<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249</id><updated>2012-01-19T12:20:59.376+07:00</updated><category term='Proses Teater'/><category term='Berbagi Kisah'/><category term='naskah monolog'/><category term='Foto'/><category term='cerpen'/><category term='catatan perjalanan'/><title type='text'>semburat kertas lusuh</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>53</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-6708059278122295321</id><published>2011-06-17T22:45:00.000+07:00</published><updated>2011-06-17T22:51:24.985+07:00</updated><title type='text'>Intermezo Mei</title><content type='html'>Lavina S Wibowo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mei itu sakit, apa kau tahu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam ia selalu menyelipkan getah beracun di bibir perempuan yang memujanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya perempuan itu menjadi sinting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengiris luka disekujur dadanya, lantas memintalnya menjadi cerita. Menjadikannya sesakit mei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mei, kedatangan yang dinanti. Seolah-olah kereta kencana yang akan menjemputnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu dilindas, detik. Tahun mengubah bulan menjadi merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu memilih pergi, memangkas habis cerita yang ternyata sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memang mei itu sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia benar-benar ditinggalkan, ia akan datang menghampiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengais masa lalu ketika ia masih dipuja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Mei tidak benar-benar sakit, ia hanya baru mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata bunga berkelopak ungu itu tidak mekar di bulan yang lain, selain di bulan Mei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intermezo, 140611&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-6708059278122295321?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/6708059278122295321/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=6708059278122295321&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/6708059278122295321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/6708059278122295321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2011/06/intermezo-mei.html' title='Intermezo Mei'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-6665190579691489876</id><published>2011-04-22T20:41:00.004+07:00</published><updated>2011-04-23T11:50:41.806+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berbagi Kisah'/><title type='text'>Aku dan Dia -Perempuan yang melawan dengan BUKU- 1</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ini pilihan, tak ada jalan selain maju terus ke depan. Tidak ada perjuangan yang sia-sia, setidaknya akan tetap tercatat walaupun tidak bisa merebut kemenangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang menyangka, aku akan banyak melewati banyak proses yang demikian membingungkan. Pilihanku ketika menjatuhkan diri menjadi salah seorang prajurit di belakang Komandan Perempuan tidak akan pernah aku sesali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu, Diana AV Sasa. Seorang perempuan yang gigih memperjuangkan mimpi-mimpinya. Dengan jalan apapun ia berusaha tetap bertahan untuk buku. DBUKU Bibliopolis, adalah salah satu mimpinya untuk memiliki perpustakaan sebagai ciri Kota Metropolis. Ia memperkenalkan konsep, perpustakaan yang tidak melulu berada di tempat yang tidak terlihat, jauh dari peradaban, kesan formal dan kaku. Selama hampir sekitar 4 bulan, DBUKU Bibliopolis berdiri dengan gagah di salah satu ruang di Mall Royal Plaza Surabaya. Ada saja pertanyaan dan kekaguman yang terlontar dari para pengunjung mall. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini toko buku?" &lt;br /&gt;"Oh.. Bukan ini library.. Anda bisa membaca sepuasnya dengan gratis. Bla..bla.. bla..". &lt;br /&gt;Dan mereka akan berkeliling sebentar lantas berdecak kagum. Rata-rata mereka akan kembali lantas bercerita pada orang lain. Hingga sampai saat ini Dbuku memiliki anggota sekitar 240-an. Bukan junmlah sedikit tho?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin ingin tahu tentang cara berpikir seorang Sasa, Perempuan dengan banyak keinginan (walau aku sedikit mengernyitkan dahi "hei..ini sudah mulai tidak masuk akal") atau ketika dia sedang dilanda kepanikan dan susah fokus, maka ia akan terus berbicara dari topik satu ke topik lainnya.(maka aku hanya diam dan membiarkan ia terus mengoceh hahahaha...) Belum lagi kalau dia dengan sifat yang sedikit keras kepala, tapi amat sangat lemah jika sudah dimain-mainkan emosinya (lagi..lagi.. aku cuma bisa kasih masukan yang ala kadarnya). Atau juga jika ia mulai terserang virus lupa, hal kecil dan remeh dia bisa jadi lupa, tapi untuk mengingat sejarah atau peristiwa dia bisa sangat hapal dan detail (nah.. yang ini aku heran kok bisa, dia melupakan dimana letak kunci motor, tapi ingat tentang semua judul buku yang ia punya). Tapi aku tahu, dia orang yang tidak pantang menyerah. walau tubuhnya sering keok karena pikiran yang tidak pernah ia istirahatkan barang sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku belum juga menyerah untuk ingin tahu lebih tentang perempuan satu ini. Setelah kejadian yang bertubi-tubi, dan akhirnya ia menyerah dan memang harus mengundurkan diri dari Royal (fiuhh.. bagaimana bisa library tanpa keuntungan dianggap bisnis dan tidak ada bantuan turun hanya karena tampilannya wah dan mewah dianggap komersil hanya karena menjual buku limited edition yang memang harganya tidak murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantuan dari dikmas saja tidak cukup, jika tidak ada kerjasama yang baik dengan plaza yang dipilih. Jika bisa aku berandai-andai, seandainya mereka memberi harga sewa khusus dan tidak disamakan dengan tenan-tenan yang kebanyakan memang usaha/bisnis. Mungkin kami sudah sangat berterima kasih, dan pasti bisa bertahan lebih lama. Aku masih ingat ketika Sasa berbicara dengan staf marketing, untuk lobi-lobi pemunduran pembayaran stan. Dengan arogannya mereka justru menyarankan untuk tahun depan tidak perlu diperpanjang. Hanya karena kita memohon untuk tidak dipersulit. Bayangkan saja keterlambatan bayar stan-lampu mati, terlambat lagi-disegel. Wuihh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada alasan kenapa Ia mendandani perpustakaan di mall dengan sangat mewah. Alasan pertama, Perpustakaan di Mall harus bisa menarik pengunjung mall, dan bersaing dengan daya tarik toko yang bertebaran di mall. Alasan Kedua, Perpustakaan seharusnya bisa dijadikan tempat alternatif terbukanya ruang-ruang diskusi masyarakat perkotaan. (Bayangkan saja, pengunjung mall pastinya tampil modis, tidak mungkin mereka akan memilih tempat yang suram sumpek, amat sangat tidak nyaman dan mereka pasti memilih nongkrong di foodcourt).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin di acara "Perpustakaan dimata Kartini Indonesia" 21 April 2011, Adalah event terakhir dbuku di royal plaza. Entah kenapa dari awal acara sampai akhir acara. Tidak ada sama sekali tepuk tangan yang meriah, sepertinya masing-masing tamu undangan merasakan kesedihan di dalam hati kami. Di salah satu, sesi Perempuan dipersialahkan berbicara tentang buku dan perpustakaan. Ketika jatuh di giliran Diana AV Sasa, Aku yang lebih memilih jauh dari forum tak lagi bisa menahan air mata. Aku merasakan getaran kesedihan di suaranya yang getir. Sebelumnya beberapa tamu undangan, memuji-muji DBUKU Bibliopolis. Sungguh itu pujian yang menyakitkan, karena kami tahu kami tidak bisa lagi mempertahankan konsep Library At Mall ini kepada para penikmat dan pecinta Buku. Tiba-tiba acara itu terlarut dalam kesedihan yang dalam. Aku tahu seperti apa perjuangannya mempertahankan. Dan bagaimana ia kehilangan banyak waktu tenaga dan pikirannya untuk keberlangsungan DBUKU dan program-programnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berani menunjuk dia sebagai Pahlawan Buku Perempuan dan dia benar-benar jelmaan Kartini masa kini. Mas Nuri berkata, "Apapun yang akan terjadi, DBUKU Biblipolis akan tercatat dalam sejarah". Itu bagiku seperti sebuah kebanggaan ditengah keterpurukan ini.  Dan mereka-mereka yang pernah merasakan nyamannya berada di DBUKU Bibliopolis at Royal Plaza adalah saksi mata perjuangan dia, untuk mewujudkan Library At Mall sebagai salah satu ciri Khas Kota Metropolis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan belum selesai Kawan, DBUKU Bibliopolis masih terus berjuang...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-6665190579691489876?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/6665190579691489876/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=6665190579691489876&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/6665190579691489876'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/6665190579691489876'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2011/04/aku-dan-dia-perempuan-yang-melawan.html' title='Aku dan Dia -Perempuan yang melawan dengan BUKU- 1'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-2127296437232130696</id><published>2011-04-18T23:35:00.003+07:00</published><updated>2011-04-19T00:20:00.029+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berbagi Kisah'/><title type='text'>CityFast Kurir : Pengiriman cepat dalam Kota Bisnis Pertamaku</title><content type='html'>Ini baru permulaan, sejak aku memutuskan keluar sebagai operator Warnet. Jelas aku tak lagi punya penghasilan tetap. Tapi aku sungguh bahagia karena punya banyak waktu untuk belajar apa saja. Dari menjadi admin di acara Kompetisi Teater Indonesia, okelah aku sempat sakit hati. tapi rasanya wajar ada kegagalan. Sebenarnya aku tidak boleh kapok, sakit hati, atau kecewa. Cukup tahu saja. bekerja dengan mereka itu bagaimana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah aku akan meninggalkan dunia kesenian dan tulis menulis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hoo..Ho..Ho.. justru inilah yang sedang aku pikirkan. Kalau aku hanya berkutat di pekerjaan serabutan, dengan hasil yang tak menentu. Kapan aku akan bisa duduk diam dan berpikir tentang dunia yang lebih besar dari Bumi itu. Aku berpikir simpel, dulu aku berpikir, aku tak boleh menggantungkan hidup pada kesenian. Justru aku yang harus bisa menghidupkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Perpustakaan? DBUKU, Warung Baca Emperan ESOK, dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mungkin aku hanya menggantungkan pada bantuan sponsor dari instansi-instansi yang pasti sudah disabet para pengejar proyek. *semakin aku tahu seluk beluk para pengejar proyek. semakin kecil aku berharap banyak akan ada banyak uluran tangan yang dengan sukarela membantu kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memilih Usaha Kurir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memikirkan banyak usaha kecil lainnya, dari fotocopy, design, warnet, dll. Rasanya dengan modal cupet, tapi bisa beri pengahasilan lebih. Ya Jasa Antar. Atau lebih tepatnya Kurir. Mulai dari pengiriman Undangan, Poster, Sebar Brosur, dan Ambil-antar Dokumen. Dan ini aku masih belajar mengetahui dimana saja kesulitannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh... iya ada satu lagi alasanku menjalankan bisnis ini, aku masih bisa menjadi Pustakawan yang selalu bangun siang, aku masih bisa menjadi pustakawan yang mendongeng untuk anak-anak, aku juga masih bisa menjadi aktifis Seni yang tidak habis menggelontorkan pikiran-pikirannya untuk Komunitas yang Sudah Aku bangun sejak 4 tahun lalu. Komunitas ESOK (Emperan Sastra COK - Cepetan Ojo Keri-). Karena aku bisa mengatur waktu bekerjaku sendiri. Hahaha.. ini salah satu kebebasan yang aku inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan besok adalah proyek pertama menjadi kurir, mungkin sepele ternyata kebutuhan jasa kurir tinggi juga. Ditengah-tengah pertumbuhan bisnis surabaya rasanya Jasa Kurir bisa menyelinap diantaranya. Semoga saja, aku benar-benar bisa bertahan di bisnis ini. Amien....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-2127296437232130696?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/2127296437232130696/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=2127296437232130696&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/2127296437232130696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/2127296437232130696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2011/04/cityfast-kurir-pengiriman-cepat-dalam.html' title='CityFast Kurir : Pengiriman cepat dalam Kota Bisnis Pertamaku'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-8114161608373902465</id><published>2011-04-13T03:09:00.003+07:00</published><updated>2011-04-19T00:23:10.725+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berbagi Kisah'/><title type='text'>Konspirasi Tuhan dan Rencananya</title><content type='html'>Mungkin ini bukan sebuah kebetulan, jika di dunia nyata jarak antara aku dan ayahku terlihat menjauh dan tidak sejalan. Bahkan terlihat sangat bersebrangan. Tapi di dunia maya bisa-bisanya tuhan menghendaki aku melihat secara jelas AKU di sosok AYAHku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ini sungguh membuatku bingung, bagaimana seorang gita, yang memandang tayangan televisi(sinetron, berita, atau apa saja) hanya sekedar permainan harus terlibat langsung menjadi seorang yang dituntut menjadi sukarelawan tayangan televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar hari ini aku harus duduk si satu ruang diskusi dengan teman-teman yang beberapa kali sempat bertemu denganku, secara langsung berinteraksi. dan sekaligus di samping ada lelaki tegap yang kuhormati dan kucintai sepenuh hati. Ayahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan bingung dengan pengantarku ini, kawan.&lt;br /&gt;Ayahku selepas menjadi pegawai negeri dengan kata lain pensiun. Lebih aktif berinteraksi dengan teman-teman mayanya di Facebook. Awalnya asik bermain game kemudian merambah ke komunitas/ group. (hemmm.. kurang lebih sama denganku ketika pertama kali aktif berinternet ria) Beliau menjatuhkan pilihan pada kelompok Dukungan SMI. Ya.. perempuan itu menteri keuangan yang didepak dari susunan menteri secara halus, bla.. bla.. blaa.. (malas aku bercerita ttg suasana kepemerintahan negeriku sendiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam tadi (12/4/11) Ayahku dan teman mayanya, Om uyung yang beberapa hari lalu waktu nenekku sakit bertemu di rs malang, mengadakan Kopdar seJATIM. nah cerita punya cerita (kok ya mbulet ae see...) di acara itu aku jadi terlibat, ada Om fitrah (yg teman dekat Ning sasa Dbuku), ada Om kee(kawan karib suami Ning sasa). walhasil di acara itu mau tidak mau aku harus menjadi bagian dari pembicaraan malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat dan menyaksikan beberapa anggota yang datang, dengan berbagai macam latar belakang usaha (dari pedagang, guru, dosen, seniman, dll). Mereka berbicara dengan kepercayaan penuh dan lugu. Entahlah aku seperti berada di sebuah ruangan dengan televisi besar dan aku berada di antara komentator-komentator yang berapi-api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling membuatku ngeri adalah ketika pembicaraan sudah masuk pada kemungkinan berpolitik/partai. OMG... tentu saja akan lari kesana. Mereka sedang membela seseorang yang memang berada di lingkup Politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok lebih baik sekarang aku kembalikan pada pemikiran dan gagasan-gagasanku dahulu. Aku berpikir tak perduli seberapa ributnya Mereka di layar kaca dan sidang di gedung besar pemerintahan, aku akan tetap bergerak memberikan SESUATU (entah apa bentuknya) melalui komunitas Emperan ESOK. Tapi kenapa semakin hari lariku menuju jalan-jalan bercabang yang menuju dunia entah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat pagi, Kawan&lt;br /&gt;Ini catatan dini hari, dari kejadian yang biasa, tapi menurutku tidak biasa. Hingga membuatku terbungkam dengan keterpaksaan mendekatkan pemikiranku dengan Ayahku. Yang paling menyiksa justru.. Welcome to the "No Smoking Area" fiiiuuuhh......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13 April 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-8114161608373902465?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/8114161608373902465/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=8114161608373902465&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/8114161608373902465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/8114161608373902465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2011/04/konspirasi-tuhan-dan-rencananya.html' title='Konspirasi Tuhan dan Rencananya'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-9069627748959811757</id><published>2011-03-25T13:03:00.002+07:00</published><updated>2011-03-25T13:06:53.681+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='naskah monolog'/><title type='text'>Monolog Moderato Cantabile : Perlahan dan Berlagu</title><content type='html'>Adaptasi Novel : Gita Pratama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lembar –Lembar berserakan di sekitar piano. Tubuh perempuan itu mematung diantara kursi merah kecil. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayunkan jemari tanganmu. Kau memang harus belajar memainkannya… Kau biarkan perempuan itu setengah berteriak. Ulangi lagi. Perlahan saja… (Dengan nada yang lembut)  Betapa menyebalkan bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya.. mainkan seperti ini. Tidak, bukan sepertiku, tapi seperti yang tertulis dilembar partitur dari perempuan itu. Menjemukan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moderato Cantabile….&lt;br /&gt;Aku tahu kau tak bersungguh-sungguh nak. Ulangi lagi nak… (Lembut)&lt;br /&gt;Kenapa kau lupakan nada-nada itu? Kau harus mau belajar memainkanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja di dermaga selalu merindukanmu nak.. suatu sore di hari jum’at adalah masa penantianmu. Tunggulah aku disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kedai dan dermaga.. Percakapan selalu terhenti di setiap dentang lonceng pabrik. Anakku berlari menggampit tanganku keras-keras, sedangkan laki-laki itu menuangkan anggur lagi ke dalam gelasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perempuan itu memainkan piano dengan nada tak beraturan. Kerap kali ia hanya diam memainkan gaunnya. Lampu bar nyala meremang. Dan bunyi denting gelas, anggur yang di tuang. Anne bangkit menuju meja bar. Memainkan bayangannya di dalam gelas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang carut marut di kepalaku, sebuah kedai juga perempuan yang terbunuh. Adapula tentang anak dan juga sebuah Piano. Apakah perempuan itu aku, di waktu lalu saling menindih dengan kenangankusendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu terbunuh ditikam. Dan lelaki disampingnya menjerit. Jeritanya lama nyaring dan berhenti seketika pada puncaknya. Suaru saat aku yakin, aku tentu akan menjerit seperti itu. Mungkin ketika aku melahirkan anak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu sepertiku. Entahlah aku tak pernah mengenalinya. Disaat kejadian, anak perempuan itu berada di depan pintu kedai. Kau tahu betul peristiwa itu? Aku hanya mendengar ketika lelaki itu berteriak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong segelas anggur lagi… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimulai dari kebisuan-kebisuan berkepanjangan yang timbul di antara mereka di malam hari. Dan makin lama mereka makin tidak mampu mengatasinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bising dermaga, ocehan para pelanggan bar.. masih ada sore yang indah. Tuangkan lagi anggur digelasku. Mari ceritakan lagi peristiwa yang sama…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meja bar, lampu dan suara dari piano. Pelan.. semakin lama cahaya semakin penuh. Suara bising laki-laki dan perempuan terburu-buru dari kapal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengarkan bising mesin kapal di dermaga. Sepanjang sore mengangkut mereka, jiwa-jiwa yang membawa banyak cerita. Bukankah hidup ini terlalu membosankan dengan cerita yang di ulang-ulang. Kadang berjalan lambat tapi juga cepat. (Lelah dan Putus Asa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata pengunjung kedai menatapku, biarkan saja. Chauvin memang lelaki yang selalu membawa cerita yang sama. Tapi, sungguh ak tak punya alasan untuk tidak kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Bermain Piano, perlahan dan terbata)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moderato Cantabile…&lt;br /&gt;Apakah begini nona? (bertanya dengan sinins) Anakku sangat menyebalkan jika mulai patuh begitu. Biar aku saja yang selesaikan. Setiap selesai dari sini, ia akan berlari kedermaga, mengamati kapal kapal yang sandar. Sambil terus mengawasiku, tanpa pernah berani mengajakku untuk beranjak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya ia dapat membacamu, Chauvin. Dan memberimu banyak kesempatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu di ujung jalan sana di Boulevard La Mer.. Setiap sore aku membawa kebosanan yang menjemukan disana.  Terkadang aku berjalan tak begitu jauh. Tapi terkadang pula sangat terasa jauhnya. (Tersenyum)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa kematian itu, telah terjadi Chauvin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu tidak mengetahui mana yang lebih disukainya, keinginannya agar perempuan itu tetap hidup sama kuatnya dengan keinginannya agar dia mati. Lama kemudian baru Ia memutuskan bahwa ia lebih menginginkan perempuan itu mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lampu meredup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak punya waktu banyak..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tak punya waktu banyak…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chauvin tuangkan aku anggur lagi…!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Di tengah antara bar dan kelas piano)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bangun atau tidur, dalam pakaian sopan ataupun tidak, kehadiranku memang tidak dihiraukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kejauhan, orang dapat terkecoh melihat taman anda yang tertutup menghadap laut, daerah yang paling bagus di kota ini. Namamu Chauvin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau nampak bersemangat menceritakannya. Maka aku merajuk agar kau terus berbicara dan aku berjanji tidak akan menanyakan apa apa lagi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sore tidak lagi indah, Gelas kaca di meja bar tak lagi memainkan bayanganku. Jari jari anakku selalu menuntunku kembali pulang. Mau berkunjung? Mungkin lain kali.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-9069627748959811757?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/9069627748959811757/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=9069627748959811757&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/9069627748959811757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/9069627748959811757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2011/03/monolog-moderato-cantabile-perlahan-dan.html' title='Monolog Moderato Cantabile : Perlahan dan Berlagu'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-1143110898626940309</id><published>2011-02-09T17:11:00.005+07:00</published><updated>2011-03-25T13:15:14.074+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Proses Teater'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='naskah monolog'/><title type='text'>Naskah Monolog Perempuan dan Kursi Roda</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ADAPTASI NOVEL&lt;br /&gt;THE SOULS MOONLIGHT SONATA &lt;br /&gt;Oleh &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Gita Pratama&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Adegan Pertama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ruangan suram) Perempuan di atas kursi roda. Wajahnya yang mulai mengerut, sinar matanya seperti sorot bulan yang jatuh, sintal tubuh dan keelokan di masa muda masih terpancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iringan Biola… perempuan tua dengan kursi roda masuk perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu, memilihku. Kecantikan hanya penting di bawah empat puluh tahun (mengingsut perlahan di atas kursi roda). Setelahnya aku hanya perempuan tua yang pelan-pelan lumpuh. Osteoporosis telah menggerogoti seluruh sel tulang-tulangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu nyaris sempurna karena telah memiliku. Lekuk tubuh serupa biola yang ia pujapun mengendor, rahimku telah memberi dua anak untuknya. (wajahnya terangkat, menarik seluruh cahaya yang membias di ruangan itu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu  memesona, sungguh dia lelaki baik-baik. Aku rela menyimpan segenap nafas dan hidup untuknya, Tapi dia adalah manusia biasa. Aku melihat bayangan di balik tubuhnya tiba-tiba menjadi suram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu tinggalkan kelam cerita di putaran roda kursi ini. Seperti pusaran waktu yang melingkar semakin merapat di tubuhku, Aku tidak sedang berpijak di antara pilihan. Karena…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Adegan Kedua&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biola dan derit pintu…&lt;br /&gt;Dan perempuan tua yang terduduk di kursi bambu.&lt;br /&gt;Matanya yang senja, menatap tajam di sudut pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hana…. Kaukah itu..? Kenapa tak berkabar kalau pulang. (sepi)&lt;br /&gt;Oh.. Lolita.. apa itu kau? Cepat sekali kau pulang nak… (masih juga sepi)&lt;br /&gt;Bukan.. itu bukan mereka. (Ia menghela, menelan harap kerinduan akan anak-anaknya)&lt;br /&gt;Lalu Siapa perempuan muda menenteng biola itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Cahaya menyentuh seluruh tubuh perempuan tua)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu, membawa bayangannya ke dalam rumahku. Berwarna pelangi, bukan abu kelam seperti bayangan suamiku. Berwarna kuning pucat, persis seperti cahaya bulan. Tapi aku sungguh membencinya, membenci perut buncitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu, babu yang kukasihani. Meninggalkan halaman kelam di catatan rumahku. Di pintu ia tinggalkan bayinya juga selembar kain membercak darah dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu, entah sengaja menyiapkan senjata di balik punggungnya ketika aku lengah. Atau lelakiku yang baik-baik itu, menyimpan seringai serigala ketika aku telah menjadi ibu bagi anak-anaknya dan bukan lagi perempuan yang menjadikannya nafas hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh salah… (nada getir yang ditekan) jika perempuan menggantungkan hidup pada laki-laki. Meskipun Ia telah berjanji akan setia sampai mati. Lelaki tetaplah makhluk pemangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bayi itu telah lahir dari kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Adegan Ketiga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan tua di atas kursi roda. Membelakangi cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu berdiri di depanku. Memainkan biola seperti suamiku dulu. Penuh cinta, penuh keyakinan, dan aura perak melingkar di tubuhnya setiap kali ia menggampit biola di lipatan dagunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini rahasia yang tersingkap di sela-sela album foto keluarga. Ini aib yang tak ingin lagi kujadikan beban. Aku telah memaafkannya, tapi masih saja luka itu mengintip tiap kali ia memanggilku. Ini rahasia yang kutulis tipis di urat-uratku yang makin mengerut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padmaningrum, gadis berbakat dan penuh gairah yang tak lagi kubenci. Aku mengasihinya. Karena ia anak suamiku. Kau tau.. kau jelmaan lelaki baik-baik itu. Biola yang kau tenteng itu menyimpan roh ayahmu. Tanpa kau ketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu bukan pelacur…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibumu bukan pelacur nak... Ia hanya berada di waktu dan tempat yang salah. Dan kau terpaksa menerimanya menjadi bagian dari hidupmu, dosa yang tak akan dapat kau mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu.. sepertiku.. menyalahkan diri. Coba endapkan dendam yang menggemuruh. Aku merasakannya. Biarkan meledak dalam dekapku nak.. Tapi sungguh kebisuan sejenak adalah senjata bermata dua yang akan menghancurkan segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan kau adalah korban. Korban dari lelaki baik-baikku dan juga perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kau tidak akan sempat memilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Adegan Keempat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Wajahnya tersenyum genit, walau tubuh nya masih terpaku di atas kursi roda.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih menyimpannya Pak..! Cincin yang kau buatkan untuk ke tiga anakmu. Yohana, Lolita dan gadis itu, Padmaningrum bayi hitam dan kurus yang ditinggalkan babumu untukku. (Sambil tersenyum perempuan itu menggumam mesra, berbicara pada sepinya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu. Aku tahu, sebelum ajal menemuiku masih ada wasiat darimu yang belum tuntas. Dan sekarang adalah saat yang kunantikan sejak kepergianmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(tiba-tiba perempuan itu meracau)&lt;br /&gt;Bayi suamiku dari rahim babuku. Lantas aku siapa? Lantas aku apa?&lt;br /&gt;Bayi hitam dan kumal, telah menjadi dia… gadis itu.. Padma..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bersimpuh di lututku, terisak. Lelaki itu.. Gadis ini..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(wajahnya terangkat mengembalikan kesadarannya, lalu membelai gadis yang berada di pangkuannya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dendam telah lama terhapus.., setidaknya kau juga akan  begitu. Ayahmu telah lama tertidur mendekap senyum ke-lila-anku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padma.. Simpan cincin ini untukmu. Dari Ayahmu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan suara moonlight sonata terdengar, seiring redupnya cahaya ruangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 5  Februari 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-1143110898626940309?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/1143110898626940309/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=1143110898626940309&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/1143110898626940309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/1143110898626940309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2011/02/naskah-monolog-perempuan-dan-kursi-roda.html' title='Naskah Monolog Perempuan dan Kursi Roda'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-5226762380767216730</id><published>2011-02-07T19:58:00.006+07:00</published><updated>2011-02-07T21:06:38.242+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berbagi Kisah'/><title type='text'>Bagaimana suara itu</title><content type='html'>Aku biarkan telingaku ini pelan pelan dirasuki suara yang begitu renyah. Selalu.. dan selalu. Tapi aku tak pernah membiarkan perempuan itu menelan kekagumanku. SUngguh sayang jika nanti dia hanya akan menjadi pegawai kantoran yang duduk manis di depan meja yang penuh dengan pekerjaan yang menumpuk. juga dengan lelaki di sampingnya yang penuh dengan talenta hanya akan mengocok gelas kopi atau mesin penghitung saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini karya duet mereka, kebetulan lelaki itu adik kandungku, ia memainkan tuts piano tua, bekas kantor pemerintahan yang sudah tidak terpakai. Dan suara utuh, manis itu milik perempuan yang menjadi kekasih adik saya itu. Klop sudah... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana aku tidak menelan kengerian jika mereka mampu memainkan lagu-lagu (walau masih milik orang) yang penuh dengan nada-nada tinggi. *yang pasti aku tidak akan mampu menjangkau nada itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed src="http://www.4shared.com/embed/504031492/ade4ae40" width="420" height="250" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba saja dengarkan, hanya dengan bekal, mic, tape, piano tua, netbook dan program acidnya. Mereka berkolaborasi dengan cantiknya, "DowneenDha" itu singkatan nama mereka berdua. Sebenarnya aku pernah diam-diam menyimpan beberapa lagu kolaborasi mereka. Tapi telah hilang dimakan kutu busuk virus yang menyebalkan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ufh... andai saja mereka mau membuat lagu sendiri. Apa jadinya mereka ya? mungkin bisa mengalahkan duet anang-KD (waktu mereka masih berstatus suami istri)hahahaha... Ngayal.com---NganGa'deh.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menikmati dan menjadi fans rahasia mereka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-5226762380767216730?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/5226762380767216730/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=5226762380767216730&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/5226762380767216730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/5226762380767216730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2011/02/bagaimana-suara-itu.html' title='Bagaimana suara itu'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-2533015301921587480</id><published>2010-04-06T20:42:00.001+07:00</published><updated>2010-04-07T12:23:50.054+07:00</updated><title type='text'>Tentang Hatta Dan Novel Biografi</title><content type='html'>Novel Biografi : Hatta Hikayat Cinta dan kemerdekaan merupakan sebuah novel biografi berkisah tentang kehidupan hatta yg dibuat dengan rekonstruksi sejarah dimulai saat kehidupan masa kecil, hingga masa pergerakan kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu para pemuda terus mencela dan mengecam kami karena kedekatan kami dengan jepang. Namun, hari siang bukan karena ayam berkokok, tetapi ayam berkokok karena hari mulai siang”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu secuil percakapan Hatta kepada Sjahrir, ketika Hatta didesak oleh kaum pemuda untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Hatta tidak ingin terburu memutuskan hal yang baginya akan merugikan negara yang dicintai di masa depan. Terasa begitu logis sebuah keputusan seseorang jika mengetahui darimana sudut pandangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cukup menikmati jalinan cerita yang dipaparkan, baik dari segi kehalusan bahasa dan pemaparan yang digunakan laiknya bagaimana pemaparan sebuah novel. Novel ini juga memiliki beberapa bidikan unik yang akan sulit ditemui dalam sebuah buku sejarah. Beberapa detail percakapan menarik sangat disayangkan untuk dilewatkan di bagian pertengahan, meskipun di awal novel ini dibuka dengan kesan yang bagi saya sedikit membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu perhatian yang juga ingin saya telaah adalah pemversian cerita ini. Novel ini saya anggap menjadi kurang real karena porsi terbesar adalah lebih membidik masa-masa pergerakan. Ide jahil saya menjadi liar memikirkan, apakah hatta kecil menjalani masa-masa kenakalan lumrah seperti anak-anak lainnya sebayanya? Apa saja kenakalan-kenakalan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya mustahil jika ada manusia yang tidak pernah berbuat kecerobohan kecerobohan kecil. Itu juga saya pertanyakan. Akh.. benarkan Seorang Tokoh Besar sesempurna itu. Misalnya saja, apa tidak pernah ia meletakkan kacamata sembarangan setelah membaca. Hal –hal kecil yang menggelitik itu bukankah akan lebih menarik dan lebih mengenalkan pribadi seorang Bung Hatta. Oleh karena itu Novel ini menjadi kurang cair terhadap pembacanya. Kurang bisa lebih mendekatkan tokoh Hatta pada pembaca seperti yang mungkin diinginkan oleh sang penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akh… sayangnya ketika saya membolak-balik buku ini saya tidak juga menemukan apa yang saya cari itu. Hal ini lah yang menjadikan saya sangsi mempertanyakan kembali ketepatan pelabelan Novel Biografi “Hatta : Hikayat Cinta dan Kemerdekaan” dibanding pemaparan buku sejarah seperti yang saya temui kebanyakan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-2533015301921587480?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/2533015301921587480/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=2533015301921587480&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/2533015301921587480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/2533015301921587480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2010/04/tentang-hatta-dan-novel-biografi.html' title='Tentang Hatta Dan Novel Biografi'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-1545064012194380286</id><published>2010-02-26T12:36:00.003+07:00</published><updated>2010-02-26T12:47:59.560+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan perjalanan'/><title type='text'>Sedang men-cari-mu hingga men-cairi-mu, Puisi</title><content type='html'>Sebuah Proses "awal" perjalanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gita Pratama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya ditanya kenapa menulis puisi, maka saya akan jawab tidak tahu. Dan kenapa menulis puisi seperti ini, seperti itu maka sayapun akan tetap menjawab tidak tahu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengenal puisi sejak sekolah dasar tapi berani menulis apa yang saya katakan “ini puisi” ketika SMP karena naksir beberapa lawan jenis. Cenderung pemalu ya.. saya cenderung pemalu juga cenderung pelamun. Jadi hanya bisa memandang dari jauh, pergi menyendiri lantas dilamunkan. Tapi tidak ketika saya berada di lingkar teman-teman maka saya tidak lagi menjadi manusia yang bukan penyendiri bahkan pemalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"Kata-kata adalah dinding antara ku dan mu"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa sakit, seperti candu. Begitulah yang akhirnya saya simpulkan hingga sekarang. Sakit tentang apa saja, kekecewaan lingkungan, keluarga, alam, politik, agama, juga kesakitan otak akut karena tidak semua bentuk pemikiran bisa terlontar lewat bahasa lisan. Seperti sebuah dinding, kata-kata menjadi perantara memahami aku yang juga Aku-Mu yang lain. Memahami kegelisahan, serta keinginan batin yang tak semuanya mampu terpenuhi. Sebagai tanda penghubung dari banyak hal yang menurut saya “hilang”.&lt;br /&gt;Dunia Gerak, terbatasi. Dunia gerak yang ternyata tak mampu menampung seluruh bayangan juga imaji yang ada di kepala saya. Seluruh bayangan gerak yang berjumpalitan di ruang kepala juga benak batin. Dan di puisi saya menemukan Dunia Diam yang meleluasakan Gerak yang saya bayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal dari teater saya mengenal dunia yang ternyata penuh keterbalikan makna, kegilaan yang tidak terakui, keseriusan mengurai simbol, serta masih banyak lagi. Hingga saya pun tidak lagi berpikir sekedar aku tapi aku juga aku, aku yang lain. Menjungkir balikkan aku ketika menjadi aku - dia, aku – kalian, aku - kita, aku - aku. Juga aku – sesuatu, tidak menjadi manusia. Dan sayapun menikmati segala proses, kecanduan. Tapi juga rasa lelah mungkin hanya karena kebosanan “sakit” yang panjang.  Tapi saya masih selalu merindui dunia itu, Puisi hanya barisan kata, musik hanya barisan nada, tapi teater adalah barisan kompleks segalanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia saya kecil, tapi saya ingin membuatnya besar dan luas, agar saya bisa berlarian dan bermain-main sepuasnya. Jiwa anak-anak saya masih ada sampai sekarang, dan saya merasa nyaman terus menerus memeram kekanak -kanakan saya. Berarti saya bisa terus melakukan eksperimen tentang apa saja yang menarik buat saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis dengan pena, tulisan tangan saya sama buruknya dengan cakaran kaki-kaki ayam. “Hanya saya dan tuhan yang tahu apa yang saya tulis”, begitu pembelaan saya, jika ada yang mencoba menyindir saya.  Untunglah bertemu dengan komputer dan berarti kesaktian bentuk tulisan tangan bukan lagi menjadi kendala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimulai dari membaca, dunia asing yang sudah dijejalkan pada saya sejak saya sudah belajar membaca. Dari komik anak, majalah anak-anak kemudian berlanjut ke majalah remaja. Tapi membeli buku bukan kebiasaan yang juga dijejalkan pada saya. (setelah saya pikir mungkin hanya karena permasalahan ekonomi ayah juga ibu dulu, mungkin juga agar saya tidak menjadi manusia konsumtif walaupun itu berbentuk buku).  Maka ketidakpuasan mencari apa yang ingin saya tahu tidak sepenuhnya terpenuhi. Hanya ketika berada di sekolah maka saya sering membolos kelas hanya untuk berlama-lama di ruang baca sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ensiklopedia adalah buku favorit pertama saya. Karena kertasnya yang bagus, juga gambarnya yang berwarna-warni. Saya jadi bersemangat untuk kembali belajar menulis (aku baru bisa benar utuh menulis satu kata ketika duduk di kelas 5 SD) tapi sayang ternyata saya tidak bakat menulis. Karena guru, teman atau bahkan saya sendiri bingung membaca tulisan tangan saya itu. Akhirnya pasrah lebih baik tidak menulis daripada saya pusing. Tapi ternyata lebih pusing lagi jika tidak menulis. Nah lho.. jadi bingung lagi saya. Jadi saya menulis saja biar pun bab menulis tangan itu susah, tapi lebih baik daripada kepala saya pusing menahan dunia liar di kepala saya tidak tersalurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu ketika saya berdiam (saya ingat betul waktu masih seumuran SD, saya berdiam hanya ketika sedang buang hajat), bermacam pertanyaan melintas di kepala. Salah satu yang saya ingat adalah kalau saya sedang berpikir tentang orang lain apakah orang lain di saat yang sama, saat ini, keadaan yang sama, sedang melakukan hal yang sama dengan saya, ada yang berpikiran seperti saya saat ini? Selamat bingung teman, pertanyaan saya ini sampai saat ini masih sering muncul. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;"Belum bisa membaca, baru sekedar mengeja"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampailah saya pada kesimpulan, ternyata saya membaca, juga menulis itu tidak benar-benar membaca ataupun menulis. Tetapi hanya masih sampai pada taraf mengeja, taraf meraba, masih pada tingkat mencari makna yang benar dari kalimat – kalimat itu. Sering ketika saya menulis, saya tidak mengerti apa maksud tulisan yang saya tulis. Setelah berhari-hari atau beberapa waktu barulah saya sedikit paham dengan apa yang saya tulis. Bahkan, saya juga juga tidak tahu apa maksud tulisan yang sedang saya tuliskan ini Apakah teman-teman juga pernah merasa seperti itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya secara sadar sedang menulis puisi, tapi saya tidak benar-benar menyadari kenapa saya menulis puisi. Pernah pada satu sesi latihan, sutradara saya bertanya “Coba siapa yang sedang menyuruhmu bertopang dagu?”. Saya terkejut, siapa? Saya bingung menjawab. Siapa? Ya mungkin karena saya sendiri yang menyuruh. Tapi dalam hati saya berpikir lagi “Kenapa saya menyuruh tangan saya bertopang dagu?” maka sudah pasti pertanyaan sutradara saya itu tak mampu saya jawab dengan jujur. Masuklah saya pada pencarian kesadaran diri, banyak hal yang secara sadar saya lakukan tapi saya tidak benar-benar sadar apa alasan saya melakukan itu. Jawaban jitu “Saya tidak tahu”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencarian sebagai jalan panjang, petualangan. Ada jiwa yang selalu berkelana, menjelajah di seluruh sudut asing keingintahuan, hingga akhirnya saya memilih puisi sebagai salah satu “rumah” yang nyaman saya tinggali. Ada banyak rumah yang sering saya singgahi, saya seperti orang paling kaya karena bisa memiliki banyak “rumah”. Saya sering singgah di rumah “music”, memain-mainkan nada yang bisa saya mainkan, atau di teater rumah besar dengan banyak taman bermain, juga alam, hutan, gunung, pantai. keindahan murni, juga kesepian yang alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"Apakah Puisi itu sepi? Tidak. Sepi-lah yang puisi"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa sepi, saya menemukannya ketika khusyuk menulis puisi. Dimana sumbernya, karena saya menulis puisi atau karena perasaan sepi itu, saya menjadi tergerak berpuisi. Entahlah lagi-lagi saya tidak tahu. Kemampuan saya menemukan jawaban dari pertanyaan iseng saya itu hanya sampai Puisi itu tidak sepi, tapi perasaan sendiri yang sunyi, ramai yang penuh hingga rasanya kosong dan mungkin sepi-lah menjadi sebab lahirnya puisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan, jawaban dari segala bentuk kemampatan. Saya sendiri mengakui bahwa kebebasan yang sebenarnya saya cari.  Kebebasan sebagai individu yang liar, yang selalu terus menerus didera kekosongan panjang, yang masih ingin terus diisi. Tapi semakin kebebasan itu saya cari justru ruang pencarian ini masih saja tidak ada alias nihil. Mungkin karena ini saya masih saja tidak tahu kenapa berpuisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan tanyakan saya soal nama atau teori karena saya tidak mampu mengenal atau mengingat dengan baik. Kemampuan mengingat saya payah, saya sering membaca tapi saya seringkali lupa apa yang saya baca. Dan saya tidak ingin membatasi diri saya sendiri dengan tetek bengek seperti itu. Saya mengenal nama-nama Joko pinurbo, Sapardi, Remy sylado, Anton chekov, Pablo neruda, Nietsze, Foucoult, Tolstoy, Emily Dickinson, masih banyak lagi.  Karena saya pernah membacanya tapi lebih sering karena mendengar nama itu. Saya membaca buku-bukunya tapi saya juga lupa apa isinya. Betapa saktinya saya tapi juga sakitnya otak saya kalau harus mengingat semuanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi pertanyaan kenapa menulis puisi seperti ini seperti itu maka jawaban saya, tidak tahu. Saya masih terus mencari, hingga nanti saya dan puisi bisa mencair di satu wadah yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halte Sastra Surabaya, 20 februari 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Setelahnya Pak Budi Palopo ingatkan tentang sebuah "omong kosong". Perubahan ruang dan waktu, yang akan menjadikannya benar-benar kosong. Lalu kepala saya menjadi sakit dan semakin sakti sepulang acara itu karena sibuk berpikir. "Apa yang sudah saya omongkan? Kosong". &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-1545064012194380286?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/1545064012194380286/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=1545064012194380286&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/1545064012194380286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/1545064012194380286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2010/02/sedang-men-cari-mu-hingga-men-cairi-mu.html' title='Sedang men-cari-mu hingga men-cairi-mu, Puisi'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-1659797591197944539</id><published>2010-02-10T14:37:00.001+07:00</published><updated>2010-02-26T12:50:27.973+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Ketika Kau membiarkan Aku bercerita</title><content type='html'>Banyak hal yang harus dihapus dari ingatan. Kotak kotak sumbu berwarnawarni rupa meluap di sudut sudut ruang. Salah satunya kau, kau yang berpakaian lusuh dengan wajah melas dan binar mata syahdu. Oh.. betapa iba aku memelukmu. Betapa rindu aku merenangi tikaman basah mata itu. Tapi sungguh harus ada bayangan yang harus segera dihapus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kau hilir mudik, berloncatan bagai anak kucing liar di tubuhku. Menggodaku dengan seribu macam erangan, lalu aku akan menjadi sepertimu membiarkan kau berpetualang di setiap jengkal kulitku. Memanjakanmu, menggodamu agar kau tak pernah ingin berhitung soal jarak dan juga waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas balkon, sesekali aku menatap ujung jalan berharap ada kesia-siaan yang berubah. Penantian yang memang tak pernah berjanji kapan akan datang. Tubuhku membiru, bibirku membisu dan mataku kubiarkan sembab agar ketika kau tiba- tiba datang nanti. Kau akan bertanya tentang sesuatu yang begitu gelap juga teramat pekat, lantas membiarkan aku membunuh aku di dalam tubuhmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu banyak hal yang kuhapus, satu persatu memakan banyak waktu. Memilih kemudian memilah mengingatnya lagi. Aku duduk di sebuah kursi menatap ujung ranjang dengan selimut yang masih kusut. Entah apa yang aku lihat, sesosok lelaki kurus mencoba menutupi tubuhnya dengan selimut. Oh... menderas hujanan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terasa begitu sakit memunguti semuanya sekarang. Ketika kau telah menjelma menjadi lelaki harimau. Mengukir belang dengan tajamnya jarijari belati yang penuh bercak darahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2009- Feb 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-1659797591197944539?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/1659797591197944539/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=1659797591197944539&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/1659797591197944539'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/1659797591197944539'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2010/02/ketika-kau-membiarkan-aku-bercerita.html' title='Ketika Kau membiarkan Aku bercerita'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-7308734783505907974</id><published>2009-11-21T15:44:00.000+07:00</published><updated>2009-11-21T15:47:13.571+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan perjalanan'/><title type='text'>Menjelang kelahiranku</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Semua tentang Ibu&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Anak perempuan pertamanya yang lahir di tengah badai. Sedangkan Ayah yang sibuk menajamkan clurit, memangkas lebat rumput di tanah seberang. Juga kesendirian memeluk tubuhku dalam rahimnya. Dalam dinginnya nada-nada hujan, memanggulku pada ruang bidan. Sendiri sambil tetap menyenandungkan do'a bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka aku ada di tengah keprihatinan. Aku adalah Prihantini, yang tetap pandai menangis walau muak dengan sinetron juga tarian-tarian mimpi. Juga berlagak menarik senyum, pada lelucon sinting walau sudah jengah pada tontonan lelakon manusia setengah gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Love my mother&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Juga Tentang Ayah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah berdo'a sambil tetap mengalungkan clurit pada bidak bidak hidupnya. Agar kepulangannya bisa membawa sebuah baju, untuk anak perempuan pertamanya. Dan diam-diam memakaikanku baju mungil berwarna ungu itu, tanpa ibu ketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah berdiam, memandangiku dengan tubuhnya yang masih kurus. Memelukku rapat, tapi ia ketakutan tulangnya meremukkanku. Ayah hanya mencium keningku, diam-diam. Tanpa ibu ketahui. Dan aku hanya bisa menangis keras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah tak pernah biarkan aku dan ibuku kedinginan dan kelaparan di setiap musim hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Love my father too&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-7308734783505907974?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/7308734783505907974/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=7308734783505907974&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/7308734783505907974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/7308734783505907974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2009/11/menjelang-kelahiranku.html' title='Menjelang kelahiranku'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-8602465888755495646</id><published>2009-10-22T12:29:00.000+07:00</published><updated>2009-10-22T12:44:02.282+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Bukan jawaban surat kembara - Harap berhenti meratap</title><content type='html'>Apalagi yang hendak aku tulis malam ini? kata rindu itu berseliweran di bangku taman kota, tapi belum juga ada reronce kalimat berkalung di kepalaku. Penerawangan yang jauh, ranggenganmu adalah mimpi yang membuat telisik dedaun di halaman rumahku berbisik "pagi dan malam adalah kau dan aku yang bertahan pada kesadaran, sedangkan terik siang adalah kau dan aku yang diburu keinginan kesejatian"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam aku di datangi mereka yang menunjukku kebenaran ada padamu. Aku terjaga, keringat seperti air terjun di musim keruh. Air mata terlepas hangat diantara amarah dan kelemahan pasrah. Mereka berkata aku menuju kebenaran sedangkan aku dilingkari ragunya warna. Aku sendiri masih mencari letak kesejatian benar dan salah. Peperang itu hampir membunuhku, siapa hendak benamkan wajahnya, sedangkan bagiku kembara tidak akan pernah mati. Keabadian rasa padanya tetap terjaga di batang dan akar pohon mangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali aku berjalan berputar-putar di sekeliling rumah, memunguti jejak kembara yang mungkin tertinggal. Sehelai rambut panjang tersisip di ujung jalan. Ingatanku berlarian pada belaian rambut yang menyesatkan jemariku di kepalamu. Seperti membacai lagi kemana kembara akan menuju. Ia menuju kesadaran yang lebih tinggi daripada aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diamku di hari terakhir ia terpaksa undur diri, adalah gemuruh yang tak sanggup aku ucapkan. Badai diam yang aku cipta agar kau pergi berlindung pada goa goa pertapaan. Ia pun pamit meminta sekelumit do'a agar ia mampu lancar menerjemahkan luka yang tercetak di dadanya. Diam diam aku pun mengintainya mencuri bahasa keluguan rasa. kepasrahan yang pada akhirnya membuatku benar-benar terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sampai dimana ia kembali mengembara, ia turut membawaku atau justru melenyapkan aku yang dulu begitu diangankannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--Lavina S Wibowo--&lt;br /&gt;Kudus, Oktober 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-8602465888755495646?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/8602465888755495646/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=8602465888755495646&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/8602465888755495646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/8602465888755495646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2009/10/bukan-jawaban-surat-kembara-harap.html' title='Bukan jawaban surat kembara - Harap berhenti meratap'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-4258947213120251434</id><published>2009-10-19T14:50:00.002+07:00</published><updated>2009-10-22T12:44:10.930+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Seperginya Ia - Kembara membawa laku</title><content type='html'>Halaman rumah bercecer daun daun mangga yang kering. Murammu sepi matahari berdiam diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terbangun di siang yang mengusirku dari kelelapan pagi. Setelah kembara itu pergi di waktu lalu, tubuh serasa beku. Tak ada lagi mimpi ketika bulan yang berselimut rindu menunggu seperti dulu. Bahkan malam adalah musuh, dinginnya melelehkan air mataku. Gulungan selumbu berwarna ungu meredam ledak di dada, aku memeluk jiwa yang telah rebah entah di mana. Kembara itu mungkin telah jauh menuju bukit seberang dengan ladang bunga yang beraneka warna. Di sana mungkin ada gubuk didiami peri bersayap rapuh peristirahatan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akh... aku hanya ingin ia berbalik pulang bukan menujuku tapi pada rumah teduh tempat perempuan menyulam syal abu abu di ambang pintu, usaikan pengembaraannya. Andai aku bisa membalas surat surat itu, tapi aku tak mampu membaca cepat secepat ia menghembuskan asap rokok kretek di muka waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatan itu, pertemuan itu, juga pernikahan semu ketika kata kata menanda jatuhnya hati di halaman rumahku. Kembalilah jeda pada hari yang disuburkan rindu rindu tabu. Ada yang bergolak memaksa perasaan mati celaka. Surat yang tertinggal telah kupungut dan kuletakkan di sudut rumah di balik lukisan berbingkai perak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang terbawa, bersama angin yang meniupkan pada perjalanannya yang lain Aku. Gasing melingkar lingkar, tersesat pada labirin, merebut harap dan impian usang sebelum perjumpaan aku pada kembara, pada penantian seorang pedagang yang menjual pernik hiasan rambut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halaman rumahku temaram sejak ia pergi membawa laku. Kembara telah tinggalkan jejak, merebut aku seluruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--Lavina S Wibowo--&lt;br /&gt;Kudus, 19 Oktober 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-4258947213120251434?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/4258947213120251434/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=4258947213120251434&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/4258947213120251434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/4258947213120251434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2009/10/seperginya-ia-kembara-membawa-laku.html' title='Seperginya Ia - Kembara membawa laku'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-7031937892643929427</id><published>2009-10-19T14:43:00.001+07:00</published><updated>2009-10-19T14:50:39.259+07:00</updated><title type='text'>Menabur Bibit Kenangan</title><content type='html'>Setelah malam tanpa jeda, sesengguk yang terus di sulam dengan jari jari yang hampir beku. Tidurku terasa teramat lelap. Kembara itupun terlihat begitu nyenyak merebah waktu di halaman rumahku. Tak ada lagi mata nyalang yang sibuk mengintaiku. Aku pun tahu ia begitu lelah, mengawasiku yang terus berlari bersembunyi di balik batu batu bukit. Hingga tubuh ini menggigil dihantui hujatan rindu ingin kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tidak, aku tak akan berputar arah. Ia adalah kembara yang akan pergi di suatu waktu. Ia telah mempunyai bilik istirah di waktu yang lalu yang mungkin hampir ia lupa. Ini hanya sementara, kini ia terlampau sibuk memenjarakan musim untukku. Ia sendiri berkata kembara tak pernah jenak di ruang yang sama begitu lama. Tak ada abadi baginya selain racauan kata pada kalimah pertanda rasa, karena ia memaklumi diri mudah melupa. Kembara lalu, membawa lentera rindu yang terpaksa redup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin malam itulah pertanda usai cerita, juga luka. Bidadari berselendang ungu datang, memanggul tubuhku pada ragu. Mampuku hanya terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku meringkuk di sebalik tirai putih yang menjuntai, angin membelai pelan. Ia telah menjauh menyisakan tapak bayang punggungnya yang membekas gurat - gurat dipan di halaman rumahku itu. Kuseka mata lantas mengeja kata sederhana tentang malam agar katup bibirku tak lagi memanggilnya. Terselip lembar lembar surat di ketiak dahan pohon mangga. Sebagai tanda ia memang pernah ada dan bagiku ia akan tetap ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembara menabur bibit kenangan, pada usianya nanti kan kusemai sebelum musim hujan kedua tiba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--Lavina S Wibowo--&lt;br /&gt;Surabaya, 15 Oktober 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-7031937892643929427?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/7031937892643929427/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=7031937892643929427&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/7031937892643929427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/7031937892643929427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2009/10/menabur-bibit-kenangan.html' title='Menabur Bibit Kenangan'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-5990320510011104668</id><published>2009-06-19T22:51:00.002+07:00</published><updated>2009-06-19T22:53:00.549+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Dari Kios dan Cerita Kriminal</title><content type='html'>“Tok..tok.. tok…!” &lt;br /&gt;“Dik… dik…itu pintunya tolong dibuka. Ada tamu.”&lt;br /&gt;Lelaki berkaos oblong hijau, jaket jins belel dan kacamata coklat bulat sudah berada di depan pintu rumahku. Menggendong tas ransel sambil bersedekap lantas tersenyum tipis. Mataku terbelalak. Laki-laki ini yang kutemui 7 tahun lalu di sebuah alun-alun kota. Tak ada yang berubah masih tersisa keliaran dari penampilannya, jenggot dibiarkan tumbuh tipis berantakan.&lt;br /&gt;“Alan?” &lt;br /&gt;Ya.. aku mengingatnya. Dulu ia seorang penjaga kios majalah dan koran, aku sering menemaninya setiap kali suntukku datang. Waktu aku sedang bosan dengan tugas skripsi karena dosen pembimbing yang suka ganti ganti mood seenaknya. Walhasil setiap datang pada beliau tulisanku tak lepas dari tinta gel yang tebal itu. Bosan pada kamar kos yang mengingatkan pada lembar lembar bab yang tak pernah benar. Alun-alun kota aku pilih untuk menitipkan sepi dan jenuh. &lt;br /&gt;“Hai yun..! boleh aku mampir sebentar, aku sedang dalam perjalanan dan melewati kotamu. Untung aku membuka buku alamat di terminal. Dan menemukan nama dan alamatmu.” Lelaki ini seperti tanpa beban datang ke rumahku. Aku menjadi kikuk.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingat setiap aku mampir kekiosnya. Ia akan bercerita tentang berita-berita terhangat lantas mengomentari dengan semangat berapi-api. Padahal aku belum membaca topic yang sedang dibahasnya. Tapi karena pikiranku sedang setengah akibat skripsi, aku juga sok-sokan menimpali tak kalah semangatnya. Dari soal pasar terbakar yang kemungkinan sengaja dibakar, tentang pejabat yang terbunuh oleh tusukan tukang parkir hanya karena sering dimaki, bocah kecil yang tiba-tiba terkenal karena diangkat menjadi dukun celup, atau pelacur tua yang mampus tercebur ke sungai waktu kejar-kejaran dengan satpol pp. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pertemanan itu aku lebih suka menghilang dari absen pacarku sendiri. Aneh menyebut pacar karna aku tidak merasa ada yang bergetar ketika berada dengan lelaki yang kusebut pacar itu. Dan benar saja selepas wisuda, aku dan lelaki “pacar”ku itu memutuskan berpisah.&lt;br /&gt;“Ya masuklah alan. Sebentar kupanggilkan suamiku dulu. Sekalian kau bisa berkenalan dengannya” aku menekankan kata suami dengan amat terpaksa. &lt;br /&gt;Dan kulihat raut wajah alan sedikit berkerut dan menatapku berbeda tapi hanya sebentar. Setelah itu senyum tipis itu datang lagi. Kutinggal ia di ruang tamu sambil melihat foto-fotoku dengan mas ari suamiku. Mas ari menemui alan dan berbicara basa basi. Dari arah dapur aku sedikit menguping pembicaraan mereka. Sambil mengaduk kopi dan menata kue yang kebetulan dapat dari tetangga baru. Aku berpikir keras ada apa alan tiba-tiba datang setelah perginya yang tanpa kabar itu.&lt;br /&gt;…………………………………………..   &lt;br /&gt;“Yun, kapan ya kau lulus kuliah?” aku langsung berhenti membaca berita kriminal, tentang pembantu yang dibunuh majikan perempuannya lantaran cemburu. Aku lupa pernah bercerita kalau aku kuliah dan sedang mengerjakan tugas akhir. Sudah hampir 6 bulan aku berkenalan dengannya. Dan tiba-tiba ia bertanya tentang nasib kuliahku. Aku kira ia tak perduli apa alasanku sering ke alun-alun. Aku kira ia hanya tertarik berita-berita criminal dan dijadikan bahan lelucon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin akhir bulan ini ujian akhir, trus 2 bulan lagi wisuda…”&lt;br /&gt;“Oh.. abis gitu?”&lt;br /&gt;“Ya pulang kampung, angon kambing atau angon sapi. Hehehehehe…”  &lt;br /&gt;“Wah.. enak ya jadi kambing atau sapi. Aku mau dong di angon juga!” senyumnya hambar. Sekedar basa-basi membalas leluconku.&lt;br /&gt; “Serius yun, setelah lulus kau mau apa?” tanyanya lagi.&lt;br /&gt;“Hemmm…. Aku juga tidak tahu. Bapakku menyuruhku pulang dulu. Padahal aku juga ingin di sini saja. Lihat besok sajalah..!” jawabku malas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang payah sudah mau jadi manusia berijazah tapi belum tahu kemana tujuan hidup setelah ini. Masih saja nurut apa kata bapak, padahal aku ingin di kota ini. Walaupun di sini aku sendirian kerap kesepian hampir 4,5 tahun hidup jadi perantau.  Tapi entah ada sesuatu yang membuatku enggan pulang ke kampung. Mungkin sejak perjumpaanku dengan alan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku anak bungsu dan perempuan satu-satunya dikeluargaku, kakak laki-lakiku 3 tahun lebih tua. Setahun setelah lulus SMA ia langsung menikah dengan anak pengusaha gudang tembakau. Bapakku waktu itu masih menjabat sebagai kades. Dan dengan jabatannya ia bisa memilihkan jodoh dengan orang yang terpilih bobot, bibit, bebetnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya dulu selepas SMA aku juga disuruh segera menikah dengan salah satu anak buah bapak yang masih bujang. Tapi aku menolak, aku melarikan diri ke rumah budhe di Sidoarjo. Aku ingin melanjutkan kuliah dan ingin tahu lebih banyak tentang banyak hal selain sawah, kebun tembakau, sapi dan perangkat desa lainnya. Untunglah ibu berhasil membujuk bapak untuk menuruti kemauanku. Tapi dengan syarat seusai lulus aku harus kembali ke desa. &lt;br /&gt;“Temani aku pergi aja yuk...” &lt;br /&gt;“Kemana?” &lt;br /&gt;“Ehm.. jadi pembunuh bayaran*. Belajar menusukan belati agar korban kita tidak sadar telah berdarah dan kemudian mati tergesa-gesa. Seperti yang biasa kita baca di koran ini.”&lt;br /&gt;“Kuliahmu?” &lt;br /&gt;Alan diam lantas mengambil majalah bergambar perempuan berjilbab. Ia tak menjawab pertanyaanku, seperti tak mendengar. Ia sebenarnya juga seorang mahasiswa semester 5 teknik industri. Tapi ia merasa tidak cocok kuliah teknik, ia lebih suka lintas ke kota-kota yang baru. Dan saat itu ia baru saja kembali dari Kalimantan setelah hampir 4 bulan disana. Kios itu sebenarnya milik tetangga kost. Tapi aku sendiri tidak pernah tahu darimana ia berasal. Yang aku tahu dia juga sendirian di kota ini. &lt;br /&gt;“Anggap saja berakhir. Aku sudah memutuskan berhenti saja, lebih baik aku mewujudkan mimpiku. Aku ingin menjadi pembunuh handal yun..!” ia mengisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan cepat.&lt;br /&gt;“Maksudmu?”&lt;br /&gt;“Ya aku bisa membunuh dengan dongeng yang kubawa dari kota-kota itu. Dunia ini tak sekedar angka dan rumus. Tak mudah untuk dihitung. Seperti kisah criminal di Koran ini.”&lt;br /&gt;“Kenapa?”&lt;br /&gt;“Ayahku meninggal 6 tahun lalu, setelah ibuku ketahuan selingkuh. Ibu kembali untuk mengambilku. Aku sendirian waktu itu. Aku bingung.. Lantas Ibuku menikah lagi dengan seorang mahasiswa lelaki selingkuhannya itu. Aku kabur.. Dan yah sekarang beginilah aku.” Ia bercerita datar saja. Lantas ia terkekeh melihat headline gosip di majalah yang ia sedang pegang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak berani bertanya-tanya lagi. Membiarkan ia membaca dan aku juga pura-pura membaca tabloid memasak yang letaknya lebih dekat dengan jangkauanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yun, penulis berita ini hebat ya.. mereka bisa membunuh dengan cepat. Tapi korban-korbannya tak sadar. Meraka mati tanpa berdarah-darah. Lihat saja kita setiap hari membaca koran kriminal, terbiasa dengan cerita seperti ini. Sampai akhirnya kita cuma bisa tertawa saja karna kengerian itu sudah kebas.” Rokok yang sudah sampai di pangkal ia buang ke tanah dan menginjaknya dengan gemas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku hanya mengangguk. Apa yang diucapkan benar, pantas saja ia bisa bercerita tentang riwayat keluarganya biasa saja. Toh di televisi, di koran, banyak gosip dan berita serupa dengan cerita Alan itu dan sudah biasa terjadi dimana-mana. Kata orang kenyataan itu lebih kejam tapi sekarang tidak, berita-berita ini lebih kejam dari kenyataan yang tertangkap oleh indraku. &lt;br /&gt;“Gimana tawaranku?” Ia kembali bertanya dan mengambil tabloid yang sedang aku bolak-balik.&lt;br /&gt;“Tidak” aku menggeleng.pelan.&lt;br /&gt;“Aku sudah berjanji alan, lihat nanti saja. Aku belum tahu setelah ini aku mau apa” jawabku putus asa karena sebenarnya aku berat menolak permohonan alan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak penolakanku Alan menghilang. Kata pemilik kios itu Ia sudah berkelana lagi entah kemana. Dan sisa penantian kelulusan yang tinggal dua bulan itu aku lewati sendiri. Kali ini benar-benar sendiri. Aku jadi lebih sering pulang ke kediri setiap seminggu sekali. &lt;br /&gt;………………………………………….. &lt;br /&gt;“Apa kabarmu?” memulai pertanyaan basa-basi ini berat sekali. Seperti ada barbell 5 kilo di ujung lidahku.&lt;br /&gt;“Baik.. selamat..  dan aku sudah menjadi pembunuh bayaran yang sukses. Gimana? Tawaranku yang dulu?” Pertanyaan itu ia lemparkan dengan santainya.&lt;br /&gt;Aduh.. Ia bertanya pertanyaan yang bertahun-tahun ini aku sesali karna jawabanku itu. Aku Cuma bisa tersenyum membalas pertanyaan itu. &lt;br /&gt;“Bagaimana kau bisa sampai kerumahku? Bohong kalau kau bilang lihat di buku rongsokanmu itu.” &lt;br /&gt;“Ya.. aku datang ke rumah bapakmu, sesuai alamat yang aku dapat dari teman kuliahmu dulu. Jangan tanya bagaimana aku bisa dapat ya?” matanya menatapku.&lt;br /&gt;“Pada bapakmu Aku mengaku teman kampus dan hendak membuat acara reuni bla.. bla.. bla.. dan yah.. di sini sekarang aku” Senyum liciknya itu. Ia terkekeh seakan sedang menertawai berita pembunuhan sadis, seperti dulu.&lt;br /&gt;“Masih saja kau bercanda dengan kesadisan yaa? Dosa tuh bohongin orang.” akupun tertawa. Sebenarnya aku suka dengan caranya, aku suka ia sedikit berbohong untuk bias menemuiku.&lt;br /&gt;“Lantas apa yang tadi yang kau bicarakan dengan mas Ari? Dongeng apa yang kau sampaikan?”&lt;br /&gt;“Itu rahasia lelaki, Yuniar Pratiwi.. Yang jelas ia percaya padaku. Buktinya ia pergi memancing. Ini kegiatannya tiap sabtu khan?” Lagi-lagi ia tertawa senang.&lt;br /&gt;Sial ia masih mengingat nama lengkapku, juga sudah tahu sedikit tentang kebiasaan mas Ari. Sedangkan aku sudah lupa siapa nama lengkapnya dan belum tahu sedikitpun maksud kedatangannya ke sini menemuiku. Rupanya ia sudah diijinkan mas Ari untuk sering ke rumah, dengan alasan di kota ini ia sendiri dan tak punya kerabat sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Besok aku kemari lagi ya yun.. sampaikan salam pada masmu itu” setelah menyeruput kopi yang aku suguhkan ia pamit pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, minggu siang Alan benar-benar datang. Waktu itu mas Ari sedang pergi dengan teman-temannya. Begitulah setiap weekend mas ari lebih suka pergi bersama teman-temannya. Di usia perkawinan yang hampir 6 tahun  ini kami belum juga dikaruniai anak jadi akupun sering kesepian di rumah. Tapi rumah tangga ini masih berjalan normal jarang sekali bertengkar bias dibilang tak pernah. Perkawinan tanpa ombak, demikian tenang bahkan terlalu tenang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Ari lelaki pilihan bapak, itu mudah ditebak karena sejarah orang tuaku dulu, juga kakakku begitu. Apalagi di desa perempuan diatas 24 tahun belum menikah bisa diangap perawan tua. Aku nurut, karena bapak dulu sudah mengijinkan aku kuliah. Tapi entah sejak kedatangan alan kemarin aku rasa penyesalan itu datang lagi. Buat apa kuliah kalau hanya untuk jadi istri yang mendekam di rumah. Tawaran Alan dulu kembali mengusikku. Seandainya.. seandainya.. tak seharusnya aku jadi perempuan yang nrimo. Kota ini terlalu sepi, bahkan rumah tanggakupun terlampau sepi.&lt;br /&gt;“Alan. Apa alasanmu menemuiku?”&lt;br /&gt;“Hem.. buatkan aku kopi dulu nanti aku akan mendongeng untukmu”&lt;br /&gt;“Jadi ini hasilmu jadi pembunuh bayaran tanpa mitra?” sungutku tapi aku tetap berdiri dan membuatkannya kopi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku keluar membawa kopi dan sebuah koran lokal. Entah tiba-tiba saja tadi pagi aku pergi ke kios majalah mencari koran. Aku takut kehabisan bahan pembicaraan nanti jika alan datang. Maka aku membeli satu, terserah koran apa karena dulu alan juga membaca acak apa saja yang ada di kiosnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pengusaha Kredit Motor Tewas Digasak Perampok Berdarah” itulah headline yang tertulis dihalaman depan. Alan tersenyum ketika tahu aku membawa Koran.&lt;br /&gt;“Wah kau sudah siapkan hidangan yang lezat untuk dibantai siang ini ya yun”&lt;br /&gt;“Hehehe… mungkin nanti kau lupa bercerita tujuanmu kesini daripada sepi jadi kubelikan ini untukmu.” &lt;br /&gt;Lantas ia mengeluarkan Koran dari balik jaketnya. Ternyata yang dibawa alan dan Koran yang kubawa sama. &lt;br /&gt;“Aku juga takut lupa apa tujuanku kemari jadi kubawa ini” ia tersenyum menunjukkan geligi giginya. Kemudian kamipun tertawa menyadari ketololan ini. Selama bertahun-tahun sejak menikah aku tak pernah tertawa selepas ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamipun berkelakar menentukan siapa yang bakal masuk neraka nantinya. Bias jadi si pengusaha itu digasak perampok karena kalau menagih kasar dan tidak kasih tenggat waktu. Bias jadi perampok ini adalah konsumennya yang jengkel karena ditagih terus. Atau bias jadi perampok ini selingkuhan istri pengusaha dan biar tidak terlihat motif pembunuhan terencana maka sekalian merampok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lantas kau mau merampok apa di kota ini?”.&lt;br /&gt;“Kamu dong Yun..!”.&lt;br /&gt;“Kalau begitu segera saja”  &lt;br /&gt;“Tunggu saja, aku tidak akan pakai cara semudah itu. Khan aku sudah bilang aku pembunuh bayaran yang handal sekarang. korbanku tak sadar sudah mati terbunuh. Kalau perampokan ecek ecek sih cuma bikin heboh saja, nanti malah masuk berita Koran beginian ya gak serulah.”&lt;br /&gt;“Oh.. kamu mau bilang aku sudah mati tanpa aku sadar?” &lt;br /&gt;“Hemm.. kalau kamu bukan korbanku tapi partnerku. Dan aku akan menawarkan yang sudah pernah kamu tolak”&lt;br /&gt;“Jadi itu tujuanmu kemari?”&lt;br /&gt;“Ya….Yun aku dapat sponsor untuk melakukan perjalanan ke Kongo. Dan aku masih tetap butuh partner. 3 Bulan lagi aku akan berangkat. Seluruh plosok negeri ini sudah aku habiskan.”&lt;br /&gt;Aku diam, bagaimana aku menjawabnya. Dulu atau sekarang lagi-lagi aku tak bisa memilih.&lt;br /&gt;“Tapi kali ini terakhir kali aku mengajakmu. Aku tahu kau sudah mempunyai keluarga walaupun belum memiliki anak. Itulah kenapa aku berani menawarimu lagi. Kalau kau menolak lagi berarti kau memang…. Ahhh ya sudahlah. Aku pulang saja ya Yun..”   &lt;br /&gt; ……………………………………..  &lt;br /&gt;Sudah 3 hari Alan tak lagi datang ke rumah. Aku juga tak ingin mencarinya. Kesadaranku seperti kembali, aku bukan lagi gadis yang putus asa karna tugas akhir, kluyuran ke alun-alun kota. Nongkrong di kios majalah sampai malam. Dan aku juga tak ingin Alan terlalu berharap aku menerima tawarannya itu. Hanya dari pembantu tetangga sebelah rumahku yang mengabarkan Alan masih ada di rumah kost-nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Tanggakupun kembali tenang dan jauh lebih tenang dari sebelum-sebelumnya. Mas Ari juga tak pernah bertanya lagi kemana Alan. Aku memutuskan untuk kembali fokus di cerita yang ini saja. Bersepi sepi di lautan yang tak berombak. Membosankan tapi ini yang menjadi garisku sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dik.. boleh aku bicara?” Mas Ari memulai pembicaraan malam itu.&lt;br /&gt;“Ya mas..”&lt;br /&gt;“Boleh aku menikah lagi?” &lt;br /&gt;“Kenapa?” tanyaku datar&lt;br /&gt;“Perempuanku hamil.” Jawabnya pelan&lt;br /&gt;Aku tak merespon tak ada sedikitpun rasa sedih atau marah yang menyelinap. Seperti ada belati yang ditarik pelan-pelan. Rupanya aku sudah mati sejak bertahun-tahun lalu. Dibunuh pelan-pelan oleh ketenangan yang teramat tenang. Tak sakit, aku sudah terlalu kebas untuk merasai rumah tangga sepi ini. Rumah tangga ini adalah pembunuh paling sadis yang aku alami tapi entah aku benar-benar tak merasakan apa-apa. Mungkin karena berita-berita yang sering bersliweran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya.. silahkan nikahi dia. Dan besok segara ajukan surat gugatan cerai untukku ya mas”&lt;br /&gt;“Ok.. maaf ya dik.”&lt;br /&gt;Aku hanya bisa tersenyum, tak ingin melanjutkan pembicaraan ini dan teringat kembali pada Alan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, Juni 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-5990320510011104668?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/5990320510011104668/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=5990320510011104668&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/5990320510011104668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/5990320510011104668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2009/06/dari-kios-dan-cerita-kriminal.html' title='Dari Kios dan Cerita Kriminal'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-2610938899165335911</id><published>2009-06-05T17:17:00.003+07:00</published><updated>2009-06-06T04:42:59.099+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Pesta Esok dan Tangis yang MengCrystal</title><content type='html'>Aku hanya ingin bercerita tentang pesta tanpa gaun, pendar lampu-lampu kristal ataupun meja penuh hidangan lezat. Pesta yang membuat semua orang tertawa geram dan tangis tertahan. Di tengah kelahiran, ruang lain justru sedang meregang nyawa, mengurai keringat dari bulir-bulir kenangan yang dingin. Malam ini adalah cerita kematian dari tawa yang sunyi. Dari malam yang sepi tentang kepala botak merah darah. Juga kelahiran dari sepi yang riuh, dari malam yang sibuk bercerita tentang penggalan kepala berhias kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah bangku telah duduk seorang entah laki-laki atau perempuan, hanya kerut kulit keriputnya, menanda jompo. Bibirnya rapat terkatup, tak ada suara hanya tatapan mata nyalang. Mengawasi riang bocah yang sedang merayakan kotak-kotak kayu yang semakin tinggi tersusun. Ia melihatnya, mengingat dulu ketika ia menganyam rotan dijadikan boneka dengan mata bermanik manik kacang kedelai, bibir datar dari benang wol. Dulu ia juga bahagia, terbahak ketika kedua tangannya masih lihai merajut rotan lalu diletakkan dekat bongkah pualam besar. Di dasar goa yang baginya telah tuntas ditaklukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini cerita tentang gempita kenangan dan dada-dada yang semakin tinggi ditarik terbang ke langit. Lantas bernyanyi tentang seribu cita-cita menaklukkan malam, lantas diganti dengan semua siang. Hidangan hampir basi karna undangan sibuk Bercengkrama dengan kenangan. Kenangan itu mengasikkan juga mematikan. Mata dijungkir balik menertawai lucunya bayi yang merangkak. Tapi semakin menua usia, mereka lepas, meregang mencari diri sendiri. Tak patut ada yang dipestakan disetiap kelahiran karena kematian itu pasti. Siapa yang rela pada setiap perpisahan, hanya tangis duka yang tertahan. juga kelahiran yang mati sendiri, tawa bahagia yang tersembunyi. Tetap saja kelahiran dan kematian ini bukan milik nyanyian - nyanyian do'a. ini milik ESOK, bukan milik kenangan kemarin atau lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini semua duduk melingkar, bersila, menatap wajah-wajah maya. yang entah kapan ESOK pasti pergi lagi. Semakin jauh, melanglang menuju negeri kata-kata, negeri sunyi, negeri berkepala ungu atau juga justru sembunyi di dada-dada yang berisak tangis kematian dan kelahiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 5 Juni 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-2610938899165335911?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/2610938899165335911/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=2610938899165335911&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/2610938899165335911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/2610938899165335911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2009/06/pesta-esok-dan-kafan-yang-mengcrystal.html' title='Pesta Esok dan Tangis yang MengCrystal'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-2017417350170946788</id><published>2009-05-07T01:16:00.001+07:00</published><updated>2009-05-07T01:24:57.107+07:00</updated><title type='text'>Perpus Emperan</title><content type='html'>Suasana Pendopo alun-alun Sidoarjo jam 3 sore masih lengang. Para pedagang masih sibuk bersiap-siap dengan gerobak dan barang dagangannya. Tapi sudah banyak pengamen dan bocah anak dari pedagang yang bermain disekitar areal alun-alun Sidoarjo. Kami menggelar tikar, mendata, menata buku dan spanduk digelar. Hoplaa.. perpuspun akhirnya siap disantap. Koleksi perpustakaan kami berasal dari lemari masing-masing anggota, juga didapat dari sumbangan dari beberapa kawan di luar kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengunjung kami, gadis kecil bernama Anisa dan Arum, Anisa suka sekali membaca, menulis, berhitung dan bernyanyi. Si kecil arum suka mengobrak-abrik tatanan buku. Tingkahnya lucu, setiap melihat gambar di buku ia akan berteriak "etan..etan.." ehm setan kali ya yang dimaksud. Kalau Anis sudah mengerti bagaimana memperlakukan buku walaupun belum bisa lancar membaca. Jadi aku memperlihatkan gambar-gambar di majalah bobo dan membacakan untuknya. Bosan membaca, mereka meminta kertas untuk menulis, berhitung dan menggambar. Di sebelah emperan kami ada ibu-ibu penjual kerupuk, beliau menghardik arum karena takut tempat kami dibuat rusuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin sore pendopo alun-alun sidoarjo semakin ramai, Rata-rata pengunjung kami adalah anak-anak dari pedagang di sana. Mereka asik membaca komik, majalah, tapi terkadang mereka bertengkar memperebutkan buku atau mencoba berebut perhatian dari kami. Terkadang orang tua merekapun datang untuk meminjam majalah wanita, buku resep masakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang ibu penjual jajanan kecil, dia mencari buku cerita untuk anaknya supaya lancar membaca. Tapi anak perempuannya entah bermain dimana. Akhirnya ibu itu sendiri yang meminjam majalah perempuan untuk dibaca sendiri. Mendekati maghrib datang lagi bocah perempuan bernama Sofi ternyata anak dari ibu-ibu penjual jajanan kecil tadi. Sofi lebih pandai membaca daripada Anis. Tapi masih suka lupa-lupa. Dia juga belajar berhitung, menggambar bersama kami.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bocah-bocah itu tingkahnya lucu kalau sudah datang bosannya maka mereka akan pergi berlarian kemudian kembali lagi minta membaca. Kami berjanji untuk membawakan kertas mewarnai untuk mereka. Anak-anak KIBAR (komunitas seni sidoarjo) juga membantu. Habis maghrib susana alun-alun semakin ramai. Terkadang kamipun membacakan cerita mendongeng sebisa kami. Atau mengajak mereka menulis sebuah cerita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal buka perpus (Des08) para pengunjung rata-rata masih bingung, buku-buku ini dijual atau bagaimana. Maklum konsep hanya baca ditempat gratis belum umum. Kami menyadari memang butuh sosialisasi Perpus Ngemper agak lama. Beberapa orang pengunjung alun-alun datang melihat dan kami persilahkan untuk membaca di sana. Mereka suka sekali, ada yang minta buku tentang agama, sastra, bacaan anak, pertukangan, bahkan perdukunan eh bukan cuma ramalan bintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar jam delapan kamipun membereskan TKP (tempat kejadian perpus). Karena semakin malam alun-alun semakin ramai dan kamipun sudah mulai kelelahan. Setelah  melihat langsung kondisi di lapangan, maka kamipun memutuskan Perpus Ngemper tetap digelar di pendopo alun-alun sidoarjo. Setiap dua minggu sekali di hari minggu sore kami datang, ini semata karena keterbatasan tenaga kami saja. Selain itu kendala cuaca yang membuat kami tak bisa datang. Karena takut buku-buku kami basah karena hujan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-2017417350170946788?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/2017417350170946788/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=2017417350170946788&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/2017417350170946788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/2017417350170946788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2009/05/perpus-emperan.html' title='Perpus Emperan'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-10603563645960988</id><published>2009-04-09T14:42:00.022+07:00</published><updated>2009-04-19T04:57:12.334+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Cerita Ini Menganggu Tidurku</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Serapuh angin, dilebur untaian mantra. Matamu adalah kisah yang lupa. Dan tak akan pernah kutemukan yang tersembunyi dalam desah tawa kecilmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepagi ini.. jam weker akhirnya berbunyi juga. Sengaja aku setel jam 7 pagi. Tapi dari 6 jam yang lalu mataku belum juga sukses terkatup. Tak ada satu mimpipun berdatangan seperti malam-malam sebelumnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ok, ada tenda? kemana?" Aku sengaja mengajaknya gara-gara jadwal plesir yang direncanakan batal. Dan kakiku sudah mulai gatal melanglang lagi. Apapunlah aku lakukan asal bisa pergi. Kali ini cuma dia satu-satunya harapan yang ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban itu sudah aku duga. Mengajaknya pergi berdua, sama saja menawarkan diri. membiarkannya melesat semakin intim ke tiap jengkal kulit. Tapi tidak perkara yang lain. Sikapnya akan tetap sekeras baja, bermain dan aku adalah tawanan perang. Begitulah, kutawarkan tubuh maka dengan senang hati dadanya terbuka lebar. Padahal dari siang aku mengajaknya sekedar makan siang bersama tak ada satupun balasan. Shit..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam gamang, ambang tidurpun tak juga lelap. Apa yang nanti akan dilakukannya padaku. Satu dalam tuang yang samar, cahaya yang temaram. bulanpun  diijankannya masuk. Berdua saja seperti cerita dulu. Tapi kali ini mungkin akan lebih. Aku kelimpungan, tubuhku menginginkannya tapi otakku menolaknya. Apa yang aku inginkan darinya tak juga aku dapatkan. Hati..! Aku mencari Hati-nya. Untuk kulahap dan tiap tetes darahnya mengalir dalam tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara di sana pasti dingin, dan malam ini aku sudah bisa membayangkan tubuhnya bermain liar di atas tubuhku. Dan di dekapannya, sekali lagi aku akan bercerita sendiri, berkesah sendiri, dan tetap menangis sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Secuil harap, selalu ditiupkan pada lembar daun hijau muda, hingga pada akhirnya sulur-sulurnya merambah menyetubuhi panasnya sinar. hangat.. lembab.. keras..! Hingga pada akhirnya patah dan jatuh di dasar tanah coklat kemerahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini mengganggu tidurku. Keringat sebesar butir jagung meleleh, berkejaran diliuk-liuk urat leher. Sambil menghitung jarak antara batas norma dan dosa. Baginya tubuhku semacam manekin. Diombang-ambingkan di depan teras toko. Dipajang sebentar kemudian disetubuhi di belakang etalase toko. Sebiadap itukah dia? Entah bagiku Ia seperti angin panas yang menyeruak di sebalik tengkuk. Mengiangkan mantra tidur agar aku tetap terlelap, menjaga cerita tetap hanya tentangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusentuh remote tape lantas kunyalakan dan memutar &lt;span style="font-style:italic;"&gt;bella's lullaby&lt;/span&gt;. Denting piano, lembut menyusup di liang telinga. Meniupkan angin yang dingin. Mata berkali-kali mengerjap dan mulut sudah berkali-kali menguap. Tapi ada sesuatu di dalam batin dan pikiran yang masih berjaga. Semacam algojo memegang cambuk, melukai di tempat yang sama, menjagaku agar tak segera menyudahi cerita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi ini sudah menjelang shubuh. Matahari mengintai dengan sinis. Tidak ada air matapun yang jatuh kali ini. Mungkin tetes-tetesnya sudah bosan turun akibat hal yang sama. Bosan pada cerita usang yang tak juga tamat. Bosan pada resah hal yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu bagian logistiknya ya?" Sial.. Ia benar-benar mencoba keinginanku. Menolaknya berarti menyia-nyiakan kedatangannya padaku. dan dia akan pergi lagi seperti sebelum-sebelumnya. Itu yang tidak aku inginkan. Mauku, semalaman lomba tak pejam mata, hanya berdua duduk bersebelahan, dan kepalaku kusandarkan di bahunya di depan pintu tenda. Menggumamkan bulan yang gagah pamer sayap di langit. atau hanya sekedar bertanya "Kapan hidup kita akan melaju?"  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rongga dada terasa lebih sesak, entah karena gelembung payudaraku membesar atau degup ini memompa darah lebih kencang. Entahlah? Yang aku tahu mata ini mengerjap-ngerjap seperti boneka yang rusak peer matanya. Boneka yang hampir putus lengannya karena bertahun-tahun dimainkan dengan jalan cerita yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku akan membayarnya, biarkan aku tidur sejenak", kutawarkan harga lebih untuk tidur pagi ini. Hingga nanti siang mataku bisa kembali nyalang. Jika tidak, setidaknya mata ini biarkan terpejam, kepala tetap melingkar pikir semacam gasing, menulis rumus logika atau sekedar berpikir akhir cerita. Tapi aku sungguh tak punya kuasa akan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Cerita ini menggantungku seperti jemuran yang digantang bertahun-tahun di tali rami. Rapuh..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sby,9 April 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-10603563645960988?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/10603563645960988/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=10603563645960988&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/10603563645960988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/10603563645960988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2009/04/cerita-ini-menganggu-tidurku.html' title='Cerita Ini Menganggu Tidurku'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-1599064865669492128</id><published>2008-12-28T19:19:00.001+07:00</published><updated>2009-04-09T17:51:13.557+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan perjalanan'/><title type='text'>Perpus Ngemper edisi ke-2</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya aku bisa berada langsung di sana Perpus Ngemper. Suasana alun-alun  Sidoarjo jam 3 sore masih lengang. Para pedagang masih sibuk bersiap-siap dengan gerobak dan barang dagangannya. Tapi sudah banyak pengamen dan bocah anak dari pedagang yang bermain disekitar areal Alun-Alun sidoarjo. Aku tiba di sana sudah ada iwan dkk dan nisa buku-buku sedang didata spandukpun digelar. Perpuspun akhirnya siap disantap. Tidak lama kemudian Yasmin, Dee2 dan Eric datang membawa buku-buku dan majalah wanita.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Pengunjung pertama kami bernama Anisa dan adiknya Arum. Mereka suka sekali membaca, menulis, berhitung dan bernyanyi. Si kecil arum suka mengobrak-abrik tatanan buku. Tingkahnya lucu, setiap melihat gambar di buku ia akan berteriak "etan..etan.." ehm setan kali ya yang dimaksud. Kalau kakaknya sudah mengerti bagaimana memperlakukan buku walaupun belum bisa lancar membaca. Jadi aku memperlihatkan gambar-gambar di majalah bobo dan membacakan untuknya. Maen sekolah-sekolahan deh..! bosan membaca, mereka meminta kertas untuk menulis, berhitung dan menggambar. lucu-lucu ya mereka. di sebelah emperan kami ada ibu-ibu penjual kerupuk, beliau menghardik arum karena takut bikin rusuh.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Semakin sore sekitar jam setengah lima datanglah Wantoro pengunjung yang dua minggu lalu juga datang, dia asik membaca komik sementara 2 bocah perempuan itu ribut sendiri. tak lama datanglah ibu penjual jajanan kecil, dia mencari buku cerita untuk anaknya supaya lancar membaca. tapi anak perempuannya entah bermain dimana. akhirnya ibu itu sendiri yang meminjam majalah perempuan untuk dibaca sendiri. mendekati maghrib datang lagi bocah perempuan bernama Sofi ternyata anak dari ibu-ibu penjual jajanan kecil tadi. Sofi lebih pandai membaca daripada Anis. Tapi masih suka lupa-lupa. Dia juga belajar berhitung, menggambar bersama kami. Kalau sudah datang bosannya maka mereka akan pergi berlarian kemudian kembali lagi minta membaca. Kami berjanji untuk membawakan kertas mewarnai untuk mereka. *semoga tidak kelupa'an&lt;br&gt;&lt;br&gt;Anak-anak Ars juga membantu duh siapa aja ya.. ada gepenk, ada ehmm aduh lupa gak nanya nama. Ada mas anwar juga yang satu rombongan dengan mereka. Jam 6 yasmin harus pulang karena ada kesibukan lain. Habis maghrib susana alun-alun semakin ramai maklum besok suroan dan masih tanggal merah. Rata-rata pengunjung masih bingung buku-buku ini dijual atau bagaimana. Maklum konsep hanya baca ditempat gratis belum umum. Kami menyadari memang butuh sosialisasi Perpus Ngemper agak lama. Yah setidaknya sebulan atau dua bulan dengan jangka waktu yang tak terlalu lama. Beberapa orang datang melihat dan kami persilahkan untuk membaca di sana. Mereka suka sekali, ada yang minta buku tentang agama, sastra, bacaan anak, pertukangan, bahkan perdukunan eh bukan cuma ramalan bintang.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Sekitar jam delapan kamipun membereskan TKP (tempat kejadian perpus). Karena semakin malam alun-alun semakin ramai dan nisa sudah waktunya menetek pada bantal gulingnya. Iwanpun kecapaian karena di pagi harinya ada diskusi sastra. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Setelah aku melihat langsung kondisi di lapangan, maka kamipun memutuskan Perpus Ngemper tidak lagi dilaksanakan dua minggu sekali. Dan akan dimajukan jadi seminggu sekali. Minggu depan kami akan hadir di alun-alun sidoarjo. Karena jika dua minggu sekali sosialisasi Perpus Ngemper akan sulit.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Salam Ngemper&lt;br&gt;  &lt;/div&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-1599064865669492128?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/1599064865669492128/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=1599064865669492128&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/1599064865669492128'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/1599064865669492128'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2008/12/perpus-ngemper-edisi-ke-2.html' title='Perpus Ngemper edisi ke-2'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-6956313266518099159</id><published>2008-11-24T16:24:00.004+07:00</published><updated>2009-04-09T17:47:32.358+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berbagi Kisah'/><title type='text'>25 Tahun Bertabur Puisi</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kau dan Tikus Kecil : Dalam sebuah sajak&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;&lt;font size="1"&gt;                                                                                            &lt;font size="3"&gt;By. Nisa Pikanisa&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;: Gita P, kekasih gelapku&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;tiap malam&lt;br /&gt;kau urai kata&lt;br /&gt;lepas dari burai dada&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;tak ada yang tahu&lt;br /&gt;kau sembunyi&lt;br /&gt;antara sedu sedan&lt;br /&gt;malam sepi&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Arak saja sengau rindu&lt;br /&gt;pijar rembulan&lt;br /&gt;bulir hujan&lt;br /&gt;luas taman&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Yang kau jejalkan&lt;br /&gt;resap embun&lt;br /&gt;lingkar pelangi&lt;br /&gt;kilau malam&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;nantinya,&lt;br /&gt;kau selalu kembali berciap-ciap&lt;br /&gt;pada tikus kecil&lt;br /&gt;dari jeruji kamar sebelah&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ah... kau tahu&lt;br /&gt;tikus kecil tak sekedar tunggu&lt;br /&gt;butuh sekedar remahanmu&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mungkin sama ?&lt;br /&gt;atau sebaliknya?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kau bunyi ciap-ciap&lt;br /&gt;Tikus suara cicit&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lihat!!&lt;br /&gt;Kalian cipta lagu&lt;br /&gt;rangkai soneta&lt;br /&gt;tembus kabut kata&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bersahabat&lt;br /&gt;Bermain aliran awan&lt;br /&gt;bersimbah semai rinai tetesan&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ber-sa-ma&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sby, 231108&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Jangan Kau Hadir&lt;/strong&gt;  &lt;em&gt;&lt;font size="2"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;font size="2"&gt;By. Benz&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;:gita p.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;jangan kau hadir pada rambut mengering&lt;br /&gt;di genang cat kental menggambar nyala unggun&lt;br /&gt;kobar api berdansa mengigau-igaukan&lt;br /&gt;semua kata, tersekap di diam dada&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ke tepi kolam tak bertuan&lt;br /&gt;ke ujung pohon tak berpucuk&lt;br /&gt;mana rindang yang dulu pernah kau temukan?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;jangan kau hadir pada kisut kulit kaki&lt;br /&gt;di semak usia menunggu tanah paling gembur&lt;br /&gt;ranting umur menari-nari di semua lagu&lt;br /&gt;yang tak pernah selesai kau lantun&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;jangan kau hadir&lt;br /&gt;jangan kau&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;hadir&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;..&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;(2008)&lt;/p&gt;&lt;div class="content"&gt;         &lt;p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Undangan Pernikahan  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;&lt;font size="2"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;By. Prince Adi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;: gheta&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;aku tidak menerima undangan pernikahanmu&lt;br /&gt;yang sudah kaujanjikan hanya akan ada&lt;br /&gt;aku dan kamu&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;...&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hei, apa kau tak ingat sebuah kecup&lt;br /&gt;yang pernah kuhadiahkan tepat di dahimu&lt;br /&gt;saat malam tepat ingin memeluk kita yang tengah&lt;br /&gt;menggigil dan mengejang&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ingat, saat kusingkap rokmu diam-diam di tiap malam&lt;br /&gt;dan kupermainkan lidahku - memancing birahimu&lt;br /&gt;yang pernah kau bilang mati?&lt;br /&gt;seolah mayat-mayat yang belum jua dikremasi?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Maka janin lah hasil semua itu, yang&lt;br /&gt;kaugugurkan dengan meminum air raksa sebelum&lt;br /&gt;kau berdiri di kursi tua, mengikat lehermu dengan&lt;br /&gt;tali rafia&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Maka hari ini, di hari yang kau damba-damba&lt;br /&gt;aku datang membawa gitar tua memainkan nada-nada minor&lt;br /&gt;dari senar yang sudah ingin tertawa&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;(nanti saya rekamin lagu baru saya...silent move)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-weight: bold;"&gt;HARI PENGHABISAN (KIAMAT)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;font style="font-style: italic;" size="2"&gt;By. bunghatta_crb&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kala bumi pandangi langit&lt;br /&gt;harapkupun semakin tipis&lt;br /&gt;semakin aku kagumi rindu&lt;br /&gt;batasanpun makin menjauh.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Saat mentari cintai bulan&lt;br /&gt;sinaran pun makin tenggelam&lt;br /&gt;tapi cahyaku memantul dalam temaram&lt;br /&gt;menjadikan bulan makin menawan&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ku nantikan dimana bumi bertemu langit&lt;br /&gt;Ku rindukan saat mentari bertemu bulan&lt;br /&gt;dan ku ingin melihat lagi seraut wajah&lt;br /&gt;lusa kita 'kan berpadu dihari penghabisan&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-6956313266518099159?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/6956313266518099159/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=6956313266518099159&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/6956313266518099159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/6956313266518099159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2008/11/25-tahun-bertabur-puisi.html' title='25 Tahun Bertabur Puisi'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-4302794671749951001</id><published>2008-11-05T16:18:00.001+07:00</published><updated>2009-04-09T17:49:08.531+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berbagi Kisah'/><title type='text'>Cerita Lengang, ESOK didatangi Epri Tsaqib</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;a href="http://pulangpergi.multiply.com/photos/hi-res/upload/SRGrygoKCDgAAE0Aek81"&gt;&lt;img class="alignmiddleb" src="http://images.pulangpergi.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SRGrygoKCDgAAE0Aek81/P1090125.JPG?et=6qgEy7TM%2BJSNtWPdapAd9A&amp;nmid=0" border="0"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Kami girang sekali akhirnya si Ruang Lengang berkunjung ke Surabaya, mengurangi sedikit bising kota dengan kata kata puitis. Setelah beberapa kali pembicaraan lewat YM. Akhirnya saya dan teman-teman ESOK sepakat untuk membantu launching dan diskusi buku Epri Tsaqib di Surabaya. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Epri Tsaqib datang hari jum'at pagi dijemput dari stasiun gubeng oleh paklik sonydebono. lalu diantarkan kekontrakan Yasmin binti Mumun untuk mengaso dan menunggu waktu acara bincang dan makan siang bersama di MagnetZone. Saya yang kebetulan sejak semalam (kamis) tidak pulang karena setelah latihan dan rapat kecil ada pesta kejutan untuk si pemilik kontrakan yang berulang tahun. Walhasil tak mungkin pulang karena sudah terlalu larut. hari pertama epri Tsaqib di Surabaya disibukkan dengan acara makan siang. tapi setelah acara Epri Tsaqib harus langsung loncat ke malang. karena jadwal lanching dimalang berubah menjadi hari sabtu pagi. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Sabtu siang pak panji, pembahas buku datang dari madiun dan lagi-lagi sayalah bagian penjemput di terminal bungurasih. Surabaya pada saat itu sedang panas-panasnya isu pergerakan matahari semu menambah gerah suasana kota yang memang sudah panas. setelah menjemput pak panji. saya bawa dia kerumah dulu untuk beristirahat sejenak di rumah sudah ada nisa, lalu melanjutkan perjalanan yang bakal sangat panjang dan melelahkan (ini berlebihan sih!) setelah minum segelas air kitapun (saya dan pak Panji) berangkat menuju kontrakan, basecamp kedua di tengah kota. Sedangkan Nisa langsung menuju tempat acara untuk persiapan. Di gedung sudah ada wakgun, iwan, dkk. Sesampai di kontrakan Epri Tsaqib ternyata belum sampai di surabaya. lalu beberapa jam kemudian saya menjemputnya di stasiun gubeng. nah akhirnya saya bisa ngaso sebentar sambil menunggu maghrib lalu kami semua berangkat ke gedung ex-mpu tantular. karena acara diundangan jam setengah tujuh malam. Taktik supaya undangan datang lebih awal, Surabaya gitu lho..! &lt;br&gt;&lt;br&gt;Acara Launching dan Diskusi buku kami buat minimalis saja, sesuai dengan nama komunitas kami Emperan Sastra Cok, maka kami memilih konsep Ngemper alias Lesehan. Dengan konsep sederhana ini kami ingin menghilangkan kesan sastra itu eksklusif. Siapapun Bisa Nyastra, Siapapun Bisa Membaca, Siapapun Bisa Berpuisi. Para pembicara yang ada tidak ingin kami beda-bedakan dengan para audience supaya acara diskusi bisa lebih santai. Yah.. walau di ruangan itu panas karena tidak ada AC dan hanya ada kipas angin satu buah. Tapi kami berharap acara bisa terus berjalan dengan lancar. Maklum gedung fasilitas dari Dewan Kesenian Jatim ini bekas Museum yang konsep ruangannya sebenarnya ber-AC jadi ventilasinya tidak ada. Kamipun berterima kasih karena telah diberi ijin untuk menggunakan gedung itu. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Acara launchingpun mengalir lancar dibuka dengan persembahan lagu dari Mas Iwan kawan dari PAPER (Paguyuban Penghibur Rakyat Pucang), lalu pembuka oleh MC yasmin, performance dari teman-teman ESOK (Nisa, DeeDee, Iwan, Wakgun, dan saya sendiri). setelah itu diskusipun berjalan kurang lebih 2 jam lamanya. dimoderatori Sonydebono dan pembahas Pak Panji dari madiun dan Bincang camu Epri Tsaqib. Lalu ditutup dengan spontanitas dari para tamu.  &lt;br&gt;&lt;br&gt;Setiap kali ESOK mengadakan acara bedah/launching, kami berusaha mungkin menampilkan sesuatu. Karena Esok bukan Komunitas Penulis Profesional, kami adalah kelompok manusia-manusia aneh yang ingin terus belajar, berkarya, mengapresiasi Sastra. Kedatangan beberapa penulis merupakan angin segar buat kami yang ingin belajar, baik dari segi pengkaryaan dan konsep buku dari mulai proses pembuatan sampai penjualan. Dan Epri Tsaqib memompa semangat kami untuk terus berkarya. Dua buah lagu yang kami arransemen (Gerimis dan Di Ruangan Itu) belumlah cukup untuk rasa terima kasih kami terhadapnya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Memang kami hanya bisa menyuguhi pembicara, tamu undangan dengan sebuah pementasan musikalisasi minimalis, tapi semoga bisa menghibur. Walau pada acara ini persiapan kami tidak punya banyak waktu karena masih terkena imbas libur Lebaran kami tetap semangat. Saya dan kawan-kawanpun pada masa persiapan sempat kewalahan. Karena Epri Tsaqip tidak hentinya mengingatkan soal publikasi dll. Epri Tsaqib sendiri meminta saya untuk bekerja sama dengan komunitas lain, tapi entah setelah saya mengkonfirmasi justru tidak ada tanggapan. Jadi kamipun memutuskan menjalankan misi ini sendiri saja, untunglah ada sponsor MagnetZone yang memberikan sumbangan doorprize. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Saya sebenarnya sudah menyelesaikan laporan kegiatan ini sejak dulu. Tapi masih belum selesai, sekarang saya habiskan saja tulisan ini. Apa adanya...! Bagi saya proses persiapan launching kali ini terasa lengang, mulai dari persiapan awal, greget semangat dari kawan-kawan sendiri. Akh.. seperti judul buku ini saja. Entah karena masih suasana lebaran, terhanyut Buku Ruang Lengang atau memang keriuhan Esok sedang menurun. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Keterbatasan kami yang sedang belajar dan semangat yang kami miliki ini semoga tidak menjadi sesuatu yang sia-sia. Terima Kasih&lt;br&gt;&lt;br&gt;Salam&lt;br&gt;Gita Penjaga Gawang ESOK&lt;br&gt;&lt;br&gt;Okt-Nov 2008   &lt;/div&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-4302794671749951001?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/4302794671749951001/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=4302794671749951001&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/4302794671749951001'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/4302794671749951001'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2008/11/cerita-lengang-esok-didatangi-epri.html' title='Cerita Lengang, ESOK didatangi Epri Tsaqib'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-2068822221541282484</id><published>2008-09-23T22:24:00.005+07:00</published><updated>2008-09-23T22:53:53.442+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Catatan Perempuan Tolol</title><content type='html'>Aku semakin terpuruk menjabarkan sesal yang tak berkesudahan. Mungkin aku drupadi perempuan perkasa itu, tapi luluhku shinta bersetia hati hingga rela terbakar api pemujaan. Dan kau siapa? rhama, arjuna atau justru rahwana, mengejarku hingga ujung langit mimpi. Menyiksa dengan rasa bersalah yang panjang dan tak membiarkanku menapak langit yang lain. Hilir mudik mengintip jendela dan pintu rumah, apakah kau akan datang hari ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati menjadi beku memuja satu nama, semakin retak pada gelisah. Inikah akhir atau justru awal. pertanyaan menjadi dzikir kata-kata di setiap malam. Hingga do'a lain terlampir hanya sebuah halaman tanpa angka. Lantas untuk apa aku di sini menengadah selalu meminta sehat sejahtera untukmu. Kebahagian yang paling mungkin kau dapat. Meninggalkanmu menjadi sesuatu yang diinginkan tapi juga ditabukan. Lantas kau hanya mencibir "aku lahir, kecil, dewasa, tua kemudian mati. Andai ini tidak terjadi mungkin aku akan bahagia" begitu menyiksakah pengakuanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hampir shubuh hanya tangis menggugu, menyiksa diri dengan berpetualang ke segala penjuru. Padahal kaki semakin uzur, tulang kering beku, dan hati koyak seperti serpih serbuk-serbuk kayu. Kau justru berharap mati atau tidak dilahirkan. Sesungguhnya siapa aku bagimu? mimpi burukkah? Dan semua kesia-siaanku menggunung padamu, kau hanya berputar-putar di dasarnya berucap maaf setengah ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang palsu atau kau yang terlalu takut pada kelaki-lakianmu. Jual dengan harga tinggi kelaki-lakianmu pada perempuan-perempuan tolol yang hampir kehabisan nafas. Mereka memuja manusia yang senantiasa datang dan pergi. Kau menganggapku sebuah rumah nyaman karena setiap kau singgah aku akan memperlakukanmu bak raja. Tapi kau tak pernah berkata "ini rumahku aku pasti pulang". Bagaimana bisa menolak kedatanganmu? jika aku ingin kau tak pergi. Sungguhkah luka ini karenamu atau aku yang mengiris ngiris hati sendiri untuk persembahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku Linglung, Dasar Tolol...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-2068822221541282484?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/2068822221541282484/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=2068822221541282484&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/2068822221541282484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/2068822221541282484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2008/09/diary-perempuan-tolol.html' title='Catatan Perempuan Tolol'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-4018216489618081631</id><published>2008-08-26T18:24:00.004+07:00</published><updated>2009-04-19T05:02:13.230+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Serpih -Serpih</title><content type='html'>Aku sudah di sini menunggumu hingga separuh umur. Dan kau masih saja diam bahkan beranjakpun tidak. Entah apa yang akan kau katakan nanti jika aku semakin sendiri dan sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berdiri menantang petir, kau pernah ucapkan sebagai sumpah "Aku akan tiba setelah petir" tapi apa? Setelah petir hanya ada hujan yang merintih tanpa kau. Semakin sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertapaan ini panjang, sepanjang sungai yang berujung laut. Semakin luas bukan? dan kau masih diam tak beranjak mengurungku pada tanya yang tak juga terjawab. Aku menunggumu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu, dari kedip matamu hanya tanda yang tak juga terjawab dari tahun ke tahun. Isyaratmu hanya "datanglah lagi besok" tanpa suara. Aku membahasakannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan selalu datang dalam gelap. Tapi aku memaksa datang ketika terang. Kau menolak aku? Kau diam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-4018216489618081631?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/4018216489618081631/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=4018216489618081631&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/4018216489618081631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/4018216489618081631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2008/08/serpih-serpih.html' title='Serpih -Serpih'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-2475580757294636584</id><published>2008-08-20T20:11:00.000+07:00</published><updated>2008-08-21T00:14:21.779+07:00</updated><title type='text'>Diskusi Esok : Surabaya Membaca 50% Merdeka</title><content type='html'>Puisi bagi Heri Latief adalah alat anti penindasan, di dalam dunia sastra internet selalu ada karya yang memuat isu-isu sosial. Pembaca sastra tidak melulu orang-orang yang ahli terhadap sastra, tetapi juga orang yang mengalami penindasan sosial. Untuk itu puisi seharusnya memuat hal-hal yang mampu mewakili suara hati orang lain (rakyat) bukan melulu suara hati sendiri (ego). Dengan demikian puisi akan dapat menjdai milik umum dan bisa berkeliaran bebas menentukan sasaran. Karya Heri Latief tidak sekedar puisi dengan rangkaian kata-kata indah yang menjual mimpi. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Puisi sebanyak 50 dalam buku 50% merdeka milik Heri Latief justru menyadarkan kita akan lingkungan sosial yang sedang terjadi. Walaupun ia berdomisili di negeri belanda, ia tak pernah berhenti mengamati gejala sosial yang terjadi di indonesia. Ia menulis berdasarkan informasi yang ia dengar dari media massa, internet, bahkan kawan-kawannya yang berada di Indonesia. Dalam karyanya Ia mencoba menyentuh hati nurani pembaca untuk kembali menjadi manusia sosial yang sesungguhnya. Sebagai orang yang sangat peduli nasib bangsanya, maka ia menyuarakannya lewat puisi dan meneriakkannya di mimbar-mimbar diskusi sastra semacam ini.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Menurut Winarti pembicara dalam diskusi di Balai Pemuda Galeri Surabaya (25/07/08), puisi Heri Latief dalam antologi puisi ”50% Merdeka” dirangkai dengan bahasa yang sederhana dan apa adanya tetapi justru di situlah letak kekuatannya Tidak ada yang ditutupi dengan metafora yang biasa dipakai para penyair kebanyakan. 50% merdeka berisi pesan-pesan kemanusiaan. Kemerdekaan yang sesungguhnya masih berada di interval 50 dari keseluruhan nilai sempurna 100 persen. Masih banyak penindasan, masih banyak kemelaratan yang sangat tergambar jelas dari wajah rakyat indonesia. Winarti sendiri membaca Heri Latief sebagai sosok pribadi yang tidak mau menyerah walaupun usianya sudah setengah abad (50 tahun). Sifat pantang menyerah itulah yang membuat Heri Latief terus berkarya. Dalam sebuah obrolan ringan dengan saya ia berkata jangan sampai pikiran kita ditunggangi oleh pikiran-pikiran orang lain. Maka jelaslah bagi saya, Ia memang berkarya untuk menyuarakan hasil pikirannya sendiri yang ia tangkap dari lingkungan sekitar. Ia benar-benar berusaha melepas diri dari dominasi apapun.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Giryadi sebagai salah satu pembicara pada diskusi, ia berbicara sebagai seorang wartawan yang juga seorang seniman. Ia berkata, isi dalam puisi-puisi Heri Latief sering ia temukan di media massa. Di dalam media massa penindasan sosial disajikan terlalu manis hingga tidak dapat diejawantahkan secara gamblang. Hanya sekedar mengelus hati pembaca, sedangkan di dalam puisi rangkaian kata-katanya mampu menyentil. Belakangan ini, seiring berkembangnya kebebasan dunia informasi, justru media massa memilih-milih berita. Bahkan sering kali redaksi menyortir berita ketika politik uang sudah berkuasa. Berita yang dimuat terkadang dimunculkan untuk menutupi isu-isu yang merugikan beberapa pihak. Menurut giryadi, media massa seharusnya juga bertanggung jawab pada penindasan sosial yang dialami masyarakat. Penyampaian informasi yang setengah-setengah juga membuat masyarakat bingung akan hasil akhir suatu kasus. Contohnya saja soal lapindo, pada awal terjadinya kasus tersebut berita itu seakan menjadi PR semua pihak, tapi sekarang kasus itu seakan hanya menjadi obrolan santai sebagian orang. Padahal dalam kenyataannya kasus itu belum tuntas benar. Lantas di mana media massa berdiri? Pada siapa mereka berpihak?. &lt;br&gt;&lt;br&gt;W. Hariyanto yang pada malam itu juga hadir, di sesi tanya jawab ia justru tidak menitik beratkan pada isu-isu sosial. Melainkan pada pergerakan sastra nusantara, dominasi TUK yang ingin dirubah oleh penulis-penulis lainnya. Sastrawan seharusnya punya jiwa militansi untuk keluar dari mainstrem TUK. Ia dengan tegas berkata bahwa sastrawan surabaya, jatim dalam lingkup yang lebih luas menolak dominasi sastra koran. Hal ini juga disinggung oleh Giryadi, ia beranggapan pencetus sastra koran ketakutan dengan kemajuan sastra cyber. Kecepatan penyampaian karya, entah itu cerpen. Puisi, esai, menuju pembaca ternyata sangat cepat di dunia cyber. Dan ini yang membuat sastra koran sedikit tertinggal. Di dunia cyber, diskusi akan cepat begulir, beragam tanggapan dari pembaca dapat langsung berkembang tanpa harus menunggu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan. Hal inilah yang membuat isu sastra bergerak sangat cepat. Menurut Giryadi tidak seharusnya sastra dikotak-kotakkan semisal, sastra koran, sastra cyber, sastra jawa, sastra buruh, dll. Sastra adalah sastra, apapun bentuknya tidak seharusnya ada pengucilan aliran. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Selain membahas pergerakan sastra, W Hariyanto juga menambahkan Saiful Hajar, seniman yang juga bergelut dibidang seni lukis, sastra, teater, pernah memulai pergerakan sastra penyadaran jauh sebelum masa orde baru jatuh. Nafas puisi-puisinya untuk menyadarkan pembaca akan kesadaran sosial dengan gaya puisi kocak yang menyentil pembaca. Semacam Sajak mbeling Remi Sylado, tapi saya belum berani menyamakan keduanya. Walau kemungkinan bentuknya sama dan juga sudah ada sejak jaman orde baru. Saiful Hajar sendiri yang juga hadir pada diskusi itu menambahkan, indonesia memang belum benar-benar merdeka. Karna jika dahulu penjajah bangsa adalah bangsa luar, justru sekarang yang menjajah adalah rakyatnya sendiri. Rakyat yang sudah diperbudak oleh materi dan kekuasaan melalui investor-investor asing. Itu berarti kondisi dulu dan sekarang sama saja. Bahkan lebih parah karna kita tidak merasa dijajah secara langsung sehingga perlawanannya tidak lagi segencar dulu. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Salah satu peserta diskusi Didik dari FMN (Forum Mahasiswa Nasional) mengatakan, berjuang melalui karya tulis juga dilakukan oleh wiji thukul aktivis yang hilang di masa orde baru. Wiji thukul merupakan tokoh yang tidak hanya mereka-reka kondisi negaranya, tapi ia juga berbuat untuk melawan penindasan selama masa orba. Didik mempertanyakan sedekat apa heri latief dengan karya dan masyarakat sosial yang menjadi tema besar di buku antologi puisi ”50% Merdeka” ini.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Diskusi malam itu berlangsung tak terlampau panjang, dikarenakan waktu yang terbatas.  Dihadiri oleh aktivis buruh, bonari nabonenar, adib, anggoro dll. selain itu teman-teman dari apresiasi sastra Fahmi Faqih, Sonydebono menyempatkan hadir. juga teman-teman komunitas sastra di surabaya Lab sastra dan Gapus, semisal Mashuri, Dody Tobong ,Puput  dan masih banyak nama-nama yang belum saya sebut di sini. Tapi diskusi belum cair karena belum semua menyampaikan uneg-unegnya tentang kondisi negara seperti dalam buku puisi 50% Merdeka ini. Seusai diskusi para undangan membacakan sajaknya  Saiful Hajar , dody yanmasfa menyumbangkan karya untuk diibacakan pada malam itu. Di penghujung acara ditutup oleh performance kawan-kawan ESOK dan PAPER komunitas pengamen jalanan (Iwan Pucang) dengan membawakan lagu balada yang berjudul MENOR *bahasa jawa yang artinya berlebihan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Maka pertanyaan besar tetaplah menjadi teka teki bagi saya, benarkah 50% merdeka bisa berubah menjadi 100% merdeka? Entahlah. Semoga antologi karya heri latief mampu mengembalikan kesadaran kita sebagai makhluk sosial. Dan mampu menangkap gejala perubahan sosial utnuk dijadikan cermin dalam diri untuk berbuat lebih pada bangsa dan negara. MERDEKA....!!! (Surabaya, agustus ’08)&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;   &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-2475580757294636584?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/2475580757294636584/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=2475580757294636584&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/2475580757294636584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/2475580757294636584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2008/08/diskusi-esok-surabaya-membaca-50.html' title='Diskusi Esok : Surabaya Membaca 50% Merdeka'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-5624938902820909289</id><published>2008-08-19T19:55:00.000+07:00</published><updated>2008-08-19T19:56:41.280+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan perjalanan'/><title type='text'>Bertemu Pendekar Mabuk (Hudan Hidayat)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa hari yang lalu aku mengunjungi sebuah kota yang penuh tai tikus, anjing liar dan kucing garong herannya banyak juga yang memuja kota itu. Aku termasuk gak ya? hehehe... Katanya sih itu kota Jakarta. Seperti biasa, setiap ke jakarta aku lebih suka nongkrong di TIM. Mau siang, sore, malem enakkan di sana, daripada harus ngluyur di mall, wisata Mall. Lah di Surabaya aja mall sudah berjajar seperti ruko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam, hari kedua aku datang lagi ke TIM. Rencananya ada janji dengan leklul, bunda inez dan kinu. Tapi setibanya di TIM ternyata tak ada leklul atau bunda inez, hanya ada kinu dan beberapa gerombol orang di warung depan TIM. Di sanalah aku bertemu seorang pendekar,  yang belum lama kukenal. Kujuluki dia pendekar mabuk, Hudan Hidayat (atau mungkin memang julukannya ya?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesan pertama melihatnya, aku tidak tahu kalau pendekar itu adalah Om hudan yang esainya mudah kumengerti, penjabarannya ringan dan tidak terlampau rumit. Jadi kuabaikan saja dia dan kuanggap hanya pemabuk tua yang tidak punya tempat ber haha hihi di rumah atau tempat kerjanya. Pemabuk tua itu memakai setelan kemeja kusut dan celana hitam, juga sebuah kacamata yang menghiasi wajahnya yang lusuh. Lantas aku dikenalkan Kinu pada si pendekar yang ternyata Hudan Hidayat, itupun sambil lalu. Antara percaya atau tidak kalau pemabuk itu adalah hudan hidayat aku diam saja sambil terus mengamati gerak geriknya. Di kedua sakunya aku melihat dua kotak rokok. Lantas aku bertanya "Ough om juga penjual rokok kliling". Dan iapun menjawab  "ini obat, obat mabuk juga ke..ke..ke.. ." terkekeh sambil kepalanya geleng-geleng. Tolol juga ya aku, orang mabuk kok diajak becanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa persen kesadaran yang tersisa di kepalanya. Rupanya pendekar itu mengenaliku kemudian memanggil namaku. Gita, barulah diriku yakin inilah om Hudan yang suka SMS gak jelas. hehehehe.. *maap om. Ia berlarian seperti bocah kecil membawa tubuh yang sepertinya teramat berat, berpindah-pindah dari bangku kayu ke gerobak rokok, dari gerobak rokok ke rumput belakang. Begitu seterusnya, tidak bisa diam sambil meracau gak jelas. Aku juga tidak seberapa ingat apa yang dia racaukan. *hemm ada sih yang aku ingat. Pendekar itu bercerita  tentang kegelisahannya, aku mendengarkan racauan tentang kesepiannya, tentang sakit hatinya, tentang dia yang disingkiran, tentang kekosongan. Apakah itu benar aku tidak tahu, anggap sajalah benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama aku mendengarkan dia bercerita lantas aku menanggapinya. Tapi akhinya aku sadar sedang berbicara pada lelaki yang sedang mengigau. Aku minta dia tidur saja, istirahat. Akhirnya Pendekar itu tertidur di rumput penuh sampah dan pecahan kaca. Kinu yang sedari tadi mengutak atik "teman kerja" om hudan masih berwajah datar dan sabar karna hampir beberapa jam masih saja belom sukses di operasi. Sedangkan lelakiku, aku biarkan saja sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kinu sibuk sekali membedah "teman kerja" Om hudan yang katanya kena virus lalu merusak system. gak tau deh apa kamsudnya. Pendekar mabuk itu gelisah sekali, sebentar-sebentar colek-colek kinu. *idihh pendekarnya genit. Ia berkali-kali bertanya dan mencoba memastikan bisa atau tidak "teman kerja"nya diperbaiki tanpa harus kehilangan ingatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat keadaan pendekar mabuk yang terkapar di belakangku. Sesekali tikus datang hendak menggigiti tubuh yang sudah seperti mayat hidup. Atau seekor kucing yang menjilati tubuhnya yang mungkin berbau nasi basi. Aduh.. jadi iba aku padanya. benarkah ia sedang kesepian dan harus mabuk seperti itu. Atau apakah semua pemabuk bernasib sama sepertinya? jadi santapan hewan liar. Akh untunglah ia tidak dikencingi anjing liar. Malam sudah di ujung, setelah ini hari akan beranjak menuju dini hari. Aku, lelakiku dan kinu harus segera pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata orang disekitar situ memang begitulah dia. Hampir setiap hari mabuk.. lalu mabuk.. kemudian tepar, bahkan sudah beberapa kali telepon genggamnya hilang karna tertidur di jalanan. Ugh pantas saja beberapa sms terakhirku tak juga sampai. Rupanya Ia baru saja kehilangan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekar mabuk masih terlelap bahkan tak sedikitpun posisi tubuhnya  berubah. Telentang, tidur beratapkan langit. Ternyata bukan hanya gembel saja yang harus tidur beratapkan langit. tapi seorang Hudan. Rupanya ia benar-benar mabuk. Akhirnya kita bertiga memutuskan untuk membangunkan pendekar "tepar" itu dan membopong tidur dalam mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akh sebenarnya aku tidak ingin menuliskan, dan memosting cerita ini. Tapi karena dia menganggap ini lucu dan ia memintaku untuk menuliskannya. Aku tulis sajalah...! Sekarang di mana lucunya?? Mungkin Om Hudan sedang menertawakan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*110808 pertemuanku dengannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-5624938902820909289?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://pulangpergi.multiply.com/journal/item/228' title='Bertemu Pendekar Mabuk (Hudan Hidayat)'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/5624938902820909289/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=5624938902820909289&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/5624938902820909289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/5624938902820909289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2008/08/bertemu-pendekar-mabuk-hudan-hidayat.html' title='Bertemu Pendekar Mabuk (Hudan Hidayat)'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-5125744055686192665</id><published>2008-08-08T05:11:00.006+07:00</published><updated>2009-04-19T05:04:24.457+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Surat Panjang, Kisah Semestinya</title><content type='html'>Malam nyalang, iba tiba-tiba mengemis risih di pundakmu yang terguncang beku. Sedangkan aku menunduk lesu. bertanya, kisahmu kapankah usai? Aku di sini, menyemaikan rindu yang tercabik digurat matamu. Yang menatapku kosong membayang wajah yang bukan aku. Ini bulan separo milikmu dan kenangan yang selalu kau simpan lalu kau rayakan sendiri .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan kisahmu selesai, nanti bolehkah kutulis lagi kisah seringai serigala. Perempuan malangku.. aku tertunduk, mencuri-curi kau,  mengagumimu yang bergumam pada isak yang dalam. Dan kau selalu larut, entah bersembunyi, dalam tawa yang gelar menderam dalam dadaku. Ini kusebut luka perempuanku pengikat janji untuk menjaga dan membangunkanmu pada mimpi. Perempuannku nanti kuajak kau berpesta di tengah padang tanpa sahara dengan danau yang sejuk dan aku bersiap menggelar tubuhku, untuk kau rebah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuanku apa yang kau tunggu. Sedangkan aku tak ingin matamu selalu nanar setiap kau mendongeng. Rokok yang makin dalam kau hisap, lalu kauhempaskan. sia-sia. Bukan dia.. bukan dia..! Tak mungkin dia berarti. Kau lebih berharga dari apapun, lelaki itu hanya sobekan kertas koran dengan huruf yang terpotong-potong. Sedangkan aku adalah surat panjang yang tertulis setiap malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sby, 8 Agustus 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-5125744055686192665?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/5125744055686192665/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=5125744055686192665&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/5125744055686192665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/5125744055686192665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2008/08/beginilah-kisahnya.html' title='Surat Panjang, Kisah Semestinya'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-8850048267691605810</id><published>2008-06-24T12:16:00.002+07:00</published><updated>2009-04-19T04:52:42.484+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Mengulang (lagi) Episode Panjang</title><content type='html'>Kali ini...&lt;br&gt;Aku mau sesuatu yang terang. Tak lagi bersembunyi pada kata. Atau senyum berjuta makna. Kisah ini hampir tak pernah menyerah, tak juga menuju titik, selalu menyisakan koma. Dengan jeda yang teramat panjang. Lelah, tapi sementara.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Cukup? tak ada.. kata cukup tak pernah sampai. Sekarang kupilih libur puisi untukmu. Memilah antara kau dan aku di kepala. Sebuah rasa yang selalu tertimbun hingga menganak dan berakar di dalam hati.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Malam hampir terjaga, kau.. kau.. dan bulan separomu. Seperti gasing, ia berputar-putar menarikku perlahan pada lingkaran semakin dalam. akh.. begitukah luka? Tak terasa namun di akhir pecahlah butir-butir airmata.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Jika waktu selalu berjalan mundur, akan kupaksa ia berjalan maju. Agar aku lupa angka dan tak pandai lagi berhitung tentangmu.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Pada lembar kertas berwarna ungu, dan tinta perak. Biasa, tepiannya kubuat bergerigi. Kecil saja, membentuk kartu ucapan lipat dua. "Selamat", untukku sendiri. Selamat apa? selamat mengulang? ya.. mungkin.&lt;br&gt;&lt;br&gt;"Berapa kali datang dan berapa kali pergi, lagi.. dan lagi.."&lt;br&gt;&lt;br&gt;Andai.. andai.. andai apa?? perandaian telah habis diuntai. Kertas berisi makian, cacian dan seluruh dendam, berserak di atas meja dan kolong tempat tidur. Di pojok kanan bawah kutulis dengan huruf latin kecil "diam". Diam.. diam.. diam... setiap ruang gelap dipenuhi tentangmu. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Bukankah ini kesekian kalinya diceritakan, ditulis ulang. Tidak pernah usang masa, perhentian, atau selesai. Begitulah kita. Aku dan Kamu&lt;br&gt;&lt;br&gt;"Sudah khan kangennya?" tanyamu, seusai kita menghitung jarak malam dan pagi&lt;br&gt;Untukmu, brapapun hitungan waktu tidak akan pernah cukup. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Sby, 23Juni2008&lt;br&gt;akh.. tulisan ini? nikmati sajalah...patah-patah&lt;br&gt;"Seusai Penutupan SFM dengan musik Jazz" &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-8850048267691605810?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/8850048267691605810/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=8850048267691605810&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/8850048267691605810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/8850048267691605810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2008/06/mengulang-lagi-episode-panjang.html' title='Mengulang (lagi) Episode Panjang'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-1999832368268932012</id><published>2008-06-07T17:26:00.005+07:00</published><updated>2008-06-08T01:31:16.160+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Di Sebuah Pantai</title><content type='html'>Jemarimu bermain, melukai pasir pantai. Kakimu jenjang mulus, tanpa bulu. Bolehkah aku bersujud di situ. menghitung pasir bersamamu.  Udara memanas sedangkan kau tetap tenang dengan berbalut kain kaca putih. molek....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bolehkan aku rebah di sana, melandaikan penat sementara. Aku dahaga angin pantai sibuk membelaiku. Rambutku basah ombak laut. Mataku silau pendar camar kemilau. Dan kau memukauku. Cantik..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Payung mungilmu berwarna-warni tak cukup mampu menutupi seluruh tubuhmu. Yah.. kau tau. Tapi diam saja. Bolehkah aku menumpang teduh sejenak bersamamu. Tubuhku ingin hangat, berdekapan denganmu. Bermanja  mungkin. Boleh ya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupesan segelas es kelapa muda, lantas dengan santai ku rebah di atasmu. Tubuhmu dingin dan beku, mengeras tapi tak ada penolakkan.  Kucoba mencari  posisi paling nyaman. Telungkup menciumimu, harum...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kureguk wangi ombak segara di atasmu, hingga ku tertidur pulas. Dan penatku perlahan hilang. Akh kursi pantai ini begitu nyaman. Terbuat dari kayu mindi merah kecoklatan. "Boleh kubawa satu?" pintaku pada pemilik cafe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 7 Juni 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-1999832368268932012?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/1999832368268932012/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=1999832368268932012&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/1999832368268932012'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/1999832368268932012'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2008/06/perempuan-pantai.html' title='Di Sebuah Pantai'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-2870908596262249982</id><published>2008-04-10T23:33:00.001+07:00</published><updated>2008-04-10T23:33:44.046+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Lalu-Lalu Masa</title><content type='html'>Aku menulis sendiri. Sepertinya ada yang perih, seperti teriris. Ini luka atau hanya merah memar. Entahlah nganganya tak juga terlihat tapi bertahun-tahun kubawa. Hingga lelap berbunga mimpi yang baunya busuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan tentangmu atau tentang kita. Tapi sebuah kenangan yang sudah lalu. Begitu saja menyelinap, seperti pencuri yang kehilangan jati diri. Mau mencuri atau sekedar mengintai. Atau seperti liur yang tiba tiba jatuh ketika mulutmu nganga di depanku. Seakan hendak memangsaku yang biasanya hanya diam. Diam lalu merangsek maju menggulaimu dengan wejangan cinta yang sesungguhnya palsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih bergulat antara menuju sepi atau menanggalkannya. Aku butuh menjadi senyap ataupun gelap. Agar menemuimu yang semakin tak puitis di mataku adalah sah dan bukan hal tabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10April2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-2870908596262249982?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/2870908596262249982/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=2870908596262249982&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/2870908596262249982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/2870908596262249982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2008/04/lalu-lalu-masa.html' title='Lalu-Lalu Masa'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-6320371331845106156</id><published>2008-03-16T18:53:00.019+07:00</published><updated>2008-03-19T15:51:22.900+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Oh.. Maaf saja</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Maaf ini sekedar perkenalan,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;br /&gt;Ya saya dianggap anak muda yang tak bisa mengucap atau menjabarkan sesuatu dengan kata atau kalimat serius yang anda mau. Saya memang tak lagi bisa dibilang muda tapi tetap saja berucap tajam dan membuka lebar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;moncong&lt;/span&gt;, untuk sesekali menampakkan jajaran gigi kusam. Sambil sesekali bahak menggema di ujung jalan atau pun di selokan tertutup.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;br /&gt;Jadi maaf, jika saya salah ucap dan membiarkan opini opini berlarian. Silahkan saja umpat semaunya karena memang saya tak pandai merangkai kata dengan kalimat kalimat fantastis dan istilah istilah yang lebih ilmiah. Saya cuma paham loyalitas dan pikiran logis. Tak perlu banyak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cingcau&lt;/span&gt; dengan saya, cukup tertawa bersama saja maka saya akan menggambarkan anda dengan kesinisan dan pemahaman yang tak mungkin anda duga. Di kepala saya memang banyak jejak jejak binatang ataupun jalang yang mengukir lapisan jalan jalan protokol. Jadi anda bebas saja melindas karna saya memang orang pinggir yang tak ingin tersingkir dengan ilmu &lt;i&gt;melip&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;ndaki'&lt;/i&gt;. Cukup saja saya dengan &lt;i&gt;bacot&lt;/i&gt; yang begini, menganga di pinggiran jalan menguraikan serapahan yang terkadang saya sendiri tidak pernah sadar kapan saya akan menelan kembali ludah yang telah saya &lt;i&gt;cuih&lt;/i&gt;kan di pundak-pundak berjas hitam.&lt;/span&gt;&lt;code&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/code&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="postLengkap"&gt;Terserahlah.. orang mau bilang saya kecil, bau, amburadul, dan tak layak berada di tengah jalan menyempriti kendaraan kendaraan &lt;i&gt;nganggur&lt;/i&gt; di jalan hanya karna saya bukan polantas. Terserah juga jika anda atau mereka balik meludahi saya karna dianggap asbak yang mengepulkan asap asap tebal dan menampung puntung puntung rokok. Akh.. terserah saja dikata saya tukang &lt;i&gt;comel&lt;/i&gt; yang meniupkan cerita miring seputar orang orang yang lalu di depan saya. Toh dosa saya yang tanggung. Memangnya anda mau membiarkan dosa saya beralih pada anda? Tentu jawabnya tidak mau. Jadi biar saja saya &lt;i&gt;nggedabrus &lt;/i&gt;apa saja. Diamkan saja, tapi kalau anda ingin berbuat baik, mari sini goyang berdansa &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; kampung bersama saya mendendangkan lagu jazz yang katanya musik eksekutip muda. Sebodo amat kalau dikata tidak cocok untuk telinga saya. Saya suka kok mendengarkan segala jenis musik biarpun tidak satupun jenis musik saya pahami. Asal kuping saya tidak meronta silahkan saja setel keras keras dengan sound system 2000 volt. Dada saya memang mudah berdentum, tapi juga mudah merasa getar getar yang teramat samar. Yah.. saya memang tak bisa dikatakan muda tapi tak bisa dikatakan tua karna kaki saya masih sanggup mengantar laku yang tak bisa diam sejenak di pelataran parkir, perempatan jalan atau halaman rumah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;br /&gt;Halaman? Apakah rumah saya berhalaman? Tidak, rumah saya sempit, hanya sepetak tak mungkin punya halaman. Halaman itu apa sih? Saya tak juga paham, setahu saya halaman hanya dimiliki rumah-rumah gedong yang banyak sekali tanaman mahal semacam tanaman emas. dirawat, dipupuk, disiram, diperlakukan layaknya manusia. Rumah saya di pojokan gang, bersebelahan dengan rumah tikus dan gubuk bekas pelacur tua. Tapi herannya mulut saya justru tidak bisa koar koar, di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; tak ada bahan yang membuat saya berteriak "malu.... malu....! Bau... Bau....!". Makanya saya sering tidak betah berlama-lama di rumah. Lebih baik saya jalan kaki menempuh setahun, dua tahun, bertahun tahun perjalanan akan saya lakoni. Jika ada yang mengingatkan "kau itu sudah tidak muda, apakah kau sudah menemukan konsep hidup?" lalu saya tersenyum menjawabpun saya tak bisa. Padahal itu pertanyaan mudah untuk dijawab antara Ya dan Tidak. Tapi sungguh saya tidak pernah tahu apakah saya telah bertemu dengan konsep hidup saya? Sedangkan saya masih suka berjalan tanpa alas kaki dan tidak betah berdiam di satu tempat. Meludah sembarangan dan tetap memukul kepala, dada, dan hati orang lain sesuka saya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang lebih aneh saya tak bisa mendiskripsikan diri saya apakah betina atau jantan. Kenapa saya memilih jantan atau betina? Bukankah istilah itu cocok untuk binatang. Tapi kenapa saya tidak boleh memanusiakan manusia dengan kata "Betina" dan "Jantan". Toh tingkah laku saya hampir mirip bahkan mungkin anda atau merekapun juga mirip dengan binatang. Maaf sekali lagi maaf memang saya begini, suka menyangkut pautkan apa saja yang tiba-tiba lintas di kepala. Mungkin syaraf syaraf otak saya sudah sedemikian rumit dan krodit. Bahkan saya sendiri susah menguraikannya. Untuk tertawa saja saya bingung apa yang sedang saya tertawakan. Keahlian saya memang cuma menangis, berteriak dan tertawa walau terkadang tak pernah mengerti knapa tiba tiba ada banjir di pipi saya. Karena cerita sinetron yang sedang saya tonton atau sedang menangisi sesuatu di dalam diri saya. Padahal sinetron jaman sekarang tak pernah layak tonton. Menjual kemewahan dan impian hanya bikin saya gigit jari. Begitupun tertawa, tak mudah saya menguraikan kenapa saya tertawa. Padahal orang orang di sekitar saya diam saja dan justru tertunduk mengiyakan. Memangnya acara ceramah kok manggut manggut saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;br /&gt;Ya.. saya memang aneh lantas kenapa kalian sibuk mencari cari saya.&lt;br /&gt;Lalu mengamati termasuk dalam spesies apa saya ini?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Hahahaha... ya sudah maaf saja kalau saya masih tertawa tanpa arah, berteriak tanpa pengucapan yang jelas, berjalan ngalor ngidul tanpa tujuan. Mau dikata apalagi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya bisa membahasakan Kata "Saya", "Anda", dan tidak ada lagi kata sopan yang diingat. Membagus-baguskan diri memangnya knapa? anda mau protes lagi. ya sudah &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; teriak sambil lari telanjang saja. "Saya Protess.. Saya Protess..!" Memangnya saya peduli, jika anda atau mereka berteriak seperti itu? bukankah saya hidup di lingkungan yang seperti itu, cuek bebek sambil berlalu dengan pantat &lt;i&gt;megal megol&lt;/i&gt;. Dan saya yang hanya anak muda, manusia kerdil, berotak idiot, pemamah makanan basi dijalanan, pengintai jemuran milik tetangga, pasti akan meniru tingkah laku kalian. Jadi jangan salahkan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke cukup sekian, &lt;i&gt;moncong&lt;/i&gt; saya mulai pegal. Nih lihat semakin memanjang dan melebar mulut saya. Seringainya saja hampir mirip serigala. Untung saja belum berbulu wah bisa bisa makin mirip saya nanti. tapi kenapa anda dan mereka sibuk mencukur bulu bulu. hahaha.. Ketauan.. rupanya kalian hampir berubah bentuk menyerupai serigala juga. Selamat ya!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;br /&gt;Sudahlah! Ternyata bercerita tentang pengemis jalanan dan bukan pengemis cinta-nya Jhonny Iskandar itu melelahkan ya? atau lebih baik saya menulis puisi saja.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-6320371331845106156?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/6320371331845106156/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=6320371331845106156&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/6320371331845106156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/6320371331845106156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2008/03/oh-maaf-saja.html' title='Oh.. Maaf saja'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-3625404082823538758</id><published>2008-03-08T11:36:00.002+07:00</published><updated>2008-03-19T15:48:21.836+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan perjalanan'/><title type='text'>Sepulang dari Jakarta</title><content type='html'>Sudah hampir seminggu ini aku berada dalam pangkuan ibu dan pelukan ayah di surabaya.  setelah semingu sebelumnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;minggat&lt;/span&gt; untuk menenangkan diri di jakarta. "Ibu.. anakmu pulang!!" saat tiba di rumah ibu sedang menyapu garasi, dan menatap aneh padaku. Yang ternyata tampak lebih gak keurus. Gimana keurus, makan cuman bisa 2 kali mentok ya 3 kali, maennya ke cafe dan mall. Lalu bertemu dengan kedua adikku yang langsung &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nodong&lt;/span&gt; oleh oleh. huwehehehehe... Tapi baru hari kedua di rumah aku bertemu ayah "Ayahku... akhirnya ketemu lagi" dan beliau langsung memberondongku dengan pertanyaan "Gimana skripsinya"?. huwehehehe... Aku asal menjawab saja dan ngeloyor pergi masuk kamar mencoba menghindar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah seminggu melepaskan resah dan penat di sebuah kota yang ternyata lebih riuh dari kotaku tercinta. Jakarta.. beberapa kali kunjung ke kota itu, kesanku tak pernah berubah terhadapnya. Kehidupan dengan alur yang teramat cepat dan padat. kepalaku pusing memandang setiap tikungan, wajah-wajah cantik dan tampan yang berpoles sentuhan salon, make up dan segala tipu tipu. Butuh seminggu mengembalikan kesadaran setelah mencicipi euforia orang-orang kota. Dan beraktivitas lagi menulis merangkul lagi kata kata, tertawa dengan kawan kawan dunia maya. Dalam sehari harus berpindah dari gedung-gedung tinggi yang penuh sesak kepala-kepala botak dan rias perempuan-perempuan menor. Belum lagi harus berdesak desakkan dalam angkutan kota yang miris melihatnya sampai miring ke kiri. Banyak jembatan penyebrangan, naik turun tangga, kluar masuk toko dan cafe. Ufh... sesuatu yang tidak pernah aku lakukan di kotaku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang khusus datang untuk menghadiri acara sastra bertemu dengan teman teman yang sering bercanda ketawa ketiwi lewat icon YM. berdiskusi dan mengeluarkan isi kepala baik yang serius ataupun sekedar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tombo ngantuk&lt;/span&gt;. Launching buku Dino F Umahuk "Metafora Birahi Laut" yang bertempat wapres bulungan. Namanya tidak begitu asing di telingaku. Yang memang biasa dipakai utnuk acara acara kesenian. Yah.. itupun aku tau dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tipi kelir&lt;/span&gt; di rumah (semua tempat di jakarta tidaklah asing mungkin, setiap sudut pasti sudah pernah mampir di layar televisi). Acara yang digelar sungguh meriah, pembukaan acara dari pementasan teater Bung Kelinci. dengan setting tempat yang sungguh tidak nyaman, gerak para pemain pun terbatas. jarak penonton yang terlalu dekat(sayang di make upnya padahal bagus banget). lalu pembacaan puisi yang penuh ombak laut milik Dino F Umahuk oleh jonathan rahardjo, jorgy, BS, epri, lia-edelweis-, dan juga si pemilik gawe Dino F Umahuk. belum lagi suguhan live musik yang asik dari volland dan yugi yakuza dkk. juga ada diskusi yang sepertinya memang di"wajib"kan ada disetiap peluncuran buku. diskusi oleh Kurnia Efendi. tapi aku tidak terlalu mendengarkan, bahkan lewat saja ditelinga. aku lebih asik bercanda dengan teman teman yang lain. hehehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan aku tak lagi secanggung dulu ketika pertama kali datang di acara launching buku Yohannes Sugianto. Jadi aku bebas aja teriak teriak.. ketawa keras keras.. huweheheh.. *kumat. Senang sekali bisa bertemu dengan kawan kawan lama dan seminggu di sana tak akan kusiasiakan untuk tak bertemu dengan teman milis apresiasi sastra, teman warung puisi, teman Kemudian.com dan yang paling menyenangkan aku bisa bertemu lagi dengan sobat dunia maya Veveandini -aldora novriana-. Juga teman berbagi cerita Lia -edelweis- bersama buah hatinya dede' alfi yang tak lain adalah istri dan anak dari pemilik hajatan dan juga bertemu teman bergosip milla, windry, om dedy, bunda inez, om yo, mbak dian ilenk, widee, ayas, bang cibo, rangga, yugi, bayu. Juga beberapa orang yang hanya tau namanya saja di dunia maya laennya. sperti om setyo, om Yonathan, &lt;a href="http://www.sahlulfuad.co.nr"&gt;Cak Lul&lt;/a&gt;, om BS, bung kelinci, om epri,  mbak olin, indah, banyak sekali ya namanamanya (semoga tidak ada yang terlewat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama tiba di Gambir selasa pagi. Aku dijemput veve, walaupun harus menunggu sekitar 2,5 jam. Kemudian diajak berputar putar jakarta dengan busway menuju rumah tinggalnya. Sepertinya tidak sengaja berputar-putar, karna si veve rupanya bukan kenek busway. Sore harinya setelah ngaso sebentar di rumah veve yang dari aku datang sampai aku pergi lagu betawi diputar, aku mengunjungi pasar festival tapi rupanya itu juga mall. (ukh... baru datang disuguhi mall) Untuk kemudian bertemu dengan miss worm -windry- dan bakal tinggal sementara di rumahnya selama di jakarta. Empat hari aku ditampung di rumahnya yang riuh meong meong lucu. Lalu menguntit kesehariannya mulai dari apartemen tempat proyek yg sedang ia tangani, bergelantungan di busway, naik turun taksi. tak lupa merengek pada windry untuk naek bajaj dan windry baek hati sekali aku diijinkan berputar putar naek bajaj yang konon katanya "getarannya bikin ketagihan". huwahahahaha... lalu kembali ke rumah, menemaninya menulis cerpen dan menonton film korea hingga larut malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kedua di jakarta aku "memanfaatkan" Bayu yang ternyata sudah mengambil cuti khusus untuk bisa menemaniku berputar putar jakarta dengan vespa antik miliknya. Hahahaha... *Baguslah Bay..! tercapai juga keinginanmu pamer vespa. Lalu mengunjungi gramedia matraman. Di gramedia, ketika sedang asik baca baca buku di rak sastra, aku dan bayu didatangi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mbak berseragam&lt;/span&gt; diminta kesediannnya untuk diambil gambar sambil berpura pura membaca novel ayat-ayat cinta. (sepertinya untuk promo film ayat ayat cinta) *hahahaha... aku menjadi salah satu pelaku penipu di jakarta. Kebetulan waktu itu rak buku ayat ayat cinta sepi pembaca. Baru sore harinya aku dan bayu meluncur di tengah kepadatan kota dengan gerimis di sepanjang perjalanan menuju tempat wapres bulungan. Rencananya siang sih tapi karna hujan lebat jadinya terlambat, padahal aku sudah berjanji untuk membantu persiapan acara pada om yo dan om dino.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya aku diajak om yo untuk datang diacara pembubaran panitia. karna aku lagi lagi merengek minta kaos padanya hehehehehe.. *merepotkan ya?. dan windry yang juga panitia pasti datang keacara itu. Dari sore aku dan windry harus nongkrong di Blok M Plaza. sekalian menunggu yang laen datang. dan aku juga membuat janji dengan mbak olin di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru hari keempat aku bisa merasa seperti di habitatku ketika nongkrong di TIM, ngeliat ABG, trus liat orang orang yang tanpa polesan dan cuek dengan penampilan. *dasarnya gembel.  Sebelumnya, pagi hari itu aku harus ikut windry untuk "dititipkan" pada Kinu dan harus menunggu kinu datang menjemput di Plaza Semanggi padahal belum buka. Aku terpaksa menunggu di Dunkin Donutz satu satunya tempat yang sudah buka. untung tidak begitu lama sampai akhirnya Kinu datang. Lalu mampir ngenet di ratu plaza, sarapan di kantin pegawai setelah itu melanjutkan perjalanan ke TIM liat liat buku di toko bukunya jose rizal. niatnya cuman mo baca baca malah mborong huwehehehe...*kalap.  Sambil menunggu windry dan kawan kawan lain yang belum aku temui. Walhasil seharian itu aku di TIM mulai dari jam 1 siang sampai jam setengah 10 malam. Windry aku minta pulang duluan karna dia ada jam malam, ditemani kinu. Tapi aku belum mau pulang dan asik nongkrong sama om yo, mbak ilenk, caklul, ndaru.(semuanya kebetulan aja ketemu di sana) padahal aku cuma janji bertemu dengan indah, widee, mbak olin, dan caklul saja. Om yo menawariku pulang bareng naik mobilnya dan kebetulan rumahnya tidak terlalu jauh dengan tempat windry. Tapi aku memilih pulang bareng caklul naek sepeda motor selain karna bosan naek mobil *hayah guuaaaya, aku juga ingin melihat jakarta pada malam hari lebih jelas. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ndeso&lt;/span&gt; ya??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya sudahlah. Walau harus menunggu seminggu untuk menguraikannya cerita kecil, harus bersembunyi juga dan tidak banyak ngobrol dengan teman teman di YM. alasannya cukup simpel, aku tidak mau cerita di kepalaku hanyut dan tenggelam oleh obrolan obrolan baru. Dan aku bukanlah orang yang mudah menulis, walau hanya sekedar catatan perjalanan seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YMpun aku invisible, menyibukkan diri mengutak atik blog, email, MP, mencuri beberapa foto-fotoku dari rumah maya teman teman yang lain (maklum artis, walau agak gila jadi banyak yang ambil fotoku). Sekarang sepertinya aku sudah kembali pulih. *semoga saja. atau malah bertambah tingkat kegilaannya. huwakakakakaka....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Ibarat segelas kopi yang tandas, tersisa ampas.  Tunggulah kering memadat, agar bisa diukir dan dipahat. Dan jangan dituang air lagi, agar ampasnya tak lagi berterbangan dalam gelas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class="multiply:no_crosspost"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-3625404082823538758?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/3625404082823538758/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=3625404082823538758&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/3625404082823538758'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/3625404082823538758'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2008/03/sepulang-dari-jakarta.html' title='Sepulang dari Jakarta'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-4965913808222535766</id><published>2008-02-18T23:33:00.000+07:00</published><updated>2008-02-18T23:34:56.942+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Proses Teater'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan perjalanan'/><title type='text'>[Puan] Malam Sejuk yang Memuakkan</title><content type='html'>Akupun melaju kencang dengan motor kesayanganku, menerabas beberapa lampu merah dan mengacuhkan dingin yang menerpa mukaku. Akh... sial telat lagi!!! jam 19.35 seharusnya sejak jam 19.00 tadi aku sampai di pekuburan jasadku, menenggelamkan Gita menjadi Gulita si lonte tua. Sial sial sial... dan aku semakin cepat menarik gas motorku.. tak lagi peduli limbung angin yang menghujam tanpa hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Anjing hitam bermata merah itu mengintaiku *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Anjing hitam itu mengintaiku, mengawasiku, menertawaiku yang gelak sendiri, lelah sendiri, bingung sendiri, yang dia tau aku harus sampai dan fokus.. fokus...! Akhirnya aku tiba di tempat, mengintai pintu pintu yang tertutup. kemanakah aku harus menuju,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Tak adakah jalan untukku kembali.&lt;/span&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan kecepatan degup yang entah berapa detak perdetik. wajah wajah buram para Puan yang sejak siang lelah dimakan rutinitas berproses hampir 2 bulan belakangan ini. Sedangkan kepalaku penuh dengan bermacam macam kerlip &lt;span style="font-style: italic;"&gt;katakata prosa, puisi dan dentum musik genit .&lt;/span&gt; Perempuan gila berwajah tambun, roh puan, puan tua dan sang penguasa lakon panggung sutradara gemuk berwajah lembut yang akhir akhir ini menjadi begitu seram buatku (seperti anjing hitam bermata merah) mengisi ruang yang lebar sebesar gedung neraka tanpa api tanpa alat alat penyiksaan, hanya desahan yang panas ditelinga. Membakar ego yang tenggelam entah di dasar mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Kereta laju... kemana keretaku... bawa aku serta!! ough.. apakah tak cukup membawaku seorang diri*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bawa aku pindah menuju ruang yang kelam menenggelamkanku dalam segudang rutinitas, mengukuhkan aku kemana harus tinggal&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;Dan aku masih diam menunggu di bangku ruang tunggu dengan sebatang rokok yang tak boleh dinyalakan sampai nanti adegan per adegan tuntas. dan mereka semua terbatuk batuk pada asap yang kuhembuskan. Dengan gelisah lupa pada dialog dialog dan bentuk rupa rupa dimana aku berdiri duduk. Seperti sebuah penantian eksekusi mati,  sungguh aku ingin kembali ke masa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;metamorfosis tak berujung, atau pada lazarus dan kekasihnya&lt;/span&gt;, atau entahlah proses terdahulu yang menenggelamkan Gita sedalam dalamnya. hingga lupa mana kepala, kaki, mata, tangan atau pusar ku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;lihatlah, aku melihat orang berbondong bondong hendak kemana mereka.. oh.. lihat mereka melepaskan pakaian pakaian mereka*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya.. ya.. lepaskan saja pakaian yang mengulitiku, kemudian menyampakkan aku menjadi semacam sampah yang berpindah dari TPS satu ke TPS lainnya menunggu sampai masuk mesin pembakaran atau membiarkanku menjadi belatung yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kelejotan&lt;/span&gt; karna bau busuk yang menguar dari tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Angin tengah berhembus kencang dan tuhan telah membaui rencana rencana mereka padaku*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Memang angin berhembus kencang,  meneriakkan serapah dan makian. Dasar anjing kupingmu becek hah..?  jam berapa ini? Sudah malam tau... aku haus juga lapar, memangnya di perutmu hanya ada kecebongnya.  Dasar Perempuan sinting. kapan mereka membakar gundukan pakaian mereka dengan bensin? aku juga mau.. aku ingin ikut biar saja aku telanjang. Berbaju atau tidak. tidaklah penting asal otakku masih bisa berpikir jernih. memilih satu yang menjadi pikiranku sekarang. Tidak pada lirik lirik lagu, hutan kata kata prosa dan puisi, atau juga lembar lembar tugas akhir yang tak juga tuntas. Akh... lebih baik kulepas saja kepala ini. biar menggelinding seperti bola tanpa gawang. Bakal melintasi lapangan yang luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Burung burung bawa aku serta*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai dimana burung burung yang lintas tiap malam yang berangin, tadi mereka berteduh di bawah ketiakku. Menggelitikku untuk terus tertawa pada bahak yang tak juga berkesudahan. Mungkin mereka sedang menetek pada puting susu yang membawa kebodohan dan kekonyolan. Atau sedang menunduk pada selangkangan yang menyimpan golok tajam berduri. Lalu mabuk menari bersama sama perempuan sinting, puan tua dan roh puan (mungkin juga anjing hitam bermata merah itu juga ikut serta dibelakang panggung) sambil sesekali membunyikan musik musik miris dan menakutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Lonceng berdentang berkali kali, jiwaku melesat keatas bukit*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengumpat setiap kali lonceng berdetak, sial sial sial.. tiba waktu penguburanku -Gita- dan aku masih diam disini menunggu setan yang tak juga muncul. menggantikan tempat duduk yang hampir basah karena keringat dingin berlarian. Menunggu algojo algojo diperbantukan, memeras keringat dan otak yang lelah menghapal satu saja dialog panjang tentang&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Ratusan, ribuan, bahkan jutaan manusia, yang tua, muda, bahkan yang masih anak anak*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekarang aku harus kembali ke bangku penantian memunguti barang barang yang tercecer. malam sejuk yang memuakkan. Kepalaku dijatuhi gada. Berat.. Berat... Berat... dan tak ada waktu istirah sedangkan mulutku masih saja &lt;span style="font-style: italic;"&gt;misuh misuh&lt;/span&gt;, mengumpat orang orang di dekatku. menyalahkan yang mungkin mereka tak ikut bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses Puan Yang Ketiga, kembalilah menjadi Gulita lalu menerima telepon dari om jonathan. dan memaki makinya dengan selangkanganmu yang becek. Sungguh..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Peradaban peradaban becek*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;(* )adalah kilatan kilatan dialog Naskah PUAN karya Luky H Wibowo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-4965913808222535766?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/4965913808222535766/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=4965913808222535766&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/4965913808222535766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/4965913808222535766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2008/02/puan-malam-sejuk-yang-memuakkan.html' title='[Puan] Malam Sejuk yang Memuakkan'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-1921208949245721117</id><published>2008-01-30T17:58:00.000+07:00</published><updated>2008-02-03T12:55:37.691+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Di Sebuah Terminal</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Suasana terminal pagi ini sudah mulai ramai, bus antar kota sudah berjajar dengan desing klakson yang tak henti. Calon penumpang dan para calopun sudah sibuk dengan aktifitasnya. Sedangkan aku seperti tidak terpengaruh riuh suasana, membisu dari sebuah warung makan yang berada di salah satu sudut. Aku sudah duduk di sana hampir dua jam lamanya. Kopi yang ada di hadapanku ini adalah gelas kedua.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;“Bu, kopi satu..!” Suara seorang laki-laki dengan logat madura yang kental dan agak kasar melewati gendang telingaku dari belakang. Laki-laki itu duduk tepat di sebelah kiriku, dia langsung mengambil satu bungkus nasi yang ada di hadapannya. Bau apek menguar, keringat berlarian di sekitar lehernya yang legam. Handuk kecil yang terselip di saku celana, ia kibaskan. Untung saja aku sudah terbiasa dengan hal semacam ini. Hampir seminggu aku sambang ke terminal ini.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Dua lembar surat aku keluarkan dari saku bajuku. Surat itu tampak lusuh, warnanyapun kusam mungkin karna terlalu sering dibaca atau sekedar dipegang. Mataku lekat memandang surat itu dalam keadaan tetap terlipat, tapi entah mengapa setiap kali aku memandangnya kepalaku menjadi sangat penuh. Terngiang permintaan ibu di kampung yang mendesakku untuk segera pulang. Hanya satu alasan yang membuat ibu memintaku seperti itu. Ibu tak pernah mendesakku seperti ini, beliau cukup percaya padaku, pada apa yang selalu aku putuskan. Jika bukan karna Asri, Ibu tidak akan terus menerus menekanku seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;“&lt;i&gt;Le.. Kapan kowe mulih?Mesakke Asri!” &lt;/i&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Di sela-sela surat ibu yang mengabarkan bahwa keadan keluarga di sana baik-baik saja, pertanyaan kecil itu terselip di akhir surat. Dengan tanda seru yang besar di akhir kalimat.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Asri adalah anak gadis seorang petinggi di kampungku, waktu itu umurnya masih 17 tahun. Tapi di kampungku usia 17 sudah waktunya untuh dinikahkan dan memiliki keluarga. Dan beruntunglah aku karena dari sekian banyak pemuda akulah yang dipilih. Tiga tahun yang lalu, aku termasuk pemuda desa yang cukup cakap dan pandai. Selepas smu aku diperbantukan di kantor kelurahan, disanalah aku bertemu dengan pak lurah yang rupanya sangat terkesan dengan cara kerja dan sopan santunku. Beliaupun menjodohkan aku dengan salah seorang anak gadisnya. Waktu itu umurku sudah 23 tahun dan aku tidak menolak dijodohkan dengan Asri karna dia termasuk kembang desa. Parasnya yang ayu, tingkah lakunya lemah lembut, sangat perempuan sekali. Tapi pekerjaan di kantor kelurahan belum cukup membuatku puas. Bisik -bisik kehidupan di kota mampir di telingaku mengusik batin untuk bermimpi. Maka dengan kebulatan tekad dan segepok mimpi, aku pun berangkat menuju kota untuk melihat ada apa saja di luar desaku. Akupun harus tega meninggalkan Asri sementara, sebelum pergi telah kuselipkan janji bahwa aku akan cepat kembali untuk menjemputnya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;********  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;“Walah No..! kamu tau perempuan yang biasanya ngamen pake' botol aqua gak? Areke ayu banget, gak cocok dadi pengamen. Anak mana ya?” ibu yang menjual kopi itu bertanya dengan laki laki yang duduknya di bangku sebelahku. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Aku mencuri dengar perbincangan mereka. Tapi aku tidak berani ikut ambil bagian. Rupanya yang mereka maksud adalah pengamen perempuan yang beberapa hari lalu aku temui di sini. Tubuh langsing, wajah manis, dan kulitnya kunging langsat, hanya saja kesempurnaan sebagai perempuan itu tertutup debu dan pakaian camping yang dia kenakan. Beberapa orang di warung itu ikut menimpali. Ada yang bilang perempuan itu mantan perek dan sekarang insyaf lalu ganti profesi jadi pengamen. Ada juga yang bilang perempuan itu perempuan stress sebabnya ditinggal calon suami. Akh.. entahlah, aku sendiri tidak seberapa perduli. Aku justru punya kesimpulan sendiri, perempuan itu stress gara gara ditinggal suami lantas jadi perek dan sekarang pindah profesi jadi pengamen. Kalau itu cerita yang sebenarnya, aku jadi takut dan membayangkan nasib Asri. Tubuhku gemetar jika membayangkan akibat aku meninggalkan Asri. Sudah hampir tiga tahun aku tidak juga segera menjemputnya. Kalaupun aku memutuskan pulang, apa yang bakal aku suguhkan pada keluarganya. Andai saja aku seorang yang berhasil, aku pasti bisa menyelamatkan perempuan pengamen itu dari jalanan dan pulang untuk menikahi Asri lalu memboyongnya ke kota ini.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Hidup di kota ini sungguh membuat aku sesak, tapi tidak ada pilihan. Keputusan untuk merogoh mimpi di sini sudah aku pilih. Sekarang jika aku memutuskan untuk kembali ke kampung pastilah olokan dan cemoohan jatuh padaku. Atau aku boyong saja Asri kesini tapi mau aku beri kehidupan macam apa? pikiran konyol lagi-lagi berusaha menjinakkanku pada ketidak berdayaan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;“&lt;i&gt;Mas, kapan pulang? Bapak sudah tanya, kapan mas mau nikah dan jemput aku. Pulang sajalah Mas, bantu-bantu bapak di sini. Bapakku malu karna anak gadisnya masih belum nikah. Aku ndak mau dicarikan jodoh yang lain.”&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Isi surat Asri semakin membuat pikiranku berat, aku kasihan dengannya. Dia sudah begitu sabar menungguku. Antara kepolosan dan kegigihan sifat yang kontras, itulah yang membuatku enggan melepaskannya. Tapi bagai mana aku bisa menjawab pertanyaan itu. Aku sendiri tidak tahu kapan aku bisa pulang. Kopi gelas kedua sudah sampai di dasar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;letek&lt;/span&gt;nya, rokok kretek yang aku beli eceranpun tersisa tinggal 3 batang. Aku rogoh kantong celana dan kukeluarkan lembaran sepuluh ribuan kucel lantas kubayarkan pada ibu penjaga warung. Aku meninggalkan warung itu dan berjalan menyusuri lorong terminal. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;“Mojokerto... Mojokerto pak! AC tarif biasa pak” seorang calo langsung menyambutku dengan suaranya yang kasar. Aku hanya menggeleng dan terus berjalan meninggalkan laki-laki itu. Belum sampai tiga langkah, calo lain dengan semangat yang sama menawarkan bus antar kota dengan tujuan yang berbeda. Aku menggeleng lagi dan tersenyum kecil. Lantas aku bergegas mencari tempat duduk di ruang tunggu calon penumpang. Aku memilih duduk di deretan paling belakang, dekat seorang perempuan setengah baya yang sedang menggendong bayi. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;“Oalah.. gak usah ditawari bos.. mas iku gak niat numpak bis” sungut calo yang tadi kutolak jasanya. Aku diam saja dan pura-pura tidak mendengar gerutuannya. Calo lain yang hendak menghampiriku berbalik arah dan mencari calon penumpang yang lain. Tas ransel kecil yang berisi harta paling berharga ku bekap. Ada beberapa lembar baju, surat-surat dari kampung dan ijazah. Pikiranku masih saja dihantui kebingungan, ramai terminal rasanya sangat sepi buatku. Gendang telingaku tidak dapat menangkap bunyi klakson bus yang bergerak perlahan. Sesekali saja mataku mengamati dari pintu masuk terminal. Wajah lusuh para penumpang berjejal di pintu peron. Suara kardus-kardus besar yang jatuh, teriakan para calo dan tangis bocah-bocah kecil, seharusnya kesibukan siang itu cukup ramai. Tapi entah ada apa dengan liang telingaku, tidak ada suara apapun yang mampu masuk. Rasanya sepi dan hening, justru riuh genderang dalam batin terasa sangat ramai. Dari mimik muka calon penumpang aku menangkap kerinduan akan pulang. Di terminal antar kota ini orang-orang bergegas, bergerak cepat seperti kilat kilat serangga malam yang biasa mengerumuni lampu teras. Sedangkan aku, menjadi seperti serangga sekarat di tengah kerumunan, hanya duduk dan diam.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;*******&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Dari jarak yang tidak jauh dari tempat dudukku, segerombol anak muda datang. Empat laki-laki dan satu perempuan. Mereka memakai tas ransel besar di punggung dan dandanan ala pendaki. Asyik sekali mereka tertawa dan bercanda. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;“Malang.. Malang.. Malang mas??” seorang calo langsung menghampiri mereka dan dengan tanggap menawarkan jasanya. Tapi mereka tak menggubris malah terus bercanda dengan temannya yang lain. Sungguh tidak sopan perlakuan mereka terhadap orang yang lebih tua. Mungkin itu resiko seorang calo hingga dia diperlakukan seenaknya. Kalau di kampung, pemuda semacam itu dianggap perusuh, tidak tahu adat dan hal jelek lainnya. Untunglah aku tidak pernah dapat cap seperti itu. Aku termasuk pemuda yang dianggap sopan oleh warga. Setiap berpapasan dengan orang yang lebih tua aku membungkukkan badan dan tersenyum. Hanya sekedar penghormatan saja. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Tapi di kota besar ini kesopanan terkadang menjadi boomerang. Beberapa kali pindah kerja, dipecat hanya gara-gara terlalu sopan dan dianggap penjilat. Aku hanya bekerja sebagai buruh pabrik, dengan lingkungan pergaulan kalangan bawah. Pemikiran mereka hanya sekedar bisa makan ya kudu punya uang banyak. Gimana caranya? ya mendekati atasan. Hampir saja aku terjebak pada pemikiran sesempit itu. Mungkin karna hal itu banyak teman-teman sekerja yang tidak bisa menerima kelakuanku. Kalaupun ada atasan suka dengan sikapku itupun hanya alasan saja, pasti mereka menjadikan aku sebagai tumbal. Walau tidak semua perlakuan atasan seperti itu. Akupun belajar membaca dan memahami perlakuan orang kota. Masa beradaptasi, tiga tahun kurasa cukup mengubah pola pikir kampung menjadi lebih kota. Ya.. persaingan sangat terasa di sini, kalau tidak mampu ikut arus aku pasti mudah tersingkir dan menyerah. Untunglah Ibu dan bapak kostku sangat menyukai kesopananku mereka pun menganggap aku sebagai anak mereka sendiri. Pada mereka aku sering bercerita dan membicarakan apa saja sambil terus belajar banyak hal.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Aku lirik jam yang melingkar di pergelangan perempuan setengah baya yang duduk di sampingku. Menunjukkan jam setengah empat lebih 3 menit matahari sudah mulai turun, tapi keramaian di terminal belum juga surut justru semakin ramai. Hampir lima jam aku berputar-putar di dalam terminal. Bus-bus antar kota entah sudah berapa armada yang berangkat. Mataku tiba-tiba memberat, sepertinya akan ada yang tumpah. Aku bergegas menuju ponten umum di sudut timur terminal. Mbak penjaga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ponten&lt;/span&gt; langsung tersenyum melihatku. Sepertinya dia mulai hapal wajahku karena seminggu belakangan aku cukup sering melamun di terminal ini. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Dari balik pintu toilet aku mendengar samar-samar lagu jawa campur sarian “Ndang balio.. Sri.. Ndang balio.. Sri..” akh lagu itupun sepertinya menyuruhku untuk pulang. Kenapa justru peringatan untuk pulang yang terus masuk ke dalam telingaku. Aku pura-pura tak mendengar lagu itu. Aku usapkan air dari kran langsung ke wajahku, lalu aku segera keluar dari ruang itu. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;“Ayo tho le.. cepetan.. bapakmu iki wes ngenteni...! keburu sore!” aku berpapasan dengan seorang ibu dan bocah yang mungkin berusia 10 tahun. Si anak cuma bisa meringis menahan sakit di perutnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;“Sabar bu.. kasian anaknya dipaksa-paksa” ucapku dalam hati. Aku seperti melihat keserupaan nasib dengan bocah laki laki itu. Ditekan dan tertekan hanya saja dengan permasalahan yang berbeda. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;"Kasian ya mas anaknya!” bisik mbak penjaga ponten padaku. Aku mengiyakan dan kemudian pergi berlalu. Setelah meninggalkan recehan 500 rupiah dan senyuman kecil padanya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Aku melangkah gontai, seharian ini aku cukup diingatkan pada kampung dan pulang. Surat-surat dari Asri dan Ibu di kampung aku genggam makin erat. Aku berdiri bersandar pada tiang di antara ruang tunggu dan pintu keluar. Entah mana yang aku pilih. Sebuah tembok bertuliskan “DILARANG KENCING DISINI, KECUALI ANJING!!” benarkah aku tak cukup layak mencari mimpi disini. Apakah aku sudah menyerupai Anjing? walau sudah dihantam kekerasan kota, masih saja tidak juga pergi. Apa lebih baik aku pulang dan menghentikan mimpi. Nafas panjang kulepaskan, penat batinpun mengoyak, kegundahan makin memuncak. Lalu lalang orang di terminal itu memutar mutar kepalaku. Aku pejamkan mata dan melihat kilatan kilatan kehidupanku di masa lalu dan masa sekarang. Gambar wajah wajah orang orang disekitarku, kegigihan Asri pengharapan ibu. Dan aku yang berdiri di tengah jembatan rapuh. Aku harus kembali atau terus berjalan menyebrang.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Tiba-tiba saja suara bising dalam terminal masuk ke dalam telingaku. Suara riuh orang orang yang berteriak teriak, klakson bus dan derunya menjadi sangat keras menghantam gendang telinga. Tangisan bocah dan semua harapan orang-orang di dalam terminal tiba-tiba saja memacuku. Aku beranjak dari terminal menuju pintu keluar, melupakan pemandangan bus antar kota. Mengacuhkan wajah-wajah rindu para calon penumpang, menghenyakkan pikiran-pikiran konyol dari labirin syaraf otakku.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;“&lt;i&gt;Asri, tunggu masmu setahun lagi! janji setelah setahun aku akan pulang. Kalau sampai aku masih gagal. Biarlah aku pulang sebagai orang kalah.”&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Setiba aku di tempat kost akan segera kubalas surat asri. Dan kakiku pun semakin mantap keluar dari terminal, menata kembali mimpi yang hampir saja aku buang. Waktu tidak akan berhenti berlari, tidak akan pula berjalan mundur. Demikian juga aku.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Kamar, Jan 08&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;utk Kelas Prosa "lokalitas"&lt;/span&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-1921208949245721117?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/1921208949245721117/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=1921208949245721117&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/1921208949245721117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/1921208949245721117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2008/01/di-sebuah-terminal.html' title='Di Sebuah Terminal'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-1961603134595550410</id><published>2007-12-16T15:49:00.000+07:00</published><updated>2007-12-17T13:58:16.459+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berbagi Kisah'/><title type='text'>Dua pertunjukan Teater beda Strata</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam dua hari berturut turut aku menonton dua kali pertunjukkan yang berbeda. Surabaya lagi rame pertunjukkan nih! Hari pertama jum'at malam aku menonton Monolog Butet Kertaredjasa "Sarimin" dan hari sabtunya aku nonton Ditunggu dogotnya Sapardi oleh komunitas teater hitam putih padang panjang. Antara 75 ribu VS 3 ribu, jelas yang  butet aku perlu berpikir panjang  masalah tiket huwehehehe.. perlu ngutang kanan kiri agar bisa nonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jum'at malam aku datang Ke Gedung Cak Durasim tempat acara pentas Monolog Butet Kertaredjasa "Sarimin". Lakon kali ini bercerita tentang tukang topeng monyet keliling yang familiar dengan nama sarimin. Pada awal petunjukkan dibuka oleh musik yang dibawakan Djaduk Ferianto beserta kawan kawannya. Wah.. musiknya selalu segar dan menyenangkan. Lalu si tokoh pembawa cerita masuk menyapa kawan kawan pemusik dan penonton. Seperti pertunjukkan  butet sebelum sebelumnya selalu membawa kritikan pedas yang membuat kita tertawa mengiyakan. Lalu ia berubah menjadi si tokoh Sarimin itu suasana lebih seru lagi. Menunggui si pak polisi yang "selalu sibuk" padahal ia hanya bermaksud melaporkan KTP yang ia temukan. Si Lugu Sairimin dengan sabar menunggu polisi itu bersibuk sibuk setiap kali ia Si sarimin hendak berbicara, selalu disuruh menunggu dan menunggu. Tokoh Sarimin ini jujur, tapi niat baiknya itu justru menjadi malapetaka buatnya. Ia malah dituduh oleh polisi lain yang baru tiba sebagai pencuri dompet, parahnya lagi ternyata KTP itu milik hakim agung. Dan dia dipaksa untuk membenarkan tuduhan yang sudah dilemparkan padanya. Gaya butet yang mampu membawakan beberapa tokoh dalam satu pementasan dan celetukan kritiknya mampu mengundang gelak. Sesuai dengan realita ya begitulah tugas polisi "melayani" masyarakat. (benarkah?? melayani apa?? emang itu polisi ato lonte ya? hahahaha.. untuk urusan kecil begitu harus menunggu berbulan bulan). Pada akhirnya si Sarimin harus mengakui kesalahan yang tidak dilakukannya. "Jika benar maka kamu salah" yang tertindas tidak boleh benar. hehehe.. tepatnya begitu mungkin ya?? pemutar balikkan fakta antara benar dan salah. Tapi ketika si tokoh berubah menjadi polisi entah kenapa kebosanan tiba tiba singgah. Kritikan yang terlontar terasa amat membosankan, penyampaian dan bentuknya kasar,  dan itu berlangsung sampai di akhir pertunjukkan. Aku kehilangan moment ending, malah bertanya dengan teman disebelahku "lho.. kok udah habis?" pertunjukkan itu berdurasi satu setengah jam. Aku masih menunggu hilang kebosanan tiba tiba sudah selesai begitu saja. akh...! kok gak puas yaa?? Untung saja musik dari djaduk mampu memberi kepuasan. Lirik yang menggelitik dan ilustrasi musik yang segar. Didukung alat musik dan sound lengkap wah... ini sih gak ada ruginya...! hahahaha....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu keesokan harinya aku datang ke gedung eks museum mpu tantular. gedung tua yah.. mungkin agak seram (tapi aku gak merasakan getaran2 yang aneh2 huwhehehehe opo see..!) Selama hidup di surabaya hanya sekali mampir kemuseum itu. dan ini berarti kedua kalinya dtapi sudah tak lagi menjadi museum. Aku datang jam setengah delapan penonton yang berkeliaran juga belum seberapa banyak.  Asyik ngobrol dengan teman yang laen tak terasa waktu sudah terlewat lama, sampai jam setengah sembilan pertunjukkan belum dimulai. ugh.. sampai capek nunggunya. Akhirnya setelah satu jam kacang kacang lombok abang mlungker.. di depan gedung, penonton pun disilahkan untuk masuk. Menonton pertunjukkan Ditunggu Dogot pertunjukkan yang bertema absurd (kata sutradaranya sih tidak merubah teks asli cerpen sapardi).  Masuk ruang pertunjukkan aku melihat setting pangung yang minimalis. Sebuah sepeda diatasnya dan sebuah screen lebar dibelakangnya. Lama sekali aku menunggu padahal aku sudah duduk paling depan (seperti biasa). Musik pada awal pembukaan  hem.. tidak begitu menyatu , screen nyala sebuah visual lorong yang  aku  liat sebagai waktu dan sepeda itu dikayuh oleh tokoh laki laki dan perempuannya ada diboncengan sepeda itu. Mereka sedang menyusuri lorong itu. Asyik sekali aku mengamati pementasan itu. Memang tidak ditemukan ujung pangkal pada pementasan ini. tak terjawab apakah dogot itu? Apa penanda beda antara Ditunggu dan menunggu, endingnyapun kembali ke bentuk awal. Dari awal sampai akhir pertunjukkan aku menikmatinya, hanya saja ilustrasi musiknya tidak membuatku nyaman. Dan lagi aku harus tengadah karna jarak antara panggung dan penonton terlalu dekat. padahal tinggi level yang digunakan sekitar setengah meter. mungkin karna gedungnya yang terlalu sempit ya?? yah.. serba minimalis. Tapi tidak mengurangi makna dari naskah itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi gak pernah rugi kluarin duit buat nonton teater, biarpun harus ngutang. hehehehe... dua pertunjuukkan beda strata, beda kelas, beda tempat, yang satu memang gedung yang di  setting untuk pertunjukkan, yang satunya gedung ala kadarnya. yah.. jelas bedalah..! ya sudahlah ini hanya sekedar berbagi cerita.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-1961603134595550410?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/1961603134595550410/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=1961603134595550410&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/1961603134595550410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/1961603134595550410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2007/12/dua-pertunjukan-teater-beda-strata.html' title='Dua pertunjukan Teater beda Strata'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-2253749053865073109</id><published>2007-12-10T13:35:00.000+07:00</published><updated>2008-02-09T00:40:16.299+07:00</updated><title type='text'>Puisi persembahan</title><content type='html'>&lt;h3 class="entry-header"&gt;Kristal cekam &lt;/h3&gt;&lt;h3 class="entry-header"&gt;                                                                                          : Gita&lt;/h3&gt;    &lt;div class="entry-content"&gt;&lt;div class="entry-body"&gt;  &lt;p&gt;Di tandas sajakmu kucari lengang yang pernah kau bahasakan dengan tawa.&lt;br /&gt;Dan beberapa senja. Khayalan ruang kosong melelap, atau entah menatap,&lt;br /&gt;jejak yang menyusup riuh menerjemahkan kelakar dan waktu sakral. Tepat kemudian&lt;br /&gt;aku merasa kantuk di malam mabuk. Mungkin sebab aku merasa selangkanganmu menusuk&lt;br /&gt;kata busuk kata kutuk kata restu kata lagu kata bisu kata aku. Kata labuh.&lt;br /&gt;engkau cipta getar. Sempat bergetar. Semerbak mekar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;"Aih, mungkin kau berlebih tanggapi puisi" Hatiku mencucu lelakianku&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di prosesi puisimu kecari jejak. Pernah mungkin engkau bersajak gerak mengusung jendela&lt;br /&gt;jendela dan pintu pintu emas bertuliskan cerita perempuan. Ternyata kau ajak lihat keranda.&lt;br /&gt;Isinya patahan dan beberapa penggalan sajak dedaunan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;"Aih, puisimu selalu mencekam"&lt;/p&gt;&lt;p&gt;By Danu http://danoedan.blogs.friendster.com/&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/div&gt;     &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-2253749053865073109?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/2253749053865073109/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=2253749053865073109&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/2253749053865073109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/2253749053865073109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2007/12/puisi-persembahan.html' title='Puisi persembahan'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-4848699125969692352</id><published>2007-12-05T13:58:00.000+07:00</published><updated>2007-12-05T17:22:15.859+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berbagi Kisah'/><title type='text'>Paket Bulan November Sudah Datang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tubuh sudah sangat lelah ketika tadi malam aku tiba dirumah jam 11 malam. Sepulang bekerja, dan baru selesai latian di kampus, rasa kantuk yang mendera tak mampu lagi aku tahan. Selama perjalanan pulang yang aku bayangkan hanya kasur berseprei unguku dan boneka snoopy yang  tak pernah  menolak kalau dilempar setiap aku kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jegreegg... aku masuk kedalam rumah dan tiba tiba saja rasa kantukku itu hilang. Di atas meja dekat tangga, aku melihat bingkisan ungu dibuntel dengan plastik. Dibingkisan itu tertera namaku tapi anehnya tidak ada nama pengirim jangan jangan ini paket rahasia dari penggemar setia. hehehehhe Pikiranku melayang layang. Tapi itu hanya pikiran konyol, sebenarnya aku sudah tahu siapa pengirimnya. Seorang teman yang bernama&lt;span style="color: rgb(153, 51, 153);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;a style="color: rgb(153, 51, 153);" href="http://rumahbaruku.blogspot.com/"&gt;ALDORA NOVRIANA&lt;/a&gt; namanya bagus ya? sahabat sekaligus partner yang berada jauh di kota berbudaya busway. Wuha... betapa girang dan senang mendapatkan bingkisan apalagi datangnya dari jauh. Dengan kondisi agak koyak, tersembul sebuah benda yang aduhai.... lucunya, mirip pengirim paket itu.  Sebenarnya aku merasa gak enak dengannya karena sampai sekarang bingkisan untuknya yang sudah kupersiapkan lama tak juga sempat aku kirimkan. Padahal tanggal ulang tahunnya sebelum tanggal ulang tahunku. ya.. memang kebetulan kalau kita berulang tahun di bulan yang sama dan angka yang sangat ajaib dia tanggal 2 sedangkan aku 22.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langsung saja kutimang dan kubopong ke atas untuk bertemu dan berkenalan dengan penghuni lama di kamarku. Kubiarkan mereka saling berbincang bincang dan mungkin juga membicarakan tentang aku. Sesekali aku mendengar suara tawa cekikikan mereka. Malam itu aku tidak bisa segera tidur karna harus menjamu penduduk baru dalam kamarku dan menyiapkan tempat yang nyaman untuk mereka. Setelah selesai aku pun mengabari temanku itu untuk menyampaikan bahwa paket yang dia kirim sudah sampai dengan selamat. Kamarku sangat riuh pada gelak tawa sebuah bantal dengan kepala anjing dan boneka boneka snoopy yang sedang ngobrol. Mungkin mereka membicarakan dari mana saja mereka berasal atau apasajalah, aku sendiri tidak begitu yakin. Aku hanya bisa menguping dengar percakapan mereka. Karena aku tidak ingin merusak kegembiraan mereka. Snoppy berbaju coklat ala china datang dari jauh entah berapa lama perjalanan aku sendiri belum sempat bercakap cakap. karna kantuk yang tadi sempat hilang datang lagi. kali ini aku mendapat teman tidur baru bantal coklat dengan kepala anjing menemaniku untuk mencari nyenyak. Mungkin besok saja setelah lelah sudah dikuliti dari tubuhnya dan tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ZZZZZzzzzzzZZZzzzzzz.... sepertinya malam itu aku tidur sangat lelap. Entah karena bantal lucu yang kubekap itu atau balas dendam karena kemarin malamnya memang hanya sempat tidur 3 setengah jam saja. belum sempat aku menyimpan data mimpi semalam. Aku mengurai mimpi sepertinya ceritanya menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gitttaaaaaaaa...... Gittaaaaaa............ bangun........... katanya mau ngukur bla...bla...bla...!!!!" Suara keras dan menggelegar membangunkanku membuatku lupa sampai dimana cerita mimpiku. Ibuku membangunkanku karna ada penjahit datang kerumah dan aku harus segera mandi. Snoopy Snoopy disampingku sepertinya kelelahan setelah begadang semlaman. Kubiarkan saja mereka tertidur lelap. Untung saja aku tidak jadi membuatkan kopi untuk teman mereka ngobrol. aku beranjak dari tempat tidur dengan sangat perlahan. bantal yang semalaman sudah kubekap, kuletakkan. "Sangat menyesal malam pertama kita cuman sebentar" kubisikkan kata kata itu agar dia tidak tersinggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini gara gara aku harus ukur badan untuk membuat kebaya. Tapi aku masih belum ingin mandi jadi kubiarkan saja penjahit itu menghirup aroma tubuhku, Salah sendiri datang pagi sekali. Aku hanya menyikat gigi dan menunggu untuk diukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya ampun..... hari inipun aku tidak bisa puas tidur. Padahal banyak teman baru dikamar kesayanganku. Maafkan aku ya teman teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sahabat yang begitu jauh "November Selalu Milik Kita"&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-4848699125969692352?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/4848699125969692352/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=4848699125969692352&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/4848699125969692352'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/4848699125969692352'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2007/12/paket-bulan-november-sudah-datang.html' title='Paket Bulan November Sudah Datang'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-9074635724533035579</id><published>2007-11-24T10:57:00.000+07:00</published><updated>2008-02-03T14:08:22.724+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berbagi Kisah'/><title type='text'>Hari Spesial Part 2 "Antologi Puisi Fordisastra"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_41WBJDcK-HA/R6VoK3HMy3I/AAAAAAAAAFI/M96bWc_JZV4/s1600-h/Cover+Antologi+Fordisastra+copy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_41WBJDcK-HA/R6VoK3HMy3I/AAAAAAAAAFI/M96bWc_JZV4/s320/Cover+Antologi+Fordisastra+copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5162647083652270962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hem.. kebetulan yang menyenangkan. Fordisastra.com tempat bernaungnya para penyair juga sedang merayakan hari jadinya yang ke-2. Pada hari itu diluncurkan antologi puisi  dalam bentuk e-book judulnya "KEMAYAAN DAN KENYATAAN"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut nama-nama penyair yang termuat didalamnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 102);font-family:georgia;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Abdul Mukhid, Angggoro Saronto, Bumi Kelana, Dedy Tri Riyadi, Dian Hartati, Dino &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;i style=""&gt;Umahuk, Doel CP. Alisah, Epri Tsaqib, Gita Pratama, Haris Firdaus, Hasan Aspahani, Hesti Melinda, Inez Dikara, Jibsailz, Kinu Triatmodjo, Kunthi Hastorini, Lubis Gafura, Nanang Suryadi, Ook Nugroho, Pakcik Ahmad, Pradnya Paramita, Rio Gunawan, Setiyo Bardono, TS. Pinang, Pena bulu angsa (Maya), Yohanes Sugianto, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Menurut rencana, antologi ini bakal dibuat versi cetak sesegera mungkin. Semoga dengan lahirnya satu buku lagi tentang sastra, maka akan menambah warna dan keragaman tentang dunia perpuisian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Ulang Tahun Fordisastra&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-9074635724533035579?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/9074635724533035579/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=9074635724533035579&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/9074635724533035579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/9074635724533035579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2007/11/hari-spesial-part-2-antologi-puisi.html' title='Hari Spesial Part 2 &quot;Antologi Puisi Fordisastra&quot;'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_41WBJDcK-HA/R6VoK3HMy3I/AAAAAAAAAFI/M96bWc_JZV4/s72-c/Cover+Antologi+Fordisastra+copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-5707751569597987408</id><published>2007-11-22T16:12:00.000+07:00</published><updated>2007-12-05T15:38:10.444+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berbagi Kisah'/><title type='text'>Yang Spesial Di hari Ini</title><content type='html'>Mungkin agak narsies, lalu aku mengumpulkan tulisan tulisan yang dialamatkan padaku. Gak semua sih! Tapi sepertinya ini wajar saja dan gak ada salahnya. Hanya setahun sekali aja berhaha hihihi.. Ketika bangun hari ini Ibuku sudah menyediakan kue yang berlapis jelly blueberry.. dan sekaleng twister berwarna ungu. yah... warna kesukaanku. Segala do'a diucapkan dari orang orang yang terdekat sahabat, keluarga, teman, sayangnya musuh aku gak punya. hehehehehe....... mulai dari anak2 @rtNine, arek crystal, anak2 Kemudian.com, sobat Smu, juga temen2 yang penyair. huwehehehe.. enaknya ya punya temen banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa puisi atau apalah namanya di tulis oleh mereka, aku menjadi tersanjung. Tahun ini tidak banyak yang aku minta, tapi malah banyak yang aku dapat. Terima Kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From :Veveandini&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Dalam geliat dingin hangatmu menyeruak diderai tawa yang tak usai, seperti malam yang mengingkari bintang untuk lelap. (November ini masih milik kita kan ya Ta ?)"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;From :My Bro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;Sang mentari setia menghangatkan bumi agar hari ini berseri &lt;/p&gt; &lt;p style="font-style: italic;"&gt;Mengilhami daun yang berguguran pelan penuh makna apa adanya&lt;/p&gt; &lt;p style="font-style: italic;"&gt;Setangkai teratai jiwa berdoa agar kesabaran ceria mengarungi fana&lt;/p&gt; &lt;p style="font-style: italic;"&gt;Meliuk-liuk melewati duri perjalanan diri tanpa luka&lt;/p&gt; &lt;p style="font-style: italic;"&gt;Sebahagia ungu yang merekah menyatu dalam warna&lt;/p&gt; &lt;p style="font-style: italic;"&gt;Mengiringi panah hujan perjalanan usia&lt;/p&gt; &lt;p style="font-style: italic;"&gt;Semoga hidup tenang seperti malam tanpa suara binatang&lt;/p&gt; &lt;p style="font-style: italic;"&gt;Pun hangat embun bahagia senantiasa membuncah pada pelupuk wajah&lt;/p&gt; &lt;p style="font-style: italic;"&gt;Bahagia ombak raga dan layar jiwa&lt;/p&gt; &lt;p style="font-style: italic;"&gt;Mengarungi bahtera hingga selamat sampai Dermaga sang Pencipta&lt;/p&gt; &lt;p style="font-style: italic;"&gt;Semoga dari kini hingga nanti.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;********&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;From : Cibo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ranting dan Daun daun telah terhempas angin &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;menjadi pupuk subur bagi buah elpidos &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;yang waktu lalu kau tanamkan untukku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;elpidos itu menjadi cendana &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;semerbaknya harum &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;menemani langkah langkah hari di kotamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;From : Ayik Hasby&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;SELAMAT ULANG TAHUN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segenap jiwa lantunkan kemerduan suara hati&lt;br /&gt;Lembut mengalun sambut hari bahagiamu&lt;br /&gt;Segala panjat doa dan harap terukir untukmu&lt;br /&gt;Semoga tercapai segala cita dan cintamu&lt;br /&gt;Hari ini kuingin ada sebuah kebahagiaan&lt;br /&gt;Terpancar dari bening sorot matamu&lt;br /&gt;Saat kuucapkan tulus dari palung hati yang terdalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Ulang Tahun&lt;br /&gt;Kepakkan sepasang sayapmu&lt;br /&gt;Kokohkan jejak langkahmu&lt;br /&gt;Gapai segala angan yang menjelma dihati&lt;br /&gt;Panjat suci doaku kan selalu menyertaimu&lt;br /&gt;Andai saja kelak ku tak berarti lagi&lt;br /&gt;Izinkan aku menghiasi mimpi indahmu&lt;br /&gt;Menjadi bayang-bayang harimu&lt;br /&gt;Yang ‘kan selalu membilas air matamu&lt;br /&gt;  Selamat Ulang Tahun&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuh ada beberapa.. yang laen mungkin menyusul. huwaha...ha.. ha...Ngarep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ugh.. dah tua masih aja gini gini aja..!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-5707751569597987408?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/5707751569597987408/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=5707751569597987408&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/5707751569597987408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/5707751569597987408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2007/11/yang-spesial-di-hari-ini.html' title='Yang Spesial Di hari Ini'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-6946748066586015575</id><published>2007-10-01T23:11:00.000+07:00</published><updated>2007-10-02T16:43:44.049+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>RIAK TELAGA DI BENING MATA</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(204, 102, 204);"&gt;: PEREMPUAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Dengan langkahnya yang mantab setelah ia meninggalkan senyum tipis, ia membalikkan tubuhnya dariku. Tapi tak segera kutemukan guncang dipundaknya. Ia meninggalkan malam yang hambar begitu saja. Kemudian langkahnya semakin melebar ketika terdengar ricuhan bintang yang sedang mabuk, menirukan tangis hewan malam yang sengau di telinga. Perempuan itu telah memutuskan untuk memilih pergi dariku, ya.. perempuan bermata bening itu akan begitu saja pergi.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;“Dis.. maafkan aku hanya bisa meninggalkan sekelumit kenangan, tanpa bisa memberimu mimpi berlebih” bisikku ketika ia tak lagi mau memelukku dengan erat. Dan aku tahu apa yang sebenarnya terjadi pada perempuan itu. Walaupun sekali lagi senyumnya yang bagai tirai di pagi hari, mampu meluapkan rasa bersalah yang menganak di ujung hati.   &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;i&gt;Ranting pohon semakin kencang mengucap serapah pada angin, tak mungkin ia patah karnanya. Senyumnya pada daun yang gugur hanya ucapan selamat tinggal pada angin yang menamakannya rindu.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Begitulah perempuan itu mengumpamakan dirinya, berkali kali ia berkata “Aku tak mau ada luka menganga di antara kita. Jika kita masih menemukan rindu maka kita masih syah untuk bertemu. Dan ini resiko kita yang berdiri di padang ilalang”. Aku hanya terdiam terpaku mendengar ia berkata begitu.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Di tepian matanya, tak pernah sekalipun aku melihat danau yang berkabut. Aku selalu menemukan garis tipis yang selalu ia tarik di ujung bibirnya. Ingin sekali aku menemukan sesuatu di matanya, tapi ternyata itu hanya harapan semata. Walaupun aku telah bersiap mengosongkan dada untuk mendekapnya jika ia menangis tersedu. Senyumnya yang tak pernah usai walaupun kisah ini berawal dari masalah yang ada sejak awal aku dan dia bertemu. Itu juga yang membuatku lupa bahwa aku sangat ingin berbagi dan menemani kesedihannya. Aku menjadi laki-laki egois yang hanya ingin mereguk setiap senyumnya untuk menyejukkan batin yang sepertinya telah koyak.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Malam itupun berlalu dengan lambaiannya seperti ucapan selamat tinggal. Tapi perempuan itu tak pernah berkata begitu. Dalam hati aku membuang jauh pikiran tentang arti lambaian itu, lalu berbisik “Sayang, lain waktu semoga kita bertemu lagi!”. Ia menggeleng dengan senyum yang membuat bibirnya membentuk garis lengkung,  sembari berkata sangat lirih “Tidak akan ada lain waktu, sayang..!”. Ataukah mungkin memang aku yang tak pernah mau membaca tanda, lalu menjadi buta  dan berlarian mencari jalan yang lebih terang sebagai jalan menuju selamat? Aku tidak pernah benar-benar mengenal arti setiap senyumannya, seperti saat ini. Dimatanya aku juga tak pernah menemukan riak yang membuat sang senyum enggan bertamu. Aku semakin tersesat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;*********&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sore itu begitu manja tiba-tiba dingin menusuk, matahari begitu angkuh untuk tenggelam tapi cahaya yang biasanya keemasan hari itu menjadi buram, entah ada pertanda apa. Tapi aku tetap bersiap menemui perempuanku. Dengan baju biru laut dan sedikit wewangian beraroma melati yang kusemprotkan di balik kerah, aku bergegas menemuinya. Perempuan yang sudah beberapa minggu kutemui di &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; kecil ini. Aku sudah bersiap dengan kata-kata yang bagiku adalah kabar buruk. Jantungku berdebar berharap akan bertemu riak telaga di bening mata, hingga aku dapat leluasa  mendekapnya dan merasakan isaknya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku menjadi enggan melihat malam yang sebentar lagi datang. Perpisahan… ya perpisahan. Aku sedang menyiapkan sebuah perpisahan di tengah riuh nyanyian jangkrik dan kepik. Kebersamaanku dengan perempuan itu hanya sebentar, dan aku belum tahu apapun tentangnya. Walaupun sudah banyak cerita yang ia kabarkan setiap harinya. Aku begitu ingin mengenal arti setiap senyumannya itu. Tapi rupanya waktu telah habis dan ini harus disegerakan sebelum aku dan dia menjadi lebur kemudian. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Kemudian waktu menjadi batu yang terlempar disegala arah, menghujani kita dengan luka luka yang lama lama menjadi begitu sangat biasa. Dan batu menjadi waktu yang terdiam lama diujung penantian untuk kemudian lebur menjadi debu.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;********** &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kepalaku berputar putar dihujani kenangan tentang perempuan itu. Di suatu perjalanan kecil untuk melupakan penat kepala, aku menemukannya diantara sekian banyak penumpang yang kumal di dalam bus antar &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Waktu itu hujan tipis sedang turun dan aku melihat dia menyandarkan kepalanya di kaca jendela yang basah oleh titik titik hujan. Betapa ayu wajahnya dengan bibirnya yang tipis dan matanya yang bening, sebening air hujan yang berlarian di jendela itu. Aku membayangkan jika titik titik hujan itu adalah air matanya, pasti wajahnya akan tampak seperti senja yang sedang didatangi oleh hujan. Sejenak aku lupa pada isi kepalaku yang hampir penuh. Dan aku hanya ingin berkenalan sehingga aku dapat menikmati mata yang sebening telaga itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Letak dudukku yang berseberangan dengan perempuan itu membuatku tak dapat langsung mengajaknya berbicara. Lalu aku memutuskan untuk mengamati secara diam-diam, agar aku dapat menikmati matanya. Penumpang bus sedikit demi sedikit berkurang, tapi ternyata perempuan itu tak juga segera turun. Sampai akhirnya di terminal terakhir, iapun turun demikian pula aku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Perempuan itu tak segera mencari angkutan lain. Ia malah memilih duduk di bangku ruang tunggu. Entah apa yang sedang ia tunggu. Tapi wajahnya sudah berubah menjadi datar, tidak seperti di dalam bus. Mungkin karrna ia tak lagi bersandar pada kaca jendela yang berhias air hujan. Dan aku merasakan kesepian di tatapannya itu. Ku beranikan diri untuk duduk disampingnya, tapi aku tak segera berani mengajaknya berbicara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Permisi, mas tadi yang di dalam bus ya? Saya Adis.” tanyanya dengan senyum kecil sekaligus ia mengulurkan jemarinya yang lentik. Dalam hati aku merasa terkejut dengan sikapnya yang berani itu. Sedikit keraguan terlintas di benakku mungkinkah ini perempuan baik-baik. Tapi kusambut juga uluran tangannya hanya untuk sekedar menghormati teman baru. Aku mengamati matanya yang sedari tadi mengusikku. Matanya memang bening seperti telaga yang tenang, rupanya jika ia tersenyum matanya menjadi semakin terang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Lukman, ehm Adis mau ke mana?” aku memulai basa basiku. Padahal aku sedang mengatur ritme nafas yang mulai tak karuan. Mulutku tiba tiba kaku terbekap ragu. Tapi perempuan itu rupanya tahu apa yang sedang terjadi padaku. Lalu ia berusaha mencairkan suasana. “Perempuan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ini rupanya pandai membaca” batinku. Dan akupun larut pada perbincangan kecil dengannya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Entah bagaimana asal mulanya akhirnya aku mengantarkan sampai ketempat tujuannya, mungkin karena waktu itu sudah malam dan aku tidak tega membiarkan ia pulang sendiri. Perempuan itu tinggal di sebuah desa di pinggiran  &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Sepanjang perjalanan ia sibuk bercerita bahwa ia sedang berlibur kerumah kakeknya dan ingin membuang jenuh kehidupan di &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Adis seorang mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta yang juga bekerja paruh waktu di sebuah swalayan, begitu ia mengenalkan dirinya padaku. Perempuan itu selalu riang dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;seperti tak ada beban. Bagaimana bisa perempuan berwajah syahdu itu bergulat dengan tawa kecilnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Giliranku bercerita, aku hanya bisa menceritakan sedikit bagianku bahwa aku bekerja di sebuah travel agent. Bukan karena ingin berahasia tapi memang aku sedang tak ingin mengingat “aku” yang sibuk. Dan diapun tak banyak bertanya lagi, mungkin itu bentuk ketidakpeduliannya padaku. Setelah mengantarnya aku yang memang belum tahu mau kemana mencari tempat tinggal di dekat &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Di sebuah &lt;st1:place&gt;&lt;st1:city&gt;vila&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; kecil letaknya didaerah yang lebih tinggi, suasana sejuk karena dikelilingi perkebunan apel. Dan satu alasan lagi kenapa aku memlih tempat itu karena letaknya yang tak jauh dari tempat tinggal Adis.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Perjalanan segera dimulai ketika senja dan malam beradu. &lt;/i&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;i style=""&gt;Ada&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;i style=""&gt; waktu yang setia menunggu kenangan yang akan tercatat. Sesekali waktu pula yang menyembunyikan riuh detak yang mengusir kebersamaan lalu menenggelamkannya dalam diam yang senyap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;*********** &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Baru dua hari bersama tapi aku telah merasakan ada yang berbeda. Lalu aku menggulirkan kisahku yang sebenarnya. Adis hanya diam, setelah selesai aku bercerita baru ia tersenyum dan membiarkan aku yang larut pada masalahku sendiri. Pikiranku yang kalut menjadi begitu tenang saat bersamanya. Walaupun aku bercerita tentang kisah yang rumit, tapi aku tak lagi merasa ingin meledak. Ataukah ini karena hawa desa yang sejuk ikut meredam luka ataukah &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;padang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; rumput yang riuh lenguhan sapi yang sibuk memamah rumput mendamaikan suasana hati? akh entahlah...!&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tanpa terasa aku menjadi ingin memiliki mata sebening telaga dan senyum yang selalu menghiasi wajahnya. Dan aku akan menenggelamkan tubuhnya dalam pelukanku hanya untuk menenangkan diriku sendiri. Mungkin ini egois tapi aku tak pernah tahu apa yang sedang terjadi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Keberanian macam apa yang akhirnya membuatku mengatakan bahwa aku nyaman berada disampingnya. &lt;st1:place&gt;&lt;st1:city&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; merah yang berlarian dipipinya, senyum khas itu muncul lagi tapi tak ada lonjakan emosi semua datar saja seperti hari-hari kemarin. Tapi aku merasa bahwa Adis sepertinya juga semakin menikmati kebersamaan ini, walaupun ia telah tahu semua kisah pahitku yang masih belum terselesaikan. Ia tak pernah tenggelam pada masalah yang aku umbar. Dan perempuan itu berkata bahwa ia hanya ingin menikmati waktu yang ada. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku menjadi semakin khusyuk pada pertemuan-pertemuanku dengannya. Di sebuah bukit kecil menjelang senja aku dan dia selalu berbagi lelucon. Diam-diam aku merekam kenangan kecil di dalam ingatan, tapi perempuan itu malah mengingatkan “Jangan ada kenangan, prasasti, atau apapun. Kisah ini bukan untuk dikenang tapi hanya untuk dinikmati”. Aku menjadi gusar apakah mungkin aku tidak mengingat ini. Sedangkan kepalaku semakin lama terisi dengan senyuman dan kata katanya yang terkadang tak pernah aku mengerti. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Awan yang gelap menjadi begitu terang ketika bulan yang merah menerawang menjelma menjadi bayangannya. Tak ada sekejap waktupun ingin menghardik tawa riuh ditengah badai yang disebut kita.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Disaat aku mulai tenggelam dalam tawa dia malah bersikap acuh. Membuatku terjaga pada segala kemungkinan. Tapi terkadang perempuan itu juga terbang bersama angin yang membuatnya merasa ringan lalu lupa untuk turun. Dan aku harus menjadi pemberatnya untuk membawanya kembali ketujuan semula. “Tanpa kenangan hanya sekedar kisah singkat untuk dinikmati”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;*********** &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tiga minggu kebersamaan sangat begitu singkat buatku, aku larut dalam bayangan bahwa kisah ini akan berlanjut sampai aku dan dia kembali ke habitat semula. Dan aku membayangkan bahwa aku akan menemukan banyak kisah baru. Tapi rupanya waktu tak cukup punya kesabaran. Akhirnya waktupun yang menghancurkan keinginanku itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Dis… tunanganku telah kembali. Dan aku akan segera pulang.” setelah lelah mencari cara untuk menceritakan yang sebenarnya pada Adis. Akhirnya kalimat itu meluncur begitu saja. "Pulang" akhirnya kata kata ini menjadi pilihanku. Aku harus segera pulang untuk membenahi bangunan kisah yang hampir roboh. &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; rona terkejut di wajahnya tapi itu hanya sekejap. Ia cukup tahu bagaimana mengatur emosinya. Dan aku menjadi tenggelam dalam perkataanku sendiri. Aku masih menginginkan kebersamaan ini. Tapi apakah Perempuan ini bersedia? Tanyaku dalam hati. Aku peluk perempuan di depanku itu untuk memastikan bahwa dia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;baik baik saja dan aku juga ingin menentramkan kesedihanku sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Lalu ia melepas pelukannya dan menatap wajahku sejenak. Tatapannya begitu dingin membuatku beku di dalam matanya. Dan sekali lagi senyum yang tak pernah bisa kuartikan ia suguhkan padaku. Kali ini aku melihat riak kecil di telaga matanya, tapi entah bagaimana bisa tak ada ombak yang jatuh dipipinya. “Rupanya sudah tiba waktunya.” jawabnya hampir berbisik. Dan aku hanya mengangguk kecil entah dia tahu aku mengangguk atau tidak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Lalu semua koyak ditelan badai yang mengamuk di tengah permainan nasib. Menjadi perang dengan desing peluru yang memantul ditengah tengah senyum yang ternyata semu. Menjadi karam ditelan ombak yang amuk digelitik luka &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;di dasar laut.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kemudian malam menjadi begitu hambar tanpa senyumnya lagi. Dan aku tak akan lagi bisa menunggu matanya yang bening tergenang air mata. Pertemuan terakhir di sebuah malam dengan bulan merah dan hampir redup. Aku beranjak memunguti sisa sisa senyum yang tercecer di setiap kenangan tentangnya. Walaupun ia tak pernah menginginkan adanya kenangan ini, tapi biarlah aku menjadi pemulung nista yang lebur dimakan kata-kataku sendiri. Dan setidaknya aku bisa melihat telaga itu riuh di depanku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kamar-Tangsi, Sept – Okt 07&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-6946748066586015575?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/6946748066586015575/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=6946748066586015575&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/6946748066586015575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/6946748066586015575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2007/10/riak-telaga-dibening-mata.html' title='RIAK TELAGA DI BENING MATA'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-4116283660547281515</id><published>2007-07-17T17:13:00.000+07:00</published><updated>2007-07-18T13:41:53.145+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Foto'/><title type='text'>Pulau Sempu Dalam Ingatan 2</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_41WBJDcK-HA/Rpye8z1kxeI/AAAAAAAAAD4/4XE0eh9pz_I/s1600-h/PICT0031.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_41WBJDcK-HA/Rpye8z1kxeI/AAAAAAAAAD4/4XE0eh9pz_I/s320/PICT0031.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088116446566073826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tak habis habisnya aku memandang&lt;br /&gt;tebingmu kokoh diterpa ombak besar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kau tampak angkuh dengan dada yang busung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Walau sesekali lumba lumba menggelitikmu, tapi kau acuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetap saja menggerus waktu siang dan malam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_41WBJDcK-HA/Rpydqz1kxdI/AAAAAAAAADw/9bMR6NSU-ks/s1600-h/PICT0016.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_41WBJDcK-HA/Rpydqz1kxdI/AAAAAAAAADw/9bMR6NSU-ks/s320/PICT0016.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088115037816800722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cincin karang yang membatasi Segara Anak dengan laut lepas. diambil di perjalanan menuju tempat Camp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Laut sedang menyusu di rimbun terumbu dan Menyurut di balik bukit karang &lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Membentuk Segara ditepian Anak Pantai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_41WBJDcK-HA/RpyaEj1kxcI/AAAAAAAAADo/ztKP775Ntfo/s1600-h/100B1326.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_41WBJDcK-HA/RpyaEj1kxcI/AAAAAAAAADo/ztKP775Ntfo/s320/100B1326.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088111082151921090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukit Karang yang menjulang diantara hutan belantara dan Pantai mini Segara Anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_41WBJDcK-HA/RpyYOj1kxZI/AAAAAAAAADQ/jBVcUSiXkgI/s1600-h/100B1418.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_41WBJDcK-HA/RpyYOj1kxZI/AAAAAAAAADQ/jBVcUSiXkgI/s320/100B1418.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088109054927357330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari kapal yang membawa kami ke Daratan Pulau Sempu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;aku janji&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;bakal kembali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;perjalanan ini, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;belum selesai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;aku menelanjangimu &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_41WBJDcK-HA/RpyXPj1kxYI/AAAAAAAAADI/58WHrv8cz14/s1600-h/100B1304.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_41WBJDcK-HA/RpyXPj1kxYI/AAAAAAAAADI/58WHrv8cz14/s320/100B1304.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088107972595598722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hem.. ini pemandangan di belakang bukit karang dekat dengan tempat camp.&lt;br /&gt;Angin lautnya mampu membuaimu untuk tak segera beranjak dari tempat itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-4116283660547281515?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/4116283660547281515/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=4116283660547281515&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/4116283660547281515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/4116283660547281515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2007/07/pulau-sempu-dalam-ingatan-2.html' title='Pulau Sempu Dalam Ingatan 2'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_41WBJDcK-HA/Rpye8z1kxeI/AAAAAAAAAD4/4XE0eh9pz_I/s72-c/PICT0031.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-2279359725050138020</id><published>2007-07-16T15:35:00.000+07:00</published><updated>2007-07-19T13:45:16.337+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Foto'/><title type='text'>Pulau Sempu Dalam Ingatan 1</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_41WBJDcK-HA/Rpyj1z1kxhI/AAAAAAAAAEQ/aWz4d5FFR8Q/s1600-h/100B1300.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_41WBJDcK-HA/Rpyj1z1kxhI/AAAAAAAAAEQ/aWz4d5FFR8Q/s320/100B1300.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088121823865128466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan dari Pintu Masuk Pulau Sempu menuju tempat camp Segara Anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana  yang selalu aku rindukan&lt;br /&gt;dan membuatku ingin kembali&lt;br /&gt;Berjalan diantara rimbun pepohonan&lt;br /&gt;dan jalan setapak tanpa polusi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_41WBJDcK-HA/RpyihD1kxfI/AAAAAAAAAEA/FhN5uAAjjqE/s1600-h/100B1351.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_41WBJDcK-HA/RpyihD1kxfI/AAAAAAAAAEA/FhN5uAAjjqE/s320/100B1351.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088120367871215090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Main ranger rangeran di tenga laut yang lagi surut.&lt;br /&gt;huwahahaha.. asik bangett lho..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_41WBJDcK-HA/RptPhD1kxWI/AAAAAAAAAC4/OcgvSPBJ8HY/s1600-h/100B1406.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_41WBJDcK-HA/RptPhD1kxWI/AAAAAAAAAC4/OcgvSPBJ8HY/s320/100B1406.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5087747633429398882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu Masuk Cagar Alam Pulau Sempu&lt;br /&gt;(Catur, Gita,Hansa, Kartika,Gagas, Fatchul) *&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dari Kiri&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_41WBJDcK-HA/RptQ6D1kxXI/AAAAAAAAADA/W3VLV0BaIfI/s1600-h/100B1291.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_41WBJDcK-HA/RptQ6D1kxXI/AAAAAAAAADA/W3VLV0BaIfI/s320/100B1291.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5087749162437756274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat Laut telah surut, kami harus rela turun kapal di tepi Pulau Sempu dengan berbasah basah berjalan melewati karang tajam dan batu yang licin oleh lumut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_41WBJDcK-HA/RptC7z1kxRI/AAAAAAAAACQ/vSUgGQRnn7w/s1600-h/100B1353.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_41WBJDcK-HA/RptC7z1kxRI/AAAAAAAAACQ/vSUgGQRnn7w/s320/100B1353.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5087733799339738386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan Cincin batu karang yang memisahkan Segara  Anak dengan laut lepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Deru ombak besar menyusup diantara Cincin karang&lt;br /&gt;Mengajak bermain  sekawanan angin selatan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sesekali ia mengeluh rupanya&lt;br /&gt;Surut menghalanginya pulang ke Segara Anak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-2279359725050138020?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/2279359725050138020/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=2279359725050138020&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/2279359725050138020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/2279359725050138020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2007/07/pulau-sempu-dalam-ingatan.html' title='Pulau Sempu Dalam Ingatan 1'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_41WBJDcK-HA/Rpyj1z1kxhI/AAAAAAAAAEQ/aWz4d5FFR8Q/s72-c/100B1300.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-3844245685286842446</id><published>2007-07-16T14:55:00.000+07:00</published><updated>2007-07-17T17:04:45.248+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan perjalanan'/><title type='text'>Perjalanan Ke Pulau Sempu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_41WBJDcK-HA/Rpspuz1kxQI/AAAAAAAAACI/3Fok7V1PZhY/s1600-h/PICT0035.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_41WBJDcK-HA/Rpspuz1kxQI/AAAAAAAAACI/3Fok7V1PZhY/s320/PICT0035.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5087706088210744578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-style: italic;" align="justify"&gt;Pulau Sempu  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-style: italic;" align="justify"&gt;Pulau Kecil Pemikat Waktu&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-style: italic;" align="justify"&gt;Berhenti berlalu wahai waktu biarlah diam&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-style: italic;" align="justify"&gt;Terendam  ombak Segara Anak&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-style: italic;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-style: italic;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: -0.04cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kami berkumpul di sekolah hari rabu tanggal 11 Juli 2007, seluruh 6 personil HPPMS(himpunan pelajar pecinta alam SMUN 15 surabaya) dan 1 orang teman (Catur, Aku, kartika, Gagas, Fatchul, Rolex, dan Hansa) yang akan berangkat menuju Pulau sempu sekitar jam 7 malam. Kami mengecek perlengkapan dan packing barang yang akan kami bawa. Setelah itu kami menuju ke terminal bungurasih jam 02.00 tanggal 12 naik bus jurusan malang(8000 rupiah perorang). Kami berangkat dini hari untuk mengantisipasi jalanan yang macet karna lumpur lapindo. Kami naik bus jurusan malang sekitar jam 03.00 dan tiba di terminal arjiosari pukul 05.10 lalu sholat dan istirahat sejenak. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju gadang dengan menumpangi lyn AMG/AG (3000rupiah perorang) jam 06.20 Perjalanan ditempuh sekitar setengah jam. Setibanya di gadang sekitar jam 07.10 kami menumpangi colt bison menuju turen. Sebenarnya sopir colt sudah menawarkan untuk mengantar kami sampai dengan Sendang Biru kampung nelayan dan perhentian terakhir menuju Pulau sempu.tapi ketika melewati daerah turen kami dicegat leh angkot daerah turen dan memaksa kami untuk pindah angkutan. Biaya deal dengan sopir colt gadang sampai sendang biru 100 ribu. (Gadang - Turen 40.000 Turen - Sendang Biru 60.000 untuk 7 orang).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-left: -0.04cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-left: -0.04cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Perjalanan dari Turen ke Sendang Biru menempuh perjalanan yang lama sekitar 3-4 jam jalannya yang sempit berkelok kelok melewati bukit, membuat kami kelelahan dalam perjalanan itu.  Kami tiba di sendang biru jam 11.50 beristirahat dan makan sampai jam 02.00. Setelah mengurus perijinan, mengisi persediaaan air selama 2hari dan mendapat kapal yang akan membawa kami menuju pulau (harga transportasi kapal 75.000 rupiah antar jemput) kami berangkat. Untuk menyebrang pulau tidak memakan waktu banyak karna pulau itu memang dekat dengan Sendang biru. Laut sudah surut ketika kami turun kapal dan akhirnya kami harus berbasah basah menuju daratan dan berkecek kecek ria. Batu karang yang tajam memaksa kami untuk sedikit merasakan terapi pijat karna kami harus melepas sepatu agar tak basah. Jadi agar tak melewati karang lebih baik menyebrang diwaktu air masih pasang. Setelah itu kami berdo’a di “pintu masuk” Segara Anak. Sebenarnya kami ingin menuju Telaga Lele agar mudah kami mendapat air tawar tapi karna teman saya Catur lupa kalau seharusnya tidak turun di pantai itu untuk menuju Telaga Lele akhirnya kami mengganti tempat Camp di Segara Anak. Kami menempuh perjalanan dengan jalan kaki antara satu setengah jam sampai dua jam untuk menuju tempat itu. Medan yang ditempuh tidak terlampau jauh hanya saja banyak jalan yang menanjak lalu turun dan menanjak lagi. Kami sudah cukup lelah dengan perjalanan yang ditempuh dari Surabaya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: -0.04cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-left: -0.04cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Kami beristirahat dalam perjalanan sebanyak dua kali. Setelah melewati jembatan bambu rusak sayup sayup debur ombak tipis terdengar. Semangatku, Catur dan Hansa semakin terpacu (ke 4 orang; rolek, kartika, gagas dan Fatchul sudah berada didepan). Melewati pingiran tebing yang di bawahnya sudah terlihat laut kami harus sedikit berhati hati dengan beban yang kami bawa masing masing sekitar 15 kg. Terlihat cincin batu karang yang memisahkan pantai itu dengan laut lepas kami mengambil dokumentasi. Ternyata di depan sudah terhampar pantai dengan pasirnya yang putih bersih tidak ada sampah dan ombaknya yang tidak galak, kami serasa disambut dengan pemandangan yang indah. Segara Anak dikelilingi bukit dan batu batu karang.  Kami tiba jam 04.30 mencari tempat mendirikan tenda dan bersiap siap memasak makan malam. Di belakang tempat camp ada bukit batu karang. Aku mendakinya untuk melihat ada apa dibaliknya ternyata itu adalah palung laut, pemandangan diatas sana sungguh indah. Tebing karangnya yang kokoh dan debur ombak yang besar membuat mataku takjub memandangnya di bawahnya sudah laut lepas samudra hindia wah benar benar tidak rugi harus meminta ijin kerja dan perjalanan yang harus kami tempuh. Menurut informasi sekitar jam 3-5 sore biasanya terlihat lumba lumba berenang disitu, sayangnya aku tidak bisa melihatnya karna sudah terlalu sore. Hawa disitu tidak dingin hanya hembusan anginnya saja yang sedikit kencang. Sebenarnya kami tidak ingin cepat cepat tidur tapi energi kami habis. Setelah makan malam, bersih bersih dan evaluasi perjalanan dari mulai berangkat sampai tiba, jam 11 malam kamipun tidur. Malam yang indah karpet buaian langit terhampar dengan bintang selatan redup yang tersebar. Deru ombak tipis sebagai backsound menambah syahdu tempat itu.  Dan tidak ada keinginan untuk segera berpisah dengan Segara Anak. Aku sendiri tak rela menyianyiakan waktu disitu. Jauh jauh ke Sempu kok buat tidur. Rolek sudah tertidur pulas ditenda sedangkan aku, Catur, Hansa asik membuat sosis bakar. Setelah itu sebenarnya kami masih ingi menikmati malam dengan mbermain kartu akhirnya terpaksa kami tidur juga. Hansa Dan Catur sudah larut dalam mimpinya, putus asa tidak bisa main poker. Heheheh.. (orang aneh ya?. Aku juga kecewa sih..!) akhirnya aku pun ikut lelap diapit tiga orang laki laki itu.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: -0.04cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-left: -0.04cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Hari itu (kamis malam) tidak banyak yang datang hanya ada 2 kelompok. Besoknya jum’at siang datang kelompok lain juga ngecamp ditempat itu. Sedikit kecewa ketika ada serombongan keluarga datang dengan membawa porter pengangkut barang ternyata tempat ini tidak steril ketakutan pada pengunjung yang kadang membuang sampah sembarangan akan merusak tempat ini. Mungkinkah 5 tahun lagi wajah Segara Anak Khususnya Pulau Sempu akan sama seperti ini. Semoga BKSDA mampu membuat kebijakan untuk pelestarian pulau ini. Hari jumat kami memulai kegiatan kami 3 orang anggota muda HPPMS dipersiapkan untuk menerapkan materi survival yang sudah diberikan disekolah. Mereka disuruh untuk membuat jebakan untuk mencari hewan buruan. Aku ditunjuk sebagai pengawas mereka menuju dua tempat di hutan, tempat pertama tak jauh dari tempat camp, yang kedua agak jauh dan menuju jalan pentangan yang ternyata ada sebuah goa disitu. Sekitar 2 jam mulai jam 10 sampai jam 12 kami kembali menuju tempat camp untuk makan siang.  Laut mulai surut sampai cincin karang yang kemaren aku lihat itu. Aku, Hansa, Catur, Rolek menunggu perisapan 3 anggota muda bersih bersih sisa makan siang, kami berenang menuju cincin itu. Lautnya indah tapi sayang di cincin karang itu banyak bulu babi. Aku tidak bisa mengintip laut luas dibalik cincin itu. Setelah puas berenang kami kembali ke camp, ganti baju dan membersihkan tubuh kami yang basah. AM sudah diinstruksikan untuk melihat jebakan yang dibuat tadi. Kali ini pengawasan diserahkan pada Rolek. Sedangkan Aku Hansa dan Catur menjaga tempat Camp sambil bermain poker.  Sore hari kami menyiapkan makan malam setalah bercengkaram kami harus tidur karna malam hari ada kegiatan lagi. Ke 3 AM beritirahat kami pun juga mempersiapkan acara untuk pembayatan dan penyerahan scraf untuk 3 AM tersebut. Semakin malam ternyata ramai sekali sekitar 4 kelompok laen datang. Dan kami harus memutar otak untuk mencari alternatif tempat laen atau menyiasati pemberian scraf unuk merka. Setelah itu kami tiudr. Jam 12 malam kami bangun rencannya malam itu akan dilakukan pembayatan ternyata masih ramai. Akhirnya alterntif dipakai jam 4 pagi mereka dibangunkan untuk acara pemberian scraf. Selesai acara kami berkumpul melingkari api unggun. Menunggu pagi lalu beres beres persiapan untuk kembali pulang ke peradaban. Aku dan teman teman lain kehilangan minat untuk meneruskannya sampai minggu karena tempatnya sudah begitu ramai.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: -0.04cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Jam 7 pagi hari sabtu kamipun bergegas untuk pulang. Perjalanan kembali ke pintu masuk  Sempu kali ini hanya ditempuh dengan satu setengah jam. Sampai di bibir pantai tempat masuk Segara Anak kami menghubungi Pak Mamik untuk memberitahukan kalau rombongan sudah menunggu. Kembali kami naik kapal ke sendang biru dan sudah ditunggu angkutan yang kemarin mengantarkan kami. Tidak sempat bersih bersih kamipun langsung  naek kendaraan, supir angkot menawarkan untuk mengantar kami ke Gadang (90.000 rupiah dari Sendang Biru ke Gadang untuk 7 orang) setelah sampai Gadang kami naik angkutan menuju arjosari (3000 rupiah /orang) lalu ke arjosari naik bis kembali pulang ke surabaya. Sampai di terminal bungurasih jam 16.45 dan kembali ke sekolah untuk mencuci peralatan dan berish bersih badan yang sudah 2 hari tidak mandi.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: -0.04cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: -0.04cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Rasanya ingin aku kembali ke Pulau Sempu masih banyak tempat di pulau itu yang ingin aku lihat semoga bulan depan bia kembali. Mengobati kerinduanku pada bau laut dan camar yang sesekali lewat diatas langitnya yang biru dan bukitnya yang hijau. Sepertinya perlu waktu yang agak panjang untuk bisa menikmati keindahan sempu. Yah seminggu mungkin itu berarti kami harus membawa air dari Snedang biru berapa liter ya??. Dua hari untuk 7 orang saja kami perlu 25 liter. Hem.. berarti harus mencari tempat camp laen yang dekat dengan pantai dan sumber air tawar.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-left: -0.04cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;*foto bisa diliat di posting selanjutnya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-3844245685286842446?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/3844245685286842446/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=3844245685286842446&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/3844245685286842446'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/3844245685286842446'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2007/07/perjalanan-ke-pulau-sempu.html' title='Perjalanan Ke Pulau Sempu'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_41WBJDcK-HA/Rpspuz1kxQI/AAAAAAAAACI/3Fok7V1PZhY/s72-c/PICT0035.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-8547990826133412555</id><published>2007-06-06T15:29:00.000+07:00</published><updated>2007-07-08T17:15:23.575+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan perjalanan'/><title type='text'>Kunjungan Pejabat Kemudian.com di Surabaya</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Sabtu malam tanggal 2 juni kmaren aku mendatangi kediaman “Farida” di perumahan yang asing, di daerah dekat juanda. Karna aku dapat kabar Pejabat K.com sedang berkunjung ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Wah mumpung nih..! jadi ada gak ada waktu aku kudu sempet ketemuan. Aku harus bolak balik di sepanjang jalan aloha untuk mencari perumahan tempat meraka tinggal. Akhirnya setelah berputar putar sebanyak 2 kali dan bertanya pada 2 supir taxi &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;perumahan itu ketemu juga. Jalannya gelap dan rumit, rumahnya besar besar, hii.. agak serem sih! Tapi untung aku ada bakat maling jadi terus saja berputar putar mencari alamat rumah mereka di blok ff no.5. dan akhirnya berhasil juga. Aku temukan rumah mereka.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kedatanganku di sambut dengan hangat oleh mereka, Semua makanan yang ada, mereka keluarkan, dengan sedikit promosi mas rizki&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bilang “ini kue buatan ibuku lhoo.! Enak khan?” Mbak tiva tidak mau kalah menjamuku dengan segelas syrup buatan sendiri rasanya asem tapi segar katanya sih dari bunga (bunga apa mbak??) setelah ngobrol ngalor ngidul tentang Kemudian.com, rencana bikin penerbit indi, workshop yang kemaren waktu kopdar &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;bandung&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; diusulkan oleh salah seorang anggota K.com (sapa ya mbak aku lupa?) trus &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;foto foto, jepret kiri jepret kanan akhirnya aku harus pulang. Padahal aku belom mau pulang. Jam dinding masih menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Ya sebagai tamu yang baik dengan rela aku harus pulang “ini rumah orang bukan tempat nongkrong” batinku. Hehehehe… &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Hari minggu mereka rencananya akan balik ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;bandung&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Dengan segera aku hubungi nisa dan KD. Nisa setuju untuk bertemu di Stasiun gubeng baru, sedangkan KD si makhluk aneh entah kemana. Tidak ada kabar apapun dari KD, pulsa habis hanya untuk SMS berkali kali padanya. Sejak jum’at sebenarnya aku sudah berusaha menghubungi tapi KD tidak segera ada tanggapan. Akhirnya hanya aku dan pikanisa saja yang betemu dengan mereka di stasiun. Hal pertama yang dilakukan ketika bertemu adalah salaman lalu foto foto. Aneh ya?? kok foto foto?? Hahahahaha… waktu mereka sudah sempit kereta jurusan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;bandung&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; sudah dating. Tak sempat kami berbicara panjang. Akh.. coba Mbak tiva dan Mas Rizky lebih lama di Surabaya khan bisa puter puter &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; duluu…!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Sekian laporan dari saya tentang pertemuan saya dan pikanisa bertemu dengan pejabat Kemudian.com. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;walau laporan ini terlambat, asal selamat Hehehehe…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Kapan lagi Mbak.. Mas.. ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;??? &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-8547990826133412555?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/8547990826133412555/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=8547990826133412555&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/8547990826133412555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/8547990826133412555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2007/06/kunjungan-pejabat-kemudiancom-di.html' title='Kunjungan Pejabat Kemudian.com di Surabaya'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-1632555022601967026</id><published>2007-06-03T14:15:00.000+07:00</published><updated>2007-07-08T17:17:36.134+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Surat Kelima yang Tak Selesai</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 10.3pt 0.0001pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Ini &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; kelima.. tidak perlu kau tanya pada siapa saja &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; itu terkirim? aku sebal membaca &lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; sebelumnya. Di situ aku tampak bodoh, seperti pengemis sekarat yang tinggal menunggu ajal. Mas… sudah kusimpan diam diam ingatan tentang malam itu. Bahkan ingatan puisi tentang bulan milikmu. Berhari hari, berbulan bulan, aku mengacuhkan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;telepon genggam hanya untuk menyembunyikan kerinduanku padamu.&lt;span style="color:red;"&gt; &lt;/span&gt;Mas..! akh.. sudahlah.. ini &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; kelima tanpa basa basi lagi aku memintamu membaca dan mengerti inginku!&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 10.3pt 0.0001pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kuletakkan pena yang sedari tadi mendiami sela sela jari. Aku sudah terlalu lelah mengorek ngorek isi hati, hendak menulis apalagi. Semakin panjang &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; ini semakin terlihat bodoh. Otakku buntu, hatiku beku, tubuhku kuyu, mataku biru, air mata sudah hampir menggenang. Tapi berkali kali kutahan ditepi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mata tertahan bulu mataku yang lentik. Sebatang rokok telah tandas terhisap bibir tipis nan hitam milikku. Tak terhitung pula berapa puntung yang berserak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sesekali aku berbisik dalam hati “Segera usaikan tangismu…! sekarang…! malam ini! Besok tak perlu lagi air mata itu ? kau tak butuh kesedihan lagi… Ratna..!” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kuhantamkan kalimat itu berkali kali di dinding hatiku dan pecahlah telur telur airmata yang tersimpan di ujung mata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Mas wahyu laki laki berperawakan tinggi dengan tampang keras, berwajah kotak seperti kaleng krupuk, tidak ada yang menarik dari dirinya. Entah apa alasannya sejak dua tahun yang lalu aku tidak pernah bisa berhenti berpikir tentangnya. Mas Wahyu memang bukan kekasihku setidaknya aku berhubungan dengannya tanpa status. Aku dan dia hanya teman sebatas kegiatan di kampus saja. Tapi entah ada apa di antara kami, orang lain selalu melihat ada yang lain setiap aku bersamanya bukan hanya sebatas teman. Sampai pada akhirnya 2 bulan yang lalu aku bertanya sesuatu tentang hubungan kami. Dia hanya menjawab “Aku hanya menganggapmu teman, Ratna..!” mulai hari itu sampai keesokan harinya aku mulai menjaga jarak. Aku merasa lega karena aku tidak perlu lagi berharap dan menunggu suatu kepastian. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tapi sejak pertanyaanku itu terlontar dan aku mulai menjaga jarak, Mas Wahyu semakin berani mendekat padaku. Dia mulai berani memelukku, aku tak pernah bertanya maksud perlakuannya. Aku diam dan hanya bertanya dalam hati apa maksud semua itu. Ketika di sebuah taman dia tiba tiba meminjam HPku lalu ia mengetik sesuatu disitu. Setelah sampai di rumah aku baru tahu ada pesan singkat yang dia simpan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Bila bulan buram tertutup risau awan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Coba bertaya pada semua hembusan angin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Benarkah dia?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Apakah dia?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Taukah dia?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="SV"&gt;15juni06 00.05 by ”W”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Taman Apsari dicuri sedikit waktu dari hpku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Entah apa maksudmu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Puisi itu Mas Wahyu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tulis ketika aku dan dia sedang berada diambang ketidakjelasan yang amat sangat. Puisi yang membuatku hingga setahun ini tak pernah bisa paham arti dan keinginannya padaku. Apa yang selalu dipikirkannya tentangku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Mas… apa yang kau maksud di puisi itu? Apa perlu aku bertanya? Harga diriku terlalu tinggi untuk bertanya maksud puisi singkat yang sederhana. Tapi maknanya begitu dalam. Sedalam apa? aku juga tidak tahu. Sampai kapan puisi itu menjadi teka teki. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 10.3pt 0.0001pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 10.3pt 0.0001pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Mas.. puisi itu begitu melekat Tak satu katapun aku lupa. Aku tau ada yang tersembunyi disitu, tapi apa? katakan? Beberapa bulan kau pergi, menghindariku mungkin? Kita tak pernah saling berbicara bertatap muka, hanya lewat pesan singkat kita berbicara. Puisi itu begitu dalam. Aku tau...! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style=""&gt;Surat&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style=""&gt; kelima yang terpatah patah dibait bait yang berantakan seperti percaan kain kain mamel milik seorang penjahit. Mungkin kalimat itu akan kuletakkan di tengah tengah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; kelimaku. Atau akan aku kirim lewat pesan singkat saja. Akh.. entahlah! Aku sering berbalas puisi dengannya,. sebelum pesan singkat itu aku kirim, berkali kali kutatap layar berwarna ungu. Sesekali jari jemari hendak memencet tombol &lt;i style=""&gt;send&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kubatalkan lagi… &lt;i style=""&gt;clear&lt;/i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;********** &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;LakiLakiku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Laki lakiku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Sudah kukutuk kau&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Tetap saja syaraf otak mengiangkanmu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Laki lakiku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Sudah kuhapus kau dari daftar mimpi burukku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Laki lakiku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Seperti candu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Merengkuhku hingga remuk sluruh batas dosa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Bekas pelukan eratmu merayap menyelimuti do’a do’aku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Laki lakiku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Kau memang bukan kekasih&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Tapi hati selalu memanggilmu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;Laki lakiku &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Dialam sadar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Dialam mimpi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;2juni07&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Puisi puisi itu mengejan keras didalam perutku, seperti janin bayi yang lelah terkurung dalam rahim sang bunda. Dan kembali tidurku tak nyenyak. Mengusik pertapaan panjang malamku. Rumus baru untuknya. Ya.. dia &lt;i style=""&gt;lakilakiku&lt;/i&gt; bukan kekasihku. Tapi apa bedanya? Kembali aku beringsut merangkak di atas bantal menahan tangis menunda mimpi baru tentangnya datang lagi malam ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;“Ratna.. letakkan matamu disisi segelas air putih, tenangkan mata batinmu” hati kecil membisikkan kata kata itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Lembaran kertas kertas itu semakin berserak di atas meja kecil sebelah tempat tidur unguku. Puisi tentang bulan miliknya tak pernah terungkap, masih misteri. Suasana misteri, hati misteri, tubuh misteri, dirinyapun misteri. Abu abu rokok bertabur di atas kertas kertas itu. Kegelisahaanku tercampur baur antara puntung rokok, segelas air dan kertas kertas lusuh itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;********* &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sebulan yang lalu entah bagaimana awal mulanya aku dan Mas Wahyu bisa kembali bercanda mesra tanpa ada sedikit pertanyaan tentang puisinya itu. Dan semua berlalu begitu saja kembali ketidakjelasan yang aku dapat. Dia memang &lt;i style=""&gt;lakilakiku&lt;/i&gt; tapi bukan kekasihku. Tidak bisa setiap saat aku memintanya menjadi kekasihku hanya sesekali disaat hatinya sedang ingin, maka ia datang menjadi laki laki untukku. Dan aku hanya perempuan bernama Ratna yang selalu menantinya menjadi laki laki untukku. MasWahyu tanpa keahlian bermain musik hanya mengandalkan kisah petualangan liarnya tapi aku selalu menunggunya. Masa depan yang sepertinya dia juga belum tahu bagaimana mengaturnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;“Ratna.. laki laki macam apa itu? Apa yang ia bisa lakukan untukmu? Memberi pilihan padamu saja ia tidak bisa?” pikiran pikiran di kepala semakin mencambuk hatiku keras keras. Dan aku hanya bisa diam dan tertunduk menahan air mata turun. &lt;st1:city st="on"&gt;Surat&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; itu menari nari semakin kencang memancing air mataku untuk turun menukik di dasar luka luka yang tak pernah kering dan mengelupas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 10.3pt 0.0001pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 10.3pt 0.0001pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Entah sampai &lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt; keberapa akan kusimpan &lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; ini hingga keyakinanku berubah untuk pergi meninggalkanmu! Mas Wahyu.. bisakah kau beri aku beberapa pilihan seandainya aku pergi sanggupkah kau hilang selamanya? Tak perlu lagi senyum manismu, tak perlu lagi pelukan eratmu, tak perlu lagi lelucon sayangmu.... atau terima aku menjadi perempuanmu sama sepertiku yang menjadikanmu laki lakiku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Isi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ketiga itu kembali kubaca, aku menemukannya diantara tumpukan puisi puisi malamku. Memang benar benar seperti pengemis yang mengais belas kasih &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;pada laki laki yang bernama Wahyu. Kebencian macam apa yang sudah menghukumku hingga pikiranku teracuni oleh laki laki itu. Karma apa yang telah di dapat hingga pikiran pikiranku tertuju hanya padanya. Dan Gagallah lagi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; ketiga itu terkirim. Kuremas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kertas itu dengan tenaga yang lemah kehabisan darah, kehilangan nyawa. Bagaimana lagi kutulis &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang isinya hanya ingin memintanya bersikap lebih dewasa dengan membiarkan aku pergi dan menghilangkan keinginan bersama dengan dirinya.&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Surat&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang lain entah tergeletak dimana, aku juga tak ingin mencarinya. Isinya toh juga sama seperti &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; ketiga ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 10.3pt 0.0001pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 10.3pt 0.0001pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Bolehkah aku sebut itu salahmu? menyimpan puisi sembarangan, meletakkan pelukan sekehendak hati, dan datang menjadi laki lakiku semaumu? Aku hanya perempuan biasa yang selalu bermain perasaan sebagaimana kuatnya tubuhku dan sebagaimana sifat laki laki ditubuh perempuanku ini. Atau kau memang laki laki sinting yang lupa ingatan bahwa bentuk tubuhku ini perempuan? Kalau kau memang sinting bolehlah aku menjadi sinting untuk memakimu sekehendak hati. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Perlukah kutambahkan kalimat makian itu pada &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; kelima? Bagaimana kalau Mas Wahyu menjauh, bagaimana kalau ia pergi tanpa sempat memberiku pilihan? Pikiran pikiran apalagi yang merasuk diotakku, aku sudah tidak bisa lagi membedakan apa yang baik untuk ditulis dan apa yang tidak baik untuk tidak ditulis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;********** &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;03.00 dini hari, mata ini masih menggantung menatap kertas putih yang kosong. Belum ada satu baitpun kususun untuk &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; kelima itu. Dingin, malam ini entah mengapa begitu dingin padahal masih musim kemarau. Gerimis tipis tiba tiba jatuh mengetuk jendela kamar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 10.3pt 0.0001pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 10.3pt 0.0001pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Sudah kutanyakan pada hatiku, apa aku butuh atau tidak padamu laki lakiku…! Beberapa malam, beberapa bulan, beberapa tahun aku habiskan untuk memikirkan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; kelima ini. Kau tak perlu tahu kemana larinya &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; pertama sampai ke empat. aku harap kau mengerti maksud kalimatku… selamat pagi! Dan mimpiku akan segera datang! Salam sayang… salam rindu… dan selamat tinggal Mas Wahyu “lakilakiku”.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style=""&gt;Surat&lt;/span&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style=""&gt; kelima yang singkat, embun pagi segera menyusul setelah shubuh yang dingin ini lewat segera kuambil air wudhlu dan segera mengahadap padaNya, berharap apa yang tertulis kali ini memberi aku jawaban.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;“Ratna… perempuan dengan airmata yang selalu menggantung ditengah tengah tawa riuh! Sampai jumpa pada mimpi barumu!” hati kecilku menjadi tenang dan membiarkanku tertidur dengan senyum. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 10.3pt 0.0001pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 10.3pt 0.0001pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;NB : Dan Puisimu tetap menjadi misteri buatku, aku biarkan puisimu tetap menjadi milikmu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-1632555022601967026?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/1632555022601967026/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=1632555022601967026&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/1632555022601967026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/1632555022601967026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2007/06/surat-kelima-yang-tak-selesai.html' title='Surat Kelima yang Tak Selesai'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-3481682264357511839</id><published>2007-05-11T14:56:00.000+07:00</published><updated>2007-07-08T17:21:13.634+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>KB alias Keluarga Baha[ya]gia</title><content type='html'>&lt;p&gt;“Dik, mamamu mana?”.&lt;br /&gt;“Eh papa, tumben siang sudah pulang.”&lt;br /&gt;“Iya.. papa mau keluar kota ada meeting mendadak! Mamamu kemana dik?” &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sejam yang lalu perempuan yang dipanggilnya mama pergi setelah mencium kening dengan tergesa gesa.&lt;br /&gt;“Jangan kemana mana, belajar di rumah! mama mau ke salon peremajaan trus arisan” perempuan itu tadi berpesan sambil melesat cepat dengan pakaian yang super seksi dan wangi &lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Oh.. mama tadi sih bilang arisan trus ke salon mau peremajaan katanya!”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengarkan jawaban sang anak, laki laki itu langsung menuju kamar menyiapkan pakaiannya sendiri. Dan lalu menghampiri anaknya untuk mencium kening dengan tergesa gesa.&lt;br /&gt;“Dik.. papa berangkat dulu! rekeningmu sudah papa isi, jangan boros ya! Bilang sama mamamu, papa keluar kota. mendadak!” pesannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;******&lt;br /&gt;“Ma.. papa sekarang di luar kota! 2 hari baru pulang. Sekarang mama sedang apa? Papa kangen nih!” di sebuah kamar hotel, pesan singkat terkirim. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Om.. gimana? Pake pemanasan gak? Biar seru aku setel film blue terbaru ya? Duh dingin nih om..! sini dong om jauh jauh amat!” perempuan muda, kulit putih mulus, tubuh mungil dengan rok pendek separo paha, kira kira berumur 18 tahun bergelayut manja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Tulilut tulilut…” tanda sebuah pesan diterima&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“oh iya pa.. gpp.. mama masih ngumpul ama temen nikmatin peremajaan pa! mama juga kangen cepet pulang ya pa!” demikian pesan pendek itu terbaca di layar tipis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;******** &lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Dik.. mama masih di rumah tante Nurul! Mungkin pulang larut. Sudah makan belom? kalo mau makan, minta mbak Nah aja. Met bobo’ ya!” Pesan terkirim.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Hahaha.. sibuk apaan sih jeng? nih.. dah ada brondong disini, yang di rumah pikirin besok aja!” Perempuan setengah baya dengan pakaian seksi dan perhiasan yang menempel dimana mana tertawa girang. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Ikh iya nih.. hasil arisan jangan disia siakan lumayan jeng..! keker juga nih brondong. sapa yang dapet pasti beruntung!” Perempuan lain yang tak kalah seksi ikut menyahut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;******&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-3481682264357511839?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/3481682264357511839/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=3481682264357511839&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/3481682264357511839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/3481682264357511839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2007/05/kb-alias-keluarga-bahayagia.html' title='KB alias Keluarga Baha[ya]gia'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-1739009815081084824</id><published>2007-04-16T12:13:00.000+07:00</published><updated>2007-07-19T13:40:24.051+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Laki Laki Tak Bernama</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Hei… lepaskan sepatu itu..! rumah ini sudah kotor jangan kau tambah dengan noda dari sol sepatumu!” Teriakkannya memekakan telinga.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Selalu saja begitu, pulang dengan tubuh lunglai. Tak sekalipun perempuan itu menyambut kedatanganku dengan senyum dan tawa renyah. Walau aku sudah menyiapkan lembaran ratusan ribu dalam amplop. Perempuan itu masih dengan matanya yang merah dan nyala berkobar kobar memakiku.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sepatu ini tak lebih kotor dari tubuhku lalu kenapa kau mengjinkan aku membasuh diri dengan noda. Tak pernah sedikitpun kau mengajariku tersenyum, bermanja, bahkan mengenal siapa aku.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Perempuan, aku ini siapa? Buat apa aku setiap hari menunggu kau memanjakanku kenapa aku selalu ingin pulang dan berteduh dibawah keriput dan bibirmu. Aku sudah pulang, tubuhku ini begitu lusuh begitu ingin mandi. Kaki, paha , perut, kelamin, mulut dan mataku begitu lelah. Perempuan kapan aku bisa bersedekap ditubuhmu. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;“Sudah makan kau? Itu nasi sisa kemaren masih belum habis. Habiskan saja untuk menyumpal mulut jahanammu!” perempuan itu masih memakiku tak pernah ada sedikit kata kata lembut buatku. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sisa dentum musik tadi malam yang terngiang ditelingaku terkalahkan oleh makian makian itu. Suaranya yang serak lebih serak dibanding penyayi klub malam ditempatku biasanya bersemedi, menyusup dalam telingaku. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku sangat lelah setelah mengembara dari satu laki laki kemudian ke perempuan perempuan lalu kembali ke laki laki lagi. Amplop berukuran jumbo hampir tak cukup menyimpan penghasilanku dalam semalam. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;“Laki laki…. Apa yang kau tumbukkan didadamu! pulang hanya membawa amplop tebal saja, kau merasa sudah bekerja keras!” ocehan ocehan itu masih terdengar sampai aku harus menutup telinga.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Perempuan tanpa nama tapi aku tau disana aku berasal, dari sana dulu aku menetek. Di kedua buah payudaranya aku menyusup menjadi laki laki. Perempuan dengan keriput yang mengeras. Air matanya sudah kering digantikan dengan keringat dimasa mudanya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;“Laki laki…. Jangan kau tunjukkan muka padaku! Kalau kau belum tau apa itu perempuan!”  perempuan itu semakin meracau.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu tak pernah menatap mukaku entah jijik atau benci. Sejak aku bisa melihat isi dunia perempuan itu tak pernah mengelus tubuhku lagi. Semakin aku menjadi laki laki semakin terasa kebencian dari mulut dan tatapan matanya. Bahkan sentuhan sentuhannya yang sangat jarang dan hampir tidak pernah aku rasakan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Oh.. perempuan kapan aku dapat menjumpai senyum untukku. Karena laki laki ia begitu gila, gila mengumpat, gila menghina, gila menyusu pada malam. Aku laki laki satu satunya yang selalu ada disini di rumah ini selalu dipanggil laki laki. Aku laki laki tanpa nama seperti perempuan itu, aku tak pernah bernama. Aku hanya kenal dan tahu bahwa aku laki laki.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kebencian yang membesarkan aku. Kesengsaraan yang bermain denganku. Aku laki laki tak bernama sama seperti Ibuku&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-1739009815081084824?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/1739009815081084824/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=1739009815081084824&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/1739009815081084824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/1739009815081084824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2007/04/laki-laki-tak-bernama.html' title='Laki Laki Tak Bernama'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-4577593147573596173</id><published>2007-03-27T22:38:00.000+07:00</published><updated>2007-07-08T17:13:55.791+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Telepon Aneh</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Hari yang cerah dengan luka yang tak parah. Dengan santainya kutautkan saja kepala di bingkai jendela menghadap ke arah jalan. Sudah jadi kebiasaan tiap pagi melamun dulu memungut remah remah embun walaupun matahari sudah tinggi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Mar… telepon..!”, sial teriakan itu langsung membuat perut mengandung perasaan mulas.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Dengan malas aku henyakkan pantat yang masih melekat erat pada sisi pembaringan kesayangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Ya.. siapa ini?”, tanyaku dengan malas malasan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Mar.. pulang… emak lagi nunggu! Sudah gak perlu banyak bicara, pulang saja! Yang penting khan emakmu! Pak Lurah sudah suruh saya hubungi kamu, tapi kemana mana tidak pernah ada kamu! Bapakmu sampe muring muring tendang tendang pagar pembatas bingung cari cari kamu, utang sama rentenir juga belom terbayar, emakmu sakit parah.”, tanpa jeda ia menceritakan sesuatu. Sepertinya keadan yang gawat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Ya.. kenapa? Ini siapa?”, tanyaku sekali lagi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Efek kejut yang mengejutkan. Aku masih bertanya tanya siapa yang sedang nyerocos suruh pulang, ada apa dengan ibu. Kenapa dia bilang emak? Sejak kapan ibu dipanggil emak? Jangan jangan dia sodara kandung yang baru saja ditemukan ibu. Seperti disinetron yang sering aku tonton.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Mar.. dengerin ya! sawah sepetak trus kerbau 10 ekor gak ada yang urus, Bapak sudah pergi jemput kamu dikota tapi gak ketemu!”, masih saja orang itu sibuk bercerita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Lho ini siapa? trus kapan bapak kesini? Masa Bapak saya gak tau tempat kost saya, tapi akh…. siapa sih ini kok tau no telp saya?”, semakin penasaran saja aku dibuatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Sial nih orang benar benar bikin pusing padahal tadi belom sempat ngelap iler* yang nggantung, bersihin belek** yang nyangkut. Aduh.. ada apa dengan ibu di kampung. Ngapain juga bapak nyari tapi kok gak langsung ketempat kostku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Pak.. mas.. pakde.. akh siapa sih ini? Sejak kapan orang tua saya punya sawah apalagi ternak kerbau?” bukannya dijawab malah orang itu teriak &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Mar.. kamu mau pulang gak? Kalo enggak saya bunuh diri sekarang..!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Klik… tut…………!” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Brengsek malah ditutup. Gantian sekarang aku ngomel ngomel sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Dasar orang gila..!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;iler*      = air liur&lt;br /&gt;belek**= tai mata&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-4577593147573596173?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/4577593147573596173/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=4577593147573596173&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/4577593147573596173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/4577593147573596173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2007/03/pagi-yang-aneh.html' title='Telepon Aneh'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-4727966578766989127</id><published>2007-02-28T16:35:00.000+07:00</published><updated>2007-04-18T16:48:17.258+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Ketika Menjelang Senja</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perempuan tua itu telah duduk lama didepan pohon beringin yang rapuh. Ia sabar tertunduk disitu menatap sisa gedung sekolah didepannya. Gedung sekolah itu hanya tersisa puing puing dinding tanpa genteng, pintu yang hanya kerangkanya saja dan halaman yang tak terurus. Sudah 2bulan gedung itu suram tak lagi ada yang perduli. entah kemana pengurusnya. akibat kebakaran lalu setidaknya 3 anak meninggal terjebak dilalap api. sejak itu pemilik sekolah memutuskan menutup sekolah entah sampai kapan. Perempuan tua itu tak pernah menyerah menunggu anak perempuan satu satunya, harta peninggalan suami tercintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bu.. mirah berangkat sekolah! doakan mirah berhasil ya bu.. ujian hari ini!" terakhir kali wajah dan suara mirah ketika berpamitan hendak berangkat sekolah. Perempuan itu hendak mencegah anaknya sekolah, entah ini firasat seorang ibu atau apa. hari itu ia tidak rela membiarkan mirah berangkat sekolah. Masih terbayang pagi itu Mirah minta disuapin hanya gara gara ia hampir terlambat.  Wajahnya yang berkerut karena hujan dan panas yang tak pernah henti menyembah dipelupuk mata. terlihat wajahnya kusam, badanya yang kurus. tapi sepasang matanya masih tajam, masih ada mimpi disitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mirah ibumu masih disini menunggumu keluar gerbang sekolah!" bisiknya pelan pada daun kering disebelahnya. Tapi mirah tak pernah lagi menampakkan senyum pada ibunya. Perempuan tua yang rapuh itu masih sekokoh pohon disebelahnya, ia masih berharap setinggi langit bahwa anaknya bakal berlari kepelukannya seperti biasanya. Merengek minta sarapan dipagi hari, menina bobokan ketika mimpi sudah menunggu dilelap tidurnya. Perempuan itu tidak rela sebatang kara. Sesekali ia tersenyum ketika menatap gerbang sekolah. Entah apa yang dilihatnya. Perempuan itu telah lama ditinggal pergi suaminya. Batinnya tak siap menerima bertubi tubi rasa kehilangan. "Mirah... ibu masih membendung air mata agar kau segera pulang nak! Ibu tau kau tak suka jika pipi ibu basah! mirah.. nasi dirumah sudah lama basi, tempat tidur kita sudah lama berdebu!" perempuan itu terus saja menimang mimpi dipangkuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga suatu hari menjelang senja ia  berdiri dan seperti hendak berlari. Matahari hampir tergelincir, dingin malam mulai terasa. Bening disudut mata telah leleh. Tersungging senyum dibibirnya yang kering. Debu tebal yang mengerak di wajahnya telah pecah karna senyum yang mengambang dipipi.  Kesedihan yang tertahan sekian lama tiba tiba saja pergi. Entah bayang, entah lelah, entah jengah, entah nyata. Perempuan itu memanggil dalam dingin  "Mirah....!!"&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-4727966578766989127?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/4727966578766989127/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=4727966578766989127&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/4727966578766989127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/4727966578766989127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2007/02/ketika-menjelang-senja.html' title='Ketika Menjelang Senja'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-8113057624575910018</id><published>2007-02-27T18:11:00.000+07:00</published><updated>2007-04-18T16:43:44.268+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan perjalanan'/><title type='text'>Pertemuan Malam dan Dini Hari</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Beberapa hari yang lalu seorang guru memberi kabar akan datang ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; hari minggu sampai hari selasa. Wah ini hal yang langka, siapa sih saya bisa bertemu langsung dengan sang guru. Aku pun bertekad harus menemuinya bagaimanapun sulitnya. Saking girangnya saya sampai lupa menanyakan nomer telepon beliau. Padahal hari sabtu dan minggu itu saya sedang ada kerjaan di luar warnet tempat jongkokku tiap hari, yang berarti tidak ada kesempatan bertemu di dunia maya.. Akhirnya terpaksa saya bertanya pada &lt;st1:place st="on"&gt;Om&lt;/st1:place&gt; yo yang jelas dia punya data data penyair. Ternyata benar perasaan saya pasti om yo komentar dia bilang “heran aku, janjian tapi podho gak eruh nomer hpne. Dasar wong ndeso, katrok, gak Hasan, gak dedy, gak koen”. Ternyata kita bertiga sama sama lupa menanyakan nomer telpon. Untung saja ada 147 alias om yo. Masih ada satu orang lagi sebenarnya yang ikut dalam perjanjian ini paklik sonyDebono tapi berhubung HPnya sedang kosong, kantongnya juga lagi sepi, beliau cuma tunggu kabar saja dari saya. Jadi dia tidak ikut ikut tanya nomer telpon ke om yo. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Setelah berusaha merajuk paklik Sony agar bisa nurut jadwal saya, yang bisanya cuma senin malam dan ternyata beliau mau. Akhirnya beliau saya ajak ke tempat saya, baru kemudian meluncur ketempat pakde Hasan. Dan mengajak om dedy yang siangnya sudah mendahului kami bertemu pakde Hasan untuk ngumpul lagi malam senin. Walaupun harus menunggu pakde selesai menunaikan tugas akhirnya bisa juga saya bertatap muka langsung. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sekitar jam 9 malam saya sampai ke hotel tempat menginap beliau. “pakde, saya sudah sampai &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;di Garden, sekarang di loby” saya kirim pesan karena ternyata paklik sony sudah sampai di loby dan belum bertemu dengan pakde Hasan. Ketika saya masuk beliau langsung tau saya. Dan sayapun sudah bisa tau dari kumis dan jambangnya. Ternyata tidak setua perkiraan saya. Kemudian berlanjut mendatangi om dedy yang sudah menunggu di kafe sambil nikmatin secangkir kopi dengan alunan jazz. Setelah berkumpul kita semua mulai berdiskusi dan memperbincangkan apa apa saja tentang puisi. Nah. Disini saya hanya sebagai pendengar yang baik. Pakde bercerita tentang keindahan bahas melayu yang ternyata penggunaanya dalam bahasa kesehariannya begitu puitis dan dalam. Jelas ini tidak dapat saya temui dikehidupan sehari hari bagaimana saya temui klo yang saya dengar hanya makian dan umpatan kasar saja disekeliling saya. Bahkan beliau sendiripun katanya tidak mampu berbahasa melayu walaupun istrinya orang melayu. Tidak di internet tidak di kafe kenapa nama nama itu selalu hadir. Tapi saya harus mencoba menangkap sesuatu disitu. Paklik sony membahas banyak sekali teori Ironi, paradoks, indeks, icon, symbol masih banyak lagi. Sebenarnya kata kata itu sering saya dengar tapi tidak satupun yang saya paham dengan jelas. Bahkan kata estetika yang setiap berproses di teater saya dengar masih juga saya bertanya arti kedalamannya yang saya tahu estetika adalah keindahan tapi ternyata kata paklik sony estetika dibagi dua yaitu keindahan dan keagungan. Paklik sony memang ahli berteori dan sudah jelas beliau pasti sangat paham. Saya hanya bermain di senyum, oh.., ya, ehm.. gitu dan sedikit saya bercerita &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;awal ketertarikan pada puisi dikarenakan puisi pak Jokpin. Pakde bercerita bahwa puisi tentang rambutnya sedang ditawarkan pada iklan sampho. Dan ini buatku bertanya bagaimana bisa? Puisi dan iklan? Apa yang nyambung?. Tapi ternyata malah penulis jargon jargon iklan itu katanya adalah seorang penyair. Wah.. ternyata puisi memang luas. Paklik sony juga menjelaskan tingkatan tingkatan seorang penyair yang semakin tinggi puisinya semakin halus. Tapi malah tidak begitu menggema. (bener gak ya begitu maksudnya?). akh tugas merangkum diskusi malam sampe dini hari biarkan jadi tugas om dedy. Kata pakde Hasan, om Dedy pintar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;merangkum dan bagus. Saya hanya menulis apa yang saya ingin tulis tentang malam ini saja. Yak… lanjut!!! Diskusi akhirnya harus pindah tempat &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ke loby karena kafe sudah tutup. Dan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dilanjutkan dengan kalimat “Terasa Terasinya” yang kata paklik sony kalimat itu menarik sangat cocok karena tidak terlalu membual untuk sebuah jargon iklan. Sedangkan kata pakde Hasan kata itu puitis. &lt;st1:place st="on"&gt;Om&lt;/st1:place&gt; dedy bilang ada keindahan bunyi. Yang saya pikirkan cuma satu ya memang benar itu, terasi tidak mungkin berasa permen atau roti karena memang itu yang dijual terasi. Paklik sony juga bercerita ketika ia asyik bermain dengan kritik kritiknya, beliau sempat ditegor seseorang agar tidak membeberkan rahasia rahasia puisi dengan kata lainnya teknik puisi. Ini saya setuju karena saya semakin pusing ketika membaca teori teori yang terkadang malah menjadi kotak buat saya. Dan ini buat saya tertekan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pakde hasan menyinggung Milis Buma yang memang tempat untuk bermain main sama dengan milis penyair karena penyair juga harus punya kenaifanya sebagai anak kecil yang selalu asyik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bermain main setlah sapek bermain maka mereka akan mandi (milik Jokpin). Juag membicarakan milis Apresiasi Sastra yang akan dijadikan sebuah lembaga yang itu artinya Apsas bakal terstruktur, beliau tidak ingin menjadikan Apresiasi sastra menjadi sebuah lembaga (la yang ini sama sekali saya gak nyambung alias pedhot koneksi). &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya saya ingin menghabiskan kuping saya mendengar diskusi itu tapi pakde Hasan harus istirahat karena besok pagi dia harus pulag kekotanya. Dengan berat hati saya melangkah pulang dengan paklik sony dan om dedy. Padahal mata ini rasanya masih belum bertemu kantuk. Kita berpencar di depan pintu loby. Berencana besok siang bertemu lagi sebelum om dedy kembali ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. (oiyaa.. om ded.. puisi Lumpur sudah siap dikepala!!). dijalan saya tidak bisa berhenti berpikir apa yang tadi sudah dibicarakan apa itu tadi rahasia rahasia puisi yang tidak boleh saya ketahui agar saya tidak jadi malas mencari. Saya merasa mujur ato ajur..? tapi saya senang sekali bisa mendengar mereka asyik sekali membicarakan puisi. Sampai dirumah saya lihat jam ternyata baru jam setangah 2 dini hari, jelas saya tidak bisa langsung bergaya “Gravitasi ala Newton” diatas ranjang (sempat juga dibicarakan). Kepala ini masih ingin buang angin, setelah tadi kenyang makan. Sebenarnya masih banyak yang dibicarakan tapi saya bingung mau menuliskan bagaimana. tentang tanda baca yang kata paklik sony adalah kegagalan penyair menyampaikan puisi. lalu pakde degan ceritanya pernah dimaki penyair idolanya. Sudahlah tunggu saja ulasan pakde Hasan, Paklik Sony dan &lt;st1:place st="on"&gt;Om&lt;/st1:place&gt; dedy pasti bakal mantap.&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Seseorang datang menagih janji&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mana lumpurmu! baru kemaren nyembur kok sudah kering?&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Ini sudah kubawa sample buat diteliti &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Masih cukup basah dan bau&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kujinjing bekas botol air mineral didepan matanya&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Mungkin cocok buat pondasi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;04.07 dini hari270207 &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-8113057624575910018?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/8113057624575910018/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=8113057624575910018&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/8113057624575910018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/8113057624575910018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2007/02/pertemuan-malam-dan-dini-hari.html' title='Pertemuan Malam dan Dini Hari'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-2927309094955816841</id><published>2007-01-31T14:03:00.000+07:00</published><updated>2007-04-18T16:19:53.099+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Mug Seng itu Menunggu</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Hari begini panas jembatan penyebrangan tempat biasa mangkal sudah penuh sesak, teman teman seperjuangan sudah mengantre dan siap menjual tampang melas mereka. Bisa dibilang akulah pelopor pertama menempati tempat ini. Awalnya kupikir disini tempat yang cocok, banyak orang yang lewat sini dan belum ada orang sepertiku. Tapi lambat laun banyak juga temen teman yang mengikuti jejakku. Dulu si udin yang pertama kuajak kesini. Lalu si udin bawa badrun,lalu badrun bawa mamat, mamat bawa karto, dan begitu seterusnya. Akhirnya disini lebih banyak kami dari pada mereka. Herannya makin banyak saja yang menguntit kami. Sebenarnya sudah ingin pindah saja tapi aku masih menunggu sesuatu yang belum pernah aku dapat disini. Sebenarnya ada tempat lain, tapi hanya sesekali berpindah tempat hanya saja di tempat itu semua orang pada sok. Jarang sekali aku bisa dapat makan disitu. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Kuhabiskan waktu bermain main dipingir jalan dengan teman seperjuangan. Sambil menahan lapar yang melilit kami terbiasa tertawa. Hingga malam mulai dingin aku tak bisa langsung tidur karena lelah. Aku masih harus menunggu toko toko tutup baru bisa dengan nyenyak meminjamnya untuk bertemu dengan lelah. Kadang tidurku ditemani anjing liar, kucing, tikus, bahkan seringpula tak kedapatan tempat gara gara para pemabok ingin berhura hura disitu. Dan lagi lagi aku harus mengalah dan mengubur kembali lelah. kalau sudah begini segera saja kuselamatkan harta paling berharga yaitu mug seng, benda itu pemberian mantan majikanku dulu. Diantara teman temanku yang lain hanya aku yang punya. “Ini peralatan mutakhir” gurauku pada mereka. Mereka hanya mndengus karena iri. Kunikmati saja kekayaanku diantara mereka. Mug itu pemberian seorang wanita kaya yang rumahnya diujung perumahan elit dekat biasa aku mangkal. Sesekali aku mengintip dalam rumahnya. Banyak sekali hewan peliharaannya mulai burung, kucing , anjing. Kata para pembantu rumah itu, mereka bekerja untuk mengasuh dan meladeni para hewan hewan itu. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Suatu kali aku iseng iseng mengais beberapa koin didepan rumah itu, kebetulan sekali tuan rumahnya sedang bermain dengan anjing peliharaanya. Kemudian entah karena kesal atau apa anjingnya malah menyalak dan si tuan rumah bukan menenangkan anjingnya malah mengusirku lalu melemparku dengan mug seng bekas tempat makan anjingnya. “Guk.. guk.. guk…!” terus saja anjing itu menggonggong dan aku tidak tau ada apa dengan anjing itu. Apa yang sedang dirisaukan si anjing sampai sampai begitu marahnya ketika melihatku. Guk.. guk.. guk… dasar anjing bisanya guk guiKarena aku belum pernah belajar bahasa anjing. Jangankan bahasa anjing, bahasa ibu saja aku tidak tau. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Kepalaku pening akibat lemparan mug itu, pikiran langsung melayang membayangkan seandainya dia hewan piaraan tadi. Wah betapa menyenangkannya! Setiap hari dimandikan tidak perlu panas panas, baju tidur pasti ada, dan tak lupa setiap hari aku dapat belaian. Banyak sekali peralatan untuk hewan piaraannya mulai dari WC, pakaiannya, makanannya, kandangnya, parfum, bedak bahkan mungkin lipstiknya. Dibandingkan aku yang seorang manusia mungkin lebih terhormat mereka. Kandang mereka saja lebih bagus daripada punyaku. Kandang? Akh.. aku tidak punya, kandangku besar seluruh hidup dan sekelilingku ini adalah kandangku. Rumah mewah itu mungkin cukup ditinggali orang sekampung dan ternaknya. Penghuni rumah lebih banyak para pekerja daripada pemilik (baca: termasuk hewan peliharaannya) Aneh juga iri kok sama hewan. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Dikejauhan aku mengawasi wanita yang sedang sibuk dengan tas tangan hitam dan sesekali mengusap keringat yang leleh di lehernya. Aku menunggu ia melewatiku, segera saja kusiapkan tampangku yang paling.. super duper.. melas siapa tau ia mengangkatku anak. Ha.. ha.. ha.. mimpi yang aneh, lama aku hanyut dalam pikiran itu. Klunting… mug seng yang setadinya kosong terisi yah.. lumayan 200 rupiah. “Lumayan untuk siang, ini masih ada waktu utuk lembar 5000an”. Pikirku wanita tadi berlalu hingga hilang di depan tangga turun. Baju lusuh.. keringat bau.. ya memang begini tampangku. Siang masih bernama siang belum berganti nama sore atau malam. Sedari tadi baru ada recehan, 3 orang berlalu dengan tangan di saku, 2 orang terpaku dengan tangan berpisau. Tinggal satu orang yang paling mungkin menuangkan rejeki untukku. Kutunggu lagi dengan tampang semestinya. Lari…. Lari…..diujung, temanku berteriak teriak, sial… itu satpol PP. akh lenyap sudah rejeki hari ini. Dengan terpaksa aku lari meninggalkan tahta kebanggaan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Wajahku semakin lusuh debu &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; dan ludah manusia sering kali mampir. Setiap hari kuhitug berapa dermawan yang lewat dan berapa yang hanya derma bukan wan. Aku punya idola seorang kakek tua yang saban hari menggandeng gadis kecil. Entah cucunya atau anaknya. Kalau sudah begini iri sedikit demi sedikit muncul. Jangankan dipeluk mimpi untuk melihat lembar 5000an saja belum juga kesampaian. Perlu beberapa tahun untuk selembar 5000an. Sebenarnya sehari bisa dapat lebih, hanya saja bentuknya pecahan receh 500, 200, 100 bahkan kalo apes ya 50 ato 25 sering ada didalam mug seng. mangkanya jarang sekali (baca: tidak pernah) bertemu dengan lembar 5000an. Belum lagi para preman yang mampir sekedar bertukar sapa, ia todongkan pisau aku setorkan receh. Sial ia sendiri habiskan uang itu buat beli lem. Sedangkan aku harus menunggu lagi untuk makan dan berjalan pulang. “Itung itung pajak!” itu kata mereka. Kudekap saja mug seng yang mulai bocel dan berkarat jangan sampai ikut jadi korban pajak. “Kres.. kres… kruyukk kruyukk” wah ini hampir sore rupanya perutku mulai berkokok. Segelinding coin tak cukup buat beli butir jagung. Dihitung lumayanlah terkum[pul kira kira 4000an cukup buat beli nasi dan air bersih. Dikorek terus isi mugku blom ada yang bentuknya lembaran 5000an. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Belum waktunya pergi dan aku masih saja terdiam disini. Jembatan ini kalau malam sepi, jarang pejalan kaki lebih banyak preman dan setan. Klo malam lebih bagus.. banyak mata yang menarik terang nyala seram tapi setibanya didepanku ia mengulurkan selembar uang seribu. Kadang ada copet yang membuang dompet didekatku bodohnya masih ada uang terselip di kantong kantong kecil yang tidak diperiksa jarang ada lembar &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; ribuan. Aduh... beberapa taun sudah berkarat di compang camping bajuku, kenapa susah sekali bertemu mimpi itu, dimana sebenarnya terselip?. Malam semakin menerkam gelap dengan mesra, hari ini belum tau aku harus menggelar mimpi dimana. Tidak ada jadwal jelas kapan harus datang dan kapan harus pergi. “Datang tak diundang, pulang harus diusir” pesan ini tersirat di dalam mug kesayanganku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Berlaku juga buat mimpi dan harapanku. Kutenggelamkan saja didasar Mug Seng sembari menunggu &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; ribuan,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mampir sejenak kantuk diselaput mata. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Aku sudah malas beranjak, akhirnya kantuk menyergap tanpa sempat pulang. Aku sudah terlelap disitu tanpa alas, tanpa rebah, hanya bersandar disisi jembatan mug seng terjulur dengan tetap tergenggam kuat. Malam semakin lama larut dan menjemput kembali senja. Sampai akhirnya membangungkanku. Aku terkejut, Dikerjapkan matanya berulang ulang, tak percaya “wah.. semoga bukan mimpi..” teriakku dalam hati. selembar &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; ribuan telah mengisi mug sengnya, mugnya tak lagi berisik, dan bergerincing ada selembar 5000an meredam suaranya. Hari ini senja mulai tersenyum dan aku pun rela berpindah tanpa perlu diusir satpol PP. Sudah tak perlu lagi sembunyi, shubuh ini aku langsung hengkang semoga belum terjengkang preman bebas lewat karena aku sudah hilang disini. Mimpinya satu satunya telah ada didalam benda kesayangannya tidak berisik, tidak gaduh. Entah siapa yang menyisipkan di tengah tengah mimpinya semalam apakah orang itu berbaju biru, bermata binar, bercincin emas atau juga seorang yang sama sepertinya. Dan ia berlari girang memandang selembar 5000an yang sedang termangu didalam mug seng kesayangannya. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Nb: 5000an adalah uang kertas yang paling rendah nilainya yang belum ada versi koinnya. Menurutku disitu istimewanya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Kantongnya tebal, isinya koin walau berat nilainya sedikit. Dompet tipis, isinya kertas walau ringan nilainya tinggi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-2927309094955816841?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/2927309094955816841/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=2927309094955816841&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/2927309094955816841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/2927309094955816841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2007/01/mug-seng.html' title='Mug Seng itu Menunggu'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-5942437130012524379</id><published>2006-12-24T17:32:00.000+07:00</published><updated>2007-04-18T15:02:23.276+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Tidak Ada Pilihan Selain Berpikir</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Dihisapnya sekali lagi rokoknya dalam dalam dan dihembuskan dengan cepat sepertinya ia sudah mulai jenuh dengan rokok yang sudah keberapa kalinya ia menyulut. Rea menerawang jauh ketika membayangkan beberapa tahun kedepan ia akan menjadi seperti apa. Pasalnya hingga sekarang ia tak pernah lega dengan apa yang diinginkan semuanya pergi seperti asap rokok yang ia hembuskan. Filosofi rokok dihisap dan kemudian di hembuskan dan tidak menjadi apa apa didalam tubuh selain menjadi penyakit. Mimpi dan harapan yang ia miliki setinggi gunung yang tak hendak habis didaki tak pernah mampu didapati dan direngkuhnya. Menulis mimpi diatas kertas lusuh yang setidaknya segera diserahkan ke hadapan dosen untuk mengejar nama belakang SE sama sulitnya ketika harus mendapatkan pria yang diinginkan. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Rea berandai andai, seandainya saja mengerjakan itu semua seperti menyalakan rokok dihisap kemudian dihempaskan. Hampir saja ia menyerah dan membanting keyboardnya karena tak satu pun kata yang mampu ditulis lagi. Rea meregangkan badannya yang terasa lelah seharian berkutat di depan komputer dan bahunya yang pegal harus memijat mijat huruf huruf yang mati didepannya. Kemudian Rea mengambil handphonenya mencoba menghubungi pria yang akhir akhir ini selalu membuat ia gundah dan tidak mampu berpikir jernih. Ia bimbang sangat inginnya ia mendengar kabar darinya tapi tidak ingin terlihat sangat murahan didepannya Rea gengsi tapi perasaannyalah yang akhirnya mengijinkan menelpon. Dipilihnya nomer yang sudah tersimpan di list Hpnya dengan perasaan yang tidak menentu. Ketika yang diseberang berbicara ternyata yang berbicara langsung orang yang dituju. Rea pun berbicara seperlunya karena pria yang diajaknya berbicara sepertinya merasa terganggu. Ia pun harus menelan kekecewaan lagi seperti biasa dan hanya bisa melamun dan berpikir apakah salah yang dikerjakan selama ini. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Mengejar mimpi yang seharusnya datang sendiri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Diambil lagi handphonenya mencoba menghubungi pria lain yang diharapkan bisa memberi sedikit harapan walaupun pria lain itu bukan orang yang dikehendaki dengan sisa airmata yang masih menggantung dipipinya ia berusaha tertawa ceria dan benar pria lain itu mamberinya semangat. Tapi percuma semangatnya dan konsentrasinya sudah bukan ke tulisannya. Ditatapnya layar komputernya yang hanya membuatnya pusing dibuka file file yang setidaknya bisa menambah satu kata pada tulisannya tapi sia sia. Handphonenya berbunyi tanda sms diterima ternyata sms itu bukan dari seseorang yang penting dan diharapkannya. Pengganggu yang aneh tidak mau menyebut nama ketika ditelepon tidak diangkat, sekalinya diangkat tidak berbicara apapun sedikt berteriak ia ingin memaki orang diseberang tapi ia masih ingat kalau ia hanya perempuan yang harus menjaga kesopanan. Benar benar menjengkelkan dan menganggu, tapi tetap saja sms itu ia balas walaupun dengan nada kasar anehnya orang diseberang malah semakin menjadi. Sedikit penasaran Rea meladeni sms itu. Tapi ia kemudian malas membalas sms konyol itu. Ditatap kembali tulisan di komputer itu tapi,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tak ia temukan satu katapun yang bisa ia masukkan dalam tulisan itu. Ia gelisah ia menangis dan meratap apa yang sebenarnya terjadi apa demikian berat cobaan yang harus dilewati untuk mendapat semua keinginannya. Ia kemudian tertunduk menangis dan tak tau harus berbuat apa. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Ia merasa semakin salah karena tidak seharusnya pria itu ia pikirkan dan mengganggu konsentrasinya. Kemudian dibuka lagi kotak rokok didepannya dan menyalakan satu lagi untuk menenangkan pikirannya. Sepertinya ia sudah kehabisan akal untuk berusaha fokus. Ia berjalan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;keluar menatap malam yang menyelimuti kampusnya malam itu tidak sepi besok pagi ada pelepasan para mahasiswa dan mahasisiwi. Hal itu makin menambah perih hatinya. Apa yang berbeda dari teman temannya, Rea tidak bodoh juga tidak idiot tapi kenapa ia tak bisa sama dengan yang lain. Di luar hanya semakin pedih, ia kembali menatap ruang kecil tempat ia bebas sedih dan tertawa. Atap penuh poster sisa sisa kejayaan, tergeletak bantal guling dilantai dengan kabel kabel yang belum sempat di bersihkan setelah pagelaran seni. Benar benar bertanggung jawab sekali penghuni tempat ini. Tapi ia tak hendak membereskan ia mengambil bantal dan gulingnya dan ia rebah diatasnya memberi sedikit ruang tubuhnya untuk merasakan rileks. Ia terpejam dan dengan sekejap bayangan pria itu muncul lagi dalam keadaan mendekapnya. Ia terhenyak dari tidurnya terbangun dan tertegun kembali. Apa yang hendak dilakukan untuk tidak mengingat pria itu. Pria yang memberi harapan tapi tidak pernah menerima mimpinya. Ia terduduk dan melamun lagi tidak ada yang bisa dilakukan. Kembali ia menuju komputer yang masih menyala dan memelototi tulisan yang semakin tidak ia mengerti apa maksudnya. Dinyalakan rokoknya sebatang dihisap dalam dalam dan dihembuskan dengan cepat. Dan ia masih tidak tahu harus berbuat apa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ia matikan komputer itu beranjak dan kemudian ia lebih memilih kembali ketempatnya yang hangat dan ramai dan mencoba mengadu pada malam di jalan. Dan ia masih belum tau apa yang harus dikerjakan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 255, 204);"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;5 juli 2006&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-5942437130012524379?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/5942437130012524379/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=5942437130012524379&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/5942437130012524379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/5942437130012524379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2006/12/tidak-ada-pilihan-selain-berpikir.html' title='Tidak Ada Pilihan Selain Berpikir'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-116471531822415928</id><published>2006-11-28T18:14:00.000+07:00</published><updated>2007-04-18T14:59:03.160+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan perjalanan'/><title type='text'>perjalanan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Duduk diam.. ada yang aneh jam sudah menunjukkan setengah lima sore waktunya bersiap berangkat. Waduh harus segera bergegas ditunggu seseorang yang tak dikenal gak enak juga kalo terlambat. akh ternyata.. sama saja terlanjur jamnya berlari cepat. Kakiku tak sanggup menyamai langkahnya. Kesan pertama akh bodo amat yang penting berangkat dengan selamat. Tanpa perkenalan lebih lama sudah jelas namanya paklik Sony entah aslinya siapa, anggap saja nama samaran. Disepanjang perjalanan gerbong gerbong itu riuh sekali menjadi nada dasar percakapan kami. Derit rel gesekan angin dengan tubuh gerbong semakin lam semakin biasa saja terdengar. Menemani malam yang akan dilalui bersama seseorang yang mampu mencari pembelaan pembelaan dengan teori teorinya. Jam terus saja melaju menjadi semakin cepat ketika malam semakin larut mata semakin terantuk. Ada kesal karena seharian tadi tak ada rehat, tapi ada risau teman yang lebih mengajakku kesal, ia meninggalkan sesuatu yang seharusnya tidak perlu lagi dipikirkan karena sudah tidak mungkin kembali. Bercerita bercerita.. ternyata tidak segalak yang diperkirakan, tapi memang dia pintar menggonggong. Menurutku ia termasuk orang tua yang lumayan gaul.&lt;br /&gt;Kemudian kami sama sama lelah bercerita panjang lebar aku sudah lelah kuping sudah penuh otak hampir luber kutinggalkan saja beliau yang gelisah dengan dompet yang tertinggal. Tidur nyenyak mencari mimpi seperti biasanya. Deru kereta dan guncangannya lembut seperti gendongan ibu waktu kecil dulu. Sudah lama tak merasakannya. "Ibu..!" dalam perjalanan aku masih mengintaimu. Hingga matahari menjulang tempat yang dituju tak hendak sampai. Sepanjang perjalanan beraneka macam lukisan yang tak berbingkai, nampak kardus kardus tua menjadi alas atap atap seng berkarat masih terpakai. kuburan yang tergeletak tak rapi. sawahnya yang hijau ada pula yang coklat bekas panen sepertinya. Aku masih larut dalam pikiran dan menggambarnya didalam otak kiri. Memasuki kota yang menjadi impian orang banyak. Tergambar jelas liku liku yang meliuk liuk memainkan nasib seenaknya, untung tidak denganku. Disitu mimpi tak pernah sekalipun kuajak jalan kesana. Biar saja aku bermimpi hanya disekitar tetangga sebelah. Perjalanan ini penuh bayangan bayangan akan seperti apa mereka yang selalu meracau kata kata menguntainya dengan indah. Salah satu pengritik sudah duduk disebelahku sekarang. Melumuriku dengan teori teori yang tidak pernah ingin kumengerti. Setibanya aku hanya ingin menebar senyum biar dikata orang gila. Peduli amat aku hanya ingin sedikit mengisi otakku yang selalu bengal bermanja dengan otak otak teman yang selalu membantuku. Anggap saja ini perjalanan ngelmu ntah apa hasilnya. tidak langsung berasa khan?. Sampai perjalanan mengasyikkan ini selesai aku menemukan teman baru dan sodara sodara baru. Ada tetes tangis haru yang sulit disembunyikan hingga harus bersembunyi di gelak tawa yang dibuat- buat (emang jago klo disuruh sandiwara). Sampai aku pulang hasilnya baru satu aku berbaikan dengan ayahku. membaca puisi om yo (johannes S) mengingatkan aku sosok seorang ayah dan aku tak berhak menjaga jarak dengan beliau. aku membacapengertian seorang ayah dari beliau. Banyak hinaan banyak celaan darinya, entah kenapa aku menjadi kagum padanya. Perjalanan itu setidaknya mengingatkan, aku adalah seorang anak bukan siapa siapa tanpa orang tua. Orang tua punya banyak cara mencintai anak anaknya. Seluruh teman disana begitu asyik menjajal kemampuannya bercengkrama. Aku sedikit tersisih, tapi aku tak peduli. semakin malam semakin seru saja ruang diskusi dibuka mulai yang serius sampe disksi berbumbu canda. Aku ngatut saja mana yang enak toh aku cuman anak bawang. selesai suda perjalanan mungkin suatu waktu akan kembali karena aku telah mematri janji disana (bukan untuk menetap hanya berkunjung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-116471531822415928?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/116471531822415928/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=116471531822415928&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/116471531822415928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/116471531822415928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2006/11/perjalanan.html' title='perjalanan'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37763249.post-116426485324806047</id><published>2006-11-23T13:16:00.000+07:00</published><updated>2007-04-18T14:56:03.174+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>hujan dan calonya</title><content type='html'>Ada ladang tandus menunggu pembajak menerkam gembur tanah. hujan tak hendak hadir menidurkan gerah. Sepertinya ada yang tidak beres, ada kongkalikong antara hujan  dan calonya. Mungkin pajak hujan dan panas belom terbayar. Ijinnya belum diurus ada didaftar paling bawah katanya sih daftarnya belakangan. Tapi apa iya.. ini sudah 3 bulan lebih diurus ijin hujannya. Padahal tarian hujan sudah dikumandangkan dan diteriakkan. Tapi rupa rupanya birokrasi diatas sana sulit sekali. padahal jagung disini kering sapi kurus kering. Kanibalisme dimana mana. Air barang langka bahkan air kencing pun halal.&lt;br /&gt;Kering berkepanjangan ini keterlaluan. Susah sekali mengais mata air tak hendak didapat. Hingga malam dingin jadi panas, bulan saja hendak bertelanjang dada. Wuih.. hujan pergi beberapa bulan tak datang datang. Kemana sihh para calonya? Begitu saja susah,tinggal teken kontrak. Jaman birokrasi gampang macam sekarang susah sekali meluluskan ijinnya. Besok laporkan ke komnas HAM karena Melanggar hak manusia untuk mendapatkan hujan.&lt;br /&gt;Lihat tanahnya sudah berkerak pecah pecah seperti bibir kekurangan vitamin C.  Tanggung jawab siapa kekurangan gizi menjadi busung lapar hanya karena hujan tak kunjung datang.  Bisa saja si calo jadi kambing hitam sudah dibayar tinggi kerjanya masih saja gak beres.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37763249-116426485324806047?l=crystalistgitakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/feeds/116426485324806047/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37763249&amp;postID=116426485324806047&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/116426485324806047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37763249/posts/default/116426485324806047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crystalistgitakata.blogspot.com/2006/11/hujan-dan-calonya.html' title='hujan dan calonya'/><author><name>crystalistgita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
