Hufft.. lama tak menyentuh blog ini.
Kali ini entah angin apa, tiba tiba ingat rumah kata-kataku ini. Seusai menonton Film Dream Toba, jadi ada keinginan iseng menulis.
Tokoh yang di perankan Vino G sebastian, di beberapa filmnya hampir sama. Entah dianya yang susah move on atau memang spesialis tokoh lelaki keras, sedikit kasar, dengan suaranya yang khas. *baca-"ngeden". Dan apa mungkin filmnya yang minim budget, pilihan aktor utamanya Kakang Vino dan aktor pendampingnya teteh Marsha (paketan gitu). Tapi memang suami istri ini Klop banget.. aktingnya Jempol deh. Biarpun paketan.. *halah tetep*. sebenernya saya jarang nonton film Indonesia, takut rugi di kantong, bayar bioskop eh pasti tidak lama kemudian sudah di puter di tipi lokal. Mending buat beli bajunya si kecil. *halah malah curcol*. Ok lupakan soal ini.
Setelah membanding-bandingkan film drama korea, jepang atau film-film luar lainnya. Sineas-sineas Indonesia sebenarnya lebih kreatif dalam mengolah konflik, Tidak melulu soal tokoh penyakitan, cinta-cintaan, perang, dll atau yang melow-nyaa sampe bikin drop yang nonton *ngaku deh.. saya termasuk korban drakor, mata bendol abis nonton drakor*. Konflik dan yang ingin diangkat di sini begitu kompleks, seorang ayah pensiunan militer, yang lebih memilih hengkang pulang ke kampung daripada harus menetap di rumah dinas. Woww.. sindiran yang pas banget.. banyak di luar sana, banyak anak cucu pensiunan entah militer, pns, atau banyak lainnya yang masih mempertahankan diri tinggal di rumah dinas. Dan tidak banyak orang tua, yang mau ambil pusing hal yang sepele ini, tapi tidak adil untuk generasi lainnya. Saya sangat setuju, jika habis masa tugas, go away.. Biarkan prajurit lain yang masih mengemban tugas negara untuk menempatinya. Di sinilah konflik ini bermula, sersan Tebe di perankan oleh Mathias muchus, ayah dari Ronggur (Vino G Sebastian). Memilih Kembali ke kampung halamannya yang indah di Toba. menjadi petani, dan menghendaki sang anak mencapai cita-citanya di tanah yang indah itu.
Siapa sih yang tidak kenal Danau Toba, semua orang pasti tahu. Walau tidak semua orang, pernah melihatnya langsung. Sangat disayangkan, keindahannya kurang tergali, padahal saya kepo banget pengen tahu ada apa disana?, kenapa Danau Toba begitu indah. *ciyee.. ini pasti gara-gara sekarang kerjanya di bidang pariwisata*. Lalu kemudian tentang pilihan tokoh Ronggur, yang malah lari ke dunia hitam untuk membuktikan dirinya bisa menjadi rich man. Kita semua paham narkotika sudah menjadi momok di negeri ini. Setiap hari, berita tentang narkotika selalu ada. Ronggur, menjadi mafia yang setengah-setengah. Iya betul, Ronggur menjadi mafia yang total ketika dalam tugasnya. Tapi Ronggur masih tetap menyimpan kebaikannya sebagai manusia. Membantu Tommy, teman kuliah yang harus hancur keluarganya karena Ayahnya terlibat korupsi. Adik tommy, mati karena OD. Ronggur, membangun bisnis yang baik, di bidang properti, saham dll. dengan modal hasil dari menjadi mafia narkoba. Tidak diceritakan detail usahanya bagaimana, tapi sepenangkapan saya Ronggur, mencari modal dari pekerjaan menjadi mafia, kemudian membangun bisnis yang baik. dari modal tersebut.
Lalu kemudian isu tentang keberagaman beragama juga sempat mampir di film ini, Ronggur yang kristen. tapi sang istri dan anak memilih Islam, karena Andini (Marsha Timoty) menginginkan anaknya mengenal Tuhan sejak kecil. Ronggur, sedemikian sibuk dengan bisnisnya, sehingga lupa mengenalkan Tuhan kepada keluarga kecil mereka. Konflik ini sederhana, tapi saya salut dengan sutradara film ini, memberi banyak pesan yang baik kepada para penontonnya. Keluarga tak perlu bertengkar tentang keyakinan yang dianut, itu adalah persoalan manusia dengan Tuhannya. Keluarga Sersan Tebe, tetap menerima Andini sebagai menantunya. mempersilahkan menantunya untuk sholat. Bukankah hal ini indah? Sebenarnya di kehidupan nyata, keindahan macam ini banyak. Tapi masih banyak yang nyinyir, apalagi penganut garis keras. Sudahlah, Surga neraka bukan milik kita, itu milik Tuhan. Perjuangan Nabi Muhammad dan nabi-nabi yang lain tidak pernah sia-sia. Sekarang, tugas kita menjadi umat yang baik. islam yang baik, kristen yang baik, budha atau hindu yang baik. *ndaaa malah ceramah* sudah untuk keberagaman beragama, cukup di sini. daripada kena semprit. :p
Di film selalu ada saja tokoh yang muncul sesekali, tapi menjadi penyambung cerita dan menjadi penghangat jalannya cerita. Togar (boris bokir) stand up comedy-an asli Batak, yang begitu mencintai daerahnya. Tetap menjadi pemuda yang berjuang sendiri, untuk mengenalkan keindahan daerahnya. Hahaha.. jadi terpikir, kalau ada group ke Toba, seruu kalau Tour Guidenya si Togar. Kocak.
akh.. sudahlah.. sudah lumayan 5 paragraf untuk latihan menulis mengulas film. Semoga kemalasan tak bersarang terlalu lama di kepalaku.
Salam Wisata, salam Literasi..
Cintai Negaramu, seperti kau mencintai dirimu sendiri.
Tuesday, May 31, 2016
Nulis iseng - Dream Toba
Monday, November 17, 2014
2012 - 2014 Pangkat Baru & Jabatan
Dimulailah babak baru ini, berjalan perlahan tanpa aku sadari 2 tahun sudah menjadi seorang istri. Dari seorang lelaki penyabar yang amat sangat tahu bagaimana menerima dan mengajariku. Bukan hanya cinta, tapi juga ketulusan dan kasihnya yang sederhana. Sungguh. tidak berlebihan dari pernikahan ini. Kami memulainya dengan perjalanan yang santai seperti seorang kawan, sahabat terkadang juga sebagai musuh. Dan kami menikmatinya hingga saat ini.
Awal tahun 2013, kami didera cobaan kecil. Aku sempat hamil, tapi hanya sampai usia kandungan 3bulan saja. waktu itu rasanya teramat sakit. *sakitnyaa tuhh disini... dan disitu.. hehehehe... Aku kehilangan janinku, sempat terpukul tapi aku berusaha tetap kuat di depan kedua orang tuaku. Suamiku membantuku untuk bangkit kembali, membangun kepercayaan Allah pasti akan memberikan penggantinya. Dan. Allhamdulillah 6 bulan berikutnya aku hamil kembali. Masih ada trauma kecil karena keguguran itu. Akupun tak berani bercerita dulu pada orang tuaku. Takut pengharapannya rontok lagi seperti sebelumnya.
Aku melalui masa hamil kedua agak tertatih, sempat ambruk selama 1 bulan. Mengalami mual mual dan ngidam seperti ibu hamil kebanyakan. Padahal di kehamilan pertama, kuat banget. Saking kuatnya kebablasan. hehehehe... Tapi lewat bulan ke 4-5, kondisi kesehatan mulai normal. Sudah bisa diajak kerja lagi, walau masih suka mual kalau bau ikan. Dan sering sekali kena Flu & Batuk. Ehm.. untunglah Internet dimana-mana, aku main rajin baca-baca artikel, Katanya, ketika ibu amil sering terkena satu penyakit yang berulang-ulang, maka si janin bayi akan kebal terhadap penyakit tersebut. karena anti body ibu untuk penyakit tersebut akan diserap oleh adek bayi. *lupaa di artikel mana* semoga tidak salah.
Sembilan bulan lebih banyak akhirnya lewat operasi cesar bayi mungil itu akhirnya lahir. Bertepatan pada malam pertama Bulan Puasa. Semakin merasa istimewa saja aku. Tapi tidak, semua manusia sama. maka keistimewaan itu hanya menjadi sebuah kebetulan biasa saja bagiku. supaya aku tak lantas terbang ke awan.
Setelah 1,5 tahun naik pangkat menjadi seorang Istri, maka di tanggal 29 Juni 2014,dimulailah perjalananku yang baru. Menjadi seorang Ibu. Semoga Gadis Kecil yang kuberi nama Azzafira Laili Ramadhani, menjadi pemenang yang memiliki keberuntungan di setiap lika liku hidupnya dan dapat membagi kebahagiaan kepada orang-orang disekelilingnya. Amieen
Kamar ibu, 17 Nov 2014
Thursday, November 15, 2012
The Journey Of Marriage Record IV
Kebahagiaan ternyata tak perlu dicari. Ia akan datang sendiri mengiringimu, ketika kau memberi kebahagiaan untuk orang lain
Tidak ada yang lebih indah, saat melihat kedua mata orang yang berada di depanmu berbinar-binar bahagia. Percayalah, saat itu seperti mendapat point penting dalam hidupmu. Setiap kali kau bertatapan dengan mata yang seperti itu.
Dengan susah payah, aku dan pasanganku, mencapai kebahagiaan yang ternyata didapat ketika harus mengiyakan sedikit saja keinginan orang tua. Tidak ada ruginya, malah kita untung, memelihara daur ulang hidup dan mempertahankan senyum lepas, membaur bersama para undangan.
Dengan konsep cantik dari sang Ibu, yang melihat ini anak perempuannya yang sama sekali tidak bisa diam barang sedetikpun. Tanpa kuade, tanpa hiasaan dekor berlebihan. Cantik, sederhana, tapi tetap ramai, dan begitu bahagia di setiap sudut Tenda Terop bernuansa Ungu. Penganten diperbolehkan berkeliaran di areal seputar tenda, menyambangi para tamu yang datang, bersalaman, berfoto. Kasian juga sih tukang potreknya. Tapi tak apalah, sepertinya dia juga cukup senang dengan konsep Semau Gue ini. Senyum kebahagiaan yang tak hanya aku rasakan sebagai Pengantin yang berbahagia. This is the point. We Give you happy in wedding Party. Take a picture and take a support to move on your live after you going Home.
Padahal aku merasa hanya bisa memberi secuil saja kebahagiaan untuk mereka. Ini ujung penantian yang luar bisa, disaat harus mencari seorang pasangan yang pas. Allhamdulillah, suami pilihan dan suami yang bisa memberikan rasa aman dan nyaman Duni maupun di Akhirat. Insya Allah. Fase kehidupan satu lagi telah terlewati. Nikmat mana lagi yang akan Kau berikan, Tuhan? Kita hanya bisa menerima dengan apa yang sudah diberi. Semoga, apa yang aku terima ini. Bisa aku manfaatkan dengan baik.
Setelah ini tak ada lagi waktu berleha-leha, banyak kewajiban yang harus mulai diatur, agar tak ada silang sengkarut. Tapi bukan berarti, menjalaninya dengan serius, ses erius ngerjakan soal ujian Matematika sih. Justru tak ada hitung-hitungan disini. Let it Flow. Follow the River.. ahay.. Santai kayak di Pantai. Tuhan Memberi, Kita menerima, Tuhan tak Memberi, Kita belajar lagi ilmu Syukur.
Hahahaha....
Manten Kucluk Bersabda
Tamat karena sekarang Sudah bersandang gelar Ny. Iwan Santoso
Tunggu di edisi nyambung-nyambungin cerita selanjutnya.
Friday, October 12, 2012
The Journey of Marriage Records III
Yang tidak lebih dari cerita adalah perjalanan dari waktu ke waktu yang masih akan selalu mengikuti.
Yah.. catatan ini memang perlu di daur ulang, karena kata-kata dan kalimatku menjadi biasa saja. Bahkan boleh dibilang lebih buruk dari balada "Buku-buku Sampah" yang pernah aku hujat. Jadi aku biarkan, persiapan menuju sebuah rumah kecil dengan lelaki yang akan menjadi suami beberapa hari kemudian dilalui dengan santai.
Jarum jam berputar ke arah kanan *sepertinya, karena arah selalu menjadi kendala*. dan satu hari dilalui terasa seperti perlombaan lomba lari. Padahal kayuhan sepedaku sengaja kuperlambat, aku tak ingin terengah nanti di atas pelaminan. Yang akan berakibat aku tak mampu menjabat erat seluruh tamu yang akan datang ke acara pernikahanku.
Apa perlu ada penyesuaian? Pasti. Beberapa kali, aku harus berdebat panjang dengan sang calon suami hanya karena perhitungan hari yang tak tepat. Hafuuftt... sehari semalam, aku mematut di depan kalender, kalkulator dan internet. mencari apa yang salah dengan si Hari. *oh.. aku lupa tak bertanya pada tuhan* Tapi akhirnya, setelah ingusku membanjir di atas seprei, akhirnya aku pergi juga berwudlu, mencoba mencari petunjuk dari Sang Maha Berkehendak.
Kendala pertama, perhitungan hari yang tidak pas, menurut calon mertua. Kendala kedua, karena sang paklik *adik dari calon bapak mertua* yang baru akan menikah, kalau jarak pernikahan kurang dari 3 bulan, maka entah bagaimana menurut bapak tidak bisa jadi wali. Aduhh... Pusing.. aku diam saja kali ini. dan berusaha tidak mendengar hal ini. Sudah capek rasanya, dihantam masalah hitung-hitungan jawa begitu. Sedangkan di keluargaku, semua harus segera, jangan menunggu dekat-dekat hari, karena merencanakan pesta di kota tak semudah membuat pesta di desa. Mulai pilihan hari, jam, dll harus se fleksible mungkin.
Nah tapi bukan berarti di keluargaku sendiri tidak ada masalah, tapi justru terkesan tidak ada karena aku memilih menghindar daripada diajak berpusing-pusing. hehehehe.. (maaf ya yah.. ibu...). Bukan berarti kemudian aku diam dan tidak memikirkan apa-apa. Souvenir, Undangan, KUA, Pengisi Acara, semua menjadi tanggung jawab aku dan mas. Urusan, Terop, Catering, Panitia Kecil, aku serahkan semua keputusan ke Ayah saja yang lebih berpengalaman soal manten-mantenan begini.
Ehm.. apa lagi ya yang belum? Sudah kurang 29 hari lagi. Souvenir sudah dipesan, Undangan sudah, KUA sekalian rafak juga sudah, Pengisi Acara sudah di hubungi, tapi belum di konfirmasi lagi. Cincin kawin? ini sebenarnya perlu gak sih? Mau pesen, tapi kok ayah aja gak pake' ribut ya?
Ya sudahlah, mari kita menjalani 29 hari lagi dengan riang gembira, dan bekerja tiada henti. *waduh jangan-jangan aku sudah kena penyakit workacholic nih.. Kalau gak kerja malah pusing. Kerja.. kerja.. kluyuran.. kluyuran.. jalan teruss.
Terkadang memang waktu itu kalau dimanja malah keenakan, jadi kenapa harus pusing kalau mendekati hari-H. iya gak sih? Lanjutkan saja kehidupanmu seperti biasanya. Toh.. setelah pernikahan nanti, masih banyak tugas dan kewajiban yang semakin meningkat. Ongkeh...
Salam..
Calon Pengantin Slebor
Saturday, August 25, 2012
The Journey of Marriage Records II
Aku hanya sebagian dari harapan yang telah diimpikan oleh kedua orang tua kita. Sebagiannya adalah sebuah benang yang menjulur-julurkan kemenangan atas rasa yang di genggam sendiri. Lalu aku menjadi sebuah roh yang mendiami tubuh yang seringkali kikuk ketika memasrah padaNya.
Jika kata-kata adalah do'a, lantas harapan dan impian ada di sebelah mana? tanyaku dalam diam.
Sebuah permainan, permainan yang tak juga usai memanjakan aku. Menarik ulur sendiri nasib yang telah digariskan. Begitu pekat cerita di masa lalu, datang tanpa pernah kita menduga. Begitu kesendirian menyergap, maka foto kusam dan lawas muncul begitu saja. Menarik kembali butir-butir air mata yang telah terkubur dalam keriuhan.
Aku coba mengingat-ingat seberapa sering aku meminta? seberapa sering aku menerima? kepadaNya. Seingatku, catatan harianku adalah tangis yang tak perlu. Aku geli membaca kalimat-kalimat yang pernah aku tulis.
Hari ini, sekali lagi aku ingin menjadi sebuah cacing planaria. Cacing yang mampu membelah dirinya menjadi dua. Tak terlalu sibuk, tapi pikiran-pikiranku terbelah dua. Benar saja kata sahabatku, semakin mendekati hari, aroma pertengkaran akan semakin menggoda. Tapi sekali lagi. Aku tak akan menyerah.. Aku tak akan lari.. aku adalah manusia yang sama seperti perempuan lain yang diciptakan Tuhan.
Tak banyak yang harus kucatat, KUA tutup. Dan pertengkaran kecil di telepon genggam.
Setelahnya, bercanda lagi. Itulah kenapa aku memilih lelakiku ini, ia tahu caranya menelan kegusaran-kegusaranku. Mari menghitung kebaikan yang telah Allah SWT berikan lewat lelaki pilihanku.
Aku sedang belajar tidak selalu meminta, aku sedang belajar mensyukurinya.
Bukankah harus begitu?
Friday, August 24, 2012
The Journey of Marriage Records I
U're not alone.. I'm here with u... (Michael Jackson)
Aku tahu, aku tak pernah sendiri. Ada sang Khalik selalu memata-mataiku. Juga secuil hati yang masih menancap begitu dalam di setiap kesendirianku. Jika penjara tak lebih siksa sementara karena pasal dan undang-undang. Selepasnya maka bertobat lalu melupakan kesalahan. Tapi tidak dengan mencintai lelaki di masa lalu yang telah mencatatkan segudang cerita yang tak pernah kunjung selesai.
Bahkan hingga akhirnya aku telah memutuskan berlalu darinya. Ketika angin enggan menyapukan rindu kepadanya. Ketika padang rerumputan, tak lagi tunduk dengan cerita ranum tentang aku dan kau. Apakah ia, lelaki itu memang sengaja membangun teralis untukku? Memenjarakan aku dalam kekacauan pena yang semakin habis tintanya. Sehingga di setiap langkahku, terkadang masih saja aku panggil namanya.
Aku tak pernah sendiri, lelaki yang kini sanggup menemaniku, bersedia menulis bersamaku tentang mimpi dan surga. Lelaki yang mencintai perempuan ini dengan sederhana. Tak ingin aku merelakan apa yang sudah aku miliki sekarang. Demi kekaguman konyol yang tak pernah lekang ini. Aku tak akan menyerah, aku tak akan menyerah...!! Aku tak akan pernah menyerah untuk bisa mencintaiMu.
Inilah catatan pertamaku, ketika mimpi menjadi seorang pengantin mulai diperbincangkan. Kosong. Tapi aku tahu kebahagiaan sedang mengunjungiku. Perempuan yang hampir putus asa menemukan seseorang yang bisa menghargainya tanpa melihat kekurangan yang ada. Keinginanku tak banyak, hanya seorang lelaki yang mampu mengenalkan aku pada Tuhanku.
Hidup terus menggampit esokmu, Gita
Langkah ini semakin dekat dengan apa yang ingin kau tuju, lalu untuk apa kau tolehkan lagi pada lembar masa lalu yang banyak coretan-coretan merah dan pilu. Kecanduan pada seorang lelaki yang tak pernah bisa menghargaimu, barang secuil.
Aku tidak sendiri khan Tuhan...?
Kini langkahku adalah menujuMu
Beserta calon suami, yang sanggup membopongku menuju surgaMu. Amien.....
Saturday, July 14, 2012
Mari kita belajar dari sesuatu yang sederhana
Sebuah pekerjaan dan resiko
Di bulan-bulan awal, aku memutuskan keluar dari pekerjaan sebagai operator warnet. Pengangguran dan mungkin setingkat lebih tinggi dari gelandangan pernah aku lewati. Setiap hari mencari-cari kegiatan supaya tak terlihat di depan kedua-orang tuaku. Dengan pacar baru yang seniman -pengangguran nekat-, uang untuk makan, rokok, nongkrong. benar-benar pengleuaran wajib bersosialiasi, semakin menipis. Pengangguran, bebas, waktu hanya milikku dan tuhan. Kegiatan, berkomunitas, kluyuran dari kota-ke kota atau segala macamnya yang bisa aku lakukan ketika masih berpenghasilan tetap (walau pas-pasan) semakin jauh untuk dilakukan. Dan yang harus aku tinggalkan adalah membantu sekitarku, bukan maksud ber-sok baik. Siapapun pasti punya keinginan menolong sesama, termasuk aku. Ketika menganggur apa yang bisa aku lakukan, komunitas indie yang aku bangun, mulai macet. Pada akhirnya salah satu teman yang masih bekerja lebih sering menambal kebutuhan komunitas. Malu? sudah pasti. Idealisme ketika aku tidak berkeinginan untuk mengemis dengan ijazah ke kantor/perusahaan sempat terbersit. Tapi untunglah, aku masih terlalu sombong untuk melakukan itu. (pada saat itu 2010).
Akhirnya seorang kawan, menawari untuk bekerja di sekretariat event Kompetisi Teater Indonesia - di DKS. tempat yang semasa aktif di teater kampus, diharamkan jadi tempat -nyantrik- oleh para senior. (dan akhirnya aku tahu di mana letak keharamannya itu) Semua bekerja menurut kemampuan dan KEMAUAN mereka sendiri-sendiri. Sempat di buat pusing, bekerja ditengah kerumunan orang-orang yang asik nongkrong, padahal aku harus pusing dengan printer macet dsb. Ya sudahlah mungkin mereka pemikir dan aku pekerja (pada saat itu) sampai akhirnya hari -H event itu berlangsung. Ternyata tak banyak yang para beliau-beliau itu lakukan, dan lagi-lagi harus aku semua yang menyiapkan segala macam kebutuhan peserta kompetisi. Dan yang gawat lagi, bonus yang dijanjikan selama event berlangsung tidak juga cair. (hingga hari ini 2010-2012). Tapi lumayanlah, setelah menjadi pengangguran, ada penghasilan tiap bulan sekitar 8 bulan kerja. Apa yang kemudian aku pelajari ketika bekerja dengan mereka. Oh.. mereka tak lebih pintar dariku. *sombong itu perlu, sekali-kali*
Lalu aku menjadi pengangguran sekali lagi, kali ini benar-benar dengan kantong melompong. hari-hari dipenuhi dengan angka-angka kosong. Kesibukan tetap padat, orang tua di rumah semakin tak bisa menjangkau aku, dan kegiatannku yang diluar nalar mereka. Sibuk setiap hari, sampai tidak sempat pulang, tapi tak pernah punya uang. Aku berjuang untuk kalian dengan caraku bu.. yah.. Supaya aku tak hanya menjadi Pratama Sagitta Prihantini anak perempuan pertama kalian yang biasa saja. Aku diajak membantu mengelola DBUKU Bibliopolis, perpustakaan indie milik perempuan sakti Diana AV Sasa. Banyak hal yang bisa aku pelajari darinya. Kegigihannya berjuang di jalurnya, walaupun semakin lama kegigihannya itu membuat banyak memberi cap Sombong, Keras Kepala dan Angkuh. Tapi yang ingin aku garis bawahi darinya "seseorang tidak akan mati karena kelaparan, hanya karena jalan hidup yang telah ia pilih" Aku percaya itu mbak. Dan aku tetap berada di belakangnya, berusaha semampunya membangun apa yang dicita-citakan. Sampai akhirnya kemegahan DBUKU di Mall itu hancur, aku tetap berusaha tak meninggalkannya. Karena aku tak ingin menjadi pecundang yang lari mencari selamat ketika komandannya terdesak musuh.
Ketika di DBUKU, akhirnya aku berkenalan dengan seorang perempuan penulis Wina Bojonegoro. Awal tahu namanya aku kira ini mbak Muda yang gaul. Ternyata setelah berkenalan lebih jauh, perempuan ini tak kalah tegarnya dengan mbak sasa. Single parent, dengan kemampuan bisnis yang lihai dan sudah memiliki satu cucu cantik, Farah namanya. Waktu itu, dbuku banyak event launching buku, dan aku diberi tugas menghandle launching buku The Souls "moonlight sonata". Yes.. I took the job. Lalu oleh mbak Wina aku diberi tugas memonolog-kan nukilan novelnya. Aku tulis 3 halaman naskah. Not perfect, but yes.. I do it. Untunglah dapat aktor yang sudah tinggal poles, murid jurusan teater SMKN 9 volunter ketika aku berkerja di event KTI. Di bantu pacar paling kesayangan, akhirnya aku menyelesaikan tugas satu itu.
Masa-masa itu tanpa uang yang berlebih dikantong, dengan untung kecil dari pesan makanan, desain undangan, membuat naskah dan tambahan penghasilan job-job Perkusi pacar kesayangan. Oh iya, aku diberi kepercayaan oleh pendiri komunitas seni Jajan Pasar Perkusi menjadi manager. Dan sekali lagi, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ya.. certainly, I accepted it. kapan lagi dapat kesempatan untuk belajar memanajeri. Hidup terasa ringan tanpa beban, walau dengan penghasilan yang tak menentu. Sekali lagi, aku tidak akan mati kelaparan, hanya karena memilih jalan hidup seperti ini. Dan aku habiskan waktu dan umurku yang terus bertambah di usia 27 tahun, aku menjadi semacam buku tulis besar. Belajar dan mengambil apapun dan darimana saja. Aku sadar betul orang tuaku akan semakin gerah melihat kehidupanku.
Keluarga, kehidupan, dulu atau sekarang terkadang, yah.. begitulah.
Hingga akhirnya aku memutuskan untuk tinggal bersama mbak sasa, di rumah kontrakan yang sekaligus menjadi perpustakaan Dbuku. Hanya supaya aku tak langsung melihat kekecewaan di kerut kening mereka. Sungguh, aku bukan perempuan berhati baja, yang sanggup melihat orang tuaku susah memikirkan nasib anaknya.
Aku memilih pulang sesekali, walau terkadang Ayahku yang paling tampan sedunia, lebih sering nyindir ketika aku masuk di ruang tamu rumahku sendiri. "Wah.. gak salah alamat mbak?" atau "siapa ya? tamu darimana?". Sakit hati juga mendengarnya, tapi itulah cara ayahku menyatakan kerinduannya. Lalu setiap aku pulang, besok paginya ketika bangun tidur, (ingat aku penganut matahari terbit dari tengah) ibu akan menghidangkan masakan kesukaanku. Justru ketika aku mengambil jarak dengan kedua orang tuaku, Kasih Sayang mereka lebih aku rasakan, dan aku semakin mensyukuri memliki kedua orang tua seperti mereka. Sejak aku kecil, dengan kehidupan sederhana, jarang diajak berbelanja ke mall. Hanya setahun sekali setiap lebaran saja, beliau mengajak anak-anaknya jalan-jalan ke mall. Yang aku ingat setiap tahun, pasti ada mall baru. Dan mall itu yang selalu jadi tujuan ayah. Semakin besar aku tahu maksudnya, supaya tak terlampau banyak waktu dihabiskan untuk pilihan berbelanja. (Ayahku memang jago kalau soal ngapusi kami. hahaha... ). Aku menjadi pribadi yang tak terlalu konsumtif, ya.. tak sampai harus panas dingin kalau sebulan saja tidak nge-Mall atau belanja.
Lalu aku, sejak kelas 3 SD di asuh kembali oleh orang tuaku. Aku dan kedua adikku jarang sekali dibelikan barang-barang yang kami inginkan, semakin kami minta semakin tidak akan dibelikan. Tapi ketika sudah mulai lupa apa yang kami inginkan, tiba-tiba beliau, sepulang dari beliau bekerja membawa barang-barang yang sudah tidak kami ingat pernah minta. Semisal Sepatu roda, Sepeda, Tas Sekolah, Kulkas, Rice Cooker dsb. *bayangkan ketika rata-rata tetangga di perumahan dulu sudah punya kulkas atau rice cooker. Ayah masih bergeming tak hendak membelikannya untuk kami dan ibu, lalu ketika kami tak lagi berangan-angan memiliki, dan tak lagi menjadi trend. Secara tiba-tiba barang itu menghiasi rumah kami*. Dan aku menjadi seorang yang benar-benar berpikir jika akan membeli sesuatu, kalau tidak perlu benar sebaiknya tidak perlu dibeli dulu. Kalau sudah saatnya memiliki, pasti sesuatu itu akan datang sendiri. Tidak perlu banyak keinginan, terkadang keinginan dan kemampuan itu datangnya tak seimbang. Lebih baik punya satu keinginan tapi itu adalah sesuatu dengan alasan yang kuat. Daripada tak terwujud semua, buat apa? *yes.. aku beruntung punya ayah yang bijaksana*.
Semakin dewasa waktu aku smp-sma, aku sempat berpikir orang tuaku bukan orang yang miskin, terbilang cukup. Dibandingkan kawan-kawanku yang lain. Tapi kenapa mengeluarkan sekedar 5000 untuk aku pergi jalan-jalan saja susahnya minta ampun, introgasinya macam-macam, walau pada akhirnya juga tidak cair juga. Uang saku sekolah hanya cukup untuk naik angkot PP, dan jajan semangkok bakso. Padahal waktu sma, aku ikut kegiatan ekstra Pecinta Alam, sudah pasti budget setiap ekspedisi tinggi. Akhirnya aku mengakali agar aku tetap bisa ke kantin dan membeli sekedar gorengan dan es teh pengganjal perut. Aku menyisihkan semua uang sakuku, aku datang ke kanitn sekolah seperti biasa, lalu aku minta Rp.100,- dari beberapa teman-teman yang ada di sana. (bayangkan dalam setiap jam istirahat, 30 orang aku mintai pajak jajan 100 rupiah sudah bisa buat beli es teh, jajanan dan gorengan) Hahahaha.. dan itu aku lakukan sampai akhirnya aku bisa berangkat ikut ekspedisi yang budgetnya bisa satu tahun uang saku-ku. Dan sekali-lagi, Orang tuaku membiarkan aku mencari jalan sendiri untuk keinginanku itu. Kalau aku sudah yakin, aku pasti putar otak sendiri untuk bisa mencapainya. Walau aku menangis sehari semalam, beliau akan tetap membiarkan aku meminta dengan hanya menengadahkan tanganku.
Jujur saja, selama aku kecil hingga besar aku tak pernah merasa hidup dalam kesusahan. Makanan selalu ada, baju baru pun selalu dibelikan, bahkan sesekali rekreasi keluarga. Dan aku mulai jenuh dengan kehidupan yang serba ada. Lalu di luar rumah, aku menemukan banyak hal yang tidak pernah aku ketahui.
Akhirnya aku mulai bersyukur dengan apa yang aku miliki, apa yang orangtuaku beri. Aku tetap akan bisa makan, walau aku tidak bekerja dan berpenghasilan. Tapi di luar sana, banyak orang dengan gaji jauh dari pas-pasan pasti tidak bisa memenuhi asupan gizi untuk anak istrinya di rumah. dan mereka tetap mensyukuri apa yang sudah mereka miliki. Lalu seorang anak yang seharusnya masih sekolah, memilih berhenti sekolah hanya untuk bekerja membantu orang tuanya. Mereka yang tak lagi punya pilihan bermimpi, selain tidur dalam keadaan lelah, lalu terbangun pagi hari untuk mengulangi rutinitas mencari sekedar hidup untuk hari itu juga, mungkin hingga akhirnya mereka kembali ke sang khalik.
Next...
Pulang NgeSPG, 10 juni 2012
Friday, July 06, 2012
Berbicara saja tidak akan cukup
Beberapa kali aku harus terdiam, dipinggir jalan. Hanya karena melihat sesuatu yang begitu menyentuh. waktu di pertigaan McD mayjen Sungkono, aku pernah melihat dua bocah kecil yang berjualan koran. Mereka asik dan terlihat riang sekali, bermain dan bekerja walaupun harus bertelanjang kaki di bawah terik surabaya yang panas. Mereka sudah tahu cara berbagi. Jika temannya sedang istirahat, maka teman yang satunya akan menjajakan koran. Karena mereka terlalu kecil (kira-kira usianya klas 1 SD) mereka hanya sanggup membawa koran sedikit. itupun mereka berbagi tugas, yang satu membawa satu koran dimasukkan ke plastik besar, biar tetap rapi dan terlihat baru. Yang satunya istirahat sambil menjaga barang dagangannya.
Lampu merah di pertigaan itu lama sekali, aku tersenyum diboncengan belakang sepeda motor pacarku. dan lamakelamaan Mataku terasa penuh, akibat genangan yang hampir tumpah. Untunglah traffic light segera berganti hijau. Karena aku sama sekali tidak tahu apa yang bisa aku lakukan untuk mereka. Aku hanya punya senyum ke mereka, dan mata-mata kecil itu berbinar.
Aku bukan ingin, mencatat hal-hal baik tentang aku di blog ini. Karena memang tidak banyak yang bisa aku perbuat untuk orang-orang yang tidak sepertiku. Aku Bukan Siapa-Siapa. Tapi menurutku berbagi cerita ini juga perlu.
Sore tadi, ketika aku berjalan dari rumah kontrakan menuju toko klontong, perempuan setengah baya keluar dari gang kecil menyambutku dan tersenyum sembari mengucapkan terima kasih. Aku diam, sambil berpikir siapakah perempuan ini. Apa yang sudah aku perbuat. Lalu ia bercerita Mertha, kemarin bisa beli 2 buah seragam, bayar SPP sekolah anaknya. beli baju baru. "Terima kasih ya mbak.. kasihan mertha, dia seneng sekali kerjaan yang kemarin lho mbak".
Aku jadi berpikir siapa perempuan yang bernama Mertha itu? Beberapa hari yang lalu memang ada pameran baju batik. Memang itu bukan Bisnisku. Allhamdulilah aku diberi kepercayaan teman baikku untuk selalu membantunya. (Kawan baikku ini aku tulis juga di Perempuan dan Buku di blog ini). Dan aku memenuhi janjiku untuk mengajak kerja salah satu orang tua, salah satu murid membacaku. (bukan murid sih sebenarnya, teman bermain membacaku di rumah kontrakan ini.). Dia ibu dari teman kesayanganku Sukma, gadis kecil kelas 2 SD, yang masih kesulitan membaca dan menangkap ilmu pelajaran sekolah, karena daya konsentrasinya kurang.
Sedikit cerita, Ibu ini single parent, tanpa surat cerai. Untuk kehidupan lebih dalamnya aku tak tahu pasti. Sebelum aku ajak kerja ibu-nya sukma, aku lebih sering mendengar gosip yang tidak baik dari tetangga yang lain. Tapi aku tidak akan semudah itu mempercayai gosip. ternyata Diapun sudah hampir 8 tahun kesulitan cvari pekerjaan. Kemampuannya terbatas hanya bisa jaga toko.Walhasil, aku ajaklah dia kerja, dan ternyata ceritanya tidak seburuk yg digosipkan tetangga-tetangga disini.
Selama seminggu aku minta dia untuk jadi SPG di stand batik itu. Gajinya sih tak seberapa hanya 40ribu/hari. Tapi ternyata respon dia membuat aku jadi ingin menangis. Dia senang sekali. Sayangnya kawan baikku jarang sekali ikut pameran sejak dia, menggeluti bisnis lain. Dan Mak'e Sukma -list nama di hpku-, sering sekali bertanya apa ada pameran lagi. Sedih rasanya tidak bisa kasih dia kesempatan kerja lagi. Aku sama sekali, tak pernah menanyakan namanya. sampai akhir pameranpun aku tidak tahu namanya.
Sampai perempuan baya itu menyapa riang kepadaku, aku baru tahu. Nama perempuan "Mak'e Sukma" adalah Mertha. Dan perempuan itu adalah ibu dari mbak Mertha. Hampir saja air mataku tumpah di tepi jalan itu. Untung percakapan kecil itu hanya sebentar, sehingga aku yang cengeng ini tidak sampai bikin keributan.
Aku lupa setiap berdo'a apa yang aku minta. Tapi di dalam hati, aku selalu ingin bisa berbagi, dan memberi sedikit kebahagiaan dengan siapa saja. Itu bukan bagian dari cita-cita atau harapanku. I just want do it.
Tapi aku sadar, manusia itu selalu membawa cermin di dalam dirinya. Bagaimana kita bisa berbagi kebahagiaan jika kita sendiri masih melihat diri kita tidak bahagia? Belajar berbahagia dengan apa yang sudah menjadi pilihan hidup itu penting agar kita bisa selalu berbagi kebahagiaan.
Mari belajar tentang arti bahagia, kawan.
Sunday, June 10, 2012
Kenapa Harus Aku - yang membacanya
Semua orang berloma-lomba mencari buku yang bagus untuk dibaca. Tidak hanya bagus tampilan tapi juga isi. herannya aku selalu penasaran dengan buku baru, bentuknya geje. dan sudah diinfokan ini buku "geje". sangking penasaran se-geje apakah ini buku. Yaahh dibaca juga deh... (apalagi klo akhirnya diriku diijinkan belajar mengeditorinya sekalian tambahan uang jajan cinggg....) *upss.. udah terkontaminasi dump book.
Ok.. mari berbicara serius untuk hal yang sangat-sangat sampah ini. (gak tega nih ngomongnya, tapi emang kebangeten sih).
Jaman dahulu kala,(ceileee... jadul banget mbak...) mungkin si mbak penulis ini penggemar novel-novel om freddy s. makanya bertabur adegan ranjang yang super-super hot. membacanya saja sampai bikin mbok nah harus mencuci seprei tiap hari. tapi mungkin karena baru belajar menulis, jadi sense of writingnya aduhh.. gimana ya? aku jadi membayangkan, kalau si mbak penulis ini menulis sambil nonton bokep, atau lagi uwek-uwek *istilah kawanku nadyn*. banyak sekali istilah kelamin yang di samarkan dengan sangat tidak indah, walau dia berusaha me-metafor-kan supaya tidak vulgar. semisal, saudara kecil, gunung kembar, gempa hawa muragana, adik kecilku, serangan, jurus dan lain-lain. untunglah aku tidak punya penyakit pencernaan jadi aku tidak sampai mual membaca novel ini.
Walau ada kawan-teman *lhaa ini jauh* ada yang bilang membacanya bikin banjirr, tapi kok aku tidak ya. geli, mangkel, gemes hanya karena kok bisa si penulis ini berjuang keras untuk buku sampah ini. *upss...! Kalau tulisan macam begini, dia akhirnya ditasbihkan menjadi penulis. sungguh aku tidak rela. walau hanya mendapat gelar penulis buku ranjang. aku tetap tidak akan rela. belum lagi isi cerita yang amat sangat klise, dengan alasan kejadian yang amat sangat tidak masuk akal. padahal setting cerita ini begitu realis.
Akhirnya si penulis -bukan tersebab diriku memaki-maki langsung- menyerah untuk menerbitkan ulang ini buku. Si embak penulis diwanti-wanti kawan dekatnya, karena banyak percakapan bahasa inggris yang Ia pakai, amat sangat amburadul (padahal hampir 40% berbahasa inggris). Setelah di perhatikan lebih dalam latar belakang si penulis, pendidikan biasa saja, merantau lalu kemudian dia ber-mantan suamikan orang uble alias bule, cukup lama tinggal di Bali. Dan parahnya lagi, beliaunya ini bukan penggemar membaca pula, Nah.. lohh..! Yah.. dia belajar berbahasa londo itu karena kehidupan sehari-harinya.
Jadi sebaiknya jika ingin menjadi penulis yang baik dan benar, dan tidak sampai "karya"nya itu merugikan para penikmat. Sebaiknya perlu sedikit belajar pada senior, apa ruginya sih belajar? Kalau sungkan, malu, atau gengsi, bisa dengan cara membaca diam-diam. Riset mendalam, atau apalah. jangan jadikan patokan diri sendiri. Bukankah penilaian diri sendiri terhadap karya sendiri terlalu subyektif. Dimana-mana kecap gak ada tuh yang no. 2. Semua, pasti saling meng-aku-aku-kan karyanya.
Dan kesimpulannya setelah selesai membaca buku ini, selera membaca hilang hampir 5 bulan. Gawat...! Ini perkara gawat buatku, karena kehilangan selera membaca akan berdampak kehilangan selera menulis juga. Ada semacam penyakit enek merangkai dan membaca kalimat. *syndrom apalagi nih? Dan ini bukan salah satu naskah buruk yang harus aku baca. masih ada beberapa. Salah satunya naskah novel milik bu-ibu, yang memang berbeda dengan novel embak yang berbau ranjang, tapi tata bahasa dan kalimat sama buruknya. Aku menyerah. Butuh energi besar membaca tulisan semacam itu. Dan amat sangat menyiksa. Lebih baik, aku ditugasi menulis ulang saja daripada harus mengedit.
Aku jadi berpikir pekerjaan sebagai editor, ternyata seorang Editor itu harus punya banyak energi membaca naskah-naskah semacam ini.
Ketika penyakit enek ini mulai berkurang, aku mulai tertatih lagi membaca beberapa buku. walau beberapa buku harus kandas di seperempat halaman buku. Sekarang hendak menghabiskan "Serat Centhini - Elizabeth". walau buku ini masih ada beberapa huruf dan kata lewat sensor polisi bahasa. Rasanya selera membacaku sedikit meningkat, karena sudah hampir di halaman terakhir. Hore.... itu artinya minat untuk menulis perlahan mulai timbul kembali. Thank's para Penulis yang Tidak Membiarkan Pembacanya Keracunan.
Surabaya, diseleseikan 10 Juni 2012
Friday, June 17, 2011
Intermezo Mei
Lavina S Wibowo
Mei itu sakit, apa kau tahu?
Diam-diam ia selalu menyelipkan getah beracun di bibir perempuan yang memujanya.
Hingga akhirnya perempuan itu menjadi sinting.
Mengiris luka disekujur dadanya, lantas memintalnya menjadi cerita. Menjadikannya sesakit mei.
Mei, kedatangan yang dinanti. Seolah-olah kereta kencana yang akan menjemputnya
Waktu dilindas, detik. Tahun mengubah bulan menjadi merah.
Perempuan itu memilih pergi, memangkas habis cerita yang ternyata sia-sia.
Dan memang mei itu sakit.
Ketika ia benar-benar ditinggalkan, ia akan datang menghampiri.
Mengais masa lalu ketika ia masih dipuja.
Tapi Mei tidak benar-benar sakit, ia hanya baru mengerti.
Ternyata bunga berkelopak ungu itu tidak mekar di bulan yang lain, selain di bulan Mei.
Intermezo, 140611
Friday, April 22, 2011
Aku dan Dia -Perempuan yang melawan dengan BUKU- 1
Ini pilihan, tak ada jalan selain maju terus ke depan. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, setidaknya akan tetap tercatat walaupun tidak bisa merebut kemenangan.
Siapa yang menyangka, aku akan banyak melewati banyak proses yang demikian membingungkan. Pilihanku ketika menjatuhkan diri menjadi salah seorang prajurit di belakang Komandan Perempuan tidak akan pernah aku sesali.
Perempuan itu, Diana AV Sasa. Seorang perempuan yang gigih memperjuangkan mimpi-mimpinya. Dengan jalan apapun ia berusaha tetap bertahan untuk buku. DBUKU Bibliopolis, adalah salah satu mimpinya untuk memiliki perpustakaan sebagai ciri Kota Metropolis. Ia memperkenalkan konsep, perpustakaan yang tidak melulu berada di tempat yang tidak terlihat, jauh dari peradaban, kesan formal dan kaku. Selama hampir sekitar 4 bulan, DBUKU Bibliopolis berdiri dengan gagah di salah satu ruang di Mall Royal Plaza Surabaya. Ada saja pertanyaan dan kekaguman yang terlontar dari para pengunjung mall.
"Ini toko buku?"
"Oh.. Bukan ini library.. Anda bisa membaca sepuasnya dengan gratis. Bla..bla.. bla..".
Dan mereka akan berkeliling sebentar lantas berdecak kagum. Rata-rata mereka akan kembali lantas bercerita pada orang lain. Hingga sampai saat ini Dbuku memiliki anggota sekitar 240-an. Bukan junmlah sedikit tho?
Aku semakin ingin tahu tentang cara berpikir seorang Sasa, Perempuan dengan banyak keinginan (walau aku sedikit mengernyitkan dahi "hei..ini sudah mulai tidak masuk akal") atau ketika dia sedang dilanda kepanikan dan susah fokus, maka ia akan terus berbicara dari topik satu ke topik lainnya.(maka aku hanya diam dan membiarkan ia terus mengoceh hahahaha...) Belum lagi kalau dia dengan sifat yang sedikit keras kepala, tapi amat sangat lemah jika sudah dimain-mainkan emosinya (lagi..lagi.. aku cuma bisa kasih masukan yang ala kadarnya). Atau juga jika ia mulai terserang virus lupa, hal kecil dan remeh dia bisa jadi lupa, tapi untuk mengingat sejarah atau peristiwa dia bisa sangat hapal dan detail (nah.. yang ini aku heran kok bisa, dia melupakan dimana letak kunci motor, tapi ingat tentang semua judul buku yang ia punya). Tapi aku tahu, dia orang yang tidak pantang menyerah. walau tubuhnya sering keok karena pikiran yang tidak pernah ia istirahatkan barang sejenak.
Aku belum juga menyerah untuk ingin tahu lebih tentang perempuan satu ini. Setelah kejadian yang bertubi-tubi, dan akhirnya ia menyerah dan memang harus mengundurkan diri dari Royal (fiuhh.. bagaimana bisa library tanpa keuntungan dianggap bisnis dan tidak ada bantuan turun hanya karena tampilannya wah dan mewah dianggap komersil hanya karena menjual buku limited edition yang memang harganya tidak murah.
Bantuan dari dikmas saja tidak cukup, jika tidak ada kerjasama yang baik dengan plaza yang dipilih. Jika bisa aku berandai-andai, seandainya mereka memberi harga sewa khusus dan tidak disamakan dengan tenan-tenan yang kebanyakan memang usaha/bisnis. Mungkin kami sudah sangat berterima kasih, dan pasti bisa bertahan lebih lama. Aku masih ingat ketika Sasa berbicara dengan staf marketing, untuk lobi-lobi pemunduran pembayaran stan. Dengan arogannya mereka justru menyarankan untuk tahun depan tidak perlu diperpanjang. Hanya karena kita memohon untuk tidak dipersulit. Bayangkan saja keterlambatan bayar stan-lampu mati, terlambat lagi-disegel. Wuihh...
Ada alasan kenapa Ia mendandani perpustakaan di mall dengan sangat mewah. Alasan pertama, Perpustakaan di Mall harus bisa menarik pengunjung mall, dan bersaing dengan daya tarik toko yang bertebaran di mall. Alasan Kedua, Perpustakaan seharusnya bisa dijadikan tempat alternatif terbukanya ruang-ruang diskusi masyarakat perkotaan. (Bayangkan saja, pengunjung mall pastinya tampil modis, tidak mungkin mereka akan memilih tempat yang suram sumpek, amat sangat tidak nyaman dan mereka pasti memilih nongkrong di foodcourt).
Kemarin di acara "Perpustakaan dimata Kartini Indonesia" 21 April 2011, Adalah event terakhir dbuku di royal plaza. Entah kenapa dari awal acara sampai akhir acara. Tidak ada sama sekali tepuk tangan yang meriah, sepertinya masing-masing tamu undangan merasakan kesedihan di dalam hati kami. Di salah satu, sesi Perempuan dipersialahkan berbicara tentang buku dan perpustakaan. Ketika jatuh di giliran Diana AV Sasa, Aku yang lebih memilih jauh dari forum tak lagi bisa menahan air mata. Aku merasakan getaran kesedihan di suaranya yang getir. Sebelumnya beberapa tamu undangan, memuji-muji DBUKU Bibliopolis. Sungguh itu pujian yang menyakitkan, karena kami tahu kami tidak bisa lagi mempertahankan konsep Library At Mall ini kepada para penikmat dan pecinta Buku. Tiba-tiba acara itu terlarut dalam kesedihan yang dalam. Aku tahu seperti apa perjuangannya mempertahankan. Dan bagaimana ia kehilangan banyak waktu tenaga dan pikirannya untuk keberlangsungan DBUKU dan program-programnya.
Aku berani menunjuk dia sebagai Pahlawan Buku Perempuan dan dia benar-benar jelmaan Kartini masa kini. Mas Nuri berkata, "Apapun yang akan terjadi, DBUKU Biblipolis akan tercatat dalam sejarah". Itu bagiku seperti sebuah kebanggaan ditengah keterpurukan ini. Dan mereka-mereka yang pernah merasakan nyamannya berada di DBUKU Bibliopolis at Royal Plaza adalah saksi mata perjuangan dia, untuk mewujudkan Library At Mall sebagai salah satu ciri Khas Kota Metropolis ini.
Perjuangan belum selesai Kawan, DBUKU Bibliopolis masih terus berjuang...
Monday, April 18, 2011
CityFast Kurir : Pengiriman cepat dalam Kota Bisnis Pertamaku
Ini baru permulaan, sejak aku memutuskan keluar sebagai operator Warnet. Jelas aku tak lagi punya penghasilan tetap. Tapi aku sungguh bahagia karena punya banyak waktu untuk belajar apa saja. Dari menjadi admin di acara Kompetisi Teater Indonesia, okelah aku sempat sakit hati. tapi rasanya wajar ada kegagalan. Sebenarnya aku tidak boleh kapok, sakit hati, atau kecewa. Cukup tahu saja. bekerja dengan mereka itu bagaimana.
Apakah aku akan meninggalkan dunia kesenian dan tulis menulis?
Hoo..Ho..Ho.. justru inilah yang sedang aku pikirkan. Kalau aku hanya berkutat di pekerjaan serabutan, dengan hasil yang tak menentu. Kapan aku akan bisa duduk diam dan berpikir tentang dunia yang lebih besar dari Bumi itu. Aku berpikir simpel, dulu aku berpikir, aku tak boleh menggantungkan hidup pada kesenian. Justru aku yang harus bisa menghidupkannya.
Bagaimana dengan Perpustakaan? DBUKU, Warung Baca Emperan ESOK, dll
Tidak mungkin aku hanya menggantungkan pada bantuan sponsor dari instansi-instansi yang pasti sudah disabet para pengejar proyek. *semakin aku tahu seluk beluk para pengejar proyek. semakin kecil aku berharap banyak akan ada banyak uluran tangan yang dengan sukarela membantu kami.
Memilih Usaha Kurir?
Setelah memikirkan banyak usaha kecil lainnya, dari fotocopy, design, warnet, dll. Rasanya dengan modal cupet, tapi bisa beri pengahasilan lebih. Ya Jasa Antar. Atau lebih tepatnya Kurir. Mulai dari pengiriman Undangan, Poster, Sebar Brosur, dan Ambil-antar Dokumen. Dan ini aku masih belajar mengetahui dimana saja kesulitannya.
Oh... iya ada satu lagi alasanku menjalankan bisnis ini, aku masih bisa menjadi Pustakawan yang selalu bangun siang, aku masih bisa menjadi pustakawan yang mendongeng untuk anak-anak, aku juga masih bisa menjadi aktifis Seni yang tidak habis menggelontorkan pikiran-pikirannya untuk Komunitas yang Sudah Aku bangun sejak 4 tahun lalu. Komunitas ESOK (Emperan Sastra COK - Cepetan Ojo Keri-). Karena aku bisa mengatur waktu bekerjaku sendiri. Hahaha.. ini salah satu kebebasan yang aku inginkan.
Dan besok adalah proyek pertama menjadi kurir, mungkin sepele ternyata kebutuhan jasa kurir tinggi juga. Ditengah-tengah pertumbuhan bisnis surabaya rasanya Jasa Kurir bisa menyelinap diantaranya. Semoga saja, aku benar-benar bisa bertahan di bisnis ini. Amien....
Wednesday, April 13, 2011
Konspirasi Tuhan dan Rencananya
Mungkin ini bukan sebuah kebetulan, jika di dunia nyata jarak antara aku dan ayahku terlihat menjauh dan tidak sejalan. Bahkan terlihat sangat bersebrangan. Tapi di dunia maya bisa-bisanya tuhan menghendaki aku melihat secara jelas AKU di sosok AYAHku.
Tapi ini sungguh membuatku bingung, bagaimana seorang gita, yang memandang tayangan televisi(sinetron, berita, atau apa saja) hanya sekedar permainan harus terlibat langsung menjadi seorang yang dituntut menjadi sukarelawan tayangan televisi.
Benar hari ini aku harus duduk si satu ruang diskusi dengan teman-teman yang beberapa kali sempat bertemu denganku, secara langsung berinteraksi. dan sekaligus di samping ada lelaki tegap yang kuhormati dan kucintai sepenuh hati. Ayahku.
Jangan bingung dengan pengantarku ini, kawan.
Ayahku selepas menjadi pegawai negeri dengan kata lain pensiun. Lebih aktif berinteraksi dengan teman-teman mayanya di Facebook. Awalnya asik bermain game kemudian merambah ke komunitas/ group. (hemmm.. kurang lebih sama denganku ketika pertama kali aktif berinternet ria) Beliau menjatuhkan pilihan pada kelompok Dukungan SMI. Ya.. perempuan itu menteri keuangan yang didepak dari susunan menteri secara halus, bla.. bla.. blaa.. (malas aku bercerita ttg suasana kepemerintahan negeriku sendiri).
Malam tadi (12/4/11) Ayahku dan teman mayanya, Om uyung yang beberapa hari lalu waktu nenekku sakit bertemu di rs malang, mengadakan Kopdar seJATIM. nah cerita punya cerita (kok ya mbulet ae see...) di acara itu aku jadi terlibat, ada Om fitrah (yg teman dekat Ning sasa Dbuku), ada Om kee(kawan karib suami Ning sasa). walhasil di acara itu mau tidak mau aku harus menjadi bagian dari pembicaraan malam itu.
Melihat dan menyaksikan beberapa anggota yang datang, dengan berbagai macam latar belakang usaha (dari pedagang, guru, dosen, seniman, dll). Mereka berbicara dengan kepercayaan penuh dan lugu. Entahlah aku seperti berada di sebuah ruangan dengan televisi besar dan aku berada di antara komentator-komentator yang berapi-api.
Yang paling membuatku ngeri adalah ketika pembicaraan sudah masuk pada kemungkinan berpolitik/partai. OMG... tentu saja akan lari kesana. Mereka sedang membela seseorang yang memang berada di lingkup Politik.
Ok lebih baik sekarang aku kembalikan pada pemikiran dan gagasan-gagasanku dahulu. Aku berpikir tak perduli seberapa ributnya Mereka di layar kaca dan sidang di gedung besar pemerintahan, aku akan tetap bergerak memberikan SESUATU (entah apa bentuknya) melalui komunitas Emperan ESOK. Tapi kenapa semakin hari lariku menuju jalan-jalan bercabang yang menuju dunia entah.
Selamat pagi, Kawan
Ini catatan dini hari, dari kejadian yang biasa, tapi menurutku tidak biasa. Hingga membuatku terbungkam dengan keterpaksaan mendekatkan pemikiranku dengan Ayahku. Yang paling menyiksa justru.. Welcome to the "No Smoking Area" fiiiuuuhh......
13 April 2011
Friday, March 25, 2011
Monolog Moderato Cantabile : Perlahan dan Berlagu
Adaptasi Novel : Gita Pratama
Lembar –Lembar berserakan di sekitar piano. Tubuh perempuan itu mematung diantara kursi merah kecil.
Ayunkan jemari tanganmu. Kau memang harus belajar memainkannya… Kau biarkan perempuan itu setengah berteriak. Ulangi lagi. Perlahan saja… (Dengan nada yang lembut) Betapa menyebalkan bukan?
Ya.. mainkan seperti ini. Tidak, bukan sepertiku, tapi seperti yang tertulis dilembar partitur dari perempuan itu. Menjemukan…
Moderato Cantabile….
Aku tahu kau tak bersungguh-sungguh nak. Ulangi lagi nak… (Lembut)
Kenapa kau lupakan nada-nada itu? Kau harus mau belajar memainkanya.
Senja di dermaga selalu merindukanmu nak.. suatu sore di hari jum’at adalah masa penantianmu. Tunggulah aku disana.
kedai dan dermaga.. Percakapan selalu terhenti di setiap dentang lonceng pabrik. Anakku berlari menggampit tanganku keras-keras, sedangkan laki-laki itu menuangkan anggur lagi ke dalam gelasku.
Perempuan itu memainkan piano dengan nada tak beraturan. Kerap kali ia hanya diam memainkan gaunnya. Lampu bar nyala meremang. Dan bunyi denting gelas, anggur yang di tuang. Anne bangkit menuju meja bar. Memainkan bayangannya di dalam gelas.
Ada yang carut marut di kepalaku, sebuah kedai juga perempuan yang terbunuh. Adapula tentang anak dan juga sebuah Piano. Apakah perempuan itu aku, di waktu lalu saling menindih dengan kenangankusendiri?
Perempuan itu terbunuh ditikam. Dan lelaki disampingnya menjerit. Jeritanya lama nyaring dan berhenti seketika pada puncaknya. Suaru saat aku yakin, aku tentu akan menjerit seperti itu. Mungkin ketika aku melahirkan anak itu.
Perempuan itu sepertiku. Entahlah aku tak pernah mengenalinya. Disaat kejadian, anak perempuan itu berada di depan pintu kedai. Kau tahu betul peristiwa itu? Aku hanya mendengar ketika lelaki itu berteriak.
Tolong segelas anggur lagi…
Dimulai dari kebisuan-kebisuan berkepanjangan yang timbul di antara mereka di malam hari. Dan makin lama mereka makin tidak mampu mengatasinya.
Bising dermaga, ocehan para pelanggan bar.. masih ada sore yang indah. Tuangkan lagi anggur digelasku. Mari ceritakan lagi peristiwa yang sama…
Meja bar, lampu dan suara dari piano. Pelan.. semakin lama cahaya semakin penuh. Suara bising laki-laki dan perempuan terburu-buru dari kapal.
Dengarkan bising mesin kapal di dermaga. Sepanjang sore mengangkut mereka, jiwa-jiwa yang membawa banyak cerita. Bukankah hidup ini terlalu membosankan dengan cerita yang di ulang-ulang. Kadang berjalan lambat tapi juga cepat. (Lelah dan Putus Asa)
Mata pengunjung kedai menatapku, biarkan saja. Chauvin memang lelaki yang selalu membawa cerita yang sama. Tapi, sungguh ak tak punya alasan untuk tidak kembali.
(Bermain Piano, perlahan dan terbata)
Moderato Cantabile…
Apakah begini nona? (bertanya dengan sinins) Anakku sangat menyebalkan jika mulai patuh begitu. Biar aku saja yang selesaikan. Setiap selesai dari sini, ia akan berlari kedermaga, mengamati kapal kapal yang sandar. Sambil terus mengawasiku, tanpa pernah berani mengajakku untuk beranjak.
Rupanya ia dapat membacamu, Chauvin. Dan memberimu banyak kesempatan.
Itu di ujung jalan sana di Boulevard La Mer.. Setiap sore aku membawa kebosanan yang menjemukan disana. Terkadang aku berjalan tak begitu jauh. Tapi terkadang pula sangat terasa jauhnya. (Tersenyum)
Peristiwa kematian itu, telah terjadi Chauvin?
Laki-laki itu tidak mengetahui mana yang lebih disukainya, keinginannya agar perempuan itu tetap hidup sama kuatnya dengan keinginannya agar dia mati. Lama kemudian baru Ia memutuskan bahwa ia lebih menginginkan perempuan itu mati.
Lampu meredup
Aku tak punya waktu banyak..
Mereka tak punya waktu banyak…
Chauvin tuangkan aku anggur lagi…!!
(Di tengah antara bar dan kelas piano)
Bangun atau tidur, dalam pakaian sopan ataupun tidak, kehadiranku memang tidak dihiraukan.
Dari kejauhan, orang dapat terkecoh melihat taman anda yang tertutup menghadap laut, daerah yang paling bagus di kota ini. Namamu Chauvin
Kau nampak bersemangat menceritakannya. Maka aku merajuk agar kau terus berbicara dan aku berjanji tidak akan menanyakan apa apa lagi.
Sore tidak lagi indah, Gelas kaca di meja bar tak lagi memainkan bayanganku. Jari jari anakku selalu menuntunku kembali pulang. Mau berkunjung? Mungkin lain kali.
Wednesday, February 09, 2011
Naskah Monolog Perempuan dan Kursi Roda
ADAPTASI NOVEL
THE SOULS MOONLIGHT SONATA
Oleh Gita Pratama
Adegan Pertama
(Ruangan suram) Perempuan di atas kursi roda. Wajahnya yang mulai mengerut, sinar matanya seperti sorot bulan yang jatuh, sintal tubuh dan keelokan di masa muda masih terpancar.
Iringan Biola… perempuan tua dengan kursi roda masuk perlahan.
Lelaki itu, memilihku. Kecantikan hanya penting di bawah empat puluh tahun (mengingsut perlahan di atas kursi roda). Setelahnya aku hanya perempuan tua yang pelan-pelan lumpuh. Osteoporosis telah menggerogoti seluruh sel tulang-tulangku.
Lelaki itu nyaris sempurna karena telah memiliku. Lekuk tubuh serupa biola yang ia pujapun mengendor, rahimku telah memberi dua anak untuknya. (wajahnya terangkat, menarik seluruh cahaya yang membias di ruangan itu)
Lelaki itu memesona, sungguh dia lelaki baik-baik. Aku rela menyimpan segenap nafas dan hidup untuknya, Tapi dia adalah manusia biasa. Aku melihat bayangan di balik tubuhnya tiba-tiba menjadi suram.
Lelaki itu tinggalkan kelam cerita di putaran roda kursi ini. Seperti pusaran waktu yang melingkar semakin merapat di tubuhku, Aku tidak sedang berpijak di antara pilihan. Karena…
Lelaki itu suamiku.
Adegan Kedua
Biola dan derit pintu…
Dan perempuan tua yang terduduk di kursi bambu.
Matanya yang senja, menatap tajam di sudut pintu.
Hana…. Kaukah itu..? Kenapa tak berkabar kalau pulang. (sepi)
Oh.. Lolita.. apa itu kau? Cepat sekali kau pulang nak… (masih juga sepi)
Bukan.. itu bukan mereka. (Ia menghela, menelan harap kerinduan akan anak-anaknya)
Lalu Siapa perempuan muda menenteng biola itu?
(Cahaya menyentuh seluruh tubuh perempuan tua)
Perempuan itu, membawa bayangannya ke dalam rumahku. Berwarna pelangi, bukan abu kelam seperti bayangan suamiku. Berwarna kuning pucat, persis seperti cahaya bulan. Tapi aku sungguh membencinya, membenci perut buncitnya.
Perempuan itu, babu yang kukasihani. Meninggalkan halaman kelam di catatan rumahku. Di pintu ia tinggalkan bayinya juga selembar kain membercak darah dosa.
Perempuan itu, entah sengaja menyiapkan senjata di balik punggungnya ketika aku lengah. Atau lelakiku yang baik-baik itu, menyimpan seringai serigala ketika aku telah menjadi ibu bagi anak-anaknya dan bukan lagi perempuan yang menjadikannya nafas hidupku.
Sungguh salah… (nada getir yang ditekan) jika perempuan menggantungkan hidup pada laki-laki. Meskipun Ia telah berjanji akan setia sampai mati. Lelaki tetaplah makhluk pemangsa.
Dan bayi itu telah lahir dari kesalahan.
Adegan Ketiga
Perempuan tua di atas kursi roda. Membelakangi cahaya.
Gadis itu berdiri di depanku. Memainkan biola seperti suamiku dulu. Penuh cinta, penuh keyakinan, dan aura perak melingkar di tubuhnya setiap kali ia menggampit biola di lipatan dagunya.
Ini rahasia yang tersingkap di sela-sela album foto keluarga. Ini aib yang tak ingin lagi kujadikan beban. Aku telah memaafkannya, tapi masih saja luka itu mengintip tiap kali ia memanggilku. Ini rahasia yang kutulis tipis di urat-uratku yang makin mengerut.
Padmaningrum, gadis berbakat dan penuh gairah yang tak lagi kubenci. Aku mengasihinya. Karena ia anak suamiku. Kau tau.. kau jelmaan lelaki baik-baik itu. Biola yang kau tenteng itu menyimpan roh ayahmu. Tanpa kau ketahui.
Perempuan itu bukan pelacur…
Ibumu bukan pelacur nak... Ia hanya berada di waktu dan tempat yang salah. Dan kau terpaksa menerimanya menjadi bagian dari hidupmu, dosa yang tak akan dapat kau mengerti.
Gadis itu.. sepertiku.. menyalahkan diri. Coba endapkan dendam yang menggemuruh. Aku merasakannya. Biarkan meledak dalam dekapku nak.. Tapi sungguh kebisuan sejenak adalah senjata bermata dua yang akan menghancurkan segalanya.
Aku dan kau adalah korban. Korban dari lelaki baik-baikku dan juga perempuan itu.
Dan kau tidak akan sempat memilih.
Adegan Keempat
(Wajahnya tersenyum genit, walau tubuh nya masih terpaku di atas kursi roda.)
Aku masih menyimpannya Pak..! Cincin yang kau buatkan untuk ke tiga anakmu. Yohana, Lolita dan gadis itu, Padmaningrum bayi hitam dan kurus yang ditinggalkan babumu untukku. (Sambil tersenyum perempuan itu menggumam mesra, berbicara pada sepinya)
Aku tahu. Aku tahu, sebelum ajal menemuiku masih ada wasiat darimu yang belum tuntas. Dan sekarang adalah saat yang kunantikan sejak kepergianmu.
(tiba-tiba perempuan itu meracau)
Bayi suamiku dari rahim babuku. Lantas aku siapa? Lantas aku apa?
Bayi hitam dan kumal, telah menjadi dia… gadis itu.. Padma..
Ia bersimpuh di lututku, terisak. Lelaki itu.. Gadis ini..
(wajahnya terangkat mengembalikan kesadarannya, lalu membelai gadis yang berada di pangkuannya)
Dendam telah lama terhapus.., setidaknya kau juga akan begitu. Ayahmu telah lama tertidur mendekap senyum ke-lila-anku.
Padma.. Simpan cincin ini untukmu. Dari Ayahmu…
Perlahan suara moonlight sonata terdengar, seiring redupnya cahaya ruangan
Surabaya, 5 Februari 2011
Monday, February 07, 2011
Bagaimana suara itu
Aku biarkan telingaku ini pelan pelan dirasuki suara yang begitu renyah. Selalu.. dan selalu. Tapi aku tak pernah membiarkan perempuan itu menelan kekagumanku. SUngguh sayang jika nanti dia hanya akan menjadi pegawai kantoran yang duduk manis di depan meja yang penuh dengan pekerjaan yang menumpuk. juga dengan lelaki di sampingnya yang penuh dengan talenta hanya akan mengocok gelas kopi atau mesin penghitung saja.
Ini karya duet mereka, kebetulan lelaki itu adik kandungku, ia memainkan tuts piano tua, bekas kantor pemerintahan yang sudah tidak terpakai. Dan suara utuh, manis itu milik perempuan yang menjadi kekasih adik saya itu. Klop sudah...
Bagaimana aku tidak menelan kengerian jika mereka mampu memainkan lagu-lagu (walau masih milik orang) yang penuh dengan nada-nada tinggi. *yang pasti aku tidak akan mampu menjangkau nada itu.
Coba saja dengarkan, hanya dengan bekal, mic, tape, piano tua, netbook dan program acidnya. Mereka berkolaborasi dengan cantiknya, "DowneenDha" itu singkatan nama mereka berdua. Sebenarnya aku pernah diam-diam menyimpan beberapa lagu kolaborasi mereka. Tapi telah hilang dimakan kutu busuk virus yang menyebalkan itu.
Ufh... andai saja mereka mau membuat lagu sendiri. Apa jadinya mereka ya? mungkin bisa mengalahkan duet anang-KD (waktu mereka masih berstatus suami istri)hahahaha... Ngayal.com---NganGa'deh.com
Selamat menikmati dan menjadi fans rahasia mereka.
Tuesday, April 06, 2010
Tentang Hatta Dan Novel Biografi
Novel Biografi : Hatta Hikayat Cinta dan kemerdekaan merupakan sebuah novel biografi berkisah tentang kehidupan hatta yg dibuat dengan rekonstruksi sejarah dimulai saat kehidupan masa kecil, hingga masa pergerakan kemerdekaan.
“Aku tahu para pemuda terus mencela dan mengecam kami karena kedekatan kami dengan jepang. Namun, hari siang bukan karena ayam berkokok, tetapi ayam berkokok karena hari mulai siang”.
Itu secuil percakapan Hatta kepada Sjahrir, ketika Hatta didesak oleh kaum pemuda untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Hatta tidak ingin terburu memutuskan hal yang baginya akan merugikan negara yang dicintai di masa depan. Terasa begitu logis sebuah keputusan seseorang jika mengetahui darimana sudut pandangnya.
Saya cukup menikmati jalinan cerita yang dipaparkan, baik dari segi kehalusan bahasa dan pemaparan yang digunakan laiknya bagaimana pemaparan sebuah novel. Novel ini juga memiliki beberapa bidikan unik yang akan sulit ditemui dalam sebuah buku sejarah. Beberapa detail percakapan menarik sangat disayangkan untuk dilewatkan di bagian pertengahan, meskipun di awal novel ini dibuka dengan kesan yang bagi saya sedikit membosankan.
Satu perhatian yang juga ingin saya telaah adalah pemversian cerita ini. Novel ini saya anggap menjadi kurang real karena porsi terbesar adalah lebih membidik masa-masa pergerakan. Ide jahil saya menjadi liar memikirkan, apakah hatta kecil menjalani masa-masa kenakalan lumrah seperti anak-anak lainnya sebayanya? Apa saja kenakalan-kenakalan itu.
Bagi saya mustahil jika ada manusia yang tidak pernah berbuat kecerobohan kecerobohan kecil. Itu juga saya pertanyakan. Akh.. benarkan Seorang Tokoh Besar sesempurna itu. Misalnya saja, apa tidak pernah ia meletakkan kacamata sembarangan setelah membaca. Hal –hal kecil yang menggelitik itu bukankah akan lebih menarik dan lebih mengenalkan pribadi seorang Bung Hatta. Oleh karena itu Novel ini menjadi kurang cair terhadap pembacanya. Kurang bisa lebih mendekatkan tokoh Hatta pada pembaca seperti yang mungkin diinginkan oleh sang penulis.
Akh… sayangnya ketika saya membolak-balik buku ini saya tidak juga menemukan apa yang saya cari itu. Hal ini lah yang menjadikan saya sangsi mempertanyakan kembali ketepatan pelabelan Novel Biografi “Hatta : Hikayat Cinta dan Kemerdekaan” dibanding pemaparan buku sejarah seperti yang saya temui kebanyakan.
Friday, February 26, 2010
Sedang men-cari-mu hingga men-cairi-mu, Puisi
Sebuah Proses "awal" perjalanan
Gita Pratama
Ketika saya ditanya kenapa menulis puisi, maka saya akan jawab tidak tahu. Dan kenapa menulis puisi seperti ini, seperti itu maka sayapun akan tetap menjawab tidak tahu.
Saya mengenal puisi sejak sekolah dasar tapi berani menulis apa yang saya katakan “ini puisi” ketika SMP karena naksir beberapa lawan jenis. Cenderung pemalu ya.. saya cenderung pemalu juga cenderung pelamun. Jadi hanya bisa memandang dari jauh, pergi menyendiri lantas dilamunkan. Tapi tidak ketika saya berada di lingkar teman-teman maka saya tidak lagi menjadi manusia yang bukan penyendiri bahkan pemalu.
"Kata-kata adalah dinding antara ku dan mu"
Rasa sakit, seperti candu. Begitulah yang akhirnya saya simpulkan hingga sekarang. Sakit tentang apa saja, kekecewaan lingkungan, keluarga, alam, politik, agama, juga kesakitan otak akut karena tidak semua bentuk pemikiran bisa terlontar lewat bahasa lisan. Seperti sebuah dinding, kata-kata menjadi perantara memahami aku yang juga Aku-Mu yang lain. Memahami kegelisahan, serta keinginan batin yang tak semuanya mampu terpenuhi. Sebagai tanda penghubung dari banyak hal yang menurut saya “hilang”.
Dunia Gerak, terbatasi. Dunia gerak yang ternyata tak mampu menampung seluruh bayangan juga imaji yang ada di kepala saya. Seluruh bayangan gerak yang berjumpalitan di ruang kepala juga benak batin. Dan di puisi saya menemukan Dunia Diam yang meleluasakan Gerak yang saya bayangkan.
Berawal dari teater saya mengenal dunia yang ternyata penuh keterbalikan makna, kegilaan yang tidak terakui, keseriusan mengurai simbol, serta masih banyak lagi. Hingga saya pun tidak lagi berpikir sekedar aku tapi aku juga aku, aku yang lain. Menjungkir balikkan aku ketika menjadi aku - dia, aku – kalian, aku - kita, aku - aku. Juga aku – sesuatu, tidak menjadi manusia. Dan sayapun menikmati segala proses, kecanduan. Tapi juga rasa lelah mungkin hanya karena kebosanan “sakit” yang panjang. Tapi saya masih selalu merindui dunia itu, Puisi hanya barisan kata, musik hanya barisan nada, tapi teater adalah barisan kompleks segalanya.
Dunia saya kecil, tapi saya ingin membuatnya besar dan luas, agar saya bisa berlarian dan bermain-main sepuasnya. Jiwa anak-anak saya masih ada sampai sekarang, dan saya merasa nyaman terus menerus memeram kekanak -kanakan saya. Berarti saya bisa terus melakukan eksperimen tentang apa saja yang menarik buat saya.
Menulis dengan pena, tulisan tangan saya sama buruknya dengan cakaran kaki-kaki ayam. “Hanya saya dan tuhan yang tahu apa yang saya tulis”, begitu pembelaan saya, jika ada yang mencoba menyindir saya. Untunglah bertemu dengan komputer dan berarti kesaktian bentuk tulisan tangan bukan lagi menjadi kendala.
Dimulai dari membaca, dunia asing yang sudah dijejalkan pada saya sejak saya sudah belajar membaca. Dari komik anak, majalah anak-anak kemudian berlanjut ke majalah remaja. Tapi membeli buku bukan kebiasaan yang juga dijejalkan pada saya. (setelah saya pikir mungkin hanya karena permasalahan ekonomi ayah juga ibu dulu, mungkin juga agar saya tidak menjadi manusia konsumtif walaupun itu berbentuk buku). Maka ketidakpuasan mencari apa yang ingin saya tahu tidak sepenuhnya terpenuhi. Hanya ketika berada di sekolah maka saya sering membolos kelas hanya untuk berlama-lama di ruang baca sekolah.
Ensiklopedia adalah buku favorit pertama saya. Karena kertasnya yang bagus, juga gambarnya yang berwarna-warni. Saya jadi bersemangat untuk kembali belajar menulis (aku baru bisa benar utuh menulis satu kata ketika duduk di kelas 5 SD) tapi sayang ternyata saya tidak bakat menulis. Karena guru, teman atau bahkan saya sendiri bingung membaca tulisan tangan saya itu. Akhirnya pasrah lebih baik tidak menulis daripada saya pusing. Tapi ternyata lebih pusing lagi jika tidak menulis. Nah lho.. jadi bingung lagi saya. Jadi saya menulis saja biar pun bab menulis tangan itu susah, tapi lebih baik daripada kepala saya pusing menahan dunia liar di kepala saya tidak tersalurkan.
Dulu ketika saya berdiam (saya ingat betul waktu masih seumuran SD, saya berdiam hanya ketika sedang buang hajat), bermacam pertanyaan melintas di kepala. Salah satu yang saya ingat adalah kalau saya sedang berpikir tentang orang lain apakah orang lain di saat yang sama, saat ini, keadaan yang sama, sedang melakukan hal yang sama dengan saya, ada yang berpikiran seperti saya saat ini? Selamat bingung teman, pertanyaan saya ini sampai saat ini masih sering muncul.
"Belum bisa membaca, baru sekedar mengeja"
Sampailah saya pada kesimpulan, ternyata saya membaca, juga menulis itu tidak benar-benar membaca ataupun menulis. Tetapi hanya masih sampai pada taraf mengeja, taraf meraba, masih pada tingkat mencari makna yang benar dari kalimat – kalimat itu. Sering ketika saya menulis, saya tidak mengerti apa maksud tulisan yang saya tulis. Setelah berhari-hari atau beberapa waktu barulah saya sedikit paham dengan apa yang saya tulis. Bahkan, saya juga juga tidak tahu apa maksud tulisan yang sedang saya tuliskan ini Apakah teman-teman juga pernah merasa seperti itu?
Saya secara sadar sedang menulis puisi, tapi saya tidak benar-benar menyadari kenapa saya menulis puisi. Pernah pada satu sesi latihan, sutradara saya bertanya “Coba siapa yang sedang menyuruhmu bertopang dagu?”. Saya terkejut, siapa? Saya bingung menjawab. Siapa? Ya mungkin karena saya sendiri yang menyuruh. Tapi dalam hati saya berpikir lagi “Kenapa saya menyuruh tangan saya bertopang dagu?” maka sudah pasti pertanyaan sutradara saya itu tak mampu saya jawab dengan jujur. Masuklah saya pada pencarian kesadaran diri, banyak hal yang secara sadar saya lakukan tapi saya tidak benar-benar sadar apa alasan saya melakukan itu. Jawaban jitu “Saya tidak tahu”.
Pencarian sebagai jalan panjang, petualangan. Ada jiwa yang selalu berkelana, menjelajah di seluruh sudut asing keingintahuan, hingga akhirnya saya memilih puisi sebagai salah satu “rumah” yang nyaman saya tinggali. Ada banyak rumah yang sering saya singgahi, saya seperti orang paling kaya karena bisa memiliki banyak “rumah”. Saya sering singgah di rumah “music”, memain-mainkan nada yang bisa saya mainkan, atau di teater rumah besar dengan banyak taman bermain, juga alam, hutan, gunung, pantai. keindahan murni, juga kesepian yang alami.
"Apakah Puisi itu sepi? Tidak. Sepi-lah yang puisi"
Rasa sepi, saya menemukannya ketika khusyuk menulis puisi. Dimana sumbernya, karena saya menulis puisi atau karena perasaan sepi itu, saya menjadi tergerak berpuisi. Entahlah lagi-lagi saya tidak tahu. Kemampuan saya menemukan jawaban dari pertanyaan iseng saya itu hanya sampai Puisi itu tidak sepi, tapi perasaan sendiri yang sunyi, ramai yang penuh hingga rasanya kosong dan mungkin sepi-lah menjadi sebab lahirnya puisi.
Kebebasan, jawaban dari segala bentuk kemampatan. Saya sendiri mengakui bahwa kebebasan yang sebenarnya saya cari. Kebebasan sebagai individu yang liar, yang selalu terus menerus didera kekosongan panjang, yang masih ingin terus diisi. Tapi semakin kebebasan itu saya cari justru ruang pencarian ini masih saja tidak ada alias nihil. Mungkin karena ini saya masih saja tidak tahu kenapa berpuisi.
Jangan tanyakan saya soal nama atau teori karena saya tidak mampu mengenal atau mengingat dengan baik. Kemampuan mengingat saya payah, saya sering membaca tapi saya seringkali lupa apa yang saya baca. Dan saya tidak ingin membatasi diri saya sendiri dengan tetek bengek seperti itu. Saya mengenal nama-nama Joko pinurbo, Sapardi, Remy sylado, Anton chekov, Pablo neruda, Nietsze, Foucoult, Tolstoy, Emily Dickinson, masih banyak lagi. Karena saya pernah membacanya tapi lebih sering karena mendengar nama itu. Saya membaca buku-bukunya tapi saya juga lupa apa isinya. Betapa saktinya saya tapi juga sakitnya otak saya kalau harus mengingat semuanya.
Jadi pertanyaan kenapa menulis puisi seperti ini seperti itu maka jawaban saya, tidak tahu. Saya masih terus mencari, hingga nanti saya dan puisi bisa mencair di satu wadah yang sama.
Halte Sastra Surabaya, 20 februari 2010
Setelahnya Pak Budi Palopo ingatkan tentang sebuah "omong kosong". Perubahan ruang dan waktu, yang akan menjadikannya benar-benar kosong. Lalu kepala saya menjadi sakit dan semakin sakti sepulang acara itu karena sibuk berpikir. "Apa yang sudah saya omongkan? Kosong".
Wednesday, February 10, 2010
Ketika Kau membiarkan Aku bercerita
Banyak hal yang harus dihapus dari ingatan. Kotak kotak sumbu berwarnawarni rupa meluap di sudut sudut ruang. Salah satunya kau, kau yang berpakaian lusuh dengan wajah melas dan binar mata syahdu. Oh.. betapa iba aku memelukmu. Betapa rindu aku merenangi tikaman basah mata itu. Tapi sungguh harus ada bayangan yang harus segera dihapus.
Jika kau hilir mudik, berloncatan bagai anak kucing liar di tubuhku. Menggodaku dengan seribu macam erangan, lalu aku akan menjadi sepertimu membiarkan kau berpetualang di setiap jengkal kulitku. Memanjakanmu, menggodamu agar kau tak pernah ingin berhitung soal jarak dan juga waktu.
Di atas balkon, sesekali aku menatap ujung jalan berharap ada kesia-siaan yang berubah. Penantian yang memang tak pernah berjanji kapan akan datang. Tubuhku membiru, bibirku membisu dan mataku kubiarkan sembab agar ketika kau tiba- tiba datang nanti. Kau akan bertanya tentang sesuatu yang begitu gelap juga teramat pekat, lantas membiarkan aku membunuh aku di dalam tubuhmu.
Terlalu banyak hal yang kuhapus, satu persatu memakan banyak waktu. Memilih kemudian memilah mengingatnya lagi. Aku duduk di sebuah kursi menatap ujung ranjang dengan selimut yang masih kusut. Entah apa yang aku lihat, sesosok lelaki kurus mencoba menutupi tubuhnya dengan selimut. Oh... menderas hujanan air mata.
Terasa begitu sakit memunguti semuanya sekarang. Ketika kau telah menjelma menjadi lelaki harimau. Mengukir belang dengan tajamnya jarijari belati yang penuh bercak darahku.
2009- Feb 2010
Saturday, November 21, 2009
Menjelang kelahiranku
Semua tentang Ibu
Anak perempuan pertamanya yang lahir di tengah badai. Sedangkan Ayah yang sibuk menajamkan clurit, memangkas lebat rumput di tanah seberang. Juga kesendirian memeluk tubuhku dalam rahimnya. Dalam dinginnya nada-nada hujan, memanggulku pada ruang bidan. Sendiri sambil tetap menyenandungkan do'a bahagia.
Maka aku ada di tengah keprihatinan. Aku adalah Prihantini, yang tetap pandai menangis walau muak dengan sinetron juga tarian-tarian mimpi. Juga berlagak menarik senyum, pada lelucon sinting walau sudah jengah pada tontonan lelakon manusia setengah gila.
Love my mother
Juga Tentang Ayah
Ayah berdo'a sambil tetap mengalungkan clurit pada bidak bidak hidupnya. Agar kepulangannya bisa membawa sebuah baju, untuk anak perempuan pertamanya. Dan diam-diam memakaikanku baju mungil berwarna ungu itu, tanpa ibu ketahui.
Ayah berdiam, memandangiku dengan tubuhnya yang masih kurus. Memelukku rapat, tapi ia ketakutan tulangnya meremukkanku. Ayah hanya mencium keningku, diam-diam. Tanpa ibu ketahui. Dan aku hanya bisa menangis keras
Ayah tak pernah biarkan aku dan ibuku kedinginan dan kelaparan di setiap musim hujan.
Love my father too
