Dimulailah babak baru ini, berjalan perlahan tanpa aku sadari 2 tahun sudah menjadi seorang istri. Dari seorang lelaki penyabar yang amat sangat tahu bagaimana menerima dan mengajariku. Bukan hanya cinta, tapi juga ketulusan dan kasihnya yang sederhana. Sungguh. tidak berlebihan dari pernikahan ini. Kami memulainya dengan perjalanan yang santai seperti seorang kawan, sahabat terkadang juga sebagai musuh. Dan kami menikmatinya hingga saat ini.
Awal tahun 2013, kami didera cobaan kecil. Aku sempat hamil, tapi hanya sampai usia kandungan 3bulan saja. waktu itu rasanya teramat sakit. *sakitnyaa tuhh disini... dan disitu.. hehehehe... Aku kehilangan janinku, sempat terpukul tapi aku berusaha tetap kuat di depan kedua orang tuaku. Suamiku membantuku untuk bangkit kembali, membangun kepercayaan Allah pasti akan memberikan penggantinya. Dan. Allhamdulillah 6 bulan berikutnya aku hamil kembali. Masih ada trauma kecil karena keguguran itu. Akupun tak berani bercerita dulu pada orang tuaku. Takut pengharapannya rontok lagi seperti sebelumnya.
Aku melalui masa hamil kedua agak tertatih, sempat ambruk selama 1 bulan. Mengalami mual mual dan ngidam seperti ibu hamil kebanyakan. Padahal di kehamilan pertama, kuat banget. Saking kuatnya kebablasan. hehehehe... Tapi lewat bulan ke 4-5, kondisi kesehatan mulai normal. Sudah bisa diajak kerja lagi, walau masih suka mual kalau bau ikan. Dan sering sekali kena Flu & Batuk. Ehm.. untunglah Internet dimana-mana, aku main rajin baca-baca artikel, Katanya, ketika ibu amil sering terkena satu penyakit yang berulang-ulang, maka si janin bayi akan kebal terhadap penyakit tersebut. karena anti body ibu untuk penyakit tersebut akan diserap oleh adek bayi. *lupaa di artikel mana* semoga tidak salah.
Sembilan bulan lebih banyak akhirnya lewat operasi cesar bayi mungil itu akhirnya lahir. Bertepatan pada malam pertama Bulan Puasa. Semakin merasa istimewa saja aku. Tapi tidak, semua manusia sama. maka keistimewaan itu hanya menjadi sebuah kebetulan biasa saja bagiku. supaya aku tak lantas terbang ke awan.
Setelah 1,5 tahun naik pangkat menjadi seorang Istri, maka di tanggal 29 Juni 2014,dimulailah perjalananku yang baru. Menjadi seorang Ibu. Semoga Gadis Kecil yang kuberi nama Azzafira Laili Ramadhani, menjadi pemenang yang memiliki keberuntungan di setiap lika liku hidupnya dan dapat membagi kebahagiaan kepada orang-orang disekelilingnya. Amieen
Kamar ibu, 17 Nov 2014
Monday, November 17, 2014
2012 - 2014 Pangkat Baru & Jabatan
Friday, February 26, 2010
Sedang men-cari-mu hingga men-cairi-mu, Puisi
Sebuah Proses "awal" perjalanan
Gita Pratama
Ketika saya ditanya kenapa menulis puisi, maka saya akan jawab tidak tahu. Dan kenapa menulis puisi seperti ini, seperti itu maka sayapun akan tetap menjawab tidak tahu.
Saya mengenal puisi sejak sekolah dasar tapi berani menulis apa yang saya katakan “ini puisi” ketika SMP karena naksir beberapa lawan jenis. Cenderung pemalu ya.. saya cenderung pemalu juga cenderung pelamun. Jadi hanya bisa memandang dari jauh, pergi menyendiri lantas dilamunkan. Tapi tidak ketika saya berada di lingkar teman-teman maka saya tidak lagi menjadi manusia yang bukan penyendiri bahkan pemalu.
"Kata-kata adalah dinding antara ku dan mu"
Rasa sakit, seperti candu. Begitulah yang akhirnya saya simpulkan hingga sekarang. Sakit tentang apa saja, kekecewaan lingkungan, keluarga, alam, politik, agama, juga kesakitan otak akut karena tidak semua bentuk pemikiran bisa terlontar lewat bahasa lisan. Seperti sebuah dinding, kata-kata menjadi perantara memahami aku yang juga Aku-Mu yang lain. Memahami kegelisahan, serta keinginan batin yang tak semuanya mampu terpenuhi. Sebagai tanda penghubung dari banyak hal yang menurut saya “hilang”.
Dunia Gerak, terbatasi. Dunia gerak yang ternyata tak mampu menampung seluruh bayangan juga imaji yang ada di kepala saya. Seluruh bayangan gerak yang berjumpalitan di ruang kepala juga benak batin. Dan di puisi saya menemukan Dunia Diam yang meleluasakan Gerak yang saya bayangkan.
Berawal dari teater saya mengenal dunia yang ternyata penuh keterbalikan makna, kegilaan yang tidak terakui, keseriusan mengurai simbol, serta masih banyak lagi. Hingga saya pun tidak lagi berpikir sekedar aku tapi aku juga aku, aku yang lain. Menjungkir balikkan aku ketika menjadi aku - dia, aku – kalian, aku - kita, aku - aku. Juga aku – sesuatu, tidak menjadi manusia. Dan sayapun menikmati segala proses, kecanduan. Tapi juga rasa lelah mungkin hanya karena kebosanan “sakit” yang panjang. Tapi saya masih selalu merindui dunia itu, Puisi hanya barisan kata, musik hanya barisan nada, tapi teater adalah barisan kompleks segalanya.
Dunia saya kecil, tapi saya ingin membuatnya besar dan luas, agar saya bisa berlarian dan bermain-main sepuasnya. Jiwa anak-anak saya masih ada sampai sekarang, dan saya merasa nyaman terus menerus memeram kekanak -kanakan saya. Berarti saya bisa terus melakukan eksperimen tentang apa saja yang menarik buat saya.
Menulis dengan pena, tulisan tangan saya sama buruknya dengan cakaran kaki-kaki ayam. “Hanya saya dan tuhan yang tahu apa yang saya tulis”, begitu pembelaan saya, jika ada yang mencoba menyindir saya. Untunglah bertemu dengan komputer dan berarti kesaktian bentuk tulisan tangan bukan lagi menjadi kendala.
Dimulai dari membaca, dunia asing yang sudah dijejalkan pada saya sejak saya sudah belajar membaca. Dari komik anak, majalah anak-anak kemudian berlanjut ke majalah remaja. Tapi membeli buku bukan kebiasaan yang juga dijejalkan pada saya. (setelah saya pikir mungkin hanya karena permasalahan ekonomi ayah juga ibu dulu, mungkin juga agar saya tidak menjadi manusia konsumtif walaupun itu berbentuk buku). Maka ketidakpuasan mencari apa yang ingin saya tahu tidak sepenuhnya terpenuhi. Hanya ketika berada di sekolah maka saya sering membolos kelas hanya untuk berlama-lama di ruang baca sekolah.
Ensiklopedia adalah buku favorit pertama saya. Karena kertasnya yang bagus, juga gambarnya yang berwarna-warni. Saya jadi bersemangat untuk kembali belajar menulis (aku baru bisa benar utuh menulis satu kata ketika duduk di kelas 5 SD) tapi sayang ternyata saya tidak bakat menulis. Karena guru, teman atau bahkan saya sendiri bingung membaca tulisan tangan saya itu. Akhirnya pasrah lebih baik tidak menulis daripada saya pusing. Tapi ternyata lebih pusing lagi jika tidak menulis. Nah lho.. jadi bingung lagi saya. Jadi saya menulis saja biar pun bab menulis tangan itu susah, tapi lebih baik daripada kepala saya pusing menahan dunia liar di kepala saya tidak tersalurkan.
Dulu ketika saya berdiam (saya ingat betul waktu masih seumuran SD, saya berdiam hanya ketika sedang buang hajat), bermacam pertanyaan melintas di kepala. Salah satu yang saya ingat adalah kalau saya sedang berpikir tentang orang lain apakah orang lain di saat yang sama, saat ini, keadaan yang sama, sedang melakukan hal yang sama dengan saya, ada yang berpikiran seperti saya saat ini? Selamat bingung teman, pertanyaan saya ini sampai saat ini masih sering muncul.
"Belum bisa membaca, baru sekedar mengeja"
Sampailah saya pada kesimpulan, ternyata saya membaca, juga menulis itu tidak benar-benar membaca ataupun menulis. Tetapi hanya masih sampai pada taraf mengeja, taraf meraba, masih pada tingkat mencari makna yang benar dari kalimat – kalimat itu. Sering ketika saya menulis, saya tidak mengerti apa maksud tulisan yang saya tulis. Setelah berhari-hari atau beberapa waktu barulah saya sedikit paham dengan apa yang saya tulis. Bahkan, saya juga juga tidak tahu apa maksud tulisan yang sedang saya tuliskan ini Apakah teman-teman juga pernah merasa seperti itu?
Saya secara sadar sedang menulis puisi, tapi saya tidak benar-benar menyadari kenapa saya menulis puisi. Pernah pada satu sesi latihan, sutradara saya bertanya “Coba siapa yang sedang menyuruhmu bertopang dagu?”. Saya terkejut, siapa? Saya bingung menjawab. Siapa? Ya mungkin karena saya sendiri yang menyuruh. Tapi dalam hati saya berpikir lagi “Kenapa saya menyuruh tangan saya bertopang dagu?” maka sudah pasti pertanyaan sutradara saya itu tak mampu saya jawab dengan jujur. Masuklah saya pada pencarian kesadaran diri, banyak hal yang secara sadar saya lakukan tapi saya tidak benar-benar sadar apa alasan saya melakukan itu. Jawaban jitu “Saya tidak tahu”.
Pencarian sebagai jalan panjang, petualangan. Ada jiwa yang selalu berkelana, menjelajah di seluruh sudut asing keingintahuan, hingga akhirnya saya memilih puisi sebagai salah satu “rumah” yang nyaman saya tinggali. Ada banyak rumah yang sering saya singgahi, saya seperti orang paling kaya karena bisa memiliki banyak “rumah”. Saya sering singgah di rumah “music”, memain-mainkan nada yang bisa saya mainkan, atau di teater rumah besar dengan banyak taman bermain, juga alam, hutan, gunung, pantai. keindahan murni, juga kesepian yang alami.
"Apakah Puisi itu sepi? Tidak. Sepi-lah yang puisi"
Rasa sepi, saya menemukannya ketika khusyuk menulis puisi. Dimana sumbernya, karena saya menulis puisi atau karena perasaan sepi itu, saya menjadi tergerak berpuisi. Entahlah lagi-lagi saya tidak tahu. Kemampuan saya menemukan jawaban dari pertanyaan iseng saya itu hanya sampai Puisi itu tidak sepi, tapi perasaan sendiri yang sunyi, ramai yang penuh hingga rasanya kosong dan mungkin sepi-lah menjadi sebab lahirnya puisi.
Kebebasan, jawaban dari segala bentuk kemampatan. Saya sendiri mengakui bahwa kebebasan yang sebenarnya saya cari. Kebebasan sebagai individu yang liar, yang selalu terus menerus didera kekosongan panjang, yang masih ingin terus diisi. Tapi semakin kebebasan itu saya cari justru ruang pencarian ini masih saja tidak ada alias nihil. Mungkin karena ini saya masih saja tidak tahu kenapa berpuisi.
Jangan tanyakan saya soal nama atau teori karena saya tidak mampu mengenal atau mengingat dengan baik. Kemampuan mengingat saya payah, saya sering membaca tapi saya seringkali lupa apa yang saya baca. Dan saya tidak ingin membatasi diri saya sendiri dengan tetek bengek seperti itu. Saya mengenal nama-nama Joko pinurbo, Sapardi, Remy sylado, Anton chekov, Pablo neruda, Nietsze, Foucoult, Tolstoy, Emily Dickinson, masih banyak lagi. Karena saya pernah membacanya tapi lebih sering karena mendengar nama itu. Saya membaca buku-bukunya tapi saya juga lupa apa isinya. Betapa saktinya saya tapi juga sakitnya otak saya kalau harus mengingat semuanya.
Jadi pertanyaan kenapa menulis puisi seperti ini seperti itu maka jawaban saya, tidak tahu. Saya masih terus mencari, hingga nanti saya dan puisi bisa mencair di satu wadah yang sama.
Halte Sastra Surabaya, 20 februari 2010
Setelahnya Pak Budi Palopo ingatkan tentang sebuah "omong kosong". Perubahan ruang dan waktu, yang akan menjadikannya benar-benar kosong. Lalu kepala saya menjadi sakit dan semakin sakti sepulang acara itu karena sibuk berpikir. "Apa yang sudah saya omongkan? Kosong".
Saturday, November 21, 2009
Menjelang kelahiranku
Semua tentang Ibu
Anak perempuan pertamanya yang lahir di tengah badai. Sedangkan Ayah yang sibuk menajamkan clurit, memangkas lebat rumput di tanah seberang. Juga kesendirian memeluk tubuhku dalam rahimnya. Dalam dinginnya nada-nada hujan, memanggulku pada ruang bidan. Sendiri sambil tetap menyenandungkan do'a bahagia.
Maka aku ada di tengah keprihatinan. Aku adalah Prihantini, yang tetap pandai menangis walau muak dengan sinetron juga tarian-tarian mimpi. Juga berlagak menarik senyum, pada lelucon sinting walau sudah jengah pada tontonan lelakon manusia setengah gila.
Love my mother
Juga Tentang Ayah
Ayah berdo'a sambil tetap mengalungkan clurit pada bidak bidak hidupnya. Agar kepulangannya bisa membawa sebuah baju, untuk anak perempuan pertamanya. Dan diam-diam memakaikanku baju mungil berwarna ungu itu, tanpa ibu ketahui.
Ayah berdiam, memandangiku dengan tubuhnya yang masih kurus. Memelukku rapat, tapi ia ketakutan tulangnya meremukkanku. Ayah hanya mencium keningku, diam-diam. Tanpa ibu ketahui. Dan aku hanya bisa menangis keras
Ayah tak pernah biarkan aku dan ibuku kedinginan dan kelaparan di setiap musim hujan.
Love my father too
Sunday, December 28, 2008
Perpus Ngemper edisi ke-2
Pengunjung pertama kami bernama Anisa dan adiknya Arum. Mereka suka sekali membaca, menulis, berhitung dan bernyanyi. Si kecil arum suka mengobrak-abrik tatanan buku. Tingkahnya lucu, setiap melihat gambar di buku ia akan berteriak "etan..etan.." ehm setan kali ya yang dimaksud. Kalau kakaknya sudah mengerti bagaimana memperlakukan buku walaupun belum bisa lancar membaca. Jadi aku memperlihatkan gambar-gambar di majalah bobo dan membacakan untuknya. Maen sekolah-sekolahan deh..! bosan membaca, mereka meminta kertas untuk menulis, berhitung dan menggambar. lucu-lucu ya mereka. di sebelah emperan kami ada ibu-ibu penjual kerupuk, beliau menghardik arum karena takut bikin rusuh.
Semakin sore sekitar jam setengah lima datanglah Wantoro pengunjung yang dua minggu lalu juga datang, dia asik membaca komik sementara 2 bocah perempuan itu ribut sendiri. tak lama datanglah ibu penjual jajanan kecil, dia mencari buku cerita untuk anaknya supaya lancar membaca. tapi anak perempuannya entah bermain dimana. akhirnya ibu itu sendiri yang meminjam majalah perempuan untuk dibaca sendiri. mendekati maghrib datang lagi bocah perempuan bernama Sofi ternyata anak dari ibu-ibu penjual jajanan kecil tadi. Sofi lebih pandai membaca daripada Anis. Tapi masih suka lupa-lupa. Dia juga belajar berhitung, menggambar bersama kami. Kalau sudah datang bosannya maka mereka akan pergi berlarian kemudian kembali lagi minta membaca. Kami berjanji untuk membawakan kertas mewarnai untuk mereka. *semoga tidak kelupa'an
Anak-anak Ars juga membantu duh siapa aja ya.. ada gepenk, ada ehmm aduh lupa gak nanya nama. Ada mas anwar juga yang satu rombongan dengan mereka. Jam 6 yasmin harus pulang karena ada kesibukan lain. Habis maghrib susana alun-alun semakin ramai maklum besok suroan dan masih tanggal merah. Rata-rata pengunjung masih bingung buku-buku ini dijual atau bagaimana. Maklum konsep hanya baca ditempat gratis belum umum. Kami menyadari memang butuh sosialisasi Perpus Ngemper agak lama. Yah setidaknya sebulan atau dua bulan dengan jangka waktu yang tak terlalu lama. Beberapa orang datang melihat dan kami persilahkan untuk membaca di sana. Mereka suka sekali, ada yang minta buku tentang agama, sastra, bacaan anak, pertukangan, bahkan perdukunan eh bukan cuma ramalan bintang.
Sekitar jam delapan kamipun membereskan TKP (tempat kejadian perpus). Karena semakin malam alun-alun semakin ramai dan nisa sudah waktunya menetek pada bantal gulingnya. Iwanpun kecapaian karena di pagi harinya ada diskusi sastra.
Setelah aku melihat langsung kondisi di lapangan, maka kamipun memutuskan Perpus Ngemper tidak lagi dilaksanakan dua minggu sekali. Dan akan dimajukan jadi seminggu sekali. Minggu depan kami akan hadir di alun-alun sidoarjo. Karena jika dua minggu sekali sosialisasi Perpus Ngemper akan sulit.
Salam Ngemper
Tuesday, August 19, 2008
Bertemu Pendekar Mabuk (Hudan Hidayat)
Malam, hari kedua aku datang lagi ke TIM. Rencananya ada janji dengan leklul, bunda inez dan kinu. Tapi setibanya di TIM ternyata tak ada leklul atau bunda inez, hanya ada kinu dan beberapa gerombol orang di warung depan TIM. Di sanalah aku bertemu seorang pendekar, yang belum lama kukenal. Kujuluki dia pendekar mabuk, Hudan Hidayat (atau mungkin memang julukannya ya?).
Kesan pertama melihatnya, aku tidak tahu kalau pendekar itu adalah Om hudan yang esainya mudah kumengerti, penjabarannya ringan dan tidak terlampau rumit. Jadi kuabaikan saja dia dan kuanggap hanya pemabuk tua yang tidak punya tempat ber haha hihi di rumah atau tempat kerjanya. Pemabuk tua itu memakai setelan kemeja kusut dan celana hitam, juga sebuah kacamata yang menghiasi wajahnya yang lusuh. Lantas aku dikenalkan Kinu pada si pendekar yang ternyata Hudan Hidayat, itupun sambil lalu. Antara percaya atau tidak kalau pemabuk itu adalah hudan hidayat aku diam saja sambil terus mengamati gerak geriknya. Di kedua sakunya aku melihat dua kotak rokok. Lantas aku bertanya "Ough om juga penjual rokok kliling". Dan iapun menjawab "ini obat, obat mabuk juga ke..ke..ke.. ." terkekeh sambil kepalanya geleng-geleng. Tolol juga ya aku, orang mabuk kok diajak becanda.
Entah berapa persen kesadaran yang tersisa di kepalanya. Rupanya pendekar itu mengenaliku kemudian memanggil namaku. Gita, barulah diriku yakin inilah om Hudan yang suka SMS gak jelas. hehehehe.. *maap om. Ia berlarian seperti bocah kecil membawa tubuh yang sepertinya teramat berat, berpindah-pindah dari bangku kayu ke gerobak rokok, dari gerobak rokok ke rumput belakang. Begitu seterusnya, tidak bisa diam sambil meracau gak jelas. Aku juga tidak seberapa ingat apa yang dia racaukan. *hemm ada sih yang aku ingat. Pendekar itu bercerita tentang kegelisahannya, aku mendengarkan racauan tentang kesepiannya, tentang sakit hatinya, tentang dia yang disingkiran, tentang kekosongan. Apakah itu benar aku tidak tahu, anggap sajalah benar.
Lama aku mendengarkan dia bercerita lantas aku menanggapinya. Tapi akhinya aku sadar sedang berbicara pada lelaki yang sedang mengigau. Aku minta dia tidur saja, istirahat. Akhirnya Pendekar itu tertidur di rumput penuh sampah dan pecahan kaca. Kinu yang sedari tadi mengutak atik "teman kerja" om hudan masih berwajah datar dan sabar karna hampir beberapa jam masih saja belom sukses di operasi. Sedangkan lelakiku, aku biarkan saja sendiri.
Kinu sibuk sekali membedah "teman kerja" Om hudan yang katanya kena virus lalu merusak system. gak tau deh apa kamsudnya. Pendekar mabuk itu gelisah sekali, sebentar-sebentar colek-colek kinu. *idihh pendekarnya genit. Ia berkali-kali bertanya dan mencoba memastikan bisa atau tidak "teman kerja"nya diperbaiki tanpa harus kehilangan ingatan
Aku melihat keadaan pendekar mabuk yang terkapar di belakangku. Sesekali tikus datang hendak menggigiti tubuh yang sudah seperti mayat hidup. Atau seekor kucing yang menjilati tubuhnya yang mungkin berbau nasi basi. Aduh.. jadi iba aku padanya. benarkah ia sedang kesepian dan harus mabuk seperti itu. Atau apakah semua pemabuk bernasib sama sepertinya? jadi santapan hewan liar. Akh untunglah ia tidak dikencingi anjing liar. Malam sudah di ujung, setelah ini hari akan beranjak menuju dini hari. Aku, lelakiku dan kinu harus segera pulang.
Kata orang disekitar situ memang begitulah dia. Hampir setiap hari mabuk.. lalu mabuk.. kemudian tepar, bahkan sudah beberapa kali telepon genggamnya hilang karna tertidur di jalanan. Ugh pantas saja beberapa sms terakhirku tak juga sampai. Rupanya Ia baru saja kehilangan lagi.
Pendekar mabuk masih terlelap bahkan tak sedikitpun posisi tubuhnya berubah. Telentang, tidur beratapkan langit. Ternyata bukan hanya gembel saja yang harus tidur beratapkan langit. tapi seorang Hudan. Rupanya ia benar-benar mabuk. Akhirnya kita bertiga memutuskan untuk membangunkan pendekar "tepar" itu dan membopong tidur dalam mobil.
Akh sebenarnya aku tidak ingin menuliskan, dan memosting cerita ini. Tapi karena dia menganggap ini lucu dan ia memintaku untuk menuliskannya. Aku tulis sajalah...! Sekarang di mana lucunya?? Mungkin Om Hudan sedang menertawakan dirinya sendiri.
*110808 pertemuanku dengannya.
Saturday, March 08, 2008
Sepulang dari Jakarta
Sudah hampir seminggu ini aku berada dalam pangkuan ibu dan pelukan ayah di surabaya. setelah semingu sebelumnya minggat untuk menenangkan diri di jakarta. "Ibu.. anakmu pulang!!" saat tiba di rumah ibu sedang menyapu garasi, dan menatap aneh padaku. Yang ternyata tampak lebih gak keurus. Gimana keurus, makan cuman bisa 2 kali mentok ya 3 kali, maennya ke cafe dan mall. Lalu bertemu dengan kedua adikku yang langsung nodong oleh oleh. huwehehehehe... Tapi baru hari kedua di rumah aku bertemu ayah "Ayahku... akhirnya ketemu lagi" dan beliau langsung memberondongku dengan pertanyaan "Gimana skripsinya"?. huwehehehe... Aku asal menjawab saja dan ngeloyor pergi masuk kamar mencoba menghindar.
Setelah seminggu melepaskan resah dan penat di sebuah kota yang ternyata lebih riuh dari kotaku tercinta. Jakarta.. beberapa kali kunjung ke kota itu, kesanku tak pernah berubah terhadapnya. Kehidupan dengan alur yang teramat cepat dan padat. kepalaku pusing memandang setiap tikungan, wajah-wajah cantik dan tampan yang berpoles sentuhan salon, make up dan segala tipu tipu. Butuh seminggu mengembalikan kesadaran setelah mencicipi euforia orang-orang kota. Dan beraktivitas lagi menulis merangkul lagi kata kata, tertawa dengan kawan kawan dunia maya. Dalam sehari harus berpindah dari gedung-gedung tinggi yang penuh sesak kepala-kepala botak dan rias perempuan-perempuan menor. Belum lagi harus berdesak desakkan dalam angkutan kota yang miris melihatnya sampai miring ke kiri. Banyak jembatan penyebrangan, naik turun tangga, kluar masuk toko dan cafe. Ufh... sesuatu yang tidak pernah aku lakukan di kotaku sendiri.
Aku memang khusus datang untuk menghadiri acara sastra bertemu dengan teman teman yang sering bercanda ketawa ketiwi lewat icon YM. berdiskusi dan mengeluarkan isi kepala baik yang serius ataupun sekedar tombo ngantuk. Launching buku Dino F Umahuk "Metafora Birahi Laut" yang bertempat wapres bulungan. Namanya tidak begitu asing di telingaku. Yang memang biasa dipakai utnuk acara acara kesenian. Yah.. itupun aku tau dari tipi kelir di rumah (semua tempat di jakarta tidaklah asing mungkin, setiap sudut pasti sudah pernah mampir di layar televisi). Acara yang digelar sungguh meriah, pembukaan acara dari pementasan teater Bung Kelinci. dengan setting tempat yang sungguh tidak nyaman, gerak para pemain pun terbatas. jarak penonton yang terlalu dekat(sayang di make upnya padahal bagus banget). lalu pembacaan puisi yang penuh ombak laut milik Dino F Umahuk oleh jonathan rahardjo, jorgy, BS, epri, lia-edelweis-, dan juga si pemilik gawe Dino F Umahuk. belum lagi suguhan live musik yang asik dari volland dan yugi yakuza dkk. juga ada diskusi yang sepertinya memang di"wajib"kan ada disetiap peluncuran buku. diskusi oleh Kurnia Efendi. tapi aku tidak terlalu mendengarkan, bahkan lewat saja ditelinga. aku lebih asik bercanda dengan teman teman yang lain. hehehehe...
dan aku tak lagi secanggung dulu ketika pertama kali datang di acara launching buku Yohannes Sugianto. Jadi aku bebas aja teriak teriak.. ketawa keras keras.. huweheheh.. *kumat. Senang sekali bisa bertemu dengan kawan kawan lama dan seminggu di sana tak akan kusiasiakan untuk tak bertemu dengan teman milis apresiasi sastra, teman warung puisi, teman Kemudian.com dan yang paling menyenangkan aku bisa bertemu lagi dengan sobat dunia maya Veveandini -aldora novriana-. Juga teman berbagi cerita Lia -edelweis- bersama buah hatinya dede' alfi yang tak lain adalah istri dan anak dari pemilik hajatan dan juga bertemu teman bergosip milla, windry, om dedy, bunda inez, om yo, mbak dian ilenk, widee, ayas, bang cibo, rangga, yugi, bayu. Juga beberapa orang yang hanya tau namanya saja di dunia maya laennya. sperti om setyo, om Yonathan, Cak Lul, om BS, bung kelinci, om epri, mbak olin, indah, banyak sekali ya namanamanya (semoga tidak ada yang terlewat)
Hari pertama tiba di Gambir selasa pagi. Aku dijemput veve, walaupun harus menunggu sekitar 2,5 jam. Kemudian diajak berputar putar jakarta dengan busway menuju rumah tinggalnya. Sepertinya tidak sengaja berputar-putar, karna si veve rupanya bukan kenek busway. Sore harinya setelah ngaso sebentar di rumah veve yang dari aku datang sampai aku pergi lagu betawi diputar, aku mengunjungi pasar festival tapi rupanya itu juga mall. (ukh... baru datang disuguhi mall) Untuk kemudian bertemu dengan miss worm -windry- dan bakal tinggal sementara di rumahnya selama di jakarta. Empat hari aku ditampung di rumahnya yang riuh meong meong lucu. Lalu menguntit kesehariannya mulai dari apartemen tempat proyek yg sedang ia tangani, bergelantungan di busway, naik turun taksi. tak lupa merengek pada windry untuk naek bajaj dan windry baek hati sekali aku diijinkan berputar putar naek bajaj yang konon katanya "getarannya bikin ketagihan". huwahahahaha... lalu kembali ke rumah, menemaninya menulis cerpen dan menonton film korea hingga larut malam.
Hari kedua di jakarta aku "memanfaatkan" Bayu yang ternyata sudah mengambil cuti khusus untuk bisa menemaniku berputar putar jakarta dengan vespa antik miliknya. Hahahaha... *Baguslah Bay..! tercapai juga keinginanmu pamer vespa. Lalu mengunjungi gramedia matraman. Di gramedia, ketika sedang asik baca baca buku di rak sastra, aku dan bayu didatangi mbak berseragam diminta kesediannnya untuk diambil gambar sambil berpura pura membaca novel ayat-ayat cinta. (sepertinya untuk promo film ayat ayat cinta) *hahahaha... aku menjadi salah satu pelaku penipu di jakarta. Kebetulan waktu itu rak buku ayat ayat cinta sepi pembaca. Baru sore harinya aku dan bayu meluncur di tengah kepadatan kota dengan gerimis di sepanjang perjalanan menuju tempat wapres bulungan. Rencananya siang sih tapi karna hujan lebat jadinya terlambat, padahal aku sudah berjanji untuk membantu persiapan acara pada om yo dan om dino.
Keesokan harinya aku diajak om yo untuk datang diacara pembubaran panitia. karna aku lagi lagi merengek minta kaos padanya hehehehehe.. *merepotkan ya?. dan windry yang juga panitia pasti datang keacara itu. Dari sore aku dan windry harus nongkrong di Blok M Plaza. sekalian menunggu yang laen datang. dan aku juga membuat janji dengan mbak olin di sana.
Baru hari keempat aku bisa merasa seperti di habitatku ketika nongkrong di TIM, ngeliat ABG, trus liat orang orang yang tanpa polesan dan cuek dengan penampilan. *dasarnya gembel. Sebelumnya, pagi hari itu aku harus ikut windry untuk "dititipkan" pada Kinu dan harus menunggu kinu datang menjemput di Plaza Semanggi padahal belum buka. Aku terpaksa menunggu di Dunkin Donutz satu satunya tempat yang sudah buka. untung tidak begitu lama sampai akhirnya Kinu datang. Lalu mampir ngenet di ratu plaza, sarapan di kantin pegawai setelah itu melanjutkan perjalanan ke TIM liat liat buku di toko bukunya jose rizal. niatnya cuman mo baca baca malah mborong huwehehehe...*kalap. Sambil menunggu windry dan kawan kawan lain yang belum aku temui. Walhasil seharian itu aku di TIM mulai dari jam 1 siang sampai jam setengah 10 malam. Windry aku minta pulang duluan karna dia ada jam malam, ditemani kinu. Tapi aku belum mau pulang dan asik nongkrong sama om yo, mbak ilenk, caklul, ndaru.(semuanya kebetulan aja ketemu di sana) padahal aku cuma janji bertemu dengan indah, widee, mbak olin, dan caklul saja. Om yo menawariku pulang bareng naik mobilnya dan kebetulan rumahnya tidak terlalu jauh dengan tempat windry. Tapi aku memilih pulang bareng caklul naek sepeda motor selain karna bosan naek mobil *hayah guuaaaya, aku juga ingin melihat jakarta pada malam hari lebih jelas. ndeso ya??
Ya sudahlah. Walau harus menunggu seminggu untuk menguraikannya cerita kecil, harus bersembunyi juga dan tidak banyak ngobrol dengan teman teman di YM. alasannya cukup simpel, aku tidak mau cerita di kepalaku hanyut dan tenggelam oleh obrolan obrolan baru. Dan aku bukanlah orang yang mudah menulis, walau hanya sekedar catatan perjalanan seperti ini.
YMpun aku invisible, menyibukkan diri mengutak atik blog, email, MP, mencuri beberapa foto-fotoku dari rumah maya teman teman yang lain (maklum artis, walau agak gila jadi banyak yang ambil fotoku). Sekarang sepertinya aku sudah kembali pulih. *semoga saja. atau malah bertambah tingkat kegilaannya. huwakakakakaka....
Ibarat segelas kopi yang tandas, tersisa ampas. Tunggulah kering memadat, agar bisa diukir dan dipahat. Dan jangan dituang air lagi, agar ampasnya tak lagi berterbangan dalam gelas.
Monday, February 18, 2008
[Puan] Malam Sejuk yang Memuakkan
Akupun melaju kencang dengan motor kesayanganku, menerabas beberapa lampu merah dan mengacuhkan dingin yang menerpa mukaku. Akh... sial telat lagi!!! jam 19.35 seharusnya sejak jam 19.00 tadi aku sampai di pekuburan jasadku, menenggelamkan Gita menjadi Gulita si lonte tua. Sial sial sial... dan aku semakin cepat menarik gas motorku.. tak lagi peduli limbung angin yang menghujam tanpa hujan.
Anjing hitam bermata merah itu mengintaiku *
Anjing hitam itu mengintaiku, mengawasiku, menertawaiku yang gelak sendiri, lelah sendiri, bingung sendiri, yang dia tau aku harus sampai dan fokus.. fokus...! Akhirnya aku tiba di tempat, mengintai pintu pintu yang tertutup. kemanakah aku harus menuju,
Tak adakah jalan untukku kembali.*
dengan kecepatan degup yang entah berapa detak perdetik. wajah wajah buram para Puan yang sejak siang lelah dimakan rutinitas berproses hampir 2 bulan belakangan ini. Sedangkan kepalaku penuh dengan bermacam macam kerlip katakata prosa, puisi dan dentum musik genit . Perempuan gila berwajah tambun, roh puan, puan tua dan sang penguasa lakon panggung sutradara gemuk berwajah lembut yang akhir akhir ini menjadi begitu seram buatku (seperti anjing hitam bermata merah) mengisi ruang yang lebar sebesar gedung neraka tanpa api tanpa alat alat penyiksaan, hanya desahan yang panas ditelinga. Membakar ego yang tenggelam entah di dasar mana.
Kereta laju... kemana keretaku... bawa aku serta!! ough.. apakah tak cukup membawaku seorang diri*
bawa aku pindah menuju ruang yang kelam menenggelamkanku dalam segudang rutinitas, mengukuhkan aku kemana harus tinggal. Dan aku masih diam menunggu di bangku ruang tunggu dengan sebatang rokok yang tak boleh dinyalakan sampai nanti adegan per adegan tuntas. dan mereka semua terbatuk batuk pada asap yang kuhembuskan. Dengan gelisah lupa pada dialog dialog dan bentuk rupa rupa dimana aku berdiri duduk. Seperti sebuah penantian eksekusi mati, sungguh aku ingin kembali ke masa metamorfosis tak berujung, atau pada lazarus dan kekasihnya, atau entahlah proses terdahulu yang menenggelamkan Gita sedalam dalamnya. hingga lupa mana kepala, kaki, mata, tangan atau pusar ku sendiri.
lihatlah, aku melihat orang berbondong bondong hendak kemana mereka.. oh.. lihat mereka melepaskan pakaian pakaian mereka*
Ya.. ya.. lepaskan saja pakaian yang mengulitiku, kemudian menyampakkan aku menjadi semacam sampah yang berpindah dari TPS satu ke TPS lainnya menunggu sampai masuk mesin pembakaran atau membiarkanku menjadi belatung yang kelejotan karna bau busuk yang menguar dari tubuhku.
Angin tengah berhembus kencang dan tuhan telah membaui rencana rencana mereka padaku*
Memang angin berhembus kencang, meneriakkan serapah dan makian. Dasar anjing kupingmu becek hah..? jam berapa ini? Sudah malam tau... aku haus juga lapar, memangnya di perutmu hanya ada kecebongnya. Dasar Perempuan sinting. kapan mereka membakar gundukan pakaian mereka dengan bensin? aku juga mau.. aku ingin ikut biar saja aku telanjang. Berbaju atau tidak. tidaklah penting asal otakku masih bisa berpikir jernih. memilih satu yang menjadi pikiranku sekarang. Tidak pada lirik lirik lagu, hutan kata kata prosa dan puisi, atau juga lembar lembar tugas akhir yang tak juga tuntas. Akh... lebih baik kulepas saja kepala ini. biar menggelinding seperti bola tanpa gawang. Bakal melintasi lapangan yang luas.
Burung burung bawa aku serta*
Sampai dimana burung burung yang lintas tiap malam yang berangin, tadi mereka berteduh di bawah ketiakku. Menggelitikku untuk terus tertawa pada bahak yang tak juga berkesudahan. Mungkin mereka sedang menetek pada puting susu yang membawa kebodohan dan kekonyolan. Atau sedang menunduk pada selangkangan yang menyimpan golok tajam berduri. Lalu mabuk menari bersama sama perempuan sinting, puan tua dan roh puan (mungkin juga anjing hitam bermata merah itu juga ikut serta dibelakang panggung) sambil sesekali membunyikan musik musik miris dan menakutkan.
Lonceng berdentang berkali kali, jiwaku melesat keatas bukit*
Aku mengumpat setiap kali lonceng berdetak, sial sial sial.. tiba waktu penguburanku -Gita- dan aku masih diam disini menunggu setan yang tak juga muncul. menggantikan tempat duduk yang hampir basah karena keringat dingin berlarian. Menunggu algojo algojo diperbantukan, memeras keringat dan otak yang lelah menghapal satu saja dialog panjang tentang
Ratusan, ribuan, bahkan jutaan manusia, yang tua, muda, bahkan yang masih anak anak*
Dan sekarang aku harus kembali ke bangku penantian memunguti barang barang yang tercecer. malam sejuk yang memuakkan. Kepalaku dijatuhi gada. Berat.. Berat... Berat... dan tak ada waktu istirah sedangkan mulutku masih saja misuh misuh, mengumpat orang orang di dekatku. menyalahkan yang mungkin mereka tak ikut bersalah.
Proses Puan Yang Ketiga, kembalilah menjadi Gulita lalu menerima telepon dari om jonathan. dan memaki makinya dengan selangkanganmu yang becek. Sungguh..
Peradaban peradaban becek*
(* )adalah kilatan kilatan dialog Naskah PUAN karya Luky H Wibowo
Monday, July 16, 2007
Perjalanan Ke Pulau Sempu
Pulau Sempu
Pulau Kecil Pemikat Waktu
Berhenti berlalu wahai waktu biarlah diam
Terendam ombak Segara Anak
Kami berkumpul di sekolah hari rabu tanggal 11 Juli 2007, seluruh 6 personil HPPMS(himpunan pelajar pecinta alam SMUN 15 surabaya) dan 1 orang teman (Catur, Aku, kartika, Gagas, Fatchul, Rolex, dan Hansa) yang akan berangkat menuju Pulau sempu sekitar jam 7 malam. Kami mengecek perlengkapan dan packing barang yang akan kami bawa. Setelah itu kami menuju ke terminal bungurasih jam 02.00 tanggal 12 naik bus jurusan malang(8000 rupiah perorang). Kami berangkat dini hari untuk mengantisipasi jalanan yang macet karna lumpur lapindo. Kami naik bus jurusan malang sekitar jam 03.00 dan tiba di terminal arjiosari pukul 05.10 lalu sholat dan istirahat sejenak. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju gadang dengan menumpangi lyn AMG/AG (3000rupiah perorang) jam 06.20 Perjalanan ditempuh sekitar setengah jam. Setibanya di gadang sekitar jam 07.10 kami menumpangi colt bison menuju turen. Sebenarnya sopir colt sudah menawarkan untuk mengantar kami sampai dengan Sendang Biru kampung nelayan dan perhentian terakhir menuju Pulau sempu.tapi ketika melewati daerah turen kami dicegat leh angkot daerah turen dan memaksa kami untuk pindah angkutan. Biaya deal dengan sopir colt gadang sampai sendang biru 100 ribu. (Gadang - Turen 40.000 Turen - Sendang Biru 60.000 untuk 7 orang).
Perjalanan dari Turen ke Sendang Biru menempuh perjalanan yang lama sekitar 3-4 jam jalannya yang sempit berkelok kelok melewati bukit, membuat kami kelelahan dalam perjalanan itu. Kami tiba di sendang biru jam 11.50 beristirahat dan makan sampai jam 02.00. Setelah mengurus perijinan, mengisi persediaaan air selama 2hari dan mendapat kapal yang akan membawa kami menuju pulau (harga transportasi kapal 75.000 rupiah antar jemput) kami berangkat. Untuk menyebrang pulau tidak memakan waktu banyak karna pulau itu memang dekat dengan Sendang biru. Laut sudah surut ketika kami turun kapal dan akhirnya kami harus berbasah basah menuju daratan dan berkecek kecek ria. Batu karang yang tajam memaksa kami untuk sedikit merasakan terapi pijat karna kami harus melepas sepatu agar tak basah. Jadi agar tak melewati karang lebih baik menyebrang diwaktu air masih pasang. Setelah itu kami berdo’a di “pintu masuk” Segara Anak. Sebenarnya kami ingin menuju Telaga Lele agar mudah kami mendapat air tawar tapi karna teman saya Catur lupa kalau seharusnya tidak turun di pantai itu untuk menuju Telaga Lele akhirnya kami mengganti tempat Camp di Segara Anak. Kami menempuh perjalanan dengan jalan kaki antara satu setengah jam sampai dua jam untuk menuju tempat itu. Medan yang ditempuh tidak terlampau jauh hanya saja banyak jalan yang menanjak lalu turun dan menanjak lagi. Kami sudah cukup lelah dengan perjalanan yang ditempuh dari Surabaya.
Kami beristirahat dalam perjalanan sebanyak dua kali. Setelah melewati jembatan bambu rusak sayup sayup debur ombak tipis terdengar. Semangatku, Catur dan Hansa semakin terpacu (ke 4 orang; rolek, kartika, gagas dan Fatchul sudah berada didepan). Melewati pingiran tebing yang di bawahnya sudah terlihat laut kami harus sedikit berhati hati dengan beban yang kami bawa masing masing sekitar 15 kg. Terlihat cincin batu karang yang memisahkan pantai itu dengan laut lepas kami mengambil dokumentasi. Ternyata di depan sudah terhampar pantai dengan pasirnya yang putih bersih tidak ada sampah dan ombaknya yang tidak galak, kami serasa disambut dengan pemandangan yang indah. Segara Anak dikelilingi bukit dan batu batu karang. Kami tiba jam 04.30 mencari tempat mendirikan tenda dan bersiap siap memasak makan malam. Di belakang tempat camp ada bukit batu karang. Aku mendakinya untuk melihat ada apa dibaliknya ternyata itu adalah palung laut, pemandangan diatas sana sungguh indah. Tebing karangnya yang kokoh dan debur ombak yang besar membuat mataku takjub memandangnya di bawahnya sudah laut lepas samudra hindia wah benar benar tidak rugi harus meminta ijin kerja dan perjalanan yang harus kami tempuh. Menurut informasi sekitar jam 3-5 sore biasanya terlihat lumba lumba berenang disitu, sayangnya aku tidak bisa melihatnya karna sudah terlalu sore. Hawa disitu tidak dingin hanya hembusan anginnya saja yang sedikit kencang. Sebenarnya kami tidak ingin cepat cepat tidur tapi energi kami habis. Setelah makan malam, bersih bersih dan evaluasi perjalanan dari mulai berangkat sampai tiba, jam 11 malam kamipun tidur. Malam yang indah karpet buaian langit terhampar dengan bintang selatan redup yang tersebar. Deru ombak tipis sebagai backsound menambah syahdu tempat itu. Dan tidak ada keinginan untuk segera berpisah dengan Segara Anak. Aku sendiri tak rela menyianyiakan waktu disitu. Jauh jauh ke Sempu kok buat tidur. Rolek sudah tertidur pulas ditenda sedangkan aku, Catur, Hansa asik membuat sosis bakar. Setelah itu sebenarnya kami masih ingi menikmati malam dengan mbermain kartu akhirnya terpaksa kami tidur juga. Hansa Dan Catur sudah larut dalam mimpinya, putus asa tidak bisa main poker. Heheheh.. (orang aneh ya?. Aku juga kecewa sih..!) akhirnya aku pun ikut lelap diapit tiga orang laki laki itu.
Hari itu (kamis malam) tidak banyak yang datang hanya ada 2 kelompok. Besoknya jum’at siang datang kelompok lain juga ngecamp ditempat itu. Sedikit kecewa ketika ada serombongan keluarga datang dengan membawa porter pengangkut barang ternyata tempat ini tidak steril ketakutan pada pengunjung yang kadang membuang sampah sembarangan akan merusak tempat ini. Mungkinkah 5 tahun lagi wajah Segara Anak Khususnya Pulau Sempu akan sama seperti ini. Semoga BKSDA mampu membuat kebijakan untuk pelestarian pulau ini. Hari jumat kami memulai kegiatan kami 3 orang anggota muda HPPMS dipersiapkan untuk menerapkan materi survival yang sudah diberikan disekolah. Mereka disuruh untuk membuat jebakan untuk mencari hewan buruan. Aku ditunjuk sebagai pengawas mereka menuju dua tempat di hutan, tempat pertama tak jauh dari tempat camp, yang kedua agak jauh dan menuju jalan pentangan yang ternyata ada sebuah goa disitu. Sekitar 2 jam mulai jam 10 sampai jam 12 kami kembali menuju tempat camp untuk makan siang. Laut mulai surut sampai cincin karang yang kemaren aku lihat itu. Aku, Hansa, Catur, Rolek menunggu perisapan 3 anggota muda bersih bersih sisa makan siang, kami berenang menuju cincin itu. Lautnya indah tapi sayang di cincin karang itu banyak bulu babi. Aku tidak bisa mengintip laut luas dibalik cincin itu. Setelah puas berenang kami kembali ke camp, ganti baju dan membersihkan tubuh kami yang basah. AM sudah diinstruksikan untuk melihat jebakan yang dibuat tadi. Kali ini pengawasan diserahkan pada Rolek. Sedangkan Aku Hansa dan Catur menjaga tempat Camp sambil bermain poker. Sore hari kami menyiapkan makan malam setalah bercengkaram kami harus tidur karna malam hari ada kegiatan lagi. Ke 3 AM beritirahat kami pun juga mempersiapkan acara untuk pembayatan dan penyerahan scraf untuk 3 AM tersebut. Semakin malam ternyata ramai sekali sekitar 4 kelompok laen datang. Dan kami harus memutar otak untuk mencari alternatif tempat laen atau menyiasati pemberian scraf unuk merka. Setelah itu kami tiudr. Jam 12 malam kami bangun rencannya malam itu akan dilakukan pembayatan ternyata masih ramai. Akhirnya alterntif dipakai jam 4 pagi mereka dibangunkan untuk acara pemberian scraf. Selesai acara kami berkumpul melingkari api unggun. Menunggu pagi lalu beres beres persiapan untuk kembali pulang ke peradaban. Aku dan teman teman lain kehilangan minat untuk meneruskannya sampai minggu karena tempatnya sudah begitu ramai.
Jam 7 pagi hari sabtu kamipun bergegas untuk pulang. Perjalanan kembali ke pintu masuk Sempu kali ini hanya ditempuh dengan satu setengah jam. Sampai di bibir pantai tempat masuk Segara Anak kami menghubungi Pak Mamik untuk memberitahukan kalau rombongan sudah menunggu. Kembali kami naik kapal ke sendang biru dan sudah ditunggu angkutan yang kemarin mengantarkan kami. Tidak sempat bersih bersih kamipun langsung naek kendaraan, supir angkot menawarkan untuk mengantar kami ke Gadang (90.000 rupiah dari Sendang Biru ke Gadang untuk 7 orang) setelah sampai Gadang kami naik angkutan menuju arjosari (3000 rupiah /orang) lalu ke arjosari naik bis kembali pulang ke surabaya. Sampai di terminal bungurasih jam 16.45 dan kembali ke sekolah untuk mencuci peralatan dan berish bersih badan yang sudah 2 hari tidak mandi.
Rasanya ingin aku kembali ke Pulau Sempu masih banyak tempat di pulau itu yang ingin aku lihat semoga bulan depan bia kembali. Mengobati kerinduanku pada bau laut dan camar yang sesekali lewat diatas langitnya yang biru dan bukitnya yang hijau. Sepertinya perlu waktu yang agak panjang untuk bisa menikmati keindahan sempu. Yah seminggu mungkin itu berarti kami harus membawa air dari Snedang biru berapa liter ya??. Dua hari untuk 7 orang saja kami perlu 25 liter. Hem.. berarti harus mencari tempat camp laen yang dekat dengan pantai dan sumber air tawar.
Wednesday, June 06, 2007
Kunjungan Pejabat Kemudian.com di Surabaya
Sabtu malam tanggal 2 juni kmaren aku mendatangi kediaman “Farida” di perumahan yang asing, di daerah dekat juanda. Karna aku dapat kabar Pejabat K.com sedang berkunjung ke
Kedatanganku di sambut dengan hangat oleh mereka, Semua makanan yang ada, mereka keluarkan, dengan sedikit promosi mas rizki bilang “ini kue buatan ibuku lhoo.! Enak khan?” Mbak tiva tidak mau kalah menjamuku dengan segelas syrup buatan sendiri rasanya asem tapi segar katanya sih dari bunga (bunga apa mbak??) setelah ngobrol ngalor ngidul tentang Kemudian.com, rencana bikin penerbit indi, workshop yang kemaren waktu kopdar
Hari minggu mereka rencananya akan balik ke
Sekian laporan dari saya tentang pertemuan saya dan pikanisa bertemu dengan pejabat Kemudian.com. walau laporan ini terlambat, asal selamat Hehehehe…
Kapan lagi Mbak.. Mas.. ke
Tuesday, February 27, 2007
Pertemuan Malam dan Dini Hari
Beberapa hari yang lalu seorang guru memberi kabar akan datang ke
Setelah berusaha merajuk paklik Sony agar bisa nurut jadwal saya, yang bisanya cuma senin malam dan ternyata beliau mau. Akhirnya beliau saya ajak ke tempat saya, baru kemudian meluncur ketempat pakde Hasan. Dan mengajak om dedy yang siangnya sudah mendahului kami bertemu pakde Hasan untuk ngumpul lagi malam senin. Walaupun harus menunggu pakde selesai menunaikan tugas akhirnya bisa juga saya bertatap muka langsung.
Sekitar jam 9 malam saya sampai ke hotel tempat menginap beliau. “pakde, saya sudah sampai di Garden, sekarang di loby” saya kirim pesan karena ternyata paklik sony sudah sampai di loby dan belum bertemu dengan pakde Hasan. Ketika saya masuk beliau langsung tau saya. Dan sayapun sudah bisa tau dari kumis dan jambangnya. Ternyata tidak setua perkiraan saya. Kemudian berlanjut mendatangi om dedy yang sudah menunggu di kafe sambil nikmatin secangkir kopi dengan alunan jazz. Setelah berkumpul kita semua mulai berdiskusi dan memperbincangkan apa apa saja tentang puisi. Nah. Disini saya hanya sebagai pendengar yang baik. Pakde bercerita tentang keindahan bahas melayu yang ternyata penggunaanya dalam bahasa kesehariannya begitu puitis dan dalam. Jelas ini tidak dapat saya temui dikehidupan sehari hari bagaimana saya temui klo yang saya dengar hanya makian dan umpatan kasar saja disekeliling saya. Bahkan beliau sendiripun katanya tidak mampu berbahasa melayu walaupun istrinya orang melayu. Tidak di internet tidak di kafe kenapa nama nama itu selalu hadir. Tapi saya harus mencoba menangkap sesuatu disitu. Paklik sony membahas banyak sekali teori Ironi, paradoks, indeks, icon, symbol masih banyak lagi. Sebenarnya kata kata itu sering saya dengar tapi tidak satupun yang saya paham dengan jelas. Bahkan kata estetika yang setiap berproses di teater saya dengar masih juga saya bertanya arti kedalamannya yang saya tahu estetika adalah keindahan tapi ternyata kata paklik sony estetika dibagi dua yaitu keindahan dan keagungan. Paklik sony memang ahli berteori dan sudah jelas beliau pasti sangat paham. Saya hanya bermain di senyum, oh.., ya, ehm.. gitu dan sedikit saya bercerita awal ketertarikan pada puisi dikarenakan puisi pak Jokpin. Pakde bercerita bahwa puisi tentang rambutnya sedang ditawarkan pada iklan sampho. Dan ini buatku bertanya bagaimana bisa? Puisi dan iklan? Apa yang nyambung?. Tapi ternyata malah penulis jargon jargon iklan itu katanya adalah seorang penyair. Wah.. ternyata puisi memang luas. Paklik sony juga menjelaskan tingkatan tingkatan seorang penyair yang semakin tinggi puisinya semakin halus. Tapi malah tidak begitu menggema. (bener gak ya begitu maksudnya?). akh tugas merangkum diskusi malam sampe dini hari biarkan jadi tugas om dedy. Kata pakde Hasan, om Dedy pintar merangkum dan bagus. Saya hanya menulis apa yang saya ingin tulis tentang malam ini saja. Yak… lanjut!!! Diskusi akhirnya harus pindah tempat ke loby karena kafe sudah tutup. Dan dilanjutkan dengan kalimat “Terasa Terasinya” yang kata paklik sony kalimat itu menarik sangat cocok karena tidak terlalu membual untuk sebuah jargon iklan. Sedangkan kata pakde Hasan kata itu puitis.
Pakde hasan menyinggung Milis Buma yang memang tempat untuk bermain main sama dengan milis penyair karena penyair juga harus punya kenaifanya sebagai anak kecil yang selalu asyik bermain main setlah sapek bermain maka mereka akan mandi (milik Jokpin). Juag membicarakan milis Apresiasi Sastra yang akan dijadikan sebuah lembaga yang itu artinya Apsas bakal terstruktur, beliau tidak ingin menjadikan Apresiasi sastra menjadi sebuah lembaga (la yang ini sama sekali saya gak nyambung alias pedhot koneksi).
Sebenarnya saya ingin menghabiskan kuping saya mendengar diskusi itu tapi pakde Hasan harus istirahat karena besok pagi dia harus pulag kekotanya. Dengan berat hati saya melangkah pulang dengan paklik sony dan om dedy. Padahal mata ini rasanya masih belum bertemu kantuk. Kita berpencar di depan pintu loby. Berencana besok siang bertemu lagi sebelum om dedy kembali ke
Seseorang datang menagih janji
Mana lumpurmu! baru kemaren nyembur kok sudah kering?
Ini sudah kubawa sample buat diteliti
Masih cukup basah dan bau
Kujinjing bekas botol air mineral didepan matanya
Mungkin cocok buat pondasi.
04.07 dini hari270207
Tuesday, November 28, 2006
perjalanan
Kemudian kami sama sama lelah bercerita panjang lebar aku sudah lelah kuping sudah penuh otak hampir luber kutinggalkan saja beliau yang gelisah dengan dompet yang tertinggal. Tidur nyenyak mencari mimpi seperti biasanya. Deru kereta dan guncangannya lembut seperti gendongan ibu waktu kecil dulu. Sudah lama tak merasakannya. "Ibu..!" dalam perjalanan aku masih mengintaimu. Hingga matahari menjulang tempat yang dituju tak hendak sampai. Sepanjang perjalanan beraneka macam lukisan yang tak berbingkai, nampak kardus kardus tua menjadi alas atap atap seng berkarat masih terpakai. kuburan yang tergeletak tak rapi. sawahnya yang hijau ada pula yang coklat bekas panen sepertinya. Aku masih larut dalam pikiran dan menggambarnya didalam otak kiri. Memasuki kota yang menjadi impian orang banyak. Tergambar jelas liku liku yang meliuk liuk memainkan nasib seenaknya, untung tidak denganku. Disitu mimpi tak pernah sekalipun kuajak jalan kesana. Biar saja aku bermimpi hanya disekitar tetangga sebelah. Perjalanan ini penuh bayangan bayangan akan seperti apa mereka yang selalu meracau kata kata menguntainya dengan indah. Salah satu pengritik sudah duduk disebelahku sekarang. Melumuriku dengan teori teori yang tidak pernah ingin kumengerti. Setibanya aku hanya ingin menebar senyum biar dikata orang gila. Peduli amat aku hanya ingin sedikit mengisi otakku yang selalu bengal bermanja dengan otak otak teman yang selalu membantuku. Anggap saja ini perjalanan ngelmu ntah apa hasilnya. tidak langsung berasa khan?. Sampai perjalanan mengasyikkan ini selesai aku menemukan teman baru dan sodara sodara baru. Ada tetes tangis haru yang sulit disembunyikan hingga harus bersembunyi di gelak tawa yang dibuat- buat (emang jago klo disuruh sandiwara). Sampai aku pulang hasilnya baru satu aku berbaikan dengan ayahku. membaca puisi om yo (johannes S) mengingatkan aku sosok seorang ayah dan aku tak berhak menjaga jarak dengan beliau. aku membacapengertian seorang ayah dari beliau. Banyak hinaan banyak celaan darinya, entah kenapa aku menjadi kagum padanya. Perjalanan itu setidaknya mengingatkan, aku adalah seorang anak bukan siapa siapa tanpa orang tua. Orang tua punya banyak cara mencintai anak anaknya. Seluruh teman disana begitu asyik menjajal kemampuannya bercengkrama. Aku sedikit tersisih, tapi aku tak peduli. semakin malam semakin seru saja ruang diskusi dibuka mulai yang serius sampe disksi berbumbu canda. Aku ngatut saja mana yang enak toh aku cuman anak bawang. selesai suda perjalanan mungkin suatu waktu akan kembali karena aku telah mematri janji disana (bukan untuk menetap hanya berkunjung)
