial.. Ia benar-benar mencoba keinginanku. Menolaknya berarti menyia-nyiakan kedatangannya padaku. dan dia akan pergi lagi seperti sebelum-sebelumnya. Itu yang tidak aku inginkan. Mauku, semalaman lomba tak pejam mata, hanya berdua duduk bersebelahan, dan kepalaku kusandarkan di bahunya di depan pintu tenda. Menggumamkan bulan yang gagah pamer sayap di langit. atau hanya sekedar bertanya "Kapan hidup kita akan melaju?"
Rongga dada terasa lebih sesak, entah karena gelembung payudaraku membesar atau degup ini memompa darah lebih kencang. Entahlah? Yang aku tahu mata ini mengerjap-ngerjap seperti boneka yang rusak peer matanya. Boneka yang hampir putus lengannya karena bertahun-tahun dimainkan dengan jalan cerita yang sama.
"Aku akan membayarnya, biarkan aku tidur sejenak", kutawarkan harga lebih untuk tidur pagi ini. Hingga nanti siang mataku bisa kembali nyalang. Jika tidak, setidaknya mata ini biarkan terpejam, kepala tetap melingkar pikir semacam gasing, menulis rumus logika atau sekedar berpikir akhir cerita. Tapi aku sungguh tak punya kuasa akan itu.
Cerita ini menggantungku seperti jemuran yang digantang bertahun-tahun di tali rami. Rapuh..
Sby,9 April 2009
Tuesday, September 23, 2008
Catatan Perempuan Tolol
Aku semakin terpuruk menjabarkan sesal yang tak berkesudahan. Mungkin aku drupadi perempuan perkasa itu, tapi luluhku shinta bersetia hati hingga rela terbakar api pemujaan. Dan kau siapa? rhama, arjuna atau justru rahwana, mengejarku hingga ujung langit mimpi. Menyiksa dengan rasa bersalah yang panjang dan tak membiarkanku menapak langit yang lain. Hilir mudik mengintip jendela dan pintu rumah, apakah kau akan datang hari ini?
Hati menjadi beku memuja satu nama, semakin retak pada gelisah. Inikah akhir atau justru awal. pertanyaan menjadi dzikir kata-kata di setiap malam. Hingga do'a lain terlampir hanya sebuah halaman tanpa angka. Lantas untuk apa aku di sini menengadah selalu meminta sehat sejahtera untukmu. Kebahagian yang paling mungkin kau dapat. Meninggalkanmu menjadi sesuatu yang diinginkan tapi juga ditabukan. Lantas kau hanya mencibir "aku lahir, kecil, dewasa, tua kemudian mati. Andai ini tidak terjadi mungkin aku akan bahagia" begitu menyiksakah pengakuanku.
Setiap hampir shubuh hanya tangis menggugu, menyiksa diri dengan berpetualang ke segala penjuru. Padahal kaki semakin uzur, tulang kering beku, dan hati koyak seperti serpih serbuk-serbuk kayu. Kau justru berharap mati atau tidak dilahirkan. Sesungguhnya siapa aku bagimu? mimpi burukkah? Dan semua kesia-siaanku menggunung padamu, kau hanya berputar-putar di dasarnya berucap maaf setengah ikhlas.
Aku yang palsu atau kau yang terlalu takut pada kelaki-lakianmu. Jual dengan harga tinggi kelaki-lakianmu pada perempuan-perempuan tolol yang hampir kehabisan nafas. Mereka memuja manusia yang senantiasa datang dan pergi. Kau menganggapku sebuah rumah nyaman karena setiap kau singgah aku akan memperlakukanmu bak raja. Tapi kau tak pernah berkata "ini rumahku aku pasti pulang". Bagaimana bisa menolak kedatanganmu? jika aku ingin kau tak pergi. Sungguhkah luka ini karenamu atau aku yang mengiris ngiris hati sendiri untuk persembahan.
Aku Linglung, Dasar Tolol...
Tuesday, August 26, 2008
Serpih -Serpih
Aku sudah di sini menunggumu hingga separuh umur. Dan kau masih saja diam bahkan beranjakpun tidak. Entah apa yang akan kau katakan nanti jika aku semakin sendiri dan sepi.
Aku berdiri menantang petir, kau pernah ucapkan sebagai sumpah "Aku akan tiba setelah petir" tapi apa? Setelah petir hanya ada hujan yang merintih tanpa kau. Semakin sepi.
Pertapaan ini panjang, sepanjang sungai yang berujung laut. Semakin luas bukan? dan kau masih diam tak beranjak mengurungku pada tanya yang tak juga terjawab. Aku menunggumu.
Selalu, dari kedip matamu hanya tanda yang tak juga terjawab dari tahun ke tahun. Isyaratmu hanya "datanglah lagi besok" tanpa suara. Aku membahasakannya sendiri.
Bulan selalu datang dalam gelap. Tapi aku memaksa datang ketika terang. Kau menolak aku? Kau diam.
Friday, August 08, 2008
Surat Panjang, Kisah Semestinya
Malam nyalang, iba tiba-tiba mengemis risih di pundakmu yang terguncang beku. Sedangkan aku menunduk lesu. bertanya, kisahmu kapankah usai? Aku di sini, menyemaikan rindu yang tercabik digurat matamu. Yang menatapku kosong membayang wajah yang bukan aku. Ini bulan separo milikmu dan kenangan yang selalu kau simpan lalu kau rayakan sendiri .
Kapan kisahmu selesai, nanti bolehkah kutulis lagi kisah seringai serigala. Perempuan malangku.. aku tertunduk, mencuri-curi kau, mengagumimu yang bergumam pada isak yang dalam. Dan kau selalu larut, entah bersembunyi, dalam tawa yang gelar menderam dalam dadaku. Ini kusebut luka perempuanku pengikat janji untuk menjaga dan membangunkanmu pada mimpi. Perempuannku nanti kuajak kau berpesta di tengah padang tanpa sahara dengan danau yang sejuk dan aku bersiap menggelar tubuhku, untuk kau rebah.
Perempuanku apa yang kau tunggu. Sedangkan aku tak ingin matamu selalu nanar setiap kau mendongeng. Rokok yang makin dalam kau hisap, lalu kauhempaskan. sia-sia. Bukan dia.. bukan dia..! Tak mungkin dia berarti. Kau lebih berharga dari apapun, lelaki itu hanya sobekan kertas koran dengan huruf yang terpotong-potong. Sedangkan aku adalah surat panjang yang tertulis setiap malam.
Sby, 8 Agustus 2008
Tuesday, June 24, 2008
Mengulang (lagi) Episode Panjang
Kali ini...
Aku mau sesuatu yang terang. Tak lagi bersembunyi pada kata. Atau senyum berjuta makna. Kisah ini hampir tak pernah menyerah, tak juga menuju titik, selalu menyisakan koma. Dengan jeda yang teramat panjang. Lelah, tapi sementara.
Cukup? tak ada.. kata cukup tak pernah sampai. Sekarang kupilih libur puisi untukmu. Memilah antara kau dan aku di kepala. Sebuah rasa yang selalu tertimbun hingga menganak dan berakar di dalam hati.
Malam hampir terjaga, kau.. kau.. dan bulan separomu. Seperti gasing, ia berputar-putar menarikku perlahan pada lingkaran semakin dalam. akh.. begitukah luka? Tak terasa namun di akhir pecahlah butir-butir airmata.
Jika waktu selalu berjalan mundur, akan kupaksa ia berjalan maju. Agar aku lupa angka dan tak pandai lagi berhitung tentangmu.
Pada lembar kertas berwarna ungu, dan tinta perak. Biasa, tepiannya kubuat bergerigi. Kecil saja, membentuk kartu ucapan lipat dua. "Selamat", untukku sendiri. Selamat apa? selamat mengulang? ya.. mungkin.
"Berapa kali datang dan berapa kali pergi, lagi.. dan lagi.."
Andai.. andai.. andai apa?? perandaian telah habis diuntai. Kertas berisi makian, cacian dan seluruh dendam, berserak di atas meja dan kolong tempat tidur. Di pojok kanan bawah kutulis dengan huruf latin kecil "diam". Diam.. diam.. diam... setiap ruang gelap dipenuhi tentangmu.
Bukankah ini kesekian kalinya diceritakan, ditulis ulang. Tidak pernah usang masa, perhentian, atau selesai. Begitulah kita. Aku dan Kamu
"Sudah khan kangennya?" tanyamu, seusai kita menghitung jarak malam dan pagi
Untukmu, brapapun hitungan waktu tidak akan pernah cukup.
Sby, 23Juni2008
akh.. tulisan ini? nikmati sajalah...patah-patah
"Seusai Penutupan SFM dengan musik Jazz"
Saturday, June 07, 2008
Di Sebuah Pantai
Jemarimu bermain, melukai pasir pantai. Kakimu jenjang mulus, tanpa bulu. Bolehkah aku bersujud di situ. menghitung pasir bersamamu. Udara memanas sedangkan kau tetap tenang dengan berbalut kain kaca putih. molek....
Bolehkan aku rebah di sana, melandaikan penat sementara. Aku dahaga angin pantai sibuk membelaiku. Rambutku basah ombak laut. Mataku silau pendar camar kemilau. Dan kau memukauku. Cantik..
Payung mungilmu berwarna-warni tak cukup mampu menutupi seluruh tubuhmu. Yah.. kau tau. Tapi diam saja. Bolehkah aku menumpang teduh sejenak bersamamu. Tubuhku ingin hangat, berdekapan denganmu. Bermanja mungkin. Boleh ya...
Kupesan segelas es kelapa muda, lantas dengan santai ku rebah di atasmu. Tubuhmu dingin dan beku, mengeras tapi tak ada penolakkan. Kucoba mencari posisi paling nyaman. Telungkup menciumimu, harum...
Kureguk wangi ombak segara di atasmu, hingga ku tertidur pulas. Dan penatku perlahan hilang. Akh kursi pantai ini begitu nyaman. Terbuat dari kayu mindi merah kecoklatan. "Boleh kubawa satu?" pintaku pada pemilik cafe
Surabaya, 7 Juni 2008
Thursday, April 10, 2008
Lalu-Lalu Masa
Aku menulis sendiri. Sepertinya ada yang perih, seperti teriris. Ini luka atau hanya merah memar. Entahlah nganganya tak juga terlihat tapi bertahun-tahun kubawa. Hingga lelap berbunga mimpi yang baunya busuk.
Ini bukan tentangmu atau tentang kita. Tapi sebuah kenangan yang sudah lalu. Begitu saja menyelinap, seperti pencuri yang kehilangan jati diri. Mau mencuri atau sekedar mengintai. Atau seperti liur yang tiba tiba jatuh ketika mulutmu nganga di depanku. Seakan hendak memangsaku yang biasanya hanya diam. Diam lalu merangsek maju menggulaimu dengan wejangan cinta yang sesungguhnya palsu.
Aku masih bergulat antara menuju sepi atau menanggalkannya. Aku butuh menjadi senyap ataupun gelap. Agar menemuimu yang semakin tak puitis di mataku adalah sah dan bukan hal tabu.
10April2008
Sunday, March 16, 2008
Oh.. Maaf saja
Maaf ini sekedar perkenalan,
Ya saya dianggap anak muda yang tak bisa mengucap atau menjabarkan sesuatu dengan kata atau kalimat serius yang anda mau. Saya memang tak lagi bisa dibilang muda tapi tetap saja berucap tajam dan membuka lebar moncong, untuk sesekali menampakkan jajaran gigi kusam. Sambil sesekali bahak menggema di ujung jalan atau pun di selokan tertutup.
Jadi maaf, jika saya salah ucap dan membiarkan opini opini berlarian. Silahkan saja umpat semaunya karena memang saya tak pandai merangkai kata dengan kalimat kalimat fantastis dan istilah istilah yang lebih ilmiah. Saya cuma paham loyalitas dan pikiran logis. Tak perlu banyak cingcau dengan saya, cukup tertawa bersama saja maka saya akan menggambarkan anda dengan kesinisan dan pemahaman yang tak mungkin anda duga. Di kepala saya memang banyak jejak jejak binatang ataupun jalang yang mengukir lapisan jalan jalan protokol. Jadi anda bebas saja melindas karna saya memang orang pinggir yang tak ingin tersingkir dengan ilmu melip dan ndaki'. Cukup saja saya dengan bacot yang begini, menganga di pinggiran jalan menguraikan serapahan yang terkadang saya sendiri tidak pernah sadar kapan saya akan menelan kembali ludah yang telah saya cuihkan di pundak-pundak berjas hitam.
Halaman? Apakah rumah saya berhalaman? Tidak, rumah saya sempit, hanya sepetak tak mungkin punya halaman. Halaman itu apa sih? Saya tak juga paham, setahu saya halaman hanya dimiliki rumah-rumah gedong yang banyak sekali tanaman mahal semacam tanaman emas. dirawat, dipupuk, disiram, diperlakukan layaknya manusia. Rumah saya di pojokan gang, bersebelahan dengan rumah tikus dan gubuk bekas pelacur tua. Tapi herannya mulut saya justru tidak bisa koar koar, di
Tapi yang lebih aneh saya tak bisa mendiskripsikan diri saya apakah betina atau jantan. Kenapa saya memilih jantan atau betina? Bukankah istilah itu cocok untuk binatang. Tapi kenapa saya tidak boleh memanusiakan manusia dengan kata "Betina" dan "Jantan". Toh tingkah laku saya hampir mirip bahkan mungkin anda atau merekapun juga mirip dengan binatang. Maaf sekali lagi maaf memang saya begini, suka menyangkut pautkan apa saja yang tiba-tiba lintas di kepala. Mungkin syaraf syaraf otak saya sudah sedemikian rumit dan krodit. Bahkan saya sendiri susah menguraikannya. Untuk tertawa saja saya bingung apa yang sedang saya tertawakan. Keahlian saya memang cuma menangis, berteriak dan tertawa walau terkadang tak pernah mengerti knapa tiba tiba ada banjir di pipi saya. Karena cerita sinetron yang sedang saya tonton atau sedang menangisi sesuatu di dalam diri saya. Padahal sinetron jaman sekarang tak pernah layak tonton. Menjual kemewahan dan impian hanya bikin saya gigit jari. Begitupun tertawa, tak mudah saya menguraikan kenapa saya tertawa. Padahal orang orang di sekitar saya diam saja dan justru tertunduk mengiyakan. Memangnya acara ceramah kok manggut manggut saja.
Ya.. saya memang aneh lantas kenapa kalian sibuk mencari cari saya.
Lalu mengamati termasuk dalam spesies apa saya ini?
Hahahaha... ya sudah maaf saja kalau saya masih tertawa tanpa arah, berteriak tanpa pengucapan yang jelas, berjalan ngalor ngidul tanpa tujuan. Mau dikata apalagi?
Saya hanya bisa membahasakan Kata "Saya", "Anda", dan tidak ada lagi kata sopan yang diingat. Membagus-baguskan diri memangnya knapa? anda mau protes lagi. ya sudah
Oke cukup sekian, moncong saya mulai pegal. Nih lihat semakin memanjang dan melebar mulut saya. Seringainya saja hampir mirip serigala. Untung saja belum berbulu wah bisa bisa makin mirip saya nanti. tapi kenapa anda dan mereka sibuk mencukur bulu bulu. hahaha.. Ketauan.. rupanya kalian hampir berubah bentuk menyerupai serigala juga. Selamat ya!
Sudahlah! Ternyata bercerita tentang pengemis jalanan dan bukan pengemis cinta-nya Jhonny Iskandar itu melelahkan ya? atau lebih baik saya menulis puisi saja.
Wednesday, January 30, 2008
Di Sebuah Terminal
Suasana terminal pagi ini sudah mulai ramai, bus antar kota sudah berjajar dengan desing klakson yang tak henti. Calon penumpang dan para calopun sudah sibuk dengan aktifitasnya. Sedangkan aku seperti tidak terpengaruh riuh suasana, membisu dari sebuah warung makan yang berada di salah satu sudut. Aku sudah duduk di sana hampir dua jam lamanya. Kopi yang ada di hadapanku ini adalah gelas kedua.
“Bu, kopi satu..!” Suara seorang laki-laki dengan logat madura yang kental dan agak kasar melewati gendang telingaku dari belakang. Laki-laki itu duduk tepat di sebelah kiriku, dia langsung mengambil satu bungkus nasi yang ada di hadapannya. Bau apek menguar, keringat berlarian di sekitar lehernya yang legam. Handuk kecil yang terselip di saku celana, ia kibaskan. Untung saja aku sudah terbiasa dengan hal semacam ini. Hampir seminggu aku sambang ke terminal ini.
Dua lembar surat aku keluarkan dari saku bajuku. Surat itu tampak lusuh, warnanyapun kusam mungkin karna terlalu sering dibaca atau sekedar dipegang. Mataku lekat memandang surat itu dalam keadaan tetap terlipat, tapi entah mengapa setiap kali aku memandangnya kepalaku menjadi sangat penuh. Terngiang permintaan ibu di kampung yang mendesakku untuk segera pulang. Hanya satu alasan yang membuat ibu memintaku seperti itu. Ibu tak pernah mendesakku seperti ini, beliau cukup percaya padaku, pada apa yang selalu aku putuskan. Jika bukan karna Asri, Ibu tidak akan terus menerus menekanku seperti ini.
“Le.. Kapan kowe mulih?Mesakke Asri!”
Di sela-sela surat ibu yang mengabarkan bahwa keadan keluarga di sana baik-baik saja, pertanyaan kecil itu terselip di akhir surat. Dengan tanda seru yang besar di akhir kalimat.
Asri adalah anak gadis seorang petinggi di kampungku, waktu itu umurnya masih 17 tahun. Tapi di kampungku usia 17 sudah waktunya untuh dinikahkan dan memiliki keluarga. Dan beruntunglah aku karena dari sekian banyak pemuda akulah yang dipilih. Tiga tahun yang lalu, aku termasuk pemuda desa yang cukup cakap dan pandai. Selepas smu aku diperbantukan di kantor kelurahan, disanalah aku bertemu dengan pak lurah yang rupanya sangat terkesan dengan cara kerja dan sopan santunku. Beliaupun menjodohkan aku dengan salah seorang anak gadisnya. Waktu itu umurku sudah 23 tahun dan aku tidak menolak dijodohkan dengan Asri karna dia termasuk kembang desa. Parasnya yang ayu, tingkah lakunya lemah lembut, sangat perempuan sekali. Tapi pekerjaan di kantor kelurahan belum cukup membuatku puas. Bisik -bisik kehidupan di kota mampir di telingaku mengusik batin untuk bermimpi. Maka dengan kebulatan tekad dan segepok mimpi, aku pun berangkat menuju kota untuk melihat ada apa saja di luar desaku. Akupun harus tega meninggalkan Asri sementara, sebelum pergi telah kuselipkan janji bahwa aku akan cepat kembali untuk menjemputnya.
********
“Walah No..! kamu tau perempuan yang biasanya ngamen pake' botol aqua gak? Areke ayu banget, gak cocok dadi pengamen. Anak mana ya?” ibu yang menjual kopi itu bertanya dengan laki laki yang duduknya di bangku sebelahku.
Aku mencuri dengar perbincangan mereka. Tapi aku tidak berani ikut ambil bagian. Rupanya yang mereka maksud adalah pengamen perempuan yang beberapa hari lalu aku temui di sini. Tubuh langsing, wajah manis, dan kulitnya kunging langsat, hanya saja kesempurnaan sebagai perempuan itu tertutup debu dan pakaian camping yang dia kenakan. Beberapa orang di warung itu ikut menimpali. Ada yang bilang perempuan itu mantan perek dan sekarang insyaf lalu ganti profesi jadi pengamen. Ada juga yang bilang perempuan itu perempuan stress sebabnya ditinggal calon suami. Akh.. entahlah, aku sendiri tidak seberapa perduli. Aku justru punya kesimpulan sendiri, perempuan itu stress gara gara ditinggal suami lantas jadi perek dan sekarang pindah profesi jadi pengamen. Kalau itu cerita yang sebenarnya, aku jadi takut dan membayangkan nasib Asri. Tubuhku gemetar jika membayangkan akibat aku meninggalkan Asri. Sudah hampir tiga tahun aku tidak juga segera menjemputnya. Kalaupun aku memutuskan pulang, apa yang bakal aku suguhkan pada keluarganya. Andai saja aku seorang yang berhasil, aku pasti bisa menyelamatkan perempuan pengamen itu dari jalanan dan pulang untuk menikahi Asri lalu memboyongnya ke kota ini.
Hidup di kota ini sungguh membuat aku sesak, tapi tidak ada pilihan. Keputusan untuk merogoh mimpi di sini sudah aku pilih. Sekarang jika aku memutuskan untuk kembali ke kampung pastilah olokan dan cemoohan jatuh padaku. Atau aku boyong saja Asri kesini tapi mau aku beri kehidupan macam apa? pikiran konyol lagi-lagi berusaha menjinakkanku pada ketidak berdayaan.
“Mas, kapan pulang? Bapak sudah tanya, kapan mas mau nikah dan jemput aku. Pulang sajalah Mas, bantu-bantu bapak di sini. Bapakku malu karna anak gadisnya masih belum nikah. Aku ndak mau dicarikan jodoh yang lain.”
Isi surat Asri semakin membuat pikiranku berat, aku kasihan dengannya. Dia sudah begitu sabar menungguku. Antara kepolosan dan kegigihan sifat yang kontras, itulah yang membuatku enggan melepaskannya. Tapi bagai mana aku bisa menjawab pertanyaan itu. Aku sendiri tidak tahu kapan aku bisa pulang. Kopi gelas kedua sudah sampai di dasar leteknya, rokok kretek yang aku beli eceranpun tersisa tinggal 3 batang. Aku rogoh kantong celana dan kukeluarkan lembaran sepuluh ribuan kucel lantas kubayarkan pada ibu penjaga warung. Aku meninggalkan warung itu dan berjalan menyusuri lorong terminal.
“Mojokerto... Mojokerto pak! AC tarif biasa pak” seorang calo langsung menyambutku dengan suaranya yang kasar. Aku hanya menggeleng dan terus berjalan meninggalkan laki-laki itu. Belum sampai tiga langkah, calo lain dengan semangat yang sama menawarkan bus antar kota dengan tujuan yang berbeda. Aku menggeleng lagi dan tersenyum kecil. Lantas aku bergegas mencari tempat duduk di ruang tunggu calon penumpang. Aku memilih duduk di deretan paling belakang, dekat seorang perempuan setengah baya yang sedang menggendong bayi.
“Oalah.. gak usah ditawari bos.. mas iku gak niat numpak bis” sungut calo yang tadi kutolak jasanya. Aku diam saja dan pura-pura tidak mendengar gerutuannya. Calo lain yang hendak menghampiriku berbalik arah dan mencari calon penumpang yang lain. Tas ransel kecil yang berisi harta paling berharga ku bekap. Ada beberapa lembar baju, surat-surat dari kampung dan ijazah. Pikiranku masih saja dihantui kebingungan, ramai terminal rasanya sangat sepi buatku. Gendang telingaku tidak dapat menangkap bunyi klakson bus yang bergerak perlahan. Sesekali saja mataku mengamati dari pintu masuk terminal. Wajah lusuh para penumpang berjejal di pintu peron. Suara kardus-kardus besar yang jatuh, teriakan para calo dan tangis bocah-bocah kecil, seharusnya kesibukan siang itu cukup ramai. Tapi entah ada apa dengan liang telingaku, tidak ada suara apapun yang mampu masuk. Rasanya sepi dan hening, justru riuh genderang dalam batin terasa sangat ramai. Dari mimik muka calon penumpang aku menangkap kerinduan akan pulang. Di terminal antar kota ini orang-orang bergegas, bergerak cepat seperti kilat kilat serangga malam yang biasa mengerumuni lampu teras. Sedangkan aku, menjadi seperti serangga sekarat di tengah kerumunan, hanya duduk dan diam.
*******
Dari jarak yang tidak jauh dari tempat dudukku, segerombol anak muda datang. Empat laki-laki dan satu perempuan. Mereka memakai tas ransel besar di punggung dan dandanan ala pendaki. Asyik sekali mereka tertawa dan bercanda.
“Malang.. Malang.. Malang mas??” seorang calo langsung menghampiri mereka dan dengan tanggap menawarkan jasanya. Tapi mereka tak menggubris malah terus bercanda dengan temannya yang lain. Sungguh tidak sopan perlakuan mereka terhadap orang yang lebih tua. Mungkin itu resiko seorang calo hingga dia diperlakukan seenaknya. Kalau di kampung, pemuda semacam itu dianggap perusuh, tidak tahu adat dan hal jelek lainnya. Untunglah aku tidak pernah dapat cap seperti itu. Aku termasuk pemuda yang dianggap sopan oleh warga. Setiap berpapasan dengan orang yang lebih tua aku membungkukkan badan dan tersenyum. Hanya sekedar penghormatan saja.
Tapi di kota besar ini kesopanan terkadang menjadi boomerang. Beberapa kali pindah kerja, dipecat hanya gara-gara terlalu sopan dan dianggap penjilat. Aku hanya bekerja sebagai buruh pabrik, dengan lingkungan pergaulan kalangan bawah. Pemikiran mereka hanya sekedar bisa makan ya kudu punya uang banyak. Gimana caranya? ya mendekati atasan. Hampir saja aku terjebak pada pemikiran sesempit itu. Mungkin karna hal itu banyak teman-teman sekerja yang tidak bisa menerima kelakuanku. Kalaupun ada atasan suka dengan sikapku itupun hanya alasan saja, pasti mereka menjadikan aku sebagai tumbal. Walau tidak semua perlakuan atasan seperti itu. Akupun belajar membaca dan memahami perlakuan orang kota. Masa beradaptasi, tiga tahun kurasa cukup mengubah pola pikir kampung menjadi lebih kota. Ya.. persaingan sangat terasa di sini, kalau tidak mampu ikut arus aku pasti mudah tersingkir dan menyerah. Untunglah Ibu dan bapak kostku sangat menyukai kesopananku mereka pun menganggap aku sebagai anak mereka sendiri. Pada mereka aku sering bercerita dan membicarakan apa saja sambil terus belajar banyak hal.
Aku lirik jam yang melingkar di pergelangan perempuan setengah baya yang duduk di sampingku. Menunjukkan jam setengah empat lebih 3 menit matahari sudah mulai turun, tapi keramaian di terminal belum juga surut justru semakin ramai. Hampir lima jam aku berputar-putar di dalam terminal. Bus-bus antar kota entah sudah berapa armada yang berangkat. Mataku tiba-tiba memberat, sepertinya akan ada yang tumpah. Aku bergegas menuju ponten umum di sudut timur terminal. Mbak penjaga ponten langsung tersenyum melihatku. Sepertinya dia mulai hapal wajahku karena seminggu belakangan aku cukup sering melamun di terminal ini.
Dari balik pintu toilet aku mendengar samar-samar lagu jawa campur sarian “Ndang balio.. Sri.. Ndang balio.. Sri..” akh lagu itupun sepertinya menyuruhku untuk pulang. Kenapa justru peringatan untuk pulang yang terus masuk ke dalam telingaku. Aku pura-pura tak mendengar lagu itu. Aku usapkan air dari kran langsung ke wajahku, lalu aku segera keluar dari ruang itu.
“Ayo tho le.. cepetan.. bapakmu iki wes ngenteni...! keburu sore!” aku berpapasan dengan seorang ibu dan bocah yang mungkin berusia 10 tahun. Si anak cuma bisa meringis menahan sakit di perutnya.
“Sabar bu.. kasian anaknya dipaksa-paksa” ucapku dalam hati. Aku seperti melihat keserupaan nasib dengan bocah laki laki itu. Ditekan dan tertekan hanya saja dengan permasalahan yang berbeda.
"Kasian ya mas anaknya!” bisik mbak penjaga ponten padaku. Aku mengiyakan dan kemudian pergi berlalu. Setelah meninggalkan recehan 500 rupiah dan senyuman kecil padanya.
Aku melangkah gontai, seharian ini aku cukup diingatkan pada kampung dan pulang. Surat-surat dari Asri dan Ibu di kampung aku genggam makin erat. Aku berdiri bersandar pada tiang di antara ruang tunggu dan pintu keluar. Entah mana yang aku pilih. Sebuah tembok bertuliskan “DILARANG KENCING DISINI, KECUALI ANJING!!” benarkah aku tak cukup layak mencari mimpi disini. Apakah aku sudah menyerupai Anjing? walau sudah dihantam kekerasan kota, masih saja tidak juga pergi. Apa lebih baik aku pulang dan menghentikan mimpi. Nafas panjang kulepaskan, penat batinpun mengoyak, kegundahan makin memuncak. Lalu lalang orang di terminal itu memutar mutar kepalaku. Aku pejamkan mata dan melihat kilatan kilatan kehidupanku di masa lalu dan masa sekarang. Gambar wajah wajah orang orang disekitarku, kegigihan Asri pengharapan ibu. Dan aku yang berdiri di tengah jembatan rapuh. Aku harus kembali atau terus berjalan menyebrang.
Tiba-tiba saja suara bising dalam terminal masuk ke dalam telingaku. Suara riuh orang orang yang berteriak teriak, klakson bus dan derunya menjadi sangat keras menghantam gendang telinga. Tangisan bocah dan semua harapan orang-orang di dalam terminal tiba-tiba saja memacuku. Aku beranjak dari terminal menuju pintu keluar, melupakan pemandangan bus antar kota. Mengacuhkan wajah-wajah rindu para calon penumpang, menghenyakkan pikiran-pikiran konyol dari labirin syaraf otakku.
“Asri, tunggu masmu setahun lagi! janji setelah setahun aku akan pulang. Kalau sampai aku masih gagal. Biarlah aku pulang sebagai orang kalah.”
Setiba aku di tempat kost akan segera kubalas surat asri. Dan kakiku pun semakin mantap keluar dari terminal, menata kembali mimpi yang hampir saja aku buang. Waktu tidak akan berhenti berlari, tidak akan pula berjalan mundur. Demikian juga aku.
Kamar, Jan 08
Monday, October 01, 2007
RIAK TELAGA DI BENING MATA
: PEREMPUAN
Dengan langkahnya yang mantab setelah ia meninggalkan senyum tipis, ia membalikkan tubuhnya dariku. Tapi tak segera kutemukan guncang dipundaknya. Ia meninggalkan malam yang hambar begitu saja. Kemudian langkahnya semakin melebar ketika terdengar ricuhan bintang yang sedang mabuk, menirukan tangis hewan malam yang sengau di telinga. Perempuan itu telah memutuskan untuk memilih pergi dariku, ya.. perempuan bermata bening itu akan begitu saja pergi.
“Dis.. maafkan aku hanya bisa meninggalkan sekelumit kenangan, tanpa bisa memberimu mimpi berlebih” bisikku ketika ia tak lagi mau memelukku dengan erat. Dan aku tahu apa yang sebenarnya terjadi pada perempuan itu. Walaupun sekali lagi senyumnya yang bagai tirai di pagi hari, mampu meluapkan rasa bersalah yang menganak di ujung hati.
Ranting pohon semakin kencang mengucap serapah pada angin, tak mungkin ia patah karnanya. Senyumnya pada daun yang gugur hanya ucapan selamat tinggal pada angin yang menamakannya rindu.
Begitulah perempuan itu mengumpamakan dirinya, berkali kali ia berkata “Aku tak mau ada luka menganga di antara kita. Jika kita masih menemukan rindu maka kita masih syah untuk bertemu. Dan ini resiko kita yang berdiri di padang ilalang”. Aku hanya terdiam terpaku mendengar ia berkata begitu.
Di tepian matanya, tak pernah sekalipun aku melihat danau yang berkabut. Aku selalu menemukan garis tipis yang selalu ia tarik di ujung bibirnya. Ingin sekali aku menemukan sesuatu di matanya, tapi ternyata itu hanya harapan semata. Walaupun aku telah bersiap mengosongkan dada untuk mendekapnya jika ia menangis tersedu. Senyumnya yang tak pernah usai walaupun kisah ini berawal dari masalah yang ada sejak awal aku dan dia bertemu. Itu juga yang membuatku lupa bahwa aku sangat ingin berbagi dan menemani kesedihannya. Aku menjadi laki-laki egois yang hanya ingin mereguk setiap senyumnya untuk menyejukkan batin yang sepertinya telah koyak.
Malam itupun berlalu dengan lambaiannya seperti ucapan selamat tinggal. Tapi perempuan itu tak pernah berkata begitu. Dalam hati aku membuang jauh pikiran tentang arti lambaian itu, lalu berbisik “Sayang, lain waktu semoga kita bertemu lagi!”. Ia menggeleng dengan senyum yang membuat bibirnya membentuk garis lengkung, sembari berkata sangat lirih “Tidak akan ada lain waktu, sayang..!”. Ataukah mungkin memang aku yang tak pernah mau membaca tanda, lalu menjadi buta dan berlarian mencari jalan yang lebih terang sebagai jalan menuju selamat? Aku tidak pernah benar-benar mengenal arti setiap senyumannya, seperti saat ini. Dimatanya aku juga tak pernah menemukan riak yang membuat sang senyum enggan bertamu. Aku semakin tersesat.
*********
Sore itu begitu manja tiba-tiba dingin menusuk, matahari begitu angkuh untuk tenggelam tapi cahaya yang biasanya keemasan hari itu menjadi buram, entah ada pertanda apa. Tapi aku tetap bersiap menemui perempuanku. Dengan baju biru laut dan sedikit wewangian beraroma melati yang kusemprotkan di balik kerah, aku bergegas menemuinya. Perempuan yang sudah beberapa minggu kutemui di
Aku menjadi enggan melihat malam yang sebentar lagi datang. Perpisahan… ya perpisahan. Aku sedang menyiapkan sebuah perpisahan di tengah riuh nyanyian jangkrik dan kepik. Kebersamaanku dengan perempuan itu hanya sebentar, dan aku belum tahu apapun tentangnya. Walaupun sudah banyak cerita yang ia kabarkan setiap harinya. Aku begitu ingin mengenal arti setiap senyumannya itu. Tapi rupanya waktu telah habis dan ini harus disegerakan sebelum aku dan dia menjadi lebur kemudian.
Kemudian waktu menjadi batu yang terlempar disegala arah, menghujani kita dengan luka luka yang lama lama menjadi begitu sangat biasa. Dan batu menjadi waktu yang terdiam lama diujung penantian untuk kemudian lebur menjadi debu.
**********
Kepalaku berputar putar dihujani kenangan tentang perempuan itu. Di suatu perjalanan kecil untuk melupakan penat kepala, aku menemukannya diantara sekian banyak penumpang yang kumal di dalam bus antar
Letak dudukku yang berseberangan dengan perempuan itu membuatku tak dapat langsung mengajaknya berbicara. Lalu aku memutuskan untuk mengamati secara diam-diam, agar aku dapat menikmati matanya. Penumpang bus sedikit demi sedikit berkurang, tapi ternyata perempuan itu tak juga segera turun. Sampai akhirnya di terminal terakhir, iapun turun demikian pula aku.
Perempuan itu tak segera mencari angkutan lain. Ia malah memilih duduk di bangku ruang tunggu. Entah apa yang sedang ia tunggu. Tapi wajahnya sudah berubah menjadi datar, tidak seperti di dalam bus. Mungkin karrna ia tak lagi bersandar pada kaca jendela yang berhias air hujan. Dan aku merasakan kesepian di tatapannya itu. Ku beranikan diri untuk duduk disampingnya, tapi aku tak segera berani mengajaknya berbicara.
“Permisi, mas tadi yang di dalam bus ya? Saya Adis.” tanyanya dengan senyum kecil sekaligus ia mengulurkan jemarinya yang lentik. Dalam hati aku merasa terkejut dengan sikapnya yang berani itu. Sedikit keraguan terlintas di benakku mungkinkah ini perempuan baik-baik. Tapi kusambut juga uluran tangannya hanya untuk sekedar menghormati teman baru. Aku mengamati matanya yang sedari tadi mengusikku. Matanya memang bening seperti telaga yang tenang, rupanya jika ia tersenyum matanya menjadi semakin terang.
“Lukman, ehm Adis mau ke mana?” aku memulai basa basiku. Padahal aku sedang mengatur ritme nafas yang mulai tak karuan. Mulutku tiba tiba kaku terbekap ragu. Tapi perempuan itu rupanya tahu apa yang sedang terjadi padaku. Lalu ia berusaha mencairkan suasana. “Perempuan ini rupanya pandai membaca” batinku. Dan akupun larut pada perbincangan kecil dengannya.
Entah bagaimana asal mulanya akhirnya aku mengantarkan sampai ketempat tujuannya, mungkin karena waktu itu sudah malam dan aku tidak tega membiarkan ia pulang sendiri. Perempuan itu tinggal di sebuah desa di pinggiran
Giliranku bercerita, aku hanya bisa menceritakan sedikit bagianku bahwa aku bekerja di sebuah travel agent. Bukan karena ingin berahasia tapi memang aku sedang tak ingin mengingat “aku” yang sibuk. Dan diapun tak banyak bertanya lagi, mungkin itu bentuk ketidakpeduliannya padaku. Setelah mengantarnya aku yang memang belum tahu mau kemana mencari tempat tinggal di dekat
Perjalanan segera dimulai ketika senja dan malam beradu.
***********
Baru dua hari bersama tapi aku telah merasakan ada yang berbeda. Lalu aku menggulirkan kisahku yang sebenarnya. Adis hanya diam, setelah selesai aku bercerita baru ia tersenyum dan membiarkan aku yang larut pada masalahku sendiri. Pikiranku yang kalut menjadi begitu tenang saat bersamanya. Walaupun aku bercerita tentang kisah yang rumit, tapi aku tak lagi merasa ingin meledak. Ataukah ini karena hawa desa yang sejuk ikut meredam luka ataukah
Tanpa terasa aku menjadi ingin memiliki mata sebening telaga dan senyum yang selalu menghiasi wajahnya. Dan aku akan menenggelamkan tubuhnya dalam pelukanku hanya untuk menenangkan diriku sendiri. Mungkin ini egois tapi aku tak pernah tahu apa yang sedang terjadi.
Keberanian macam apa yang akhirnya membuatku mengatakan bahwa aku nyaman berada disampingnya.
Aku menjadi semakin khusyuk pada pertemuan-pertemuanku dengannya. Di sebuah bukit kecil menjelang senja aku dan dia selalu berbagi lelucon. Diam-diam aku merekam kenangan kecil di dalam ingatan, tapi perempuan itu malah mengingatkan “Jangan ada kenangan, prasasti, atau apapun. Kisah ini bukan untuk dikenang tapi hanya untuk dinikmati”. Aku menjadi gusar apakah mungkin aku tidak mengingat ini. Sedangkan kepalaku semakin lama terisi dengan senyuman dan kata katanya yang terkadang tak pernah aku mengerti.
Awan yang gelap menjadi begitu terang ketika bulan yang merah menerawang menjelma menjadi bayangannya. Tak ada sekejap waktupun ingin menghardik tawa riuh ditengah badai yang disebut kita.
Disaat aku mulai tenggelam dalam tawa dia malah bersikap acuh. Membuatku terjaga pada segala kemungkinan. Tapi terkadang perempuan itu juga terbang bersama angin yang membuatnya merasa ringan lalu lupa untuk turun. Dan aku harus menjadi pemberatnya untuk membawanya kembali ketujuan semula. “Tanpa kenangan hanya sekedar kisah singkat untuk dinikmati”
***********
Tiga minggu kebersamaan sangat begitu singkat buatku, aku larut dalam bayangan bahwa kisah ini akan berlanjut sampai aku dan dia kembali ke habitat semula. Dan aku membayangkan bahwa aku akan menemukan banyak kisah baru. Tapi rupanya waktu tak cukup punya kesabaran. Akhirnya waktupun yang menghancurkan keinginanku itu.
“Dis… tunanganku telah kembali. Dan aku akan segera pulang.” setelah lelah mencari cara untuk menceritakan yang sebenarnya pada Adis. Akhirnya kalimat itu meluncur begitu saja. "Pulang" akhirnya kata kata ini menjadi pilihanku. Aku harus segera pulang untuk membenahi bangunan kisah yang hampir roboh.
Lalu ia melepas pelukannya dan menatap wajahku sejenak. Tatapannya begitu dingin membuatku beku di dalam matanya. Dan sekali lagi senyum yang tak pernah bisa kuartikan ia suguhkan padaku. Kali ini aku melihat riak kecil di telaga matanya, tapi entah bagaimana bisa tak ada ombak yang jatuh dipipinya. “Rupanya sudah tiba waktunya.” jawabnya hampir berbisik. Dan aku hanya mengangguk kecil entah dia tahu aku mengangguk atau tidak.
Lalu semua koyak ditelan badai yang mengamuk di tengah permainan nasib. Menjadi perang dengan desing peluru yang memantul ditengah tengah senyum yang ternyata semu. Menjadi karam ditelan ombak yang amuk digelitik luka di dasar laut.
Kemudian malam menjadi begitu hambar tanpa senyumnya lagi. Dan aku tak akan lagi bisa menunggu matanya yang bening tergenang air mata. Pertemuan terakhir di sebuah malam dengan bulan merah dan hampir redup. Aku beranjak memunguti sisa sisa senyum yang tercecer di setiap kenangan tentangnya. Walaupun ia tak pernah menginginkan adanya kenangan ini, tapi biarlah aku menjadi pemulung nista yang lebur dimakan kata-kataku sendiri. Dan setidaknya aku bisa melihat telaga itu riuh di depanku.
Kamar-Tangsi, Sept – Okt 07
Sunday, June 03, 2007
Surat Kelima yang Tak Selesai
Ini
Kuletakkan pena yang sedari tadi mendiami sela sela jari. Aku sudah terlalu lelah mengorek ngorek isi hati, hendak menulis apalagi. Semakin panjang
Sesekali aku berbisik dalam hati “Segera usaikan tangismu…! sekarang…! malam ini! Besok tak perlu lagi air mata itu ? kau tak butuh kesedihan lagi… Ratna..!”
Kuhantamkan kalimat itu berkali kali di dinding hatiku dan pecahlah telur telur airmata yang tersimpan di ujung mata.
Mas wahyu laki laki berperawakan tinggi dengan tampang keras, berwajah kotak seperti kaleng krupuk, tidak ada yang menarik dari dirinya. Entah apa alasannya sejak dua tahun yang lalu aku tidak pernah bisa berhenti berpikir tentangnya. Mas Wahyu memang bukan kekasihku setidaknya aku berhubungan dengannya tanpa status. Aku dan dia hanya teman sebatas kegiatan di kampus saja. Tapi entah ada apa di antara kami, orang lain selalu melihat ada yang lain setiap aku bersamanya bukan hanya sebatas teman. Sampai pada akhirnya 2 bulan yang lalu aku bertanya sesuatu tentang hubungan kami. Dia hanya menjawab “Aku hanya menganggapmu teman, Ratna..!” mulai hari itu sampai keesokan harinya aku mulai menjaga jarak. Aku merasa lega karena aku tidak perlu lagi berharap dan menunggu suatu kepastian.
Tapi sejak pertanyaanku itu terlontar dan aku mulai menjaga jarak, Mas Wahyu semakin berani mendekat padaku. Dia mulai berani memelukku, aku tak pernah bertanya maksud perlakuannya. Aku diam dan hanya bertanya dalam hati apa maksud semua itu. Ketika di sebuah taman dia tiba tiba meminjam HPku lalu ia mengetik sesuatu disitu. Setelah sampai di rumah aku baru tahu ada pesan singkat yang dia simpan.
Bila bulan buram tertutup risau awan
Coba bertaya pada semua hembusan angin
Benarkah dia?
Apakah dia?
Taukah dia?
15juni06 00.05 by ”W”
Taman Apsari dicuri sedikit waktu dari hpku
Entah apa maksudmu?
Puisi itu Mas Wahyu tulis ketika aku dan dia sedang berada diambang ketidakjelasan yang amat sangat. Puisi yang membuatku hingga setahun ini tak pernah bisa paham arti dan keinginannya padaku. Apa yang selalu dipikirkannya tentangku.
Mas… apa yang kau maksud di puisi itu? Apa perlu aku bertanya? Harga diriku terlalu tinggi untuk bertanya maksud puisi singkat yang sederhana. Tapi maknanya begitu dalam. Sedalam apa? aku juga tidak tahu. Sampai kapan puisi itu menjadi teka teki.
Mas.. puisi itu begitu melekat Tak satu katapun aku lupa. Aku tau ada yang tersembunyi disitu, tapi apa? katakan? Beberapa bulan kau pergi, menghindariku mungkin? Kita tak pernah saling berbicara bertatap muka, hanya lewat pesan singkat kita berbicara. Puisi itu begitu dalam. Aku tau...!
Kubatalkan lagi… clear
**********
LakiLakiku
Laki lakiku
Sudah kukutuk kau
Tetap saja syaraf otak mengiangkanmu
Laki lakiku
Sudah kuhapus kau dari daftar mimpi burukku
Laki lakiku
Seperti candu
Merengkuhku hingga remuk sluruh batas dosa
Bekas pelukan eratmu merayap menyelimuti do’a do’aku
Laki lakiku
Kau memang bukan kekasih
Tapi hati selalu memanggilmu
Laki lakiku
Dialam sadar
Dialam mimpi
2juni07
Puisi puisi itu mengejan keras didalam perutku, seperti janin bayi yang lelah terkurung dalam rahim sang bunda. Dan kembali tidurku tak nyenyak. Mengusik pertapaan panjang malamku. Rumus baru untuknya. Ya.. dia lakilakiku bukan kekasihku. Tapi apa bedanya? Kembali aku beringsut merangkak di atas bantal menahan tangis menunda mimpi baru tentangnya datang lagi malam ini.
“Ratna.. letakkan matamu disisi segelas air putih, tenangkan mata batinmu” hati kecil membisikkan kata kata itu.
Lembaran kertas kertas itu semakin berserak di atas meja kecil sebelah tempat tidur unguku. Puisi tentang bulan miliknya tak pernah terungkap, masih misteri. Suasana misteri, hati misteri, tubuh misteri, dirinyapun misteri. Abu abu rokok bertabur di atas kertas kertas itu. Kegelisahaanku tercampur baur antara puntung rokok, segelas air dan kertas kertas lusuh itu.
*********
Sebulan yang lalu entah bagaimana awal mulanya aku dan Mas Wahyu bisa kembali bercanda mesra tanpa ada sedikit pertanyaan tentang puisinya itu. Dan semua berlalu begitu saja kembali ketidakjelasan yang aku dapat. Dia memang lakilakiku tapi bukan kekasihku. Tidak bisa setiap saat aku memintanya menjadi kekasihku hanya sesekali disaat hatinya sedang ingin, maka ia datang menjadi laki laki untukku. Dan aku hanya perempuan bernama Ratna yang selalu menantinya menjadi laki laki untukku. MasWahyu tanpa keahlian bermain musik hanya mengandalkan kisah petualangan liarnya tapi aku selalu menunggunya. Masa depan yang sepertinya dia juga belum tahu bagaimana mengaturnya.
“Ratna.. laki laki macam apa itu? Apa yang ia bisa lakukan untukmu? Memberi pilihan padamu saja ia tidak bisa?” pikiran pikiran di kepala semakin mencambuk hatiku keras keras. Dan aku hanya bisa diam dan tertunduk menahan air mata turun.
Entah sampai
Isi
Bolehkah aku sebut itu salahmu? menyimpan puisi sembarangan, meletakkan pelukan sekehendak hati, dan datang menjadi laki lakiku semaumu? Aku hanya perempuan biasa yang selalu bermain perasaan sebagaimana kuatnya tubuhku dan sebagaimana sifat laki laki ditubuh perempuanku ini. Atau kau memang laki laki sinting yang lupa ingatan bahwa bentuk tubuhku ini perempuan? Kalau kau memang sinting bolehlah aku menjadi sinting untuk memakimu sekehendak hati.
Perlukah kutambahkan kalimat makian itu pada
**********
03.00 dini hari, mata ini masih menggantung menatap kertas putih yang kosong. Belum ada satu baitpun kususun untuk
Sudah kutanyakan pada hatiku, apa aku butuh atau tidak padamu laki lakiku…! Beberapa malam, beberapa bulan, beberapa tahun aku habiskan untuk memikirkan
“Ratna… perempuan dengan airmata yang selalu menggantung ditengah tengah tawa riuh! Sampai jumpa pada mimpi barumu!” hati kecilku menjadi tenang dan membiarkanku tertidur dengan senyum.
NB : Dan Puisimu tetap menjadi misteri buatku, aku biarkan puisimu tetap menjadi milikmu.
